Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 112


__ADS_3

...***...


“Dari mana pula ... mereka mendapatkan lokasi tempat penginapan kita? Aku saja tak memberi tahu siapapun.” Zeen terus mengerutu sambil melipat kedua tangannya didada, tak lupa wajahnya yang terus ditekuk dengan pandangan yang tarus tertuju pada dua bungkusan plastik itu.


Sebenarnya yang membuatnya kesal adalah plastik makanan yang dikirim oleh Fadli, dan sedangkan plastik yang satunya, ia tak begitu memperdulikannya karena ia benar-benar tak tahu siapa yang bernama Mita itu.


Zeen tau jika plastik makanan pemberian dari Fadli itu, diberikan kepada Yuna. Mana mungkin dokter muda itu baik kepadanya? Sedangkan dirinya saja tak begitu akrab dengan dokter itu.


'Bisa-bisanya dia mengirim makanan pada Yuna. Padahal sebelumnya aku sudah menunjukkan jika Yuna itu adalah milikku! Miliknya dari seorang Zeen Albaret!' gerutu Zeen dalam hati. 'Apakah dengan tindakan saja tak cukup? Apa masih kurang? Kalau memang iya ... nanti aku akan menunjukan padanya yang lebih! Sehingga dokter ingusan itu bisa menjauh dari istriku!' gumamnya lagi dalam hati. Dengan kata-kata yang penuh penekanan. Bahkan keningnya bertambah mengerut ketika otot pada dahi itu menonjol.


“Dokter Fadli? Mita?” gumam Yuna bertanya-tanya, “Emang siapa Mita mas?” tanyain Yuna pada Zeen.


Zeen mengedikan kedua bahunya, “Aku juga tak tahu. Mungkin salah kirim nih orang,” jawab Zeen. Seacuh-acuhnya.


“Hemm, mungkin saja itu dari fansnya mas.” Ucap Yuna tampak berfikir.


“Fans? Mana ada aku punya Fans Yuna ... yang ada pasti stalker!” jawab Zeen tergelak, sambil tertawa keras.


Yuna menautkan kedua alisnya. “Loh? Kita kan tidak tahu mas, kemungkinan perempuan bernama Mita itu fansnya mas! Atau kemungkinan juga kenalannya mas.”


Zeen tertawa kembalu mendengar ucapan itu, “Gak dong sayang ... mas tuh gak punya kenalan Di Bali. Dan yang mas kenal itu hanya kamu saja, istriku tersayang ....” timpalnya, tak lupa menunjukan kedipan mata pada Yuna. Dan hal itu sudah menjadi andalan bagi seorang Zeen Albaret ketika tengah menggoda Yuna.


Yuna mengangkat satu alisnya, “Loh? Bukankah dokter Fadli kenalan mas juga? Dokter Fadli kan rekan kerja seprofesi mas ....”


Zeen yang mendengar nama Fadli itu entah mengapa menjadi malas, ia pun hanya menghela nafas panjang sambil menyadarkan punggungnya disofa dengan raut ditekuk dan masam.

__ADS_1


“Mas? Kok diem aja?” tanya Yuna lagi.


“Hemm, sudah gak usah bahas yang gak penting. Mending kamu kesini! Duduk disamping mas, sambil nungguin pesanan makanan kita datang,” jelas Zeen mengalihkan pembicaraan. Dan malah menyuruh Yuna untuk segera duduk disampingnya.


Yuna terdiam, pandangannya memicing kearah Zeen, ia menunjukkan tatapan menyelidik pada pria yang sedang duduk santai disofa itu.


“Yaampun ... kok malah diem sih? Sini sayang ... mas gak akan usilin kamu kok. Hem?” ucapnya, sambil menaik turunkan alisnya beberapa kali.


“Beneran mas?” selidik Yuna lagi, merasa was-was.


“Iya dong, masa kamu gak percayaan sama suami kamu sendiri?” tampak Zeen memperlihatkan raut sendu pada Yuna.


Yuna yang melihat itu tentu dibuat menghela nafas, ia pun mau tak mau menuruti permintaan Zeen. Dan mulai melangkahkan kakinya menuju pria itu tanpa pikiran yang was-was lagi. Bukan tanpa alasan Yuna memikirkan hal-hal aneh ketika berada didekat Zeen. Karena jika ia berada didekat pria yang bersetatus sebagai suaminya itu tak menutup kemungkinan jika pria itu pasti akan menggodanya dengan berbagai cara, yang tentu akan membuat ia terbuai dan luluh dari goda saiton berwujud pria tampan itu.


Zeen yang melihat Yuna mendekat kearahnya itu, tentu dibuat senang dan senyum merekah pada bibirnya terus ia tampakkan dengan lebarnya.


“Tapi mas? Bagaimana dengan makanan ini? Gak akan dibuang kan? Kalau dibuang kan mubasir, menolak pemberian orang juga gak baik mas ... kenapa kita gak makan saja mas?” ucap Yuna, mengeluarkan pertanyaan secara beruntun kepada pria yang ada disampingnya.


Zeen menatap Yuna dengan lekat, ia baru sadar sejenak. Jika wanita yang ada disampingnya itu ternyata cerewet atau banyak bicara. Ia kira jika istrinya itu seorang perempuan yang lugu dan pendiam. Tapi dugaanya itu salah, ternyata wanitanya itu memiliki sifat ceriwis yang baru saja ia ketahui.


Entah sifat apalagi yang akan nampak pada wanitanya itu. Kemungkinan Zeen pasti akan dibuat takjub sekaligus geleng-geleng kepala.


“Mas?” panggil Yuna dengan menautkan kedua alisnya, “Mas ... kok diam saja?” Yuna mengoyangkan lengan Zeen untuk menyadarkan lamunan pria itu.


“Eh?” Zeen tersadar, lalu kemudian ia tersenyum manis pada Yuna, dan mengangkat kedua tangannya untuk menangkap kedua pipi Yuna agak tembam itu.

__ADS_1


“Kamu kok cerewet banget sih? Hemm ... dulu kukira kamu itu pendiam banget loh,” ucap Zeen sambil mencubit gemas pipi itu.


“Aw! Mas. Ya memang ini sifat aku yang sebenarnya mas,” jawab Yuna sambil mengeplak kedua tangan Zeen. Dan menarik tangan itu agar terlepas dari pipinya.


“Oh ya?” Zeen mengangkat satu alisnya, “Tapi kok kayaknya kamu dulu pendiam banget ya?” Zeen kembali mengusuli Yuna dengan mencubit pelan hidung itu.


“Is! Mas ...!! Kalau bertanya itu, tangannya di diemin dong ....” Yuna membalas usilan Zeen dengan mencubit kecil tangan berurat itu. Zeen yang mendapati cubitan itu hanya mengaduh walau sebenarnya tak sakit dirasanya.


“Kamu belum jawab pertanyaan mas tadi? Hem?” goda Zeen lagi, kembali mengusili Yuna dengan mengacak-acak rambut itu, sehingga membuat Yuna marah dan mengeplak tangan Zeen dengan kerasnya.


Zeen yang mendapati serangan bertubi-tubi itu hanya tertawa saja. Entah mengapa, mengusili dan menjahili Yuna merupakan candu baginya, setelah ia merasakan manis dibibir mungil itu.


“Hahaha, maaf ... ampun! Ampun!” Zeen tertawa cekikikan sambil memegangi perutnya.


“Aku gak mau jawab pertanyaan mas, sebelum mas jawab pertanyaanku tadi.” Yuna memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya.


“Pertanyaan soal makanan tadi?” tanya Zeen, ketika sudah menghentikan tawanya.


Yuna hanya menganguk saja menimpali pertanyaan Zeen.


“Kenapa mas gak mau kita makan dua bungkusan ini ... karena mas sudah terlanjur pesan makanan. Gak mungkin dong makanan yang sudah mas pesan dikembaliin lagi?”


“Emm, kan bisa disimpen makanannya mas ....” timpal Yuna, yang tampak menyayangkan dua bungkusan itu yang masih utuh tak tersentuh.


'Hemm, sebenarnya aku gak rela kamu makan dari pemberian Fadli. Aku takut jika makanan itu ada jampi-jampinya.' gumam Zeen bergidik ngeri, 'Dan aku juga tak mau memakan-makanan dari orang asing, bukanya tak menghargai pemberian orang. Tapi yang namanya orang pasti merasa was-was kan?' tampak Zeen berperang pada pikirannya.

__ADS_1


“Mas? Kok diem lagi?” Yuna kembali menyadarkan Zeen dengan menepuk bahu kokoh itu.


TBC.


__ADS_2