
...***...
“Kami akan membawa kedua bayi anda, kedalam kotak inkubator dokter! Karena bayi anda terlahir prematur dan berat badan 1,3 kg. Jadi kedua bayi anda sangat membutuhkan itu!” jelas salah satu perawat wanita yang tengah meminta izin kepada Zeen.
Zeen menatap lamat kedua putranya yang terlihat sangat kecil. Tak seperti bayi normal pada umumnya yang akan terlihat besar ketika digendong, hal itu benar-benar membuktikan jika bayi-bayin membutuhkan perawatan yang ekstra.“Apakah mereka akan sehat? Mereka bahkan tak menangis ketika keluar dari perut ibunya....” gumam Zeen yang dapat didengar oleh semua orang yang ada diruangan itu.
Albaret yang melihat keraguan didalam diri putranya itu, langsung berjalan mendekat. Kemudian menepuk bahu putranya dengan sangat keras. Hal itu membuat Zeen terpekik kaget sekaligus merasakan nyeri dipundaknya.
“Aduh Papa ... kenapa suka sekali memukulku sih?” gerutu Zeen menatap jengkel Papanya.
“Papa rasanya ingin sekali membuang kau dikolam lele! Kau kan seorang dokter, bukankah kau pasti tau jika hal itu akan membantu tumbuh kembang anakmu? Kenapa pikiranmu itu terlihat masih ragu saja?” Albaret benar-benar merasa gereget pada putranya.
Zeen masih mengelus pundaknya yang terasa panas. “Aku tidak merasa ragu Papa,” timpalnya.
“Lah itu apa tadi?” tanya Albaret sambil berkecak pinggang.
Zeen menghela nafas sejenak. “Aku hanya merasa heran Pah, bukankah ketika dilahirkan bayi akan menangis? Tapi kenapa bayi-bayinku tidak?” ucap Zeen bertanya sambil menatap kedua bayinya dengan tatapan khawatir.
Albaret pun mengikuti arah pandang Zeen yang tengah menatap bayi mungil itu. “Ini karena bayi-bayi kamu terlahir tak sesuai bulannya. Jadi mungkin jika bayi-bayi kamu sudah mendapatkan perawatan yang baik pasti mereka akan mengeluarkan tangisnya.” Jelas Albaret yang sebenarnya ada rasa khawatir juga didalam hatinya. Ia yang seorang dokter anak saja sampai dibuat resah.
“Baiklah! Sebaiknya kalian langsung bawa kedua putraku! Rawat mereka dengan baik dan penuh ekstra! Aku akan terus mengecek keadaan mereka setiap detik dan setiap menitnya nanti. Pastikan kalian membawa putra-putraku dengan baik! Jika lecet sedikit saja maka kalian akan mendapatkan akibatnya!” jelas Zeen dengan penuh ketegasan.
“Kalian mengertkan?” lantunya lagi melihat dua orang perawat dengan tatapan tajamnya.
Dua perawat itu lantas mengangguk dengan gerakan kikuk.
“B-baik dokter Zeen!” jawab keduanya.
“Bagus!” Zeen pun beralih pada Mita yang berdiri tak jauh darinya.
“Dan dokter Mita! Aku tugaskan kau juga yang akan merawat putraku dengan baik.”
Mita langsung menanggapinya. “Baik dokter!” jawabnya, “Kalau begitu kami Permisi undur diri dulu!”
Setelah itu kedua perawat wanita yang membawa kedua bayi Zeen keluar dari ruangan itu, diikuti Mita yang juga ikut keluar.
__ADS_1
Saat sudah diluar ruangan, para kelauraga yang sejak tadi malam hingga menjelang pagi menunggu diluar, langsung berdiri ketika melihat kedua perawat itu dan juga Mita.
Eva yang sebagai orangtua kandung Yuna langsung maju menghalangi langkah mereka.
“Bagaimana keadaan putri saya dokter? Apakah, apakah putri saya baik-baik saja?” tanya Eva dengan penuh tergesa-gesa.
Diana, Vina, dan Winda bersama-sama mendekati Eva, dan mengelus punggung wanita yang sudah berkepala empat itu agar menyalurkan rasa ketenangan.
Mita tak langsung menjawab, dirinya langsung melirik kekanan dimana kedua perawat yang tengah mengendong bayi Yuna.
Hal itu membuat Eva juga melirik kearah dua perawat itu, karena sangking paniknya ia baru melihat jika ada dua bayi disana.
Tiba-tiba Eva langsung menutup mulutnya dan menatap bayi itu dengan tatapan tak percaya.
“Tidak mungkin ... apakah putriku sudah melahirkan?” tanyanya namun arah pandangannya masih tertuju pada bayi-bayi itu. Eva seolah langsung mengetahui jika bayi-bayi itu adalah bayi milik Yuna, karena sudah terlihat dengan jelas bahwa bayi kembar itu memiliki wajah khas Zeen dan Yuna.
Para lelaki yang sejak tadi diam dibelakang, langsung berjalan tegak menghampiri para wanita.
“Mana mungkin Yuna melahirkan secepat ini?” tanya Yudas seolah juga tak percaya.
“Tapi bayi ini sudah membuktikan jika bayi-bayi ini pasti milik kakak sepupu,” timpal Firo.
Mita bahkan sampai dibuat kebingungan mendapati pertanyaan-pertanyaan yang super banyak itu.
“Nyonya-nyonya, dan tuan-tuan saya akan menjelaskan semua pertanyaan anda-anda! Tapi mohon, tolong beri ruang untuk kami dulu karena bayi ini masih butuh perawatan!” jelas Mita dengan penuh perhatian.
Para keluarga yang tadinya ribut sendiri itu langsung terdiam, kemudian langsung menyisih satu per satu untuk memberikan mereka jalan.
“Terimakasih,” ucap Mita tersenyum, kemudian langsung beranjak dari tempat itu.
Namun tak disangka-sangka sekelompok keluarga itu mengikuti langkah mereka dari belakang. Mereka semua masih penasaran dengan dua bayi yang diyakini mereka adalah anak dari Zeen dan Yuna.
Ketika Mita dan dua perawat itu masuk, para keluarga hanya bisa diluar sambil mengintip dari balik kaca yang kebetulan dinding itu terbuat dari kaca yang sangat tebal. Sehingga ketika dilepari oleh batu kemungkinan tak akan pecah. Itulah kecanggihan rumah sakit Papa Albaret, selain mewah fasilitas dirumah sakit itu pun juga ikut mewah. Kemungkinan 40% dari rumah sakit terbesar lain pasti tak ada yang selengkap seperti yang dimiliki oleh rumah sakit kebanggaan itu.
“Apakah itu cucu-cucu kita Pah?” tanya Eva pada sang suami.
__ADS_1
Yang ditanya hanya diam fokus pada kedua bayi yang tengah diletakkan diotak inkubator.
“Cucu-cucu kita kecil sekali ... nenek ini sampai pengen nangis melihat mereka yang kurus ....” ucap Vina sambil menyeka air matanya.
“Aku punya keponakan?” gumam Firo yang dimatanya itu penuh dengan binaran, entah bahagia atau apa, hanya Firo yang tau itu.
“Bukankah belum waktunya Yuna melahirkan ya Mah? Aku khawatir dengan keadaan Yuna saat ini, apakah Yuna baik-baik saja?” ucap Yudas yang membuat mereka semua langsung termenung.
Vina pun menghela nafas panjang, “Hanya dokter wanita itu yang bisa menjelaskannya,” timpalnya saat melihat Mita yang sudah berjalan keluar dari ruangan khusus bayi itu.
Mita yang sedari tadi melihat para keluarga itu lantas langsung tersenyum dan berjalan mendekati mereka.
“Saya tau, pasti anda semua sudah sangat penasaran dengan kejadian ini. Terutama pada dua bayi itu.” Jelas Mita.
“Apakah bayi itu, bayinya putriku? Dan menantuku?” tanya Eva.
Mita langsung mengangguk menanggapi. “Ya! Dua bayi kembar itu adalah bayi milik dokter Zeen dan nona Yuna,”
Semua nampak kaget mendengarnya, walau sedari awal mereka sudah menebaknya. Namun tetap saja mendengar penjelasan secara langsung itu membuat mereka merasa tak percaya.
“Bukankah waktu kelahiran masih tersisa dua bulan lagi, dok?” tanya Winda yang sudah sangat penasaran.
“Ya! Tapi karena sebuah inseden penembakan itu, kandungan nona Yuna ikut bermasalah. Itu sebabnya kami para dokter mengambil jalan pintas yaitu melahirkan bayi-bayi itu secara sesar! Karena kalau tak segera ditindak lanjut, maka operasi itu akan mengandung resiko.”
Kemudian Mita terus menjelaskan masa beroperasi dengan secara lengkap dan mudah dimengerti. Para keluarga terus mendengar tanpa ada yang menyela, bahkan raut wajah mereka sampai berubah-ubah ketika mendengar penjelasan itu yang sungguh menyayat hati.
“Tr-trus? Bagaimana dengan keadaan putri saya? Apakah putri saya baik-baik saja?” tanya Eva lagi yang terus saja memikirkan keadaan putrinya.
“Untuk kondisi nona Yuna–”
Belum selesai ucapan Mita, tiba-tiba para dokter yang keluar dari ruang tempat Yuna dioperasi. Saling berlari-lari dengan suara teriakan-teriakan penuh kepanikan.
“Ada apa dengan mereka?” tanya Firo.
“PUTRIKU!”
__ADS_1
Teriak Eva, yang langsung berlari menuju ruang operasi.
TBC.