Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 35


__ADS_3

°°°°°


Yuna kembali menutup gerbang utama itu dengan rapat, keadaan sekitar sungguh sepi. Bahkan penjaga dirumah besar itu sudah tidak ada, mungkin karena malam dan penjaga itu memilih untuk pulang, batin Yuna.


Saat ia melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam, tiba-tiba sebuah suara mengangetkan dirinya.


"Enak ya? Yang baru pulang, dan malah dianterin sama cowok asing."


Yuna mengalihkan pandangannya itu, kearah sumber suara. Ia mengerutkan keningnya kala melihat Zeen yang tengah duduk diujung mobilnya, sambil melipat kedua tangannya dan menatap dirinya, dengan tatapan datar.


"Kemana aja kamu? Bukanya cepat pulang setelah selesai kerja, malah main sama cowok yang baru dikenal." ucap Zeen dengan nada ketus.


Yuna menautkan kedua alisnya. Ia membatin, 'Bukanya dokter Zeen pulang kerumah pacarnya ya? Kok sekarang sudah sampai rumah?"


Zeen terkekeh sinis melihat keterdiaman Yuna itu. "Heh! Gak bisa ngejawab karena katahuan bareng sama cowok lain ya?" ucapnya sinis. "Memang ya? Wajah lugumu itu benar-benar tak bisa dipercaya, orang lain memang menganggapmu polos! Tapi dimataku itu, kau hanya gadis desa munafik dan tak tahu diri." lanjutnya dengan nada penuh penekanan.


Yuna menghela nafas panjang, "Bukan urusan dokter." ucap Yuna, lalu ia melangkahkan kaki untuk masuk kedalam rumah itu.


Zeen yang melihat keacuhan Yuna itu semakin dibuat tertantang sekaligus dibuat kesal secara bersamaan.


"Hei gadis desa!" panggil Zeen membuat Yuna menghentikan langkahnya.


Yuna membalikkan tubuhnya dan kembali menatap Zeen dengan raut santai, tak ada rasa takut maupun gugup diwajahnya.


"Bukan gadis desa! Saya punya nama, dan nama saya itu 'Yuna Saily' anda pasti tau kan?" tanyanya masih dengan raut santai.


Zeen berdecih, "Cih! Gak usah sok angkuh kamu, ngaku aja kamu. Kalo kamu tadi, habis main sama dokter itu kan?"


Yuna mengeleng sambil tertawa hambar, ia benar-benar tak tahu jalan pikiran Zeen saat ini.


"Jika saya bilang iya! Memang anda akan perduli?" ucap Yuna, mengumpan pertanyaan balik.


Zeen seketika mengepalkan tangannya. "Ingat perkataan ku ini gadis desa! Jika kau tinggal dirumah ini, jangan pernah kau berulah. Dan jangan pernah kau bawa pria simpananmu kesini, sebab! Itu semua akan merusak citra kediaman dan martabat ini, jika kau benar-benar melanggar itu maka kupastikan aku tidak akan tinggal diam!" tekannya, tak lupa senyum semirk terbit dibibir tipisnya.


Lagi! Yuna lagi-lagi menghela nafasnya, entah keberapa kali itu. Ia sendiri juga tak tahu.


Sejenak ia memijit pangkal kepalanya yang terasa berdenyut.


"Sudah ngomongnya?" tanya Yuna menatap Zeen.

__ADS_1


Zeen yang tadinya menyilangkan kedua tangannya didada itu, melepaskan lipatan tangan itu seketika.


"Kau tak merenungkan ucapanku tadi? Wah-"


"Cukup." sela Yuna dengan satu tangan didepan. Zeen dibuat melongo.


"Saya minta maaf jika saya tak sopan dengan ucapan saya ini. Namun, sepertinya saya harus menjawab ucapan dokter itu sebenarnya." ujar Yuna, membuat Zeen mengangkat satu alisnya.


"Barusan anda bilang, jika saya terlambat pulang gara-gara saya bermain dengan pria lain. Makan ucapan anda itu sangat salah!" tekan Yuna.


"Saya terlambat pulang karena sebuah pekerjaan. Saya sebenarnya diajak pulang oleh papa sebelumnya, namun saya tolak! Anda tau apa alsanaya?" ucap Yuna menatap Zeen.


"Alasannya karena saya tak ingin pulang lebih dahulu, karena saya tau kalau dokter Zeen masih ada urusan penting dirumah sakit. Saya berfikir jika dokter pasti masih butuh bantuan saya, karena jabatan saya yang sebagai asisten dokter Zeen! Namun dugaan saya salah, jika dokter Zeen akan membutuhkan bantuan saya. Karena pada waktu itu saya melihat jika dokter telah keluar dari rumah sakit, dan pulang lebih dulu meninggalkan area rumah sakit, bersama dengan pacar anda!"


Zeen tertegun ketika Yuna menyebutkan kata 'Pacar' diperkataanya terakhir.


"Apakah anda waktu itu mengingat saya?" tanya Yuna yang tak dijawab oleh Zeen.


Yuna tersenyum miris melihat keterdiaman Zeen. "Tak usah dijawab karena saya sudah tau jawaban anda."


Ketika Yuna kembali ingin melanjutkan langkahnya, ia kemudian teringat sesuatu.


"Jika pun dokter Fadli memiliki niat lain terhadap saya, mungkin saya akan cepat menghindari dokter Fadli." jelas Yuna.


Zeen masih terdiam, bungkam. Tak mengeluarkan suara sedikitpun sejak tadi.


Ceklek...


Terdengar suara pintu terbuka, dan terlihat sosok wanita paru baya yang tengah berjalan menghampiri mereka.


"Loh? Kalian sudah pulang kok gak cepat masuk?" tanya Vina mama dari Zeen.


Yuna membalikkan tubuhnya menghadap kearah wanita paru baya, namun masih terlihat awet mudanya itu.


"Oh? Mama... Ini Yuna baru mau masuk." jawab Yuna.


"Oh ya? Kamu tadi pulangnya sama Zeen ya, sayang?" tanya Vina pada Yuna.


Yuna tersenyum dan mengangguk, "Iya mah... Yuna tadi pulang sama mas Zeen, Yuna tadi nunggu mas Zeen  yang lagi mau ambil berkasnya dimobil." ujar Yuna.

__ADS_1


Vina kemudian mengangguk paham.


"Oh... Begitu ya? Yasudah kalau begitu, mending masuk sekarang yuk! Udara juga makin dingin gak baik, nanti masuk angin." ucap Vina, lalu mengajak Yuna untuk masuk kedalam.


"Zeen! Kamu juga cepet masuk sayang." teriak Vina, yang membuat Zeen tersadar dari lamunnya.


Zeen mengusap wajahnya sejenak, ia lalu memijit pelipisnya itu.


"Mengapa dia harus berbohong pada mama? Buat apa coba?" gumam Zeen merasa kalut.


Setelah bertarung dengan pikirannya, ia pun kemudian memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Dan berniat untuk berendam dan menjernihkan pikirannya.


🍂🍂


Setelah berendam, kepala Zeen benar-benar kembali mendingin dan itu membuat tubuhnya kembali fres.


"Memang mandi itu sangat luar biasa, segar sekali rasanya." gumamnya, tak lupa ia mengikat handuk pada pinggangnya itu dan bertelanjang dada.


Setelah dirasa cukup, ia membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar untuk berganti baju. Sejenak langkahnya terhenti kala melihat Yuna yang memakai baju tidur tengah membereskan selimut dikasur itu.


Tatapan mereka bertemu, ketika Yuna  tak sengaja melihat kearah Zeen. Dan terdiam untuk beberapa detik.


Zeen tiba-tiba tersenyum semirk, "Kenapa? Kau merasa tergoda melihat otot perutku ini?" tanya Zeen pada Yuna.


Yuna menghela nafas seketika, sebenarnya ia memang tengah tertegun melihat otot perut Zeen yang bisa dibilang sangat bagus itu. Ia sebenarnya ingin memuji otot itu, namun ia teringat akan percakapan mereka diteras rumah itu.


Yuna memilih untuk diam dan tak menjawab, ia kembali sibuk menggulung selimut. Kemudian melangkahkan kakinya, tak lupa dengan bantal yang sudah ada ditanganya.


Zeen pun terus melihat pergerakan setiap inci pada Yuna, ia melihat langkah terakhir Yuna pada sebuah sofa panjang yang memang sejak dulu ada disana.


Zeen mengerutkan keningnya kala melihat Yuna yang langsung berbaring disofa itu dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal yang ia bawa.


"Hahh..." Zeen menghela nafas, ia paham dan tau sekarang jika Yuna telah memilih sofa untuk tempat tidurnya malam ini.


Zeen kembali melanjutkan langkahnya menuju lemari, ia memilih salah satu baju dilemarinya itu.


Setelah memakai baju, Zeen kemudian mulai naik dikasur itu dan membaringkan diri. Matanya sejenak melihat kearah Yuna, ia hanya melihat punggung Yuna yang tertutup selimut. Ia kembali mengalihkan pandangannya dan mulai memejamkan matanya untuk menyelami sebuah mimpi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2