Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 98


__ADS_3

...—☘️Selamat Membaca☘️—...


...***...


Pov Zeen–


Saat Zeen tengah memejamkan matanya, tiba-tiba hawa ruangan menjadi panas dan membuat tubuhnya menjadi gerah, Zeen yang ingin tidur itu tak jadi ketika tak merasakan kenyamanan saat tubuhnya merasa kepanasan.


Zeen bangkit dari baringnya dan menatap kesamping, dimana Yuna masih terlelap disana. Zeen yang melihat itu tentu saja tersenyum, lantas tangan kirinya ia gerakan dan menyentuh kepala Yuna. Setelah itu ia mengelusnya dengan lembut.


“Manis banget kalo lagi tidur,” gumam Zeen saat mengamati wajah lelap Yuna.


“Hah ... panas banget, mana remot ac-nya ya?” Zeen turun dari kasurnya, dan berjalan menuju meja ketika ia melihat remot ac yang ada dimeja itu.


“Tunggu dulu? Kalo aku setel ac-nya ... Yuna bakal kedinginan gak ya?” gumam Zeen berfikir.


Setelah berperang pada pikirannya, pada akhirnya ia meletakkan kembali remot ac itu dimeja, dan memilih berjalan kembali menuju kasur tak lupa kaus yang ia kenakan ia lepas dan menyisakan celana boker pendek yang ia kenakan.


Saat Zeen ingin naik keatas kasur, tiba-tiba Yuna yang tadinya anteng itu, tiba-tiba berbalik dan membuat selimut tebal itu menyibak. Sehingga Yuna yang pada kala itu masih mengenakan dres selutunya juga ikut menyibak.


Hal itu tak luput dari pandangan Zeen, yang kala itu tak sengaja melihatnya. Bahkan dres itu menyibak sampai keatas, sehingga membuat celana short Yuna kelihatan. Short yang dikenakan oleh Yuna itu agak ketat sehingga membuat paha agak berisi Yuna sedikit tercetak. Apalagi short itu agak pendek dan paha putih Yuna juga kelihatan.


Tentu saja jiwa lelaki Zeen kembali bangkit, namun tak seperti kala siang tadi ketika Yuna tak sengaja mengecup jangkunnya.


Glup!


Zeen dengan kesusahan menelan ludahnya dengan kasar, jiwa lelaki Zeen yang tengah bangkit semakin meronta saat matanya masih belum lepas dari pemandangan itu.


Zeen langsung mengalihkan pandangannya kesamping, ia tak ingin terus melihat penampilan Yuna yang seperti itu. Takut dirinya khilaf dan menyerang Yuna saat gadis itu tengah terlelap. Ia tak ingin seperti itu, karena dirinya ingin melakukannya ketika dalam kesadaran dan kesiapan dari Yuna.


Zeen yang sudah tak tahan itu berjalan cepat menuju sofa, setelah itu ia duduk disofa itu dan mulai membuka sedikit celananya.


Dan mulailah aksinya yang dengan kesusahan meredakan rasa desakan itu dengan menggunakan tangannya sendiri, dan sesekali melihat Yuna yang ada dikasur itu.

__ADS_1


Pov end–


🍂🍂


Yuna berpura-pura memejamkan matanya, saat dirinya melihat Zeen yang tengah menatapnya. Dirinya juga merasakan jika pria itu tengah melangkah mendekati kasur dan setelah beberapa detik kasur itu sedikit bergoyang, menandakan jika Zeen tengah berbaring disampingnya.


'Jangan gugup Yuna ... jangan gugup ....' gumam Yuna dalam hati, memperingati dirinya agar tak membuat raut tegang nan terkesan gugup. Jika itu terjadi maka pasti Zeen akan menyadarinya.


Sebuah elusan yang dirasakan Yuna pada pipinya terasa sangat hangat, sepertinya Zeen yang melakukan itu. Ia mencoba sekuat tenaga menahan agar pupil matanya tak bergerak.


'Kenapa mas Zeen gak tidur sih?' gerutu Yuna dalam hati. Ia makin kesusahan jika Zeen terus mengerayai seluruh wajahnya.


Setelah terjadinya elusan, kini Zeen memeluk Yuna dari samping dan mengedus aroma Yuna dari leher jenjang itu.


“Yuna ... semoga kamu menerimaku dengan ikhlas ... aku tau, jika aku bukanlah seorang perjaka, tapi aku berjanji ... jika aku tak akan pernah melakukan hal terlarang itu lagi pada wanita lain. Dan aku akan melakukannya hanya untuk dirimu. Jadi ... tolong terima aku dengan keikhlasan yang lapang didalam hatimu.” Ucap Zeen bernada tulus namun masih dengan posisi yang sama. Memeluk Yuna dari samping.


Yuna yang mendengar itu, merasa tercubit hatinya, ia merasa bersalah ketika ia mencoba menghindari pria ini yang tak lain adalah suaminya. Yang berhak atas dirinya. Namun ia yang masih belum percaya diri itu. Masih ingin mencoba mengulur waktu sehingga pada saat itu hatinya akan benar-benar siap ketika mereka berdua melakukannya.


🍂🍂


Zeen terbangun dari tidurnya, ketika ia mendengar suara halus yang memanggil namanya.


Zeen mengerjab-gerjabkan matanya, ingin melihat, siapa gerangan yang sedang mengganggu tidur lelapnya itu.


“Mas ....”


“Eh, Yuna ....” Zeen langsung bangkit dari tidurnya, ketika melihat Yuna yang berada tepat disampingnya.


“Ada apa Yun?” tanya Zeen sambil mengucek kedua matanya.


Yuna tersenyum tipis, “Kita solat yuk mas! Udah azan subuh soalnya. Setelah sholat nanti, mas bisa lanjut tidur lagi ....” ucapnya.


“Sholat?”gumam Zeen.

__ADS_1


Yuna mengangguk, “Ya, sholat. Yuk mas cepat berwudu. Nanti mas malah tidur lagi kalo gak cepet-cepet basuh wajahnya.” kekeh Yuna.


Dalam hati, Zeen merasa teduh ketika melihat Yuna yang ada didepannya yang sudah lengkap mengenakan mukena. Terlihat semakin manis dimata Zeen.


'Ya Allah ... terimakasih telah menghadirkan wanita yang sabar dan baik seperti dia ya Allah ... hamba yang lalai dalam menjalankan kewajiban sebagai umat islam, merasa bersyukur mendapatkan wanita sepertinya ....' gumam Zeen dalam hati. Mengamati wajah Yuna dengan senyuman.


“Yasudah, aku wudhu dulu ya ... tunggu mas sebentar,” ucap Zeen langsung berlari menuju kamar mandi.


Yuna yang melihat itu merasa senang, ketika Zeen tak menolak ajakan dari dirinya saat lelaki itu tengah tertidur lelap.


“Alhamdulillah ....” gumam Yuna tersenyum senang.


Setelah selesai dari ibadah sholat, yang diimami oleh Zeen. Kini mereka saling berdiam diri dengan posisi yang masih duduk diatas sajadah. Keduanya terdiam seperti patung.


“Mas ....” panggil Yuna memecahkan keheningan.


“Ya?” Zeen berbalik menghadap Yuna.


“Salim ....” Yuna mengulurkan tangannya kedepan.


Melihat itu Zeen terdiam sejenak menatap Yuna tanpa berkedip, setelah beberapa detik terdiam Zeen langsung tersadar lalu memberikan tangan kanannya pada Yuna. Yuna pun langsung mengapai uluran itu dan mengecup tangan suaminya dengan khitmat.


“Terimakasih ....” ucap Yuna setelah melepaskan tangan itu.


“Terimakasih untuk apa?” tanya Zeen bingung.


Yuna tersenyum sejenak, “Terimakasih ... sudah menjadi imamku untuk yang pertama kalinya.” Ucapnya dengan mengembangkan senyum tulusnya, membuat mata Yuna menjadi menyipit.


Zeen tersentak, 'Subahanawlah ... cantiknya ....” gumam Zeen terpana.


TBC.


Jangan lupa komen disetiap chapter ya gaes.

__ADS_1


__ADS_2