Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 71


__ADS_3

“Bagaimana tante?” tanya Laura ketika sudah memasuki kediaman Albaret.


“Beres dong sayang..... Semua orang gak ada dirumah, kebetulan pada ada ditaman belakang. Jadi gak akan ada yang ngeliat kamu masuk kesini.” jelas Lena dengan rasa kesenangan.


“Wah... Tante hebat benget.... Makasih ya tante udah susah-susah bantu Laura buat deket lagi sama Zeen, aku gak tau lagi dengan sifat Zeen saat ini. Sering mengabaikan aku tante, bahkan kita jarang bertemu.” ujar Laura dengan raut wajah yang dibuat sendu.


“Iya sayang, selama ada gadis kampung itu dirumah ini tante masih belum tenang. Tante pingin kamu dapetin hati Zeen sepenuhnya, lalu kalian menikah dan langsung tendang keluar tuh gadis kampung.” timpal Lena tertawa sinis.


“Haha, beres tante...” Laura mengacungkan jempol, lalu ikut tertawa sinis.


“Yasudah, lebih baik kamu masuk kekamar Zeen dulu, jalankan rencana cerdikmu yang sudah kamu susun didalam otak pintarmu.” ucap Lena dengan kerlingan mata.


“Beres tan!”


Setelah selesai dengan perbincangan mereka, Laura mulai menaiki tangga dan berjalan lengak-lengok menuju kamar Zeen.


Sedangkan Zeen yang tengah sibuk pada hpnya itu, tak tak tau saja jika sang kekasih tengah ingin menghampirinya.


Ceklek! Suara pintu berbunyi, membuat Zeen yang tengah membaca artikel sambil rebahan dikasur itu langsung bangkit dan mengalihkan pandangannya kearah pintu, dengan wajah berseri.


Wajah berseri itu seketika luntur, ketika mendapat, bukan sosok yang ia tunggu. “Laura?” gumam Zeen mengerutkan alisnya.


🍂🍂


“Assalamualaikum....” Yuna mengucapkan salam, namun tak ada satupun yang menjawab. Sambil menenteng plastik berisi bubur kacang hijau itu, Yuna melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


Rumah nampak sepi membuat Yuna mengerutkan keningnya. “Kemana semua orang?” gumamnya bertanya pada diri sendiri.


Ia kemudian membawa langkahnya menuju dapur, untuk mengambil mangkuk dan gelas, menyalin bubur kacang hijau itu kedalam mangkuk. Selesai dengan itu, ia langsung membawanya bersama menuju kamar.


Sampai pada tujuan, Yuna kemudian membuka pintu kamar itu walau agak kesusahan namun masih dapat ia raih.

__ADS_1


“Mas Zeen! Ini buburny–”


Pandangannya membeku, ketika atensinya melihat sosok dua insan dikasur dengan posisi ambiggu.


Zeen yang melihat kedatang Yuna, langsung melototkan matanya, dan dengan refleks ia mendorong tubuh Laura dengan kencang.


“Aws,” tak sengaja Laura membentur pinggir meja, tepat disamping kamar Zeen. “Sayang.... Kenapa kamu mendorongku?” Laura sedikit kesal namun ia tahan.


Zeen tak menjawab, ia malah masih menetapkan pandangannya pada Yuna.


“Saya letakkan buburnya disini, silahkan dinikmati, kalau begitu saya pamit keluar.” ucap Yuna, tanpa melirikan pandangannya, ia berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.


“Yun–”


Zeen langsung berdecak kesal. “Hais..”


“Zeen sayang... Kenapa sejak tadi kamu mengabaikanku?” tanya Laura dengan nada manja.


“Tapikan sayang...”


“Laura!” tekan Zeen dengan suara meninggi.


Laura tampak bingung dengan sikap Zeen. “Kenapa kamu seperti ini sih, sayang? Kenapa seolah kamu tak ingin bertemu lagi denganku?”


“Sudalah Laura, lebih baik kau pergi dari sini dari pada aku memanggil penjaga rumah dan menbawamu pergi.” ancam Zeen dengan perasaan kesal yang masih melanda.


“Cih! Baiklah-baiklah, aku akan pergi dari sini, tapi jangan lupa aku akan terus menemuimu Zeen!” kesal Laura, pergi dari kamar itu sambil menghentak-hentakan kakinya.


'Awas aja kamu Zeen! Aku tak akan membiarkanmu lepas dariku!' gumamnya dengan senyum liciknya.


“Hahhh..... Kenapa juga sigadis desa itu muncul tiba-tiba,” gumamnya frustrasi.

__ADS_1


Zeen terdiam sejenak, lalu melirik mangkuk yang tadi dibawa oleh Yuna. “Yasudahlah, aku akan menyusulnya.”


Ia turun dari kaaurnya, dan mulai berjalan, keluar dari kamarnya.


🍂🍂


Saat sampai diruang tengah ia melihat keluarganya tengah bercanda gurau disana. Namun satu sosok yang tengah ia cari malah tak ada diantara mereka.


“Loh, Zeen? Kenapa kamu kesini? Kamu lagi sakit sayang ... kenapa malah jalan-jalan?” Vina menghampiri putranya dengan raut resah.


“Ngak apa-apa mah, sakit Zeen juga udah sembuh kok, Zeen jenuh dikamar seharian pengen cari udara aja sekarang.” jelasnya.


“Tapi sayang... Nanti kamu malah masuk angin loh...”


“Iya Zeen, mending kamu istirahat saja, biar cepet sembuh.” timpal Albaret papanya, yang saat ini tengah memikat Rima sang ibu.


Zeen berdecak kesal mendengar ocehan itu. “Mah, mama ada lihat Yuna gak?” tanya Zeen mengalihkan pembicaraan.


“Hem Yuna? Tadi mama liat Yuna lagi ditaman, kenapa sayang?”


Bukanya dijawab, Zeen malah nyelonong pergi tanpa mendengar teriakan dari mamanya.


“Yaampun... Dasar anak bandel!” sungut Vina kesal.


Langkah Zeen telah memasuki area taman kediamannya. Ia terus mengedarkan pandangannya tengah mencari sosok gadis desa itu, taman begitu luas membuat dirinya kualahan berjalan sana sini.


Ia berdecak lagi. “Ck! Kenapa buat taman gede banget sih...!” gerutunya kesal. “Gara-gara papa nih!” lagi-lagi mengerutu, namun malah menyalahkan orang lain.


Saat ia tengah mengedarkan pandangan, matanya tiba-tiba saja melihat sebuah semak bergerak-gerak, senyum keberhasilan terpancar pada bibirnya.


“Nah, itu pasti dia.” Zeen menghampiri semak bergerak itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2