
...***...
“Kalian juga ada disini sedang melihat matahari terbenam ya?” ucap seseorang itu yang mengulangi pertanyaannya ketika tak mendapati jawaban dari kedua sepasang suami istri itu.
'Sudah tau pake nanya! Seharusnya kalo memang sudah tau, ya gak usah nyamperin kesini. Ganggu orang pacaran aja!' gerutu Zeen kesal hanya mampu didalam hati. Tak lupa pandangan yang terus menajam pada seorang lelaki berprawakan tinggi yang membuat dirinya mampu uring-uring, dari pertama mereka bertemu hingga saat ini.
Namun Zeen tak tahu saja, jika tak berkat dari lelaki itu, maka dipastikan Zeen tak akan cepat mengarungi kenikmatan dan memadu cinta bersama Yuna dimalam yang syahdu itu.
Yuna menoleh kearah sumber suara itu, dan mendapati sosok lelaki yang tak lain adalah Fadli. Teman seperbicaranya saat dirinya pertama kali menginjakkan rumah sakit milik Papa Albaret, mertuanya.
“Oh? Dokter Fadli ternyata, ya ... bisa anda lihat, jika kami berdua tengah melihat pemandangan matahari tenggelam.” Jawab Yuna seadanya sambil menampilkan senyum sederhananya.
Zeen yang melihat itu mengeram tertahan, 'Ngapain pake disenyumin sih! Kan nanti tuh cowok jadi kegedean kepala!' gerutu Zeen, yang lagi-lagi hanya mampu didalam hati.
Zeen kemudian melirik lelaki itu kembali, dan mendapati Fadli yang juga tersenyum kearah Yuna. Bahkan lelaki itu sejak tadi tak menatap kearahnya. Dan betul-betul hal itu membuat Zeen semakin kesal, bahkan sampai mencengram sudut kausnya sehingga membuat kaus itu sedikit robek. Mungkin akibat cengkraman Zeen yang terlalu mengencang?
'Sialan dokter ingusan ini!' umpat Zeen dalam hati.
Namun sedetik kemudian, pandangan Fadli yang semula menatap Yuna, kini berganti menatap Zeen. Namun bukannya Zeen terkejut ia malah dengan terang-terangan menatap Fadli dengan tatapan tidak suka.
Dan apakah Fadli merasa tak enak ketika mendapati tatapan tak suka dari Zeen? Tantu saja jawabannya tidak! Karena lelaki itu hanya menatap Zeen sejenak dengan pandangan acuh nan datar. Kemudian pandangan itu kembali ia alihkan kepada Yuna dengan pandangan yang sedikit berbeda, yaitu pandangan seseorang yang tengah mendaba dan mengagumi.
Hal itu tentu tak luput dari pandangan Zeen, dan ia tak sebodoh itu tak mengetahui arti dari tatapan Fadli. Zeen tau jika Yuna saat ini tengah dikagumi oleh seorang pria yang sayangnya juga sangat tampan seperti dirinya. Namun Zeen tetaplah Zeen, pria itu dengan sejuta kenarsisannya pasti akan menganggap jika dirinya yang paling tampan dan tak tertandinggi dengan pria manapun. Sekalipun dia adalah aktor bolywod dinegeri tetangga.
“Berani sekali dia mengacuhkanku?” gumam Zeen kembali mengeram. Dan tak lupa kedua tangannya yang terus terkepal menahan amarah.
“Yuna?” panggil Fadli, yang membuat Yuna kembali menoleh kearahnya.
“Hem?” jawab Yuna berdehem, dan melihat pria yang tadi berdiri disampingnya, kini duduk beralasan sandal seperti dirinya.
__ADS_1
“Apa aku boleh disini? Aku juga ingin melihat matahari terbenam,” ujar Fadli masih menatap lekat Yuna.
“Apa dia tak salah bicara? Dia bahkan sudah duduk disitu, bahkan sebelum dia bertanya?” gerutu Zeen lagi.
“Ya silahkan dokter. Saya tak melarang, karena ini bukan tempat pribadi saya, melainkan tempat umum.” Jawab Yuna seadanya. Dan tanpa ia sadari ucapannya itu mampu membuat seorang Zeen Albaret menganga.
“What?!” pekik Zeen tertahan. 'Kenapa Yuna pake ngizinin segala sih! Seharusnya tolak saja biar si ingusan itu pergi dari sini. Dan tak mengganggu momen kita!' kesal Zeen menatap Yuna dengan pandangan frustrasi.
Fadli kembali tersenyum menatap Yuna, “Terimakasih!” ucapnya dengan menampakkan senyum paling manis, yang orang lain pun tak akan pernah melihatnya. Betapa tampannya seorang Fadli Prastya ketika tersenyum dan bahkan bola mata yang berwarna kecoklatan itu ikut menyipit ketika ia tersenyum lebar.
'Apa-apaan senyum bodoh itu? Senyumku bahkan lebih manis darinya!' gerutu Zeen, bernarsis.
Kini, tanpa disadari, Yuna saat ini duduk ditengah-tengah pria tampan nan mempesona dikalangan para wanita itu. Orang yang melewati mereka pun pasti tau. Jika Yuna sangat beruntung dihapit pria tampan sekaligus yang bahkan membuat wanita menjadi iri padanya.
Indahnya matahari terbenam, membuat seorang Yuna betah melihatnya. Bahkan pandangan matanya tak teralih sama sekali saat memandanggi matahari itu.
Ombak pantai yang sejuk terus menerpa wajahnya, sehingga membuat rambut yang sejak tadi ia gerai terus bertebrangan kemana-mana dan membuat anak rambut itu mampu berhamburan mengenai wajahnya.
“Eh?” refleks Yuna menoleh kearah Fadli, sehingga membuat dua insan itu bertemu pandang. Bahkan saat Fadli menatap Yuna, pria itu lagi-lagi menunjukan senyum manisnya yang orang lain ketika mendapati senyuman itu pasti akan dibuat jantungan ditempat.
Zeen yang sejak tadi diam menahan amarah itu, sudah tak tahan lagi. Pria itu tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menarik tangan Yuna tanpa sepengetahuan wanita itu.
“Mas?” pekik Yuna, menoleh kearah Zeen.
“Matahari terbenamnya sudah selesai! Mari kita segera kembali. Karena hari sudah mulai gelap!” alibi Zeen langsung menarik Yuna dari hadapan Fadli.
Fadli yang tadinya masih duduk ditempatnya itu, mulai berdiri dan menatap punggung Zeen dengan tatapan tak suka.
“Tunggu! Yuna!” panggil Fadli menghentikan langkah kaki mereka.
Zeen dan Yuna bersamaan menoleh kearah Fadli.
__ADS_1
“Oh! Saya sampai lupa jika masih ada anda disini.” Menatap Fadli dengan senyuman meremeh. “Maaf jika saya sempat tak sopan, karena kami berdua tak bisa berlama-lama. Kalau begitu, kami Permisi dulu.”
Setelah mengucapkan itu, Zeen benar-benar berlalu dari sana dan meninggalkan Fadli tanpa mendengar jawaban dari pria itu.
Fadli terus mengamati kepergian mereka dalam diam. Namun sedetik kemudian senyum miring terukur dibibirnya.
“Kami? Katanya?” gumam Fadli tertawa sinis.
🍂🍂
'Tak akan kubirkan pria itu mendekati Yunaku! Enak saja dia main sentuh-sentuh istriku' gumam Zeen dalam hati, berdecak kesal.
Dan tanpa ia tahu, ia terus menarik tangan Yuna dengan tujuan entah kemana.
“Mas!” Yuna tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dan membuat Zeen yang tengah berperang batin itu, juga ikut menghentikan langkahnya.
“Kenapa berhenti?” tanya Zeen setelah ia tersadar dari lamunnya, dan kini ia langsung menghadap pada Yuna dengan tangannya yang masih mencekal pergelangan tangan Yuna.
“Kenapa mas tak berhenti berjalan? Sebenarnya kita mau kemana?” Yuna tak menjawab pertanyaan itu, ia lebih memilih bertanya balik.
“Ya kita balik ke penginapan dong, kok kamu nanya itu?” tampak Zeen menautkan alisnya bingung.
Sejenak Yuna dibuat menghela nafas, “Tapi jalanan ini bukan jalan menuju penginapan kita mas,” jelas Yuna mengelengkan kepala.
“Apa? Apa maksud–” Zeen langsung tersadar ketika dirinya melihat ke sekelilingnya, jika jalan yang ia tuju adalah jalan yang salah. Dan jalanan itu malah semakin jauh dari jangkauan penginapan mereka.
Zeen pun langsung menepuk keningnya, menyadari jika pikirannya itu membuat dirinya menjadi seorang yang bodoh.
'Sialan! Bikin malu aja kau Zeen!' teriak Zeen dalam hati, merasa malu dengan ulahnya.
TBC.
__ADS_1
Jangan lupa komen💓