Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 66


__ADS_3

Zeen lagi-lagi terdiam dikasurnya, ia sungguh kesal saat ini. Bisa-bisanya ia hampir saja terjatuh disaat ada Yuna disampingnya, betapa malunya ia memperlihatkan kelemahannya didepan gadis desa itu?


"Kenapa harus sakit sih?! Kenapa pula aku meminta gadis desa itu untuk merawatku... Yaampun Zeen... Malu-maluin aja kau!" lagi-lagi ia terus mengucapkan kata itu, ia sepertinya menyesal dengan keputusan yang terucap dari bibirnya.


Disaat ia tengah merutuki dirinya, suara pintu kamar dibuka dan memperlihatkan Yuna yang tengah membawa nampan lagi berisikan air hangat dan kain kecil untuk ia gunakan, membantu, membersihkan tubuh Zeen.


"Saya akan membantu membersihkan tubuh anda!" ucap Yuna sambil menatap Zeen yang sudah berada disampingnya.


Zeen melirik Yuna sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali. "Tidak perlu! Aku bisa sendiri, aku tak ingin mandi memakai lap! Aku akan mandi, didalam kamar mandi saja." jelasnya, sambil kembali berdiri dari duduknya dan kembali terulang dengan dirinya yang langsung oleng dari tempatnya.


"Ukkhh..." Zeen memeganggi kepalanya yang terasa berdenyut.


Yuna untuk kedua kalinya membantu Zeen untuk berdiri, karena lelaki itu masih belum bisa mengimbanggi tubuhnya yang terhuyung-huyung. "Lebih baik, untuk sekarang anda jangan dulu mandi dengan membasuh seluruh tubuh anda! Anda baru saja pulih dari demam, takutnya jika anda memaksakan diri, maka anda akan kembali demam. Saya tau, jika demam anda masih terasa pada tubuh anda." tutur Yuna menjelaskan, sambil membantu Zeen duduk kembali dikasurnya.


Zeen sedikit menyentakan tangannya, karena Yuna masih menyentuh lengannya."Tak usah terlalu perduli padaku! Aku bukanlah anak kecil, jadi sebaiknya kau pergi saja dari sini. Aku bisa mengurus diriku sendiri." ucap Zeen bernada ketus. Sambil memalingkan pandangannya kesembarang arah.


Terlihat Yuna menghela nafas panjang, ia harus ekstra sabar ketika menghadapi pria yang keras kepala, yang tengah menjunjung tinggi gengsinya.


"Tapi anda sendiri yang meminta, jika saya yang akan mengurus anda yang sedang sakit." ucap Yuna bersikukuh.


Kembali, Zeen kembali mengalihkan pandangannya kearah Yuna. Ia menatap Yuna dengan tatapan tajam. "Aku mengatakan itu hanya untuk alasanku sendiri, aku tak memintamu untuk benar-benar mengurusku. Karena aku tak suka jika diurus dengan orang lain." ucapnya dengan nada tegas.


'Orang lain?' gumam Yuna, didalam hatinya ia tersenyum miris.


"Hemm, begitukah? Ternyata saya hanyalah orang lain..." gumam Yuna yang dapat didengar oleh Zeen.


Entah kenapa, mendengar ucapan yang keluar dari mulut Yuna itu seketika membuat Zeen sedikit bersalah. Ia bahkan tak sadar jika ia sudah mengeluarkan kata yang tak sepantasnya keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Ingin Zeen mengucapkan kata maaf, namun seolah bibirnya terkunci dengan rapat dan tak ingin mengeluarkan kata itu, ia sungguh malu dan terlalu gengsi.


Tiba-tiba saja Yuna memberikan nampan yang ia bawa dan menaruhnya pada tangan Zeen. "Jika memang itu keinginan anda, yasudah. Saya tak akan memaksa lagi, kalau begitu saya permisi. Saya akan menyiapkan sarapan untuk anda.." ujarnya, tanpa mendengar jawaban dari Zeen ia langsung berlalu pergi dari kamar itu.


Zeen membatu, ia menatap pintu tertutup itu dengan perasaan aneh. Dirinya tak menyangka, jika Yuna tak lagi membujuk-bujuk dirinya untuk dibantu, ia kira Yuna akan terus bersikukuh namun nyatanya tidak.


Kemudian pandangannya menatap baskom berisikan air hangat yang ada dikedua tangannya. Ia terus menatap air hangat itu dengan wajah cengoh, sampai beberapa detik berlalu ia langsung menghela nafas panjang.


"Ah! Sudahlah, aku memang tak ingin dibantu dengannya. Aku tak manja, aku bisa sendiri." katanya dengan percaya diri, dan setelah itu ia mulai membuka kemeja yang ia kenakan lalu meletakkan kemeja itu disampingnya.


Ia kemudian mengambil kain kecil atau handuk kecil yang ada disamping baskom itu, kemudian ia mencelupkan kain itu pada air dan mulai membasuhnya setelah ia memeras sedikit air pada kain itu.


Seketika Zeen tertawa puas. "Lihatlah? Aku bisa sendiri kan? Sudah ku bilang, jika aku tak ingin dibantu karena aku masih mampu melakukan hal sekecil ini." ucapnya dengan perasaan bangga.


Selama beberapa menit ia melakukan ritual mandinya yang menggunakan kain dan air hangat, kini tersisa punggungnya yang harus ia basahi. Namun karena tangannya yang terlalu berotot itu, membuat ia tak bisa mencapai pada punggungnya. Alhasil ia terus berjuang menempel-nempelkan kain itu yang masih susah sekali menjangkau punggungnya.


"Ah, sialan!" ia terlanjur mengumpat, karena sangking kesalnya.


"Kenapa susah sekali sih....?!" gerutunya merasa kesal.


Tepat saat itu juga, suara pintu kembali terbuka dan kembali menampakkan sosok Yuna yang lagi-lagi membawa sebuah nampan, namun bedanya nampan itu berisi makanan atau sarapan untuk Zeen.


Yuna berjalan mendekat kearah kasur Zeen, Zeen yang melihat Yuna itu seketika menetralkan wajah kesalnya dan membalikkan wajah itu dengan wajah santai. Ia bahkan tak menyadari jika tubuhnya masih bertelanjang dada.


"Saya letakkan sarapan anda disini." ucap Yuna yang langsung meletakkan nampan itu pada meja kecil.


"Hemm." jawab Zeen dengan nada acuh.

__ADS_1


Mata Yuna melirik kearah Zeen, ia sejenak tertegun ketika melihat tubuh atas Zeen yang tak berbalut kain. Ia sedikit terpana dengan perut pria itu, yang terbentuk seksi dan rapi. Namun seketika pikiran Yuna menyadari jika perut yang sangat bagus itu pasti sudah disentuh oleh wanita lain, tentunya kekasih Zeen. Menyadari hal itu, lagi-lagi membuat Yuna terkekeh miris.


"Kenapa? Kau terpana dengan perut indahku ya?" ucapnya dengan sifat kenarsisan yang sangat tinggi.


Yuna tersenyum sebentar. "Entahlah." jawab Yuna dengan nada santai.


"Hah?" Zeen merasa bingung dengan jawaban Yuna.


"Apa anda sudah membasuh tubuh anda?" tanya Yuna mengalihkan pembicaraan.


Sejenak Zeen terdiam, ia lalu melirik baskom yang ada dipahanya. Diam-diam ia. meneguk ludahnya, merasakan malu melanda. "E-em... Itu... Sebenarnya...."


Baru saja Zeen ingin menjelaskan, tiba-tiba suara hanpone Yuna berdering membuat Zeen langsung mengurungkan ucapannya.


Yuna pun langsung melangkahkan kakinya menuju sofa dimana hanponenya berada.


Dilihatnya nama yang ada dibenda pipih itu, sejenak Yuna mengerutkan alisnya.


"Halo dokter Fadli?"


Mata Zeen membola. "Apa? Fadli?" gumam Zeen bingung, menganggkat satu alisnya.


TBC.


Yaampun si dokter gengsi.... 😏


Kalau ada typo, mohon diberitahu😁Author orangnya gampang gak telitian.

__ADS_1


__ADS_2