
...***...
“Aku tak menyangka, jika didunia ini ternyata ada wanita jelmaan Iblis sepertimu!” Antoni mendesah dengan kasar sambil mengacak-acak rambutnya. “Hahhh ... sungguh! Sungguh sangat menyesal aku bisa kenal denganmu! Aku menukar istriku yang berlian dengan dirimu yang tak ada apa-apanya ini? Bahkan dikatakan sampah pun cocok untuk dirimu!” tekannya sambil menatap sinis Laura.
Sedangkan Laura terus memberontak dari cekalan kedua polisi itu. “Apa yang kau katakan Antoni?! Mengapa kau membicarakan hal omong kosong seperti itu?” teriaknya seolah masih tak percaya dengan yang dikatakan oleh kekasih gelapnya itu.
Antoni mijit kepalanya yang terasa berdenyut, dirinya benar-benar muak dengan wanita yang ada didepanya. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri karena dengan mudahnya memberikan hati pada wanita licik itu.
“Pak polisi! Segera bawa pergi wanita ini dari sini! Aku benar-benar malas melihat wajahnya, apalagi mendengar suaranya yang membuatku semakin pusing,” ucap Antoni yang enggan menatap Laura.
Kedua polisi itu pun kembali membawa Laura dengan paksaan, tentu Laura tak bisa diam saja diperlakukan seperti itu. Menurut baginya ia saat ini tengah dipermalukan oleh orang-orang yang pernah berhubungan dengannya. Namun arah pandangnya hanya tertuju pada Yuna seolah tatapan itu mengisyaratkan jika dirinya sungguh sangat membenci Yuna. Rasa bencinya itu sungguh tak main-main lagi atau bisa dikatakan jika rasa bencinya sudah memupuk sangat tinggi.
Antoni yang tadinya terdiam, kini pria itu berjalan mendekati Zeen dengan wajah yang penuh penyesalan.
“Maafkan aku brader! Aku malah menuruti perintah wanita itu untuk menculik istrimu, jika saja kau tak menghubungiku tadi. Maka entah apa yang akan terjadi selanjutnya ....” terang Antoni yang sungguh sangat bersalah.
Zeen dan Yuna sejenak saling pandang. Namun kemudian sepasang pasutri itu saling tersenyum.
Zeen menepuk pundak Antoni yang berada tepat dihadapannya. “Tidak apa-apa sobat! Kau kan tak tau, jadi ini semua bukanlah kesalahkanmu. Kesalahnmu hanya sedikit! Yaitu kau terlalu kencang mengikat tali ditubuh istriku!” jelas Zeen dengan tegas.
“Mas, kok malah diungkit-ungkit sih?” tanya Yuna merasa heran.
“Ya kan itu memang bener sayang? Tangan dan kakimu sangat merah akibat ikatan tali tambang itu.”
Sedangkan Antoni yang mendengar itu menjadi gelagapan. Ia ditekan rasa bersalah yang sangat saat ini.
“Bagaimana aku bisa menebus kesalahanku? Jika dengan cara mengambil nyawaku kalian bisa memaafkanku! Maka aku akan benar-benar melakukannya.” Tegas Antoni dengan sungguh-sungguh.
Zeen tampak berfikir mendengar tawaran Antoni yang sangat mengagetkan. “Benarkah? Apakah kau akan menghilangkan nyawamu dengan tanganmu sendiri? Bukankah prinsipmu dulu kau tak ingin mati cepat? Dan ingin mati jika umurmu mencapai 100 tahun?”
__ADS_1
Antoni terperangah mendengar itu. “Kau masih ingat juga ucapanku itu?” ucapnya sambil mengelengkan kepala. “Tapi prinsipku itu akan ku hapus mulai hari ini, karena aku benar-benar ingin menebus kesalahanku atas penculikan istrimu yang sedang hamil. Aku tau, dengan cara menyerahkan diriku saja tak akan mengurangi dosa-dosaku. Tapi inilah yang aku bisa dengan menyerahkan nyawaku kepada kalian. Agar kalian bisa hidup dengan tenang saat seorang penjahat ini hilang dimuka bumi.”
“Oke! Aku ingin kau meneguk racun tikus sekarang juga!” titah Zeen dengan tegasnya.
Antoni tanpa basa-basi langsung menganggukan kepalanya. “Oke, aku akan segera membeli obat tikus dan meminumnya ditengah hutan agar tubuhku bisa dimakan oleh para hewan buas.”
Zeen tertawa kecil mendengarnya, sebenarnya ia mengatakan itu hanyalah bercandaan saja. Tapi siapa yang menyangka? Jika respon dari seorang mantan gangster dan mafia itu menunjukan ekspresi wajah yang tak biasa. Hal itu sungguh membuat Zeen tak tahan untuk tertawa dan akhirnya pun ia mengeluarkan tawanya itu.
“Hahahaha!!!”
Yuna hanya bisa menatap malas suaminya.
“Kenapa kau tertawa Zeen?” tanya Antoni yang dibuat bingung.
“Aku tertawa karena aku tak menyangka jika kau bisa bertindak bodoh seperti ini. Asal kau tau saja, aku tak serius ketika aku menyuruhmu untuk meminum racun tikus! Aku masih ada hati yang baik padamu kawan ... tentu aku masih ingin melihatmu berasa kembali dengan keluarga kecilmu yang dulu.”
“Wah, kau membuatku terharu kawan. Bagaimana kalau kita berpelukan? Entah kenapa aku merasa terpesona pada kata-kata bijakmu itu!”
“Jangan berpikir macam-macam! Sudahlah, urusan disini sudah selesai. Lebih baik kita pulang sekarang untuk mengistirahatkan diri.” Jelas Zeen.
“Kau benar tak ingin menyuruhmu meminum obat tikus kan?” tanya Antoni memastikan.
Zeen menghela nafas panjang seketika. “Terserah kau saja! Lebih baik aku pulang sekarang karena bayi-bayiku dan istriku belum makan sedari tadi.”
Zeen yang ingin beranjak dari tempat itu, membalikkan tubuhnya sejenak menatap teman lamanya. “Aku mendukungmu agar kau cepat kembali kepada anak dan istrimu! Sekaligus aku mengucapkan terimakasih telah mau bekerja sama untuk menyelamatkan istriku dari wanita ular berbisa.”
“Ya brader! Itu sudah menjadi tugasku! Jika kau membutuhkan bantuan lagi, telfonlah aku.”
Zeen tersenyum mendengarnya. “Terimakasih, sekali lagi.”
__ADS_1
Lalu setelah itu, ia kembali menggiring istrinya untuk segera beranjak dari tempat itu. Dengan ditunggu Papanya, Firo, Yudas yang sudah berada diluar mobil yang akan mereka tumpang nanti.
“Kamu pasti lapar ya sayang? Gara-gara berbicara, kita membuang-buang waktu kita.” Gerutu Zeen sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hemm, untung masih bisa aku tahan mas.”
“Yasudah kalau begitu, ayo kita cepat-cepat pulang.”
Saat mereka hampir memasuki mobil, tiba-tiba terdengar lagi suara gaduh dari arah belakang mereka. Tentu hal itu membuat keluarga Zeen keheranan.
“Kenapa ribut sekali?” ucap mereka lantas mengarahkan pandangan mereka kebelakang.
Yang mereka lihat, ada beberapa angota milik Antoni sedang mengejar Laura yang entah kapan terlepas lagi dari kedua polisi itu. Mereka pun mengarahkan pandangan mereka kearah mobil polisi. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat kedua polisi itu tepar dibawah tanah sambil berputar-putar seperti sedang merasakan kesakitan.
“SUDAH KUBILANG KAN? JIKA AKU TAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN HIDUP BAHAGIA!”
Terdengar suara teriakan dari Laura, yang mana wanita itu mati-matikan menghindari dari kejaran angota dari Antoni. Dan kini wanita itu tengah berlari menghampiri Zeen dan Yuna berada.
“JIKA AKU TAK BISA MENDAPATKANMU! MAKA WANITA LAIN TAK AKAN BISA MENDAPATKANMU ZEEN! HAHAHAHAHA ....”
Tanpa diduga mereka, wanita itu mengambil sebuah senjata api dibelakang tubuhnya. Kemudian dengan cepat dan tanpa jedaan, Laura langsung membidikan tembakannya kearah sasaran. Kemudian ia menekan senjata api itu sehingga membuat suara nyaring sebuah peluru yang sudah keluar dari pistol itu.
Dor!!
“Ukhhh?!!”
Peluru itu tertancap dengan sempurna dibagian pinggang Yuna. Membuat wanita itu merasakan nyeri dibagian perutnya.
Keadaan nampak hening beberapa detik. Seperti merasa tak percaya dengan waktu yang bergulir dengan cepat.
__ADS_1
Sehingga saat itu juga, Yuna langsung ambruk karena merasa tak tahan dengan rasa sakitnya. Beruntung saat itu Zeen sigap langsung menangkap tubuh Yuna.
TBC.