Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 95


__ADS_3

...***...


Zeen yang melihat itu tentu saja dibuat tertawa, “Hahaha, yaampun ... kayak mau dimakan singa aja sampe lari terbirit-birit seperti itu.” Ucapnya menggeleng pelan. Padahal ucapan nya itulah yang harusnya ditunjukkan kepadanya. Namun nampaknya ia sendiri tak menyadarinya.


Zeen berjalan santai menuju kasur besar itu dengan beralasan seprai putih dan tak lupa selimut tebal berwarna coklat yang sudah tersedia dikasur itu.


Zeen langsung merebahkan tubuhnya dikasur, dan tak lupa dengan helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya. “Tempat inilah yang akan menjadi saksi bisu malam pertama kita berdua ....” gumam Zeen, tersenyum-senyum sendiri ketika membayangkan hal mesum bersama Yuna.


Ia sampai berguling-guling dikasur itu, bak seseorang yang sedang kesurupan.


“Mas ....”


Tiba-tiba suara teriakan, refleks langsung membuat ia bangun dari kasur itu.


“Ya! Pak polisi! Saya janji tak akan melalukan itu lagi!” ucap Zeen yang dengan refleks mengganggkat kedua tangannya diudara, bak pencuri yang berhasil ditangkap oleh polisi.


“Mas, Zeen ...?”


Mendengar suara itu kembali, ia pun melihat tangannya yang terangkat diudara, langsung tersadar dari tingkah bodohnya ia pun langsung mengeplak kepalanya.


“Dasar Zeen bodoh!” makinya, “Tapi tadi itu suara Yuna kan? Kenapa dia berteriak?” gumamnya, dan langsung ngancir menuju pintu kamar mandi.


Tok... Tok... Tok...


Zeen mengetuk pintu itu dengan perlahan, “Yuna ...?” panggilnya.


“Ada apa?” tanya Zeen ketika tak ada sahutan dari dalam.


“Emm, begini mas ....”


“Ya? Ada apa Yuna?” Zeen mengerutkan alisnya ketika mendengar suara terbata-bata dari Yuna.


“Aku minta tolong mas ... bisakah mas ambilkan bajuku yang ada dikoper? Aku tak ada baju, disini pun tak ada handuk,” jelas Yuna jujur. Namun sebenarnya malu ketika mengatakannya.


'Hah? Baju?' otak Zeen seketika ngeblang.


“Mas?” panggil Yuna.


Zeen terhenyak, “Eh? Oh, ya ... aku ambilkan Yun.” Jawabannya langsung menuju kearah koper Yuna. Setelah itu membuka isi koper dan mencari pakaian yang ada didalam koper.


Namun tiba-tiba Zeen mengerutkan alisnya kembali ketika melihat isi koper itu yang sangat aneh baginya.

__ADS_1


Ia pun mencoba memberanikan diri mengambil salah satu baju itu dan mengganggkatnya diudara. “Baju apa ini?” gumam Zeen, ketika melihat baju hitam sangat pendek dan kain yang sangat tipis pada baju itu.


“Oh my good!” pelik Zeen langsung melempar baju itu kedepan. Ia terdiam mengamati baju itu karena masih belum pulis dari rasa terkejutnya.


Zeen yang menyadari jika baju itu merupakan baju untuk memandu kasih atau (baju untuk malam pertama), langsung memijit pelipisnya.


“Pasti ini ulah Mama ....” gumam Zeen menggeleng pelan.


Zeen pun kembali memungut baju itu dan berniat meletakkan pada koper kembali, namun saat ia melihat kembali isi koper itu. Ia pun langsung tersedak ludahnya.


“Apa ini? Kenapa bajunya sama semua?” Zeen yang tampak bingung itu langsung mengeluarkan semua baju itu, dan mengobrak-abriknya sampai berserakan kemana-mana.


“Hanya ada satu biji, baju yang paling normal?” Zeen kembali mengangga ketika hanya mendapatkan satu baju dres selutut dengan lengan yang agak panjang, ditangannya.


“Mami benar-benar–”


“Mas? Apa sudah dapat?” tanya Yuna yang masih ada didalam kamar mandi.


Zeen yang sampai kelupaan itu mengeplak kepalanya kembali, “Yaampun sampe lupa Yuna.”


“Iya, Yuna, ini aku sudah dapat.”


Zeen langsung berlari kearah pintu kamar mandi dengan membawa baju dres ditangannya.


Sebenarnya Zeen ingin menggoda Yuna sedikit, namun ia urungkan ketika ia teringat kembali pada baju-baju yang berserakan itu.


“Terimakasih mas,” ucap Yuna ketika menerima baju itu.


“Sama-sama,”


Saat Zeen yang sudah berjalan agak menjauh, tiba-tiba Yuna memanggilnya kembali.


“Tunggu mas!”


“Ada apa Yun?” tanya Zeen membalikkan badannya kembali.


“Apa tak ada baju lain mas? Misalnya yang agak panjang ....” cicit Yuna agak malu.


Zeen tampak kelagapan sendiri, “Em ... maaf Yuna, baju yang dipersiapkan oleh Mama, sepertinya sama semua.” Jawab Zeen dengan perasaan yang sedikit gugup.


“Oh begitukah?” tanya Yuna.

__ADS_1


“Iya Yuna,” terpaksa Zeen berbohong, karena ia tak mau jika Yuna akan sama terkejutnya seperti dia.


“Yasudah kalau begitu, aku akan pake ini saja.”


Zeen merasa lega ketika Yuna tak lagi bertanya, ia pun kembali berjalan kearah koper itu dan bingung sendiri ketika pakaian berbahan tipis itu, telah berserakan kemana-mana.


“Lebih baik aku segera membersihkannya sebelum Yuna melihatny– tapi tunggu dulu ... bukankah itu semua malah bagus ya?” Zeen tampak berfikir dan seulah senyum tiba-tiba muncul dibibir tipisnya.


“Baiklah, kita bereskan ini dulu, baru setelah itu ... mengganggetkan nya degan barang-barang ini.”Zeen tertawa senang. Ia dengan senangnya memunguti baju itu dan memasukannya lagi kedalam koper.


Bersamaan Zeen yang sudah dengan gesit membereskan kekacauan itu, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dan memperlihatkan Yuna yang baru saja keluar.


“Aku sudah selesai mas, sekarang giliran mas mandi,” ujar Yuna berjalan pelan menghampiri Zeen.


Zeen membalikkan tubuhnya, saat ia tadi tengah memunggunggi Yuna.


“Iya, aku akan–”


Zeen terdiam melihat Yuna, matanya terus tertuju pada gadis manis yang ada didepannya. Zeen sampai terbengong ketika melihat Yuna yang mengenakan sebuah dres berwarna biru namun terkesan elegan ketika melekat ditubuh rampingnya.


“Kamu Yuna?” tanya Zeen ngasal.


Yuna yang mendengar pertanyaan itu mengerutkan keningnya, “Ya Yuna dong mas, siapa lagi kalau bukan istri mas sendiri?” delik Yuna sambil menggelengkan kepala.


“Kamu beneran Yuna? Kamu cantik sekali ....” ungkap Zeen yang memang jujur pada perkataannya.


Yuna yang mendapat pujian secara dadakan itu dibuat tersipu, “Sudah mas ... jangan mengodaku terus ... lebih baik mas cepat mandi, agar enak ketika sedang beristirahat nantinya.” Ujarnya memberitahu.


“Yasudah kalau begitu aku mandi sekarang,” kata Zeen langsung berjalan menuju kamar mandi, namun sebelum ia masuk kedalam ia menengok Yuna sebentar. “Ucapan bukan bulan ya ... kau benar-benar cantik hari ini. Yuna Saily ....”


Setelah mengatakan hal itu, Zeen benar-benar masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


“Dasar pria itu,” kekeh Yuna menggeleng.


Ekor matanya Yuna, kebetulan melihat koper besar yang tak lain adalah miliknya itu, langsung ia hampir.


“Apa benar? Jika isi bajunya sama semua?” gumam Yuna bertanya-tanya, dan sangking penasarannya ia membuka koper itu dengan perasaan was-was. Entah mengapa perasaan tak enak itu tiba-tiba saja muncul pada dirinya.


“Apa ini?” pelik Yuna.


TBC.

__ADS_1


Jangan kaget ya😉 jika besok othor up bab, banyak lagi🤎


__ADS_2