
...***...
“Dari mananya kami terlihat mirip?” ucap Zeen bertanya, dengan wajah datarnya.
“Hah? Maksudnya?” tanya Mita merasa bingung dengan ucapan Zeen.
“Saya bilang, dari mananya kami terlihat mirip?” ucap Zeen lagi yang mengulangi pertanyaannya.
“Oh ... yang mirip?” ia memanut-manut mengerti, kemudian ia mengetuk-ngetuk dagunya seolah tengah berfikir dan pandangan matanya terus tertuju pada Zeen dan Yuna. Seketika kedua alisnya saling bertaut, mungkin karena terlalu keras berfikir. “Ah! Saya tahu. Yang mirip dari kalian berdua itu adalah hidung kalian!” tampak Mita berkata dengan sumringah setelah lama mengamati dua insan itu.
“Apa?!” Zeen terkejut, ia lantas menengok kearah Yuna yang kebetulan Yuna pun tengah melihat kearahnya. Jadilah mereka berdua saling berpandangan.
“Hidung?” gumam Zeen lalu ia melihat hidung kecil Yuna dan juga sesekali memencet hidungnya, selama beberapa menit Zeen terdiam hanya untuk menelisik terus hidung itu.
“Mas?”
Suara dari Yuna itu langsung menyadarkan kefokusan Zeen, ia lalu melotot tak percaya. 'Barusan aku kenapa? Kenapa aku seperti orang bodoh yang dengan gampangnya percaya begitu saja pada omongan orang asing?' gumam Zeen tak percaya.
Zeen lalu mengalihkan pandangannya pada Mita, ia menatap wanita itu dengan tatapan tajam ples tatapan jengkel.
“Namamu, Mita kan?”
Mita yang mendapat pertanyaan, refleks menganggukkan kepala dengan senyum mengembang. “Ya ... bukankah saya tadi sudah mengenalkan namaku?” tanyanya.
Zeen menghela nafas sejenak, “Maaf, jika perkataan saya ini terkesan tak mengenakan. Saya hanya ingin bilang. Jika tebakan anda atas kami berdua itu salah besar! Dan anda pun terlalu percaya diri dengan ucapan anda itu! Yang menganggap kami berdua adalah dua bersodara. Anda pun seolah seperti orang yang sudah lama mengenal kami! Padahal kami baru bertemu anda baru sekali ini.” Ucap Zeen yang sudah terlanjur mengeluarkan semua unek-uneknya.
“Jadi mohon dengan sangat, jika anda bertemu dengan orang asing lagi. Lebih baik anda bertanya terlebih dahulu dari pada menebak-nebak, dan pada akhir endingnya pasti akan membuat orang lain salah paham!” lanjut Zeen lagi.
Mita yang mendengar penjelasan panjang lebar dari Zeen itu, terdiam. Ia seolah masih tak mengerti dengan penjelasan itu.
“Intinya ... maksud anda, jika tebakan saya itu salah?” tanya Mita dengan nada hati-hati.
Zeen kembali menghela nafas panjang, ia kemudian menoleh kearah Yuna, lalu mengambil salah satu tangan wanitanya. Dan setelah itu Zeen mengengam tangan itu dengan sangat erat.
__ADS_1
“Ya! Tebakan anda itu salah besar!” jawab Zeen dengan tegas.
Mita terkejut, jantungnya tiba-tiba berdegup saat mendengar perkataan itu. “Ti-tidak ... itu tidak mungkin ... tebakanku tak mungkin salah. Karena aku selalu menebak tepat sasaran ....” gumamnya menatap kedua insan itu dengan pandangan tak percaya.
Zeen terkekeh sinis ketika mendengar gumaman itu, “Mungkin anda terlalu percaya diri dengan kemampuan anda itu. Jadilah seperti ini, dengan bodohnya anda menganggap kami kakak beradik. Padahal kami berdua ini sepasang suami istri!” Zeen menekan perkataan terakhirnya. Dan tak lupa ia mengangkat tangan yang ia gengam untuk menunjukan kepada wanita itu. Bahwa dirinya dan Yuna benar-benar seorang pasangan.
“Mass ...!!” Yuna merasa geram pada Zeen. Ia tak menyangka jika mulut Zeen bisa mengatakan perkataan pedas, mengingat dirinya hanya melihat lelaki itu berkata lembut dan berwibawa jika didepan dirinya. Dan sekarang? Baru Yuna sadari jika Zeen memiliki sosok lain ketika menghadapi wanita tak dikenal itu. Yuna tentu kaget mendapati sosok aneh dari Zeen.
Yuna pun mencubit pinggang suaminya dengan tangan satunya, karena tangan sebelahnya sedang digenggam erat oleh Zeen.
“Aw! Yuna ... kenapa kamu mencubitku?” tanya Zeen sesekali mengusap pinggangnya yang masih terasa sakit itu.
“Mas yang kenapa? Kok ngomongnya bisa jelek gitu?” Yuna yang kesal refleks memelototi Zeen.
“Kenapa kamu yang kesal?” Zeen mengangkat satu alisnya merasa bingung dengan perubahan sifat Yuna.
“Bagaimana aku tak kesal. Kalau mas aja mengatai orang lain dengan sebutan bodoh, itu tak sopan mas!” timpal Yuna berkecak pinggang.
Kemudian terjadilah perdebatan antara suami istri itu. Dan mengabaikan begitu saja seseorang yang masih terdiam merenung dihadapan mereka.
Dua pasutri itu langsung terdiam ketika mendengar suara Mita, mereka berdua sejenak saling berpandangan dan kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Mita.
“Ck! Kan tadi sudah saya katakan! Apakah perkataan saya barusan itu masih tak jelas dipendengaran anda?!” tanya Zeen dengan ketus dan raut sinis.
“Mas ...!!” tegur Yuna, tak lupa menarik lengan baju milik suaminya.
“Apa sayang? Kenapa kamu menegurku terus? Apa kamu mau jika dia terus-terusan salah paham terhadap kita?”
“Bukan begitu mas! Tapi cara penyampaian mas terlalu kasar.” Timpal Yuna, kemudian mengeleng ketika melihat Zeen yang sangat keras kepala jika dinasehati.
Zeen memalingkan pandangannya, tak ingin mendengar ucapan Yuna.
Yuna yang melihat itu dibuat menghela nafas seketika, namun tak lama ia kemudian kembali menatap wanita berwajah manis itu masih berada dihadapannya.
__ADS_1
“Maafkan perkataan suami saya ya? Mbanya jangan terlalu diambil hati, suami saya sebenarnya bukan orang yang seperti itu,” kata Yuna. Menatap wajah Mita dengan raut tak enak.
Mita yang linglung itu hanya menampilkan senyum canggungnya, tak seperti tadi yang selalu menampakkan senyum ceria dan antusias ketika belum mengetahui kenyataan itu.
“Oh! Tak apa dek– eh? Mba-maksudnya ....”
Yuna tersenyum saja ketika melihat wanita seumurannya tengah kebingungan. “Panggil saja Yuna ... nama saya Yuna Saily, bisa dibanggil Yuna lebih akrabnya,” ujarnya masih menampilkan senyumnya.
“Yuna?”
“Ya, Yuna!” Yuna mengangguk menjawab pertanyaan itu.
“Oh! Emmm, ternyata saya sudah salah mengira. Kalau begitu saya Permisi dulu! Silahkan anda berdua melanjutkan aktivitas.”
Setelah mengucapkan itu, Mita tanpa melihat wajah Zeen dan Yuna langsung berlari dan meninggalkan tempat itu. Mungkin karena merasa malu?
Seketika Yuna menggeleng melihat tingkah wanita itu, dan hanya terkekeh lucu tanpa merasa kesal sedikit pun.
Beda dengan Zeen yang sejak tadi terus menampilkan wajah kesalnya.
“Ck! Bukanya minta maaf kek. Malah main kabur aja kayak gitu ... memang benar-benar wong eydan!” sungut Zeen sambil melipat kedua tangannya didada.
Puukk!
Yuna memukul keras lengan Zeen. Membuat lelaki itu tentu dibuat mengaduh.
“Sayang ... kenapa kamu sejak tadi menyiksaku sih? Tadi mencubit, sekarang memukul?” Zeen berpura-pura menampilkan wajah tersiksanya. Padahal aslinya ia tak merasa sakit sama sekali ketika dipukul keras oleh Yuna. Karena. lengannya yang kelar dan keras itulah mengapa ia tahan dengan rasa sakit.
“Makanya kalau ngomong ya mbo disaring dulu to mas ... ojo seng aneh-aneh terus!” ketus Yuna memberengut kesal.
“Aduh ... yang sok-sok berbahasa jawa ....” Zeen mentoel-toel lengan Yuna. Bertujuan untuk menggoda wanita itu.
“Sudahlah mas, sudah mulai dingin udaranya, mending kita pulang kepenginapan sekarang juga.” Ucapnya kemudian tanpa mendengar jawaban dari Zeen. Yuna pun pergi begitu saja meninggalkan Zeen disana.
__ADS_1
“Loh? Kok suami gantengnya ditinggalin?” Zeen melongo ditempatnya, “Sayang ...!!!” teriaknya, lalu berlari menyusul langkah Yuna.
TBC.