
...***...
“Tidak terlalu lama kok om, saya disini yang seharusnya minta maaf pada om. Yang datang tiba-tiba dan menganggu om yang lagi beraktivitas dirumah.” Jelas Zeen dengan sopan.
Sigit tampak tersenyum menanggapi ucapan itu, “Sudah-sudah, kenapa jadi kakuk begitu. Kan om sudah bilang. Anggap aja rumah sendiri jadi jangan sungkan-sungkan kalo datang kesini.” Jelasnya. “Sudah duduk lagi.” Pinta Sigit pada Zeen.
Zeen mengangguk dan kembali mendudukan dirinya disofa itu.
“Kamu ingin minum apa Zeen? Kebetulan tantemu lagi kepasar terdekat, jadi om yang akan buatkan kamu minum.” Ujar Sigit terkekeh pelan.
“Tidak perlu repot-repot om. Saya disini hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuk om.” Jawab Zeen menolak tawaran itu.
“Sesuatu yang penting?” ulang Sigit.
Zeen mengangguk. “Iya om,”
“Jika memang sangat penting, ya om bikinin minum dulu dong. Biar enak kan bicaranya?” ucap Sigit kembali terkekeh pelan.
“Tapi om ....”
Bahkan lelaki paru baya itu tak mendengar jawaban dari Zeen dan lebih memilih pergi begitu saja, masuk kedalam dapur.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa tuan rumah itu lebih memilih menyiapkan minum sendiri dari pada menyuruh asisten rumah tangga? Jawabannya karena asisten rumah tangganya saat ini tengah mengambil cuti untuk pergi kekampung, karena anak dari saudara kandungnya tengah menikah.
“Benar-benar om Sigit ... sikap ramahnya membuatku langsung dejavu.” Gumam Zeen tersenyum sambil memgeleng kepala.
°
°
°
“Diminum dulu Zeen baru nanti ngomong seriusnya, biar tenggorokan gak kering,” ujar Sigit memberikan sebuah es teh kepada Zeen.
Zeen tersenyum menanggapi, “Terimakasih om. Seharusnya om tak perlu repot-repot begini.” Zeen lalu meminum es teh itu. Namun Zeen sedikit mengernyitkan keningnya saat merasakan begitu manis pada es teh itu.
__ADS_1
“Aduh ... sepertinya om mu ini terlalu banyak memberi gulanya,” celetuk Sigit saat juga merasakan betapa manisnya pada es teh itu.
“Berapa banyak om memberi gulanya? Kenapa sangat manis sekali?” tanya Zeen penasaran sambil meletakan gelasnya itu pada meja.
Sigit yang ditanya itu lantas tersenyum kikuk. “Seperti om memberikan gula sebanyak tiga sendok makan.” Ujarnya.
Zeen sampai mengangga mendengar itu, “Pantesan manis banget om. Ini nih yang bikin om diabetes nanti, kan Zeen sudah menjelaskan pada om sebelumnya. Jika om harus menghindari yang namanya manis-manis. Om malah tak mendengarkannya.” Seloroh Zeen memgeleng heran.
“Aduh ... pasti mau mulai lagi ceramah kedokterannya.” Gumam Sigit.
“Ingat ya om, karena om sudah memasuki usia kelima puluh tahun. Maka om dianjurkan harus menjaga pola makan om, dan juga kadar makanan manis yang om makan. Dimasa tua itu orang-orang pasti awam dengan namanya penyakit. Entah itu penyakit diabetes, strok, jantung dan lain-lain.” Jelas Zeen panjang lebar dengan gestur bijak seperti seorang dokter yang tengah menyeramahi pasiennya.
“Nah kan sudah kuduga,” gumam Sigit lagi sambil mengeleng dan tersenyum geli. “Sepertinya aku harus mengalihkan pembicaraan ini dari pada kupingku menjadi panas lagi karena mendengar ocehannya itu.”
“Jadi om, sesuai anjuran yang Zeen berikan pada om waktu itu. Om harus menjaga kesehatan om walau diabetes om masih ditahan awal dan tak ada tanda-tanda keseriusan. Tapi yang namanya penyakit harus–”
“Oke Zeen om paham, om sudah mendengar anjuran darimu sebanyak lima puluh kali pas dengan umur om saat ini. Jadi om pasti akan terus mengingatnya.” Ucap Sigit langsung menyela. “Lebih baik kita membicarakan hal penting yang kau katakan tadi, sebenarnya hal penting apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya.
Saat Sigit melihat wajah Zeen yang menjadi serius, Sigit pun langsung menghela nafas lega. “Akhirnya aku bisa menghentikan ceramah panjang lebarnya itu.” Gumamnya lagi bersuara lirih.
“Baiklah om, saya akan mengatakan yang ingin ku sampaikan kepada om.”
Zeen mengangguk menanggapi ucapan itu. “Untuk pertama-tama om bisa baca hasil pencarian saya terlebih dahulu, sebelum saya memberikan penjelasan pada om.”
Sigit mengerutkan keningnya saat melihat sebuah map itu.
“Pencarianmu?”
“Ya om, pencarian saya selama lima hari ini.”
Sigit tertawa kecil, “Emang apa sih? Yang bikin kamu sampai-sampai seserius ini? Bikin om penasaran aja.” katanya, lantas langsung membuka map berwarna kuning itu yang langsung disuguhi beberapa tulisan penting disana.
Sigit membaca isi tulisan itu dalam diam, awalnya ia membaca tulisan itu dengan raut santai. Namun tiba-tiba raut santai itu berubah menjadi raut sangat serius ketika ia mendapati nama belangkangnya dan nama putri pertamanya yang selama ini ia cari-cari itu.
Sigit sesekali melirik Zeen dengan pandangan bertanya-tanya, namun masih ia juga masih terus fokus pada map itu.
__ADS_1
“Ini tidak mungkin kan Zeen? Bagaimana mungkin kau bisa mendapatkan informasi ini?” tanya Sigit dengan suara bergetar, tak merasa percaya dengan apa ia baca.
“Putri Sanjay! Bukankah itu nama putri pertama anda yang hilang itu?” tanya Zeen dengan wajah serius.
Sigit meletakan map itu pada meja dengan tangan yang terus bergetar. “Iya, itu nama putriku. Bahkan orang-orang terdekatku masih tak mengetahui nama anakku itu? Tapi bagaimana bisa kau mendapatkan informasi putriku secepat itu? Da-dan, apakah tulisan itu memang benar? Jika putriku–”
“Ya om! Putri anda masih hidup selama ini!”
Bruk!
“Apa?!”
Zeen dan Sigit langsung mengalihkan atensi mereka kearah samping, dimana Eva yang sudah berdiri didekat mereka, dengan belanjaan yang sempat wanita itu bawa langsung ia jauhkan begitu saja dilantai.
“Apa maksudnya itu? Putri ku ... putriku masih hidup?” tanya Eva tak percaya dengan mulut yang ia bungkam dengan kedua tangannya.
Sigit pun lantas langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri istrinya.
“Sayang ... sebaiknya kita duduk dulu, kau pasti lelah habis pulang dari pasar,”
“Jangan pentingkan itu mas! Jawaban pertanyaanku tadi, apakah itu benar? Atau hanya candaan saja?” tanya Eva lagi.
Sigit hanya diam tak menanggapi, bingung harus menjawab apa karena dirinya juga masih belum sepenuhnya percaya dengan informasi yang ia baca.
Zeen bangkit dari duduknya, dan menghadap kearah dua pasangan suami istri itu.
“Sebaiknya anda berdua duduk dulu, agar saya bisa menjelaskan tentang ini. Karena lebih baik mendengarkan penjelasan ini dengan kepala yang dingin.” Jelas Zeen dengan bijak.
Eva dan Sigit saling melirik, kemudian keduanya saling mengangguk dan berjalan kearah sofa.
“Apa ini mas?” tanya Eva ketika melihat sesuatu yang langsung memenuhi pikirannya, ketika melihat sebuah foto anak kecil didalam map itu.
“Tate bisa membaca itu terlebih dahulu,” timpal Zeen.
Eva tak menanggapi, ia begitu serius memandangi foto anak kecil itu. Walau gambarnya sedikit buram dan berlatar hitam putih saja.
__ADS_1
“Aku tahu siapa yang ada didalam foto ini ....” lirih Eva, tak berlangsung lama wanita paru baya itu menitikan air matanya. “Ini anakku! Putri pertamaku ....” sarkasnya menangis sambil memeluk foto usam itu.
TBC.