Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 128


__ADS_3

...***...


“Serius deh? Katanya hukumannya sudah selesai? Ini kenapa dokumen menumpuk banget dimejaku?!” gerutu Zeen menatap aneh tumpukan kertas-kertas yang merupakan laporan medis dari rumah sakit itu.


Ya, hari ini Zeen memulai kembali pekerjaannya setelah liburan agak panjang bersama istrinya di Bali.


Brak!!


Zeen terlonjak kaget saat mendengar suara pintu yang dibuka kasar dari luar.


“Zeen putraku yang tampan! Jangan lupakan ini masih ada sedikit berkas-berkas yang masih harus kamu periksa.” Ucap Albaret dengan santainya memberikan setumpuk kertas berisikan tulisan dimeja Zeen.


Zeen tercengoh, “Apanya yang sedikit pah?” Zeen menghela nafas sejenak. “Itu bukannya sedikit? Itu mah setumpuk dosa-dosa Papa?” jelas Zeen ngasal yang langsung mendapatkan timpukan tangan dibahu Zeen dari Albaret.


“Sembarangan kamu ngomongnya. Udah, Papa tinggal dulu, nanti Papa akan kesini lagi buat cek pekerjaan kamu. Ingat! Jangan pernah berniat untuk kabur.” Tekan Albaret dengan nada mengancam.


Setelah melihat kepergian Papanya, Zeen langsung berdiri dari duduknya dan melompat-lompatkan dirinya dengan perasaan gemas bersamaan dengan perasaan kesal.


“Huh! Aki-aki tua! Untung Papaku sendiri, kalau bukan udah ku hih ...!!” gemas Zeen dengan mengacak-acak rambutnya.


“A-anu dok! Permisi ....”


Suara seseorang dari luar ruangannya membuat Zeen langsung menghentikan langkahnya, sejenak ia terkejut namun rasa terkejutnya itu langsung ia alihkan dengan bersikap cool dan wajah yang didatarkan.


Zeen langsung duduk dikursi kerjanya saat sudah memperbaikan kemeja putihnya yang agak lusuh akibat ulahnya sendiri. “Kalian ini, jika ingin masuk keruangan saya, tolong biasakanlah untuk mengetuk pintu? Kalian ini benar-benar tak sopan ya?” tegur Zeen dengan raut wajah jekelnya.


Seseorang yang tiba-tiba muncul diruangan Zeen itu merupakan dua orang suster. Dua orang suster itu menundukkan kepala ketika mendapat teguran dari Zeen.


“Maaf dokter, sejak tadi kami sudah mengetuk pintu. Mungkin sudah sepuluh kali, kebetulan pintu dokter sedikit terbuka jadi kami inisiatif masuk keruangan dokter dengan harapan dokter ada didalam ruangan. Ternyata dugaan kami benar jika dokter sedang ada diruangan dan kami melihat dokter ....” salah satu suster itu tak melanjutkan ucapannya dan malah menahan mulutnya agar tak mengeluarkan suara tawa yang sejak tadi ia tahan.


“Sudah-sudah tak usah dilanjutkan, kalian kesini mau apa? Apa ada hal penting yang ingin kalian sampaikan?” tanya Zeen tak sabaran.

__ADS_1


“Iya dok. Dokter Albaret tadi berpesan pada kami, jika dokter harus kerang operasi sekarang, karena beberapa menit lagi operasi akan dilaksanakan.” Jelas suster secara rinci.


“What?! Operasi?!” pekik Zeen terkejut bukan main. Bagaimana tak terkejut jika dirinya saat ini masih belum menyelesaikan pekerjaannya dan malah disuguhi kembali dengan pekerjaan yang baru.


“Iya dokter, itu yang disampaikan oleh dokter Albaret tadi. Jadi dokter mohon segera datang keruang operasi, kalau begitu kami pamit undur diri dulu.”


Setelah menyampaikan tujuannya, dua suster itu langsung keluar dari ruangan dengan diselingi tawa mereka yang sempet ditahan tadi.


Sedangkan Zeen yang tak menyadari itu, melamun dimeja kerjanya dengan wajah lelah dan frustrasi.


“Papa benar-benar ingin membunuhku! Jika tahu seperti ini jadinya, lebih baik aku tak usah pulang kemari dan memilih tinggal disana bersama istriku tercinta.” Gumam Zeen dengan perasaan menyesalnya, sambil memikirkan istrinya yang terus terbayang-bayang dipikirannya.


“Ah! Aku jadi meeindukannya, entah mengapa rasanya aku tak ingin jauh-jauh dari istriku!”


🍂🍂


Akhirnya Zeen dapat menyelesaikan jadwal operasi dadakannya, yang baru kali ini tidak ada dijadwal catatanya.


Zeen mulai merengangkan tubuhnya yang terasa pegal disepanjang koridor, bahkan dirinya sampai tak tahu jika Fadli saat ini tengah berjalan kearahnya.


Zeen menengok kesamping dan melihat wajah lelaki yang membuat moodnya langsung turun seketika, “Ya? Ada apa?” walau dirinya tak suka rifalnya itu ia masih menunjukan rasa sopannya sebagai seorang rekan kerja saja.


“Saya hanya ingin bilang, jika anda sudah bekerja dengan baik hari ini. Anda benar-benar senior yang sangat patut dipanuti,” jelas Fadli hanya berbasa-basi saja, karena tujuan awalnya hanya ingin menanyakan keberadaan Yuna saja.


'Cih! Emang dari dulu-dulu, aku tak pernah bekerja dengan baik gitu?' gerutu Zeen dalam hati.


“Hemm, saya mau tanya dokter, bukankah Yuna merupakan asisten pribadi anda? Tapi kenapa Yuna tak mendampingi anada saat ini?” tanya Fadli yang sudah tak sabaran.


Zeen tersenyum miring seketika,'Sudah kuduga jika ini tujuan awalnya,'


“Yah ... istriku saat ini sedang dirumah ... karena istriku itu merupakan istri yang saleh, menuruti perkataan suaminya untuk tinggal dirumah saja agar tak ada pria lain yang menggodanya.” Jelas Zeen berada sindiran.

__ADS_1


Fadli yang tadi berjalan berdampingan dengan Zeen, kini tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Kalau begitu saya duluan ya dokter Fadli, selamat bekerja ....” timpal Zeen dengan senyum mengejeknya, berjalan terus tanpa menengok kebelakang.


“Istri yang saleh?” gumam Fadli menatap punggung Zeen dengan tatapan sinis.


°


°


°


Disetiap perjalanan dikoridor, Zeen terus bersiul-siul kesenangan, bahkan Disepanjang perjalanannya itu ia terus menyapa orang-orang. Entah itu pasien atau keluarga pasien. Mungkin karena kesenangan akibat berhasil menyindir rifalnya itu dan membuat rifalnya langsung terdiam membisu.


“Hai, hai semuanya.”


“Hai dokter ....”


Begitulah sampai diperjalanan yang dilakukan oleh pria itu. Sampai ketika ada yang memanggilnya ia pun langsung menghentikan langkah itu.


“Selamat siang dokter!”


Zeen mengalihkan pandangannya pada sosok yang menyapanya, lalu mengerutkan alisnya saat melihat wajah familiar itu.


“Kau ....” Zeen tampak mengingat-ingat wajah perempuan yang ada dihadapannya.


Wanita yang tampak manis wajahnya itu tampak tersipu malu, “Saya Mita dokter. Saya yang waktu itu bertemu dengan anda saat di Bali.” Jelas Mita.


“Oh ....” Zeen langsung mengingatnya saat mendengar nama itu. “Kau yang mengira saya dan istri saya ada dua orang bersaudara ya?” tanya Zeen mengangkat satu alisnya.


Mita tampak mengaruk kepalanya merasa kikuk, “E-em, maafkan saya dokter saya benar-benar tak tahu waktu itu.”

__ADS_1


“Hem, memang kenapa kenapa kau ada disini? Apa ada keluargamu yang sakit?”


TBC.


__ADS_2