
"Hah? Saya?" beo Yuna, dengan wajah polosnya ia menunjuk dirinya sendiri.
Sedangkan Vina yang tengah duduk dikasur Zeen itu, melirik Yuna sejenak lalu melirik putranya kembali. Tiba-tiba, tanpa semua orang ketahui, diam-diam Vina tersenyum misterius entah apa arti dari senyuman itu.
"Pah..." Vina memanggil suaminya dengan suara lirih.
Kebetulan Albaret yang berada disamping istrinya itu menoleh ketika mendengar namanya dipanggil oleh istrinya. "Ya?" ia menjawab, juga dengan suara berbisik.
Vina langsung memberi kode pada suaminya dengan mengerlingkan satu matanya, sedangkan Albaret yang melihat itu tentu merasa aneh, sepertinya ia belum juga peka dengan kodean dari istrinya itu.
"Apa...?" bisiknya lagi bertanya.
Vina kesal melihat suaminya yang tak kunjung peka, ia pun mau tak mau melambaikan tangannya agar suaminya menundukkan kepalanya. Setelah suaminya menunduk sedikit kearahnya, Vina pun segera membisikan sesuatu ditelinga suaminya.
"Lebih baik kita turuti aja kemauan purta kita... Itung-itung biar mereka berdua semakin dekat." bisik Vina sambil tertawa kecil.
Albaret yang mendengar bisikan itu seketika memberikan sebuah jompol pada istrinya, "Ide bagus." jawab Albaret senang.
"Ehem, baiklah Zeen jika memang itu kemauan kamu. Papa dan mama tak bisa memaksa kamu lagi." terang Albaret dengan kedua tangan terlipat didada, membuat Vina ingin sekali tertawa keras ketika melihat wajah sok angkuh dari suaminya.
Zeen yang mendengar jawaban dari papanya itu, seketika bernafas lega.
"Tapi Albaret.... Anakmu kan lagi sakit...?" tampak Rima yang merasa keberatan.
Albaret yang berdiri disamping istrinya itu, beralih mendekat pada ibunya. Ia lalu menepuk kedua bahu wanita tua itu dengan halus. "Sudahlah mah.... Biarkan saja kalau Zeen mintanya begitu... Apa salahnya kalau Zeen dirawat sama istrinya sendiri? Malah lebih bagus kan? Yuna jadi lebih berbakti pada suaminya, dan Yuna pasti akan mendapatkan pahala apabila ia berbakti pada suaminya... Bukankah memang betul ucapanku?" jelas Albaret, tengah membujuk ibunya.
"Betul sekali mas..." timpal Vina dengan suara ceria. Albaret pun memberikan kerlingan mata pada istrinya, membuat istrinya langsung bersemu merah.
"Hahh... Yasudah kalau memang begitu, nenek ikutan saja... Tapi kalau keadaan cucu nenek bertambah parah. Nenek gak akan segan-segan lagi bawa cucu nenek kerumah sakit, ingat itu!" jelas Rima dengan suara tegas.
__ADS_1
"Iya mah... Iya...." jawab Albaret tak ingin membantah lagi.
"Yaudah ya... Cucu nenek baik-baik, istirahat yang banyak. Biar cepat sembuh." ucap Rima, sambil mengelus tangan Zeen dengan lembut.
"Iya nek..." jawab Zeen sambil mengangguk.
"Baiklah, sekarang kita tinggal kamu agar nyaman istirahatnya." kata Rima mula bangkit dari duduknya, saat ingin keluar ia menghadap Yuna sebentar. "Yuna.... Tolong rawa cucu nenek dengan baik ya?" pintanya.
Yuna sedikit tergelak, namun tatkala ia mengangguk menanggapi. "Iya nek..." jawabannya sedikit gugup.
"Bagus kalau begitu, kita keluar sekarang ayo! Biar cucuku bisa istirahat dengan tenang." ajaknya lagi.
Vina dan Albaret pun langsung membuntut. "Oke mah." jawab mereka bersama.
Namun mereka semua sampai melupakan jika disana masih ada Lena yang belum beranjak dari kamar itu, ia sedari tadi tampak terdiam, namun tatapan matanya terus tertuju pada Yuna. Lena tersenyum sinis seketika. 'Mau deket sama keponakanku? Gak akan kubiarkan.' gumamnya dengan sinis.
Suara Zeen tiba-tiba membuatnya langsung tersadar dari lamunya. Ia pun menetralkan wajahnya, lalu tersenyum cerah pada Zeen.
"Engak kok sayang... Tante pamit juga ya.... Semoga keponakan tante cepet sembuh..."
"Iya tante makasih." jawab Zeen.
"Sama-sama sayang..." Lena lalu berjalan dengan lengoknya, bahkan ia dengan sengaja menyengol bahu Yuna agak keras.
Lena menutup mulutnya dengan telapak tangannya. "Upss! Maaf..." ucapnya tertawa meremeh. Setelah itu kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari kamar itu.
Yuna yang melihat tingkah Lena itu hanya bisa menghela nafas, ia mencoba menenangkan dirinya agar terus bersabar.
Tinggallah Yuna dan Zeen saat ini. Keadaan ruangan itu hening membuat mereka langsung dilanda kecanggunggan.
__ADS_1
Yuna menggit bibir bawahnya merasa gugup melanda dirinya, ia tak tau harus berbuat apa, begitu pula dengan Zeen ia hanya diam sambil mengarahkan pandangannya kedepan.
"Ekhem," suara deheman berasal dari Yuna, ia melangkahkan kakinya menuju sofa dan mengambil selimut yang ia pakai tidur, tadi malam. Ia melipatnya dengan rapi lalu meletakkan selimut pada lemari.
Yuna tak tau saja jika semua pergerakannya terus diamati oleh sepasang mata tajam, siapa lagi kalau bukan Zeen? Orang yang berada diruangan itukan hanya dia?
Saat Yuna membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Zeen langsung mengalihkan pandangannya lagi kedepan. Ia seperti pencuri yang sedang mematai-matai mangsanya, betapa gilanya pikirannya.
"Emmm, saya akan mandi sebentar." ucap Yuna, lalu ngancir masuk kedalam kamar mandi sambil menundukkan kepalanya, malu jika harus bersitatap dengan Zeen.
Saat melihat pintu itu dikunci dari dalam, Zeen yang tadinya menahan nafasnya itu langsung membuangnya seketika, bahkan suara nafas itu sangat panjang, pasti akan membuat orang lain mengeleng-geleng jika melihat tingkahnya.
Pria berjangkun itu menepuk kepalanya seketika, namun tepukan itu tak terlalu keras. "Apa yang tadi kau ucapakan Zeen? Ingin dirawat olehnya? Apa kau sudah gila! Bagaimana mungkin kau meminta bantuan pada gadis desa itu?" ia terus mengerutu namun suaranya tak ia kencangkan, takut jika Yuna mendengarnya. "Bikin malu saja kau Zeen!" gerutunya lagi.
Tak ingin terus terpikir oleh pikiran bodohnya itu, ia pun lebih memilih merehatkan badannya karena ia masih merasakan denyutan pada kepalanya.
Selama sepuluh menit berlalu, Zeen masih belum memejamkan matanya. Pikirannya terus berkelana entah apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Hingga suara pintu dibuka dari dalam kamar mandi, dirinya refleks langsung bangun dari baringnya dan menatap kearah pintu, dimana Yuna yang baru saja selesai dari ritual mandinya.
Yuna yang ditatap seperti, merasa gugup kembali padanya. Ia sedikit berjalan mendekat kearah Zeen. "Emmm, apa ada yang bisa saya bantu? Mas..?" tanya Yuna dengan suara pelan.
Zeen terhenyak mendengar kata 'mas' lagi dari mulut Yuna, ia refleks langsung berdiri dari kasurnya. "Eh, emmm, aku mau m-mandi." Zeen kalang kabut, baru saja kakinya menyentuh lantai. Tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung dan kembali ambruk dikasur.
"Aaa..." Yuna menjerit tertahan, ia langsung menghampiri Zeen, dan membantunya yang kesusahan dari berdirinya itu.
"Sebaiknya mas Zeen istirahat saja, soal mandi... Biar Yuna bantu bersihkan tubuh mas... Menggunakan lap dan air hangat." tutur Yuna, tanpa mendengar jawaban dari Zeen ia langsung beranjak dan pergi meninggalkan pria itu yang tengah melongo ditempatnya.
TBC.
Eaaa... Zeen... Baperkan lu? Ya pastilah baper..
__ADS_1