
Zeen terkejut, Yuna pun ikut terkejut.
"Loh? Tapi pah... Kenapa harus Yuna?"
"Kenapa? Kamu merasa gak yakin dengan kinerja Yuna? Apa kamu merasa malu jika yang jadi asisten mu istri kamu sendiri." hardik Albaret, sambil menompang satu kakinya diatas kaki kirinya.
"Bukan itu maksud-"
"Sudah Zeen, jangan membantah papa. Ikuti aja apa ucapan papa, ini juga demi kebaikan kamu dan juga rumah sakit kita." sela Albaret menghentikan ucapan putranya.
"Bagaimana Yun? Apa kamu mau?" lanjutnya, kini bertanya pada Yuna.
Yuna diam, ia tampak meragu.
"Bagaimana sayang? Kamu mau ya?" tanya Vina yang seperti tengah memohon. "Biar kamu juga ada aktivitas, trus kamu juga bisa deket sama Zeen." lanjutnya sambil kearah Yuna.
Yuna hanya tersenyum cangung, dirinya tak pernah mempermasalahkan tentang kedekatan antara dirinya dan juga Zeen. Ia tak mau memaksakan tentang hubungannya itu, karena ia tau betul jika Zeen sangat membencinya.
"Bukanya mama gak mau mantu mama dirumah terus, mama malah seneng kalo ada yang nemenin. Tapi kan, mama juga sayang kalo kamu cuman dirumah terus. Kesannya nanti sama keluarga nanti." jelas Vina.
"Iya Yun, papa menyarankan itu. Agar kamu bisa melakukan aktivitas seperti yang kamu lakukan didesa kamu itu." lanjut Albaret.
Yuna masih belum menjawab, ia masih merenungi kata-kata yang diucapkan oleh kedua mertuanya itu. Sebenarnya ia sangat senang bisa bekerja kembali dirumah sakit dan merawat pasien, walau dirumah sakit berbeda. Namun ia juga merasa meragu akan tentang pendapat Zeen nanti.
"Yuna sebenarnya senang saja menerima pekerjaan itu pah... Tapi Yuna juga harus mendapat persetujuan juga dari suami Yuna sendiri." ucap Yuna sambil menatap kearah Zeen.
__ADS_1
"Hahaha... Kesannya istri berbakti ya? Mama suka itu." ucap Vina tertawa senang.
"Gimana Zeen kamu mau kan? Mau ya.... Mama mu ini memohon hemm?" lanjut Vina, dengan kedua tangan yang dikantupkan seolah memohon agar Zeen menyetujuinya.
Zeen menghela nafas, dirinya seperti tersudutkan diruangan itu. Ia ingin menolak, tapi jika mamanya memohon seperti ia jadi tak enak sendiri.
"Yasudah lah... Terserah mama dan papa aja, aku pun kalo nolak pasti gak ada yang mau dengerin. Mending Zeen tidur aja deh." ucap Zeen, yang pada akhirnya memasrahkan semua keputusan pada kedua orangtuanya. Ia yang sudah sangat mengantuk itu memilih untuk meninggalkan ruang tengah itu dan berjalan kekamarnya.
"Nah, denger sendiri kan Yun? Zeen kalo udah bilang begitu, dia pasti udah setuju-setuju aja. Dan memberikan semua keputusan pada kami." jelas Vina. "Giman sayang... Kamu mau kan?" tanyanya lagi pada Yuna.
Yuna tersenyum kecil, kemudian ia menganguk kan kepalanya.
Kedua mertua Yuna itu tersenyum.
"Syukurlah... Besok hari senin kamu bisa berangkat sama Zeen, nanti disana papa yang akan nentuin kamu bekerja dibagikan yang mana, oke Yun?" ujar Albaret.
"Yasudah kalau begitu, sudah malam. Kamu istirahat aja sekarang Yun, besok biar seger memulai hari kerja pertama kamu." tutur Vina.
"Iya mah, kalau begitu Yuna tinggal dulu ya mah... Pah.."
Kedua mertuanya menganguk, dan mempersilahkan Yuna untuk beristirahat lebih dahulu.
Yuna menaiki tangga untuk menuju kamarnya, setelah sampai ia membuka kamar itu dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Zeen yang sudah merebahkan diri dikasur itu.
Yuna berjalan mendekat kearah Zeen yang sudah memejamkan matanya itu, kemudian ditatapnya wajahnya dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Ia membenahi selimut yang dipakai oleh Zeen, setelah itu ia mengambil bantal dan sebuah selimut untuk dibawanya kearah sofa. Ya! Ia memutuskan untuk tidur disofa, guna untuk mencegah hal tak mengenakan jika Zeen melihat dirinya yang tertidur disampingnya.
__ADS_1
Yuna merebahkan diri dengan nyaman disofa itu, kemudian ia mulai memejamkan matanya dan menyelam mimpi indahnya.
Yuna tak tahu saja, ketika Yuna memasuki kamar itu. Zeen belum sepenuhnya tertidur, ia hanya diam saja ketika Yuna berjalan mendekatinya tadi. Ia hanya mengetes apa yang akan dilakukan Yuna jika dirinya tak sadarkan diri atau tengah tertidur, ia pikir Yuna akan melakukan hal aneh padanya, namun hal itu tak terjadi.
Zeen bangkit dari rebahannya, ia masih dikasur namun dengan posisi ia yang duduk dikasur itu.
"Gadis desa yang sulit ditebak." gumamnya.
🍂🍂
Pagi hari, Yuna tampak tengah menyirami bunga dihalaman kediaman itu, rumah yang sangat luas dan besar itu tentu saja terdapat halaman rumah yang diisi dengan tanaman bunga. Yang sungguh membuat mata dimanja melihatnya.
Yuna yang pagi ini terlihat ceria itu, dengan suka citanya menyirami bunga-bunga yang tengah bermekaran itu. Ia jadi teringat dengan bunga-bunganya yang ada dihalaman rumahnya, tepatnya didesa tempat ia tinggalli.
Tentu saja ia juga mengingat sang nenek, ia bahkan tak pernah membayangkan jika hari-harinya tak ditemani oleh neneknya itu. Begitu memingat hal itu saja membuat ia langsung merindu.
Yuna menghela nafas berat, "Kapan-kapan aku mau mengunjungi makam nenek deh... Entah kenapa aku rindu sekali." gumamnya, kemudian ia mengelengkan kepalanya sejenak.
Yuna yang sudah selesai dari acara menyiramnya itu berjalan untuk masuk kerumah, namun ia berhenti melangkah kala mendengar suara Zeen dibelakangnya.
"Wah... Yang sudah berhasil merebut hati mertua. Kini sekarang jadi sok, sok an jadi nyonya dirumah ini ya? Hebat sekali." ucap Zeen bernada sinis, tak lupa kedua tangannya menepuk-nepuk seolah ia tengah meremehkan Yuna.
Yuna tak mengubris, ia berjalan begitu saja meninggalkan Zeen.
"Cih! Sombong sekali."
__ADS_1
TBC.