
...***...
Setelah Zeen membawa Yuna masuk kedalam kamar dan berhasil menenangkan wanita itu. Ia pun pamit kepada wanita itu untuk keluar sebentar, dan saat ini ia sudah berada diruangan tepatnya diruang kerja miliknya.
Zeen segera merogoh saku celananya, dan mengambil benda pipihnya itu yang ada disakunya.
Segera ia memencet nomor Rafli sang mata-mata handal yang pernah ia pekerjakan untuk menyelidiki kasus keracunan yang dialami oleh neneknya dua bulan yang lalu.
Tak lama saat nomor itu berdering, terdengar seorang suara bariton dari sambungan telfon itu.
“Rafli, aku ingin kali ini kau harus mencari tentang kasus yang serius!”
“Kasus apakah itu tuan?” tanya Rafli arah seberang telfon.
“Aku ada dua tugas untukmu yang harus kau cari, pertama! Cari tentang apa yang dimaksud dengan sebuah keranjang kecil yang berada didepan pintu rumahku, isi dari keranjang itu ada seekor tikus kecil yang sengaja disayat sampai mati dan juga ditusuk-tusuk perutnya menggunakan jarum tajam! Aku ingin kau mencari tentang apa yang aku katakan tadi.”
“Baik tuan!”
“Oke, aku akan mengatakan misi kedua yang akan kau cari lagi. Dan kali ini merupakan misi yang paling penting!” ucap Zeen dengan tegas dan wajah yang mulai sangat serius.
“Saya akan mendengarnya tuan!”
“Kasus kedua, kau harus mencari dengan sangat teliti tentang keseluruhan masalalu istriku! Terutama tentang istriku yang ditemukan oleh almarhum nenek Santi saat masih kecil yang berada dipanti asuhan. Aku ingin tahu, siapa kedua orangtua dari istriku itu. Semua keseluruhanya tanpa terkecuali.”
“Baik tuan! Apakah ada lagi yang ingin anda sampaikan?”
“Aku ingin kau mencarinya secepat mungkin! Dan berikan semuanya jika kau sudah menemukannya!” ucap Zeen dengan tegas.
“Baik tuan! Saya akan menjalankan perintah tuan sekarang juga!”
“Bagus! Aku tunggu perkembangannya.”
Setelah selesai membicarakan apa yang ingin ia bicarakan, Zeen pun memutuskan sambungan secara sepihak lalu kemudian ia tampak menyungingkan senyum miringnya.
__ADS_1
“Aku sangat salut kepada Rafli. Pekerja cepat dan tak pernah banyak bertanya.” Gumam Zeen kemudian ia beranjak dari ruang kerjanya dan berjalan menuju kamarnya.
°
°
°
°
Zeen tadi berpesan pada Yuna, jika ia harus cepat tidur dan mengistirahatkan diri karena hari yang sudah sangat larut malam. Mengingat Yuna yang tengah hamil, pastilah wanita itu selalu mengalami kecapean dan rasa kantuk yang terus menyerang.
Tapi entah kenapa, kali ini Yuna tak bisa tidur seperti biasanya. Wanita itu terus memejamkan matanya namun pikirannya terus saja melayang-layang sehingga membuat ia susah untuk tidur. Padahal biasanya ia akan tertidur sendiri jika ia memejamkan matanya. Mungkin karena kejadian beberapa menit yang lalu membuat pikirannya itu seketika terganggu.
Yuna menghela nafas panjang, lalu bangkit dari baringnya dan lebih memilih duduk dipingir kasur kemudian menyandarkan punggungnya dibadan kasur itu.
“Apa maksud dari itu ya ...?” gumam Yuna yang sedang memikirkan tentang keranjang yang berisi tikus mati yang tersayat. Bahkan mengingat dan melihat darah dari tikus itu seketika membuat Yuna mual, perutnya terasa teraduk sekali.
“Aku ingin munta– uekk!” merasakan ada yang keluar dari tengorokanya. Yuna pun berlari dengan cepat menuju kamar mandi, tepat disaat itu juga Zeen baru saja memasuki kamarnya dengan mapan berisikan susu yang ada ditangannya.
Huek! Huek! Uuk!
Begitulah yang terdengar didalam kamar mandi, Yuna terus mencoba mengeluarkan isi dari perutnya yang terasa bergejolak ingin segera dikeluarkan. Namun beberapa menit Yuna terus mencoba untuk mengeluarkanya, hal itu tidak berhasil karena yang keluar hanya air liur yang ada dimulut Yuna.
“Sayang ...? Kenapa kamu? Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba muntah-muntah?” tanya Zeen yang sudah sangat khawatir, pria itu terus memijit bagian belakang Yuna agar bisa membantu merilekskan rasa mual Yuna.
Yuna sejenak membasuh wajahnya dengan air, lalu mengelap wajahnya yang sudah terlihat sangat pucat. “Entah mas ... rasanya tiba-tiba aku ingin muntah ketika mengingat kejadian tadi ....” ucap Yuna dengan suara yang lemas.
Zeen yang melihat itu merasa prihatin dan merasa marah bercampur kesal, karena gara-gara kejadian Yuna melihat tikus tersayat wanitanya itu menjadi seperti sekarang. Lemas tak bertenaga, hal itu tentu membuat Zeen merasa sedih sekali.
“Sudah sayang ... lebih baik jangan pikirkan itu terus, kalau kamu banyak pikiran nanti bisa-bisa hal itu berdampak pada baby-baby kita ....” tutur Zeen kemudian menangkup kedua pipi istrinya dan mengelusnya dengan kelembutan.
“Benarkah begitu?” tanya Yuna yang terlihat sangat khawatir ketika mendengar ucapan Zeen.
__ADS_1
Zeen menggangguk. “Iya sayang, jadi kamu gak boleh banyak pikiran ya?” pinta Zeen dengan sangat berharap.
Yuna menatap Zeen dengan tatapan bersalah, karena membuat pria itu merasakan khawatir karenanya. “Iya mas ... aku gak akan lagi memikirkan hal-hal aneh itu. Aku akan menganggap hal itu hanyalah orang yang sedang iseng saja mengerjai kita.”
Zeen lantas tersenyum mendengar itu. “Bagus, ini yang baru namanya istri seorang Zeen Albaret! Yuna Saily yang sangat kuat!” ujar Zeen lalu membawa istrinya kedalam pelukannya.
“Yaudah, kita kekamar aja ya? Aku udah buatin kamu susu, biar kamu dan anak kita makin sehat.”
Yuna menggangguk menanggapi ucapan itu, “Iya mas, ayo.”
Keduanya pun berjalan bersama sambil berpelukan dengan mesra, seolah tak ingin melepaskan pelukan itu.
“Nah ... diminum dulu,” Zeen memberikan segelas susu ibu hamil kepada istrinya.
Yuna menerima susu itu, kemudian ia meminumnya sampai habis. “Terimakasih mas.” Ucap Yuna setelah meletakan gelas itu pada meja yang ada disampingnya.
“Sama-sama sayang ... sudah sekarang kita bobo aja. Udah malam banget!”
Saat Zeen mulai memposisikan diri untuk tidur, dan diikuti Yuna yang juga ingin memposisikan dirinya disebelah Zeen. Tiba-tiba Zeen menghentikan pergerakannya.
“Eh? Tunggu sebentar,”
Yuna terhenti lalu menatap suaminya kembali. “Ada apa mas?” tanya Yuna dengan kening berkerut.
“Mas sepertinya sudah lama tak memakanmu ya?” tanya Zeen dengan gamblangnya.
Yuna semakin dibuat bingung, “Apa maksudnya memakanku mas?” tanyanya.
“Maksudnya kita udah lama gak melakukan hubungan suami istri! Bolehkah aku menjenguk baby-baby kita sayang?” ucap Zeen bertanya sambil menaik turunkan alisnya seolah tengah menggoda Yuna.
“Tanya dokter dulu mas! Kita kan gak tahu? Apakah kita boleh melakukannya saat aku tengah hamil?” setelah itu Yuna membaringkan dirinya dengan nyaman dikasur. Dan lebih memilih tidur lebih dulu dari pada memikirkan hal aneh seperti apa yang dilakukan oleh suaminya.
Sedangkan Zeen masih terdiam, terus memikirkan apa yang diucapkan Yuna dengan serius.
__ADS_1
TBC.