
Pada hari pagi hari, pemakaman kematian nenek Santi dilaksanakan didesa Jogjakarta, desa dimana tempat Yuna tinggal bersama sang nenek. Santi pernah berpesan, jika dirinya sudah tiada ia ingin dimakamkan ditempat kelahirannya. Santi ingin makamnya disandingkan dengan sang suami tercinta, yang lebih dahulu meninggalkannya.
Semua penduduk desa yang mengantar jenazah Santi itu, sedikit demi sedikit pergi meninggalkan pemakaman itu. Karena hari sudah mulai sangat siang, mereka berpamita pada keluarga Santi. Para penduduk desa mengucapkan kepada keluarga yang ditinggalkan untuk selalu menambahkan hati, dan mengiklaskan Santi agar beliau tenang dalam sana.
"Yuna..." panggil seorang ibu paru baya, yang berjalan menghampiri Yuna.
Yuna yang berada disebelah makam sang nenek itu, menengok. "Ya, bude?" tanya Yuna.
Wanita paru baya yang dipanggil bude itu, menepuk bahu Yuna pelan. "Yang sabar ya nduk... Saya tau, kamu yang paling dekat sama nenekmu. Saya tau jika kamu merasa kehilangan beliau, tapi saran saya jangan berlarut dalam kesedihan. Cobalah untuk mengiklaskan walau itu berat, agar nenek kamu bisa tenang dialam sana." ujarnya, sambil mengelus bahu Yuna.
"Yaudah kalau begitu, bude pamit pulang dulu ya Yun..."
Yuna menganguk. "Iya bude, hati-hati dijalannya, dan terimakasih banyak sudah mau datang kepemakaman nenek." ucap Yuna.
Bude itu tersenyum menganguk. "Iya sama-sama." ucapnya, lalu berjalan pergi meninggalkan pemakaman itu.
Yuna mengalihkan pandangannya kembali, menatap bidan yang bertulisan nama neneknya. Yuna kembali kerana bidan itu.
"Semoga tenang dialam sana ya nek... Yuna akan terus kirimkan doa pada nenek." gumam Yuna, kembali menitikan air matanya. Dan segera ia menyeka air mata itu.
🍂🍂
Sudah beberapa jam, Yuna kembali dari pemakaman. Kini ia tengah termenung disalah satu kamar, dimana neneknya pernah tidur disana. Begitu banyak kenangan dirumah sederhana itu, sehingga membuat Yuna engan untuk beranjak pergi dari rumah itu.
"Yuna..." suara lembut itu berasal dari ruang tengah, sosok lembut itu berjalan kearah Yuna.
"Yuk, sayang... Kita pulang sekarang. Kamu gak mungkin kan tinggal disini?" ucap Winda, bertanya pada Yuna.
Yuna menghembuskan nafasnya. "Endak bun... Lagian Yuna tau posisi, Yuna sudah menikah. Dan sekarang memiliki keluarga sendiri, ndak enak juga Yuna mutusin buat tinggal disini. Walau Yuna sendiri mau tinggal disini." jawab Yuna, membuat Winda tersenyum kearahnya.
__ADS_1
"Putri bunda udah dewasa... Bunda hanya melihat keteguhan kamu." ucap Winda mengelus surai rambut Yuna.
"Baiklah... Yuk kita pulang sekarang, paman kamu udah nungguin diluar. Semua barang kamu udah beres semua kan?" tanya Winda.
Yuna menganguk. "Sudah bun.."
"Sip, yok kita pulang." ajak Winda, lalu keluar dari rumah tua itu. Dan kembali kejakarta, karena mereka memang memutuskan untuk pulang cepat.
🍂🍂
Sesampainya dirumah pamannya, mereka bertiga disambut oleh orangtua Zeen yang sudah berada diruang tengah. Sedangkan Zeen? Entah kemana pemuda itu.
"Pak Al, sudah lama nunggu?" tanya Bram saat mereka sudah masuk kedalam rumah.
"Gak lama kok Bram, saya baru beberapa menit disini." ujarnya, "Bagaimana dengan pemakamannya? Apa berjalan dengan lancar." ucap Albaret bertanya.
"Alhamdulillah pak Al, semuanya berjalan dengan lancar." jawab Bram.
Bram tersenyum, "Ndak apa kok pak..."
"Oh iya... Saya disini mau ngasi tau kamu, saya masih mau melanjutkan acara repsesi dikediaman saya... Saya tau jika ini salah, karena mengingat kematian ibu Santi. Tapi mau bagaimana lagi, persiapan acaranya sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Sayang jika ditunda takutnya para tamu nanti berdatangan." jelas Albaret dengan raut ragu, sesekali melihat kearah Yuna. Sedangkan Yuna hanya bisa terdiam mendengar percakapan mereka.
Lagi-lagi Bram tersenyum, Bram memang sama sekali tak terganggu dengan hal itu."Iya pak ndak apa-apa, saya akan datang keacara itu nanti. Acaranya nanti sore kan?" ucap Bram bertanya.
"Iya nanti sore Bram, sekalian saya dan istri saya akan membawa Yuna buat tinggal dirumah kami mulai hari ini. Ndak apa-apa kan?"
Bram tertawa. "Yaampun... Pak Al, kenapa merasa ndak enakan terus. Saya mah ndak apa-apa pak. Kan Yuna udah resmi jadi menantu bapak dan ibu, tinggal bapak bertanya saja pada Yuna biar lebih jelasnya lagi." ujar Bram.
Semua orang menengok kearah Yuna, memastikan keinginan dari gadis yang sudah bersetatus sebagai istri dari Zeen Albaret.
__ADS_1
Yuna tersenyum kecil, kemudian menganggukan kepala."Iya Yuna mau..." jawab Yuna, yang diberi senyuman oleh kedua anggota keluarga itu.
🍂🍂
Untuk kedua kalinya Yuna didandani, dan dipakaikan gaun pernikahan yang terlihat sangat cantik dan menawan. Apalagi ketika ia yang memakainya, sungguh sangat cocok sekali.
Yuna sudah berdiri tepat dipanggung utama, acara repsesi itu. Ia tak sendiri tentunya, ia saat ini berdiri berjejer bersama Zeen yang baru sore itu kelihatan, setelah detik-detik kematian sang nenek.
Mereka berdua tak saling bicara, seperti dngan untuk memulai lebih dulu. Mereka lebih memilih menyambut tamu dengan senyuman yang biasa mereka perlihatkan saat acara repsesi pertama dikediaman paman Yuna.
Ngomong-ngomong soal paman Yuna dan tantenya, mereka hari ini tentu datang. Dan saat ini tengah berbincang pada salah satu tamu dipesta itu.
Saat mereka tengah menyalimi para tamu, Yuna tak sengaja melihat perubahan wajah, pada lelaki yang ada disampingnya itu. Entah mengapa raut itu berubah menjadi tegang dan matanya terus tertuju pada seorang wanita cantik, dan seksi tentunya. Zeen terus menatapnya dan akhirnya mereka saling berpandangan untuk sesaat. Dan saling menjabat tangan, memberikan ucapan selamat pada Zeen.
"Selamat ya Zeen atas pernikahan kamu." ucap perempuan itu. Dengan senyuman.
Zeen membalas senyuman itu, "Terimakasih Laura, sudah mau datang." jawab Zeen.
Begitulah percakapan yang didengar oleh Yuna.
Namun tanpa diduga, wanita itu tiba-tiba mendekatkan diri pada Zeen. Dan seperti membisikan sesuatu pada pria yang sudah menjadi suaminya.
Laura mendekat pada Zeen,"Kutunggu malam ini sayang.." busuk Laura dengan nada menggoda, namun tentu tak didengar oleh Yuna yang berada dekat pada mereka.
Zeen tak menjawab, ia hanya terdiam seperti memikirkan sesuatu.
Laura berjalan kearah Yuna, ia lalu menjabat tangan Yuna. Dan memberikan selamat padanya, Yuna hanya membalas Laura dengan anggukan tak lupa dengan senyumnya.
Saat wanita itu pergi, entah mengapa didalam pikiran Yuna seperti tak ada ketenangan ketika melihat mereka berdua. Yuna berfikir, jika Zeen dan wanita itu seperti terjalin kedekatan. Entah hanya pikiran Yuna atau memang kenyataan.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa komennnnnn....