Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 197


__ADS_3

...***...


Hari ini acara yang ditunggu-tunggu telah dimulai, yaitu acara syukuran atas lahirnya dua bayi laki-laki yang akan menjadi penerus keluarga atau generasi selanjutnya.


Para keluarga inti begitu sibuk menyambut tamu-tamu yang berdatangan. Tamu yang diundang tentu hanya kerabat jauh dan dekat, sekaligus para pekerja dirumah sakit papa Albaret. Namun tak semua yang datang karena yang datang hanya perwakilan saja.


Selain itu juga, keluarga besar Albaret juga turut mengundang anak-anak yang ada dipanti asuhan, serta mengundang ustad atau ulama untuk melengkapi acara tersebut.


Kini Yuna tengah duduk dikursi yang sudah dihiasi dengan cantik khusus untuk dirinya, tak lupa sekarang ia sedang mengendong baby pertamanya yaitu baby Garandra, sedangkan baby Gionza sedang digendong oleh sang daddy yang juga ikut duduk bersamabya.


Semua orang yang berdatangan terus mengucapkan kata selamat untuk dirinya dan untuk suaminya. Tak lupa jika para tamu juga membawakan sebuah hadiah-hadiah yang bentuk ukurannya hampir besar semua. Dapat dipastikan jika hadiah itu pasti harganya lebih mahal dari sebuah mobil, karena rata-rata kerabat dari keluarga mereka adalah orang-orang berada atau pengusaha kaya.


Yuna nampak menatap kagum pada hadiah-hadiah yang sudah menumpuk dan menjulang keatas. Padahal meja yang disengaja untuk meletakan kado itu cukup besar ukurannya, tapi Yuna tak menyangka jika meja besar dan lebar itu sudah tak terlihat akibat tumpukan kado yang sangat banyak itu.


“Wah nak, baru lahir saja kamu sudah dapat banyak hadiah kayak begitu? Bagaimana jika kamu besar nanti?” ucap Yuna yang masih mode terkagum-kagum.


“Putra kecil mommy sudah jadi kaya tanpa bekerja keras ya? Jika hadiah-hadiah itu ditotalkan semua pasti jumblahnya akan setara dengan harga mobil daddymu!” ujarnya kemudian dengan rasa gemas, Yuna menciumi pipi sang baby yang terlihat begitu gembul.


Zeen yang mendengar suara istrinya itu, langsung ikut nibrung. “Ya kau benar sayang! Kau tau harga mobilku yang baru ku beli dua bulan yang lalu?”


“Mobil yang warna merah itu, ya mas? Emang berapa harganya?” tanya Yuna.


“Harganya lebih mahal dari rumah ini!” jawab Zeen dengan nada yang disombongkan.


“Hah? Yang bener kamu mas? Ah, gak percaya aku mas, masa rumah sebesar ini bisa menandinggi harga mobil mas! Yang ada pasti harga mobil mas itu ratusan juta. Sedangkan rumah ini kalau dijual pasti sudah bernilai bermiliyar-miliyaran!” timpal Yuna tak ingin mempercayai ucapan suaminya begitu saja.


Zeen tertawa mendengar itu, “Kamu meremehkan sekali sayang. Apa yang aku katakan tadi itu benar-benar seratus persen tak bohong, coba aja kamu tanya sama Firo!”


“Emang apa hubungannya dengan Firo mas?” Yuna nampak dibuat bingung.


“Karena Firo yang ikut mengantarku saat membeli mobilku itu,” jelas Zeen.


“Begitu ya ....” Yuna memanut-manut mengerti.


“Oh? Itu dia Firo!” pekik Yuna saat melihat sang adik sepupu.


Zeen pun ikut mengarahkan pandangannya kearah sang sepupu super menyebalkan baginya. Karena jika mereka berdekatan saja pasti akan terjadi kericuhan diantara mereka yang berakhir saling adu mulut secara terus-terusan.


“Firo!” panggil Yuna sedikit berteriak karena suasana yang ramai sehingga pasti akan lebih susah untuk orang mendengar pangilan.

__ADS_1


Firo yang saat itu sedang bersama para wanita, tepatnya anak-anak dari kerabat om dan tantenya itu dibuat menolehkan kepalanya saat namanya dipanggil oleh Yuna.


“Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?” tanya Firo dengan nada ketusnya.


Yuna mengeleng melihat Firo yang masih saja tak bersikap ramah padanya. “Bisakah kau kesini, aku ingin bertanya sesuatu.”


Firo yang penasaran itu mulai berjalan mendekati tempat sang kakak sepupu berada.


“Tanya apa? Kau tak lihat? Jika aku sedang sibuk tadi?”


Zeen menatap sinis sepupunya ketika mendengar itu, “Ck! Sibuk menghitung satu per satu wanita mu?” timpal Zeen sungguh jengah dan malas dengan sifat dari sang sepupu.


“Ya kau tau sendiri!” kali ini Firo tak menyangkal karena dirinya lagi malas berdebat dengan Zeen.


“Aku ingin bertanya, apakah mobil yang dibeli oleh kakak sepupumu itu harganya sangat mahal?”


“Mobil yang mana? Mobil yang dibeli dua bulan yang lalu itu?” tanya Firo.


“Ya yang itu? Memang berapa harganya? Kata kakakmu ini harganya lebih mahal dari sebuah rumah!”


Firo terkekeh mendengar itu, “Ya! Harganya memang sangat mahal, kira-kira sampai dua puluh juta triliun!”


Yuna yang mendengar itu sampai tercengang, entah berapa nominal no dari dua puluh juta triliun itu. Tapi yang terpasti harganya sangat fantastis.


“Ya! Tanya saja pada suamimu itu. Sudah ya! Aku mau melanjutkan kembali berkencang dengan kekasihku!” tanpa berlama-lama, Firo akhirnya pergi dari sana dan menemui kembali para wanita-wanita.


“Mas!” Yuna langsung memelototi sang suami dengan raut emosi, bahkan matanya seperti mengeluarkan sebuah laser merah.


“Kenapa sayang?” tanya Zeen pura-pura tak tahu.


“Malam ini tidur diluar!”


Jeduarrrr! Bagai tersambar petir, Zeen langsung bangkit dari duduknya dengan mulut menaganga.


“Apa maksudmu sayang? Aku tak ingin tidur diluar!”


“Gak usah menolak! Itu hukuman kamu yang menghamburkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli satu mobil! Lebih baik uangnya dimanfaatkan dengan benar dari pada dibelikan mobil yang pasti akan jarang mas pakai!” jelas Yuna tanpa melihat kearah suaminya, karena dirinya masih terbakar kesal.


“Tapi kan sayang, itu mas beli untuk kamu! Untuk hadiah atas lahirnya baby twin.”

__ADS_1


“Jangan jadikan baby twin alasan mas! Sudahlah lebih baik ikut mama aja,” Yuna bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Zeen sendiri disana.


“Sayangggg!” teriak Zeen yang ingin mengejar sang istri tapi terhalang oleh tamu yang ingin melihat sang bayi yang ada digendongan Zeen.


Wajah Zeen memelas kala melihat punggung istrinya yang sudsh menjauh.


Saat Yuna terus berjalan ingin menghampiri sang mama dan mama mertuanya berada, dirinya tiba-tiba menghentikan langkahnya saat ada suara yang memanggilnya.


“Yuna....”


Yuna menoleh kebelakang, dimana ia melihat dua sepasang insan berjalan kearahnya. Dialah Mita dan Fadli yang entah kebetulan mereka berdua tengah berjalan berdampingan.


“Eh dokter Mita dan dokter Fadli!” celetuknya.


“Apa kabar kakak Yuna?” tanya Mita saat sudah berada didepan Yuna.


“Kabar baik dokter Mita, kalian kesini berangkat berdua?” tanya Yuna.


“Oh! Tidak kakak Yuna, kita berdua kebetulan berpapasan didepan,”


“Oh....” Yuna memanut-manut mengerti sambil tersenyum saat melihat kedua orang itu sangat cocok jika bersanding.


“Ini kado dari saya Yuna, selamat atas kelahiran baby twin!” ujar Fadli menyerahkan sebuah kado berukuran sedang kepada Yuna.


Yuna menerima kado itu, “Wah, ternyata kado dokter Fadli yang paling berbeda. Soalnya kado yang saya terima kebanyakan berukuran besar!”


“Oh ya? Berarti seharusnya saya bawa kado yang berukuran besar juga ya?” ucap Fadli sambil terkekeh.


“Oh! Tentu tak diharuskan seperti itu, walau sebenarnya saya berharap para tamu tak perlu repot-repot membawa sebuah kado. Karena kedatangan mereka sekaligus ikut syukuran ini saja saya sudah cukup!” jelas Yuna sambil menimang-nimang putranya yang sedikit rewel.


Hal itu tentu tak luput dari tatapan mata Fadli, yang didalam mata itu masih tersirat rasa yang belum hilang.


Sedangkan Mita yang sejak tadi menatap Fadli tentu saja menyadari keanehan pria itu.


“Eh kakak Yuna aku juga bawa kado loh ... kadonya juga sama kayak punya dokter Fadli, tapi punyaku lebih kecil!” seloroh Mita.


“Wah terimakasih aunti Mita....”


Mita mendekati Yuna guna untuk sekedar mencium pipi gembul sang baby itu. “Sama-sama anak tampan, lain kali main sama aunti ya? Kalau aunti gak sibuk sih!”

__ADS_1


“Aku tunggu aunti cantik...” jawab Yuna dengan suara yang dibuat seperti anak kecil. Mereka pun kemudian saling bercanda ria sampai melupakan tujuan Yuna yang ingin menghampiri sang mama. Dan melupakan sang suami yang ia tinggal sendirian entah sekarang ada dimana, Yuna pun tak menghiraukannya.


TBC.


__ADS_2