
...***...
Kali ini Zeen pulang tepat waktu, pulang dari rumah sakit seperti pada umumnya yaitu pukul 21:00 dan dirinya tentu pulang bersama Papanya karena berangkat tadi ia juga bersama Papanya.
“Hahhh ... hari ini benar-benar melelahkan ....” lesu Zeen melepmaskan tubuhnya ketika berjalan masuk kedalam rumah.
Albaret yang saat itu berada tepat disamping Zeen langsung mengelengkan kepala tak habis pikir.
“Baru begitu saja Zeen, Zeen. Aku setiap hari lebih melelahkan karena Papamu ini juga harus mengurus pekerjaanmu yang terbengkelalai itu sebelumnya.” Timpal Albaret.
Zeen hanya mendengus kesal mendengar itu, ia lebih memilih melanjutkan langkahnya kembali dan ingin segera menempel pada istrinya, karena istrinya lah adalah sumber obat yang manjur. Kenapa bisa dikatakan begitu? Karena disaat Zeen tengah menempel pada Yuna maka semua beban dan rasa lelah yang menghantam akan langsung hilang dan itu semua berkat sang istri tercinta. Begitulah yang dialami Zeen akhir-akhir ini.
“Dasar anak itu!” dengus Albaret merasa kesal ketika diabaikan oleh putranya sendiri.
“Papa sudah pulang?” Vina berjalan menghampiri sang suami, ketika dirinya tak sengaja melihat suaminya disaat ia berada didapur untuk mengambil air putih.
“Yah ... untung Papa gak lembur sampe jam 12 lagi,” jawab Albaret sambil mengandung istrinya menuju kamar saat ia sudah memberikan tas kerjanya pada istrinya.
Vina terkekeh mendengar itu. “Mungkin karena Zeen gak bolos lagi ya Pah.”
“Ya ... anak itu sebenarnya ingin mencoba kabur lagi, untung tadi Papa sudah nyuruh satpam untuk tak mengizinkan putramu itu keluar. Jika tidak maka semua pekerjaannya akan Papa pikul semuanya lagi.”
“Emang kenapa Zeen mau kabur Pah? Apa dia gak betah diomelin terus sama Papa?” tanya Vina gamblang dengan raut polosnya.
Albaret sampai tepuk jidat. “Bukan itu Mah ... masalahnya Zeen itu terus merengek pengen ketemu sama istrinya!” ucap Albaret sambil menghela nafas.
Sejenak Vina dibuat tertawa mendengar itu. “Oh ya? Yaampun bocah itu sangking bucinnya sama istrinya.”
Vina dengan telaten melepas dasi yang sudah agak berantakan itu dengan perlahan, kemudian ia melepas kemeja yang dikenakan oleh Albaret juga dengan perlahan.
__ADS_1
Albaret tak menjawab perkataan istrinya dan lebih memilih memperhatikan wajah istrinya dengan saksama.
“Padahal Papa sendiri nahan-nahan loh buat ketemu sama Mama. Kita kan jarang jalan-jalan berdua, juga jarang menghabiskan waktu berdua dikamar karena Papa yang terus-terusan sibuk dirumah sakit, Papa rasanya ingin cepet-cepet pensiun dari pekerjaan dan menikmati masa tua bersama istri **** ku ini.” Ucap Albaret dengan nada sensual menggoda sang istri.
Vina yang mendengar itu dibuat tersenyum malu-malu, “Papa ini! Mama kan udah tua, masa dibilangi **** sih Pah?” ucapnya sambil mengeleng kepala.
“Loh justru itu Mah,” Albaret mulai mendekatkan bibirnya didekat telinga istrinya. “Mama itu makin tua, maki tambah menggoda.” Bisiknya kembali bernada sensual.
“Ihhh, Papa ah!” Vina menimpuk dada suaminya dengan tangannya, hal itu membuat Albaret tertawa terbahak.
“Bagaimana kalau malam ini kita melakukannya Mah?” tanya Albaret dengan tersenyum penuh arti.
“Melakukan apa Pah?” Vina berbalik bertanya dan berpura-pura tak tahu dengan ucapan itu.
“Tentu saja melakukan mantap! Mantap!” sarkas Albaret langsung mendorong tubuh istrinya kearah kasur, sehingga membuat Vina yang belum siap itu langsung terlentang dikasur empuk itu.
“Kyaaa ... dasar Papa, masum banget ih!” pekik Vina.
Sedangkan disisi lain, terlihat Zeen berjalan gontai menuju kamarnya. Saat dirinya sudah sampai didalam kamar, ia segera meletakan tas kerjanya dan melontarkan dasinya sekaligus karena merasakan kegerahan.
“Sayang ... mas kangen banget nih, pengen dibelai-belai kamu.” Ucap Zeen ngasal diselingi kekehan kecil darinya.
Namun ucapan Zeen tak dijawab, keadaan malah hening dikamar itu.
Zeen nampak mengerutkan alisnya ketika menyadari hal itu. “Sayang?” panggilnya lagi kemudian mulai mengedarkan pandangannya.
“Dimana istriku?”
Zeen pun mulai mencari istrinya dari toilet, hingga kebalkon. Namun keberadaan istrinya tak ada hanya isa saja yang ada diruangan itu. Tentu saja hal itu membuat Zeen khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya.
__ADS_1
“Lebih baik aku tanya saja pada Mama.” Ucapnya lalu berlari keluar dari kamar dan menuju kamar orangtuanya berada.
Saat sudah sampai pada tujuan, Zeen pun langsung mengedor-gedor pintu kamar itu dengan tak sabaran.
“Mama! Mama!” teriak Zeen memanggil Vina sang Mama.
Namun pintu itu masih saja tertutup tak ada tanda-tanda akan dibuka. Tentu bukan Zeen jika menyerah begitu saja, ia pun terus mengedor pintu itu tanpa memikirkan orang lain yang pasti akan merasa terganggu dengan suara gedoran itu yang sedikit kencang.
“Mama! Mama! Zeen tau jika Mama ada didalam sana! Mama buka pintunya dong Mah, Zeen mau bicara!” teriak Zeen mengelegar.
Dan akhirnya usahanya itu berhasil ketika pintu kamar itu akhirnya terbuka juga, dan langsung menampilkan sosok seseorang yang membuka pintu itu yang tak lain adalah Albaret sang Papanya yang saat itu hanya mengenakan celana pendek tanpa mengenakan pakaian atasan, dan langsung memperlihatkan otot perut yang terbentuk pada tubuh pria paru baya itu.
Albaret menatap tajam putranya dengan raut kekesalan, bagaimana tak kesal jika dirinya yang lagi enak-enaknya diganggu oleh anak atu-atunya yang super usil itu.
“Ada apa sih Zeen? Ganggu Papa aja yang lagi mantap-mantap!” gerutu Albaret sambil menyeka keringat yang bercucur dikening akibat olahraga panas yang ia lakukan bersama sang istri.
Zeen bahkan sampai dibuat melongo mendengar itu. “Astaga Papa? Papa udah bau tanah aja masih main gituan? Gak malu apa? Udah mau punya cicit juga, ingat umur Pah ....” gerutu Zeen menggelengkan kepala.
Albaret yang mendengar itu pun langsung mengeplak lengan Zeen. “Sontoloyo kau jadi anak! Ya terserah Papa lah mau ngelakuin apa. Umur Papa memang tua, tapi tenaga Papa ini masih tenaga anak muda. Jadi jangan pernah meremehkan stamina Papa mu ini Zeen Albaret!” terang Albaret sambil berkecak pinggang menatap putranya.
Zeen sejenak mengeluh lengannya yang tadi dipukul keras oleh Papanya. “Udah Pah, jangan ngomongin itu yang buat jiwa kemudaan Zeen meronta. Gak tahu apa Zeen lagi menahan gejolak mengebu, malah dipanas-panasin.” Gerutu Zeen kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
Albaret memutar bola matanya malas. “Itu mah derita kamu! Papa mah bodo amat.” Acuhnya.
Zeen menghela nafas kasar sambil mengacak-acak rambutnya dengan ftustasi.
“Sekarang dimana Mama Pah? Zeen ingin bertemu dengan Mama,” ucap Zeen yang ingin nyelonong masuk kamar namun dengan sigap Albaret menghentikan langkah putranya.
“Eee, siapa yang mengizinkan mu masuk anak muda? Jangan coba-coba kau! Ini wilayah kekuasaan Papa,” acamnya sambil menempatkan dirinya ditengah-tengah pintu.
__ADS_1
“Tapi Pah, Zeen pengen bicara sesuatu sama Mama,” rengek Zeen seperti seorang yang ingin menangis.
TBC.