
"Baiklah mam! Pemeriksaannya sudah selesai, setelah ini mam harus banyak-banyak beristirahat ya? Setelah istirahatnya sudah cukup banyak, mam bisa beraktifitas seperti sebelumnya." jelas Zeen tak lupa ia menyuruh Yuna untuk mencacat sedetail mungkin tentang kondisi wanita paru baya itu.
Wanita yang dipanggil 'mam' oleh Zeen itu mendesah berat."Mam itu sudah banyak beristirahat dokter Zeen! Tapi kenapa penyakit ini seolah-olah demen banget nempel sama tubuh mam ini..." keluhnya, dengan suara yang sangat frustrasi.
Zeen terdiam sejenak, apa yang dibilang oleh wanita paru baya itu memang benar. Sudah dua bulan wanita itu dirawat dirumah sakit, tapi kondisinya tak kunjung membaik selama ini. Wanita yang merupakan pasiennya itu ditempatkan pada ruangan VIP, ruangan rawat yang terbilang cukup mahal jika dibayar dan hanya orang beradalah yang mampu memesan ruangan VIP itu. Dan wanita paru baya itu, merupakan salah satu orang-orang itu. Yaitu orang yang cukup mampu atau orang berada.
Zeen masih terdiam, ia masih memikirkan kata-kata yang bagus untuk menenangkan pasiennya itu.
Melihat keterdiaman pria yang ada didepannya itu, Yuna lebih memilih untuk maju dan mendekat pada wanita paru baya itu.
Ia berdiri dihadapan wanita itu dan tak lupa menampakkan wajah tersenyumnya, yang mampu membuat siapa saja akan merasa damai ketika melihatnya.
"Ibu..." Yuna mulai berucap dan meraih tangan wanita itu untuk digengamnya.
Zeen mengangkat satu alisnya, menatap Yuna dengan pikiran bingung.
"Ibu, maaf jika sekiranya saya lancang untuk mengatakan ini." ucap Yuna menjeda perkataannya. "Ibu tak perlu merasa risau dengan apa yang menimpa ibu saat ini. Percayalah bu... Jika ibu memasrahkan semuanya dan berdoa pada yang maha pencipta, maka sesuatunya pasti akan terjadi dan berbalik pada orang yang bersungguh-sungguh.... Jadi ibu tetaplah bersabar dan tabah menghadapi semua cobaan itu. Yakin pada diri sendiri, jika penyakit yang diderita pada tubuh manusia akan merasakan kesembuhan nantinya."
"Jika kita terus berusaha dan pantang menyerah untuk melawan penyakit itu. Jadi bu... Saya merasa yakin, jika ibu akan merasakan kesembuhan, ketika ibu melewatinya dengan terus tabah dan bersabar. Senantiasa tak lupa terus berdoa, pada sang pencipta alam semesta, dan makhluk hidupnya."
Begitu lembut tutur kata itu masuk kedalam indra pendengaran.
Wanita paru baya yang mendengar tutur kata Yuna itu, merasa sejuk hatinya. Hatinya yang tadi merasa gundah kini mendamai.
Tak jauh berbeda dengan wanita paru baya itu. Zeen yang mendengarnya pun ikut tak berkedip, mulutnya tertutup rapat namun pandangannya terus tertuju pada Yuna. Gadis desa yang ia banding-bandingkan sebelumnya itu, entah mengapa. Dari sudut pandangnya itu, Yuna seperti mengeluarkan aura berbeda, entah apa itu artinya. Tapi hati dan pikiran Zeen tiba-tiba menjadi sejernih dan sesejuk air terjun, yang tak bisa menyangkal jika dirinya juga dibuat mendamai oleh ucapan itu.
__ADS_1
Wanita paru baya itu tersenyum pada Yuna, ia lalu mengenyam balik tangan yang mengengamnya itu.
"Terimakasih ya nak... Sudah mengingatkan wanita tua ini, berkat ucapanmu. Ibu jadi tenang dan damai, ibu akan mengingat ucapanmu itu." ujarnya.
Yuna membalas senyuman itu, "Saya hanya menyampaikan saja bu... Semuanya ada pada ibu. Jalani dengan hati yang ikhlas, maka ibu pasti akan merasakan kedamaian yang lebih." ucapnya.
Wanita itu menganguk. "Oh! Iya... Siapa namamu? Dari tadi ibu belum tau namamu loh..."
Yuna terkekeh pelan. "Hemm, nama saya Yuna bu... Saya baru saja kerja disini." jelas Yuna.
"Oh... Yuna... Hemm, nama yang cantik secantik parasnya." puji wanita itu.
"Hahaha terimakasih atas pujiannya bu.."
"Ehem, baiklah mam. Karena jadwal hari ini sudah selesai, kami pamit untuk undur diri dulu." ucap Zeen menegahi.
"Oh! Yasudah kalau begitu silakan..." jawab wanita itu dengan senyum ceria.
Yuna lebih dahulu keluar dari kamar itu, sedangkan Zeen mengikutinya dari belakang.
"Tunggu sebentar nak dokter."
Zeen membalikkan tubuhnya, "Ya mam? Apa sesuatu yang Menganggu?" tanya Zeen.
"Hemm, tidak ada... Mam cuman mau kasih pesan sama kamu nak dokter, jika ada satu wanita yang baik berada disekitarmu maka jangan lepaskan dia. Jika kamu memilih wanita jauh dan belum tentu sebaik wanita yang berada didekatmu, maka wanita baik itu pasti akan lepas dengan sendirinya jika ia sudah tak tahan dan memilih untuk mengiklaskan. Maka sesungguhnya penyesalan pasti akan datang terakhir."
__ADS_1
"Itu apa artinya mam? Saya merasa bingung." ucap Zeen.
Wanita paru baya itu tertawa sebentar, "Tak ada... Aku hanya mengingatkan nak dokter saja... Suatu saat pasti nak dokter akan mengingat perkataan wanita tua ini. Hahahaha..." ucap wanita itu, diselingi tawanya.
Zeen menautkan kedua alisnya merasa bingung. Ia lalu mengedikan kedua bahunya, acuh.
"Yasudah kalau begitu mam! Saya pamit undur diri dulu." ucap Zeen berpamita dan dianguki kepala oleh wanita itu.
Zeen menutup pintu secara perlahan, setelah ia keluar dari ruangan itu.
Ia lalu menatap Yuna yang tengah menunggunya sambil bersandar ditembok dekat pintu ruangan itu.
Zeen tersenyum semirk, "Oke... Kuakui kerja pertama mu hari ini. Sangat teliti dan bagus, aku ingin kedepannya kamu seperti itu dan tak akan ada masalah dikemudian hari." jelas Zeen membuat Yuna yang tengah melamun itu tersentak kaget.
Yuna pun menghadap Zeen dan mengangukan kepala."Ya, saya paham." jawab Yuna.
"Baiklah, setelah ini kita akan keruangan berikutnya. Masih banyak yang perlu kau kerjakan, jadi! Siapkan saja tenagamu. Karena kau pasti akan merasakan lelah pada hari ini." tekan Zeen, tak lupa senyum miringnya terbit dibibir tipisnya itu.
"Hemm, saya menantikan itu."
Zeen tertawa keras. "Good!"
'Seru juga.' batin Zeen dalam hati.
TBC.
__ADS_1