Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 135


__ADS_3

...***...


“Dokter Mita! Bagaimana kondisi istriku?” ucap Zeen mengulangi lagi pertanyaan ketika tak mendapati jawaban dari wanita berjas putih didepanya itu.


Namun lagi-lagi pertanyaan tak dijawab, wanita yang ada didepanya itu malah melamun entah apa yang dilamunkan yang tentunya membuat Zeen kesal melihatnya.


Zeen yang sedikit emosi itu langsung mengebrak meja itu.


Brak!


“Astaga?!” pekik Mita langsung tersadar dari lamunnya. “Dokter Zeen? Kenapa anda memukul meja kerja saya?” tanya Mita tak mengerti.


“Seharusnya saya yang bertanya, kenapa dari tadi saya bertanya anda tak menyahut? Anda niat bekerja atau tidak sih? Baru juga dua hari disini sikap tak kompeten anda langsung terlihat.” Zeen memandang Mita dengan pandangan tak suka.


Mita yang mendapat cercaan itu dibuat kikuk dan canggung, “Ma-maaf dokter ... saya sedikit banyak pikiran tadi.” Ucapnya beralasan.


“Jika anda ada urusan lain yang tak menyangkut rumah sakit mending tak usah dibawa kemari, yang akan membuat pekerjaan anda menjadi terhalang!” tekan Zeen. “Saya tak suka cara anda bekerja. Sudahlah, lebih baik saya akan periksakan istriku kedokter lain yang lebih kompeten.” Lanjutnya berada sindiran.


Zeen mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati brangkar istrinya, lalu kemudian ia segera mengangkat tubuh Yuna dan kembali lagi mengendong wanitanya itu.


“Ta-tapi dokter? Saya sudah selesai memeriksa istri anda, saya akan beritahu kondisi istri–”


“Terimakasih, tapi saya akan tetap membawa istri saya kedokter lain,” jelas Zeen langsung keluar dari ruangan itu tanpa menoleh kebelakang.


Mita langsung terduduk dikursinya, memijit plipisnya yang terasa berdenyut. “Hancur sudah imageku dihadapan dokter Zeen.” Gumamnya merasakan amat malu dan frustrasi.


🍂🍂


Zeen terus mengendong Yuna disepenjuru koridor rumah sakit, bahkan orang-orang yang melihat Zeen merasa heran dan bingung. Bingung karena sejak tadi Zeen terus kesana kemari selama beberapa kali membawa istrinya puntang-panting digendongannya menuju kesatu ruangan keruangan yang lain, merasa keheranan karena Zeen seperti tak mau meminta bantuan orang lain untuk membantu membawa istrinya bahkan tak berinsiatif membawa istrinya itu dibrangkar yang memiliki roda dan tentu akan mempermudah Zeen membawa Yuna.


Salah satu perawat wanita menghampiri Zeen, saat melihat Zeen yang sedang kebingungan.

__ADS_1


“Dokter Zeen? Ada apa dengan istri anda dokter? Jika anda kesulitan saya akan membantu dokter.” Ucap perawat itu.


“Istriku sedang pingsan, aku juga kebingungan mau mencari dokter kandungan dimana lagi? Dokter kandungan disini sedang izin cuti,” jelas Zeen yang masih terus melangkahkan kakinya entah akan menuju kemana.


Perawat wanita itu agak kebingungan, “Disini masih ada dokter kandungan dokter Zeen? Kenapa anda merasa bingung?”


“Aku bingung karena tak ada dokter kandungan wanita disini.”


“Hah? Tapi bukannya sama saja dokter?”


“Tidak sama! Aku ingin istriku diperiksa oleh dokter wanita! Bukan dokter berjenis kelamin pria!”


Perawat itu yang awalnya bingung, sedikit demi sedikit merasa paham dengan ucapan Zeen.


“Masih ada dokter Mita dok, anda bisa priksakan ke–”


“Dokter tak kopenten! Aku tak suka!” sela Zeen membuat perawat itu bungkam seketika.


Zeen yang mendengar perkataan itu langsung menghentikan langkahnya, dan menolehkan kepalanya kesamping melihat perawat wanita yang sejak tadi berceloteh disampingnya.


“Kenapa tak terpikirkan dari tadi?” gumam Zeen tersenyum seketika, saat dirinya menemukan solusi yang ampuh.


🍂🍂


Dan kini, Yuna saat ini kembali berbaring dikasur kecil khusus untuk pasien satu orang.


Yuna juga kembali diperiksa oleh dokter kandungan, yang tentu dokter kandungan perempuan yang didapat oleh Zeen melalui Papanya.


Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana Zeen membujuk Papanya untuk mendatangkan dokter kandungan seorang wanita dengan sangat cepat? Tentu saja Zeen membuat Papanya panik dulu dengan suara cemprengnya saat ia memasuki ruangan Papanya itu, tak hanya itu Zeen juga terus mendesak-desak Papanya agar segera membawakan dokter kandungan itu bagaimana pun caranya. Dengan alibi menyangkut hidup dan mati menantunya.


Dan bisa dilihat buktinya, jika segala desakan dan alibinya berjalan dengan sukses.

__ADS_1


Dengan Yuna yang diperiksa oleh dokter Elena yang merupakan dokter wanita berusia tiga puluh tahun, yang sebelumnya melaksanakan jadwal cutinya karena ingin merehatkan dulu tubuhnya dengan jangka waktu dua minggu saja. Namun baru saja lima hari ia cuti dari kerjanya, tiba-tiba ada sebuah telfon berdering dari sang atasan yang mendesak-desak dirinya untuk segera datang kerumah sakit.


Setelah dokter Elena selesai memeriksa kondisi Yuna, ia berjalan dengan elegan menuju meja kerjanya. Dan diikuti Zeen dan juga Papanya yang langsung duduk dikursi tepat dihadapkan dokter Elena.


“Bagaimana kondisi istriku dokter Elena?” tanya Zeen langsung pada intinya.


Elena langsung mengalihkan pandangannya pada Zeen, “Ya ... sesuai dengan gejala yang dialami istri anda, yaitu mengalami pusing yang datang tiba-tiba dan juga perut yang terasa diaduk karena kekurangan asupan atau selera makan hilang. Gejala itu menandakan jika istri anda tengah hamil!”


Kata terakhir 'Hamil!' membuat pendengarnya langsung tergiang-ngiang hingga dikepalanya. Membuat seorang Zeen terdiam bungkam.


“Menantu saya hamil Elena?” kini Albaret yang bertanya dengan raut tak percaya dan sekaligus raut kebahagiaan.


Elena mengangguk, “Ya dokter! Menantu anda sedang hamil, dan kira-kira kehamilanya sudah berjalan tiga minggu!”


Plak! Plak!


Dengan sekuat tenaga Albaret mengeplak bahu putranya dengan perasaan sumringah. “Selamat Zeen putraku! Kau akan segera menjadi ayah!” pekik Albaret kesenangan. “Kabar baik ini harus aku sampaikan orang rumah.”


Dengan gerakan cepatnya, Albaret langsung menghubungi istrinya melalui sambungan telfon.


Sedangkan Zeen yang mendengar kata 'Ayah' tiba-tiba menitikan air matanya. Merasa terharu bercampur kebahagiaan.


“A-aku akan menjadi ayah ....?” gumam Zeen tersedu-sedu.


“Mas Zeen!”


Suara lengkingan dari arah belakangannya, membuat Zeen langsung menengok dan mengalihkan pandangannya pada sosok istrinya.


“Apa maksudnya itu mas? Hamil?”


TBC.

__ADS_1


__ADS_2