
...***...
“Yu-Yuna? Putri kami?” tanya Eva dengan perkataannya yang tersedat ditengorokan. Merasa dibuat terkejut untuk kesekian kalinya dari Zeen itu.
“Apa maksudnya ini mas?” kini Yuna yang bertanya. Karena ia juga merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Zeen kembali memberikan senyuman pada Yuna dan kembali mengelus tangan mungil itu.
“Kalian mungkin pasti sulit percaya begitu saja! Tapi ini lah yang sebenarnya, karena apa yang aku katakan ini memang benar kenyataannya dan bukanlah sebuah lelucon atau kebohongan belaka.” Ucap Zeen dengan tegas.
Tangan Eva tampak bergetar ketika ia menutup mulutnya. “Ja-jadi? Yuna adalah putri ka-kami?” tanyanya lagi ingin terus memastikan.
“Benar, Yuna lah putri kalian. Putri Sanjaya yang sebenarnya!” jawab Zeen dengan suara yang terdengar meyakinkan.
“PUTRIKU!” teriak Eva berlari menghampiri Yuna dan langsung memeluk Yuna dengan perasaan yang benar-benar sulit dijabarkan. Ia bahkan sampai menangis dan air mata itu seakan tak ingin berhenti.
“Putriku sudah besar ... Mama merindukanmu nak ....” ucap Eva bersuara lirih akibat tangis yang masih belum berhenti.
Sedangkan Yuna yang mendapati pelukan erat dari Eva yang mana kala adalah tentanga dekat rumahnya, bingung harus menanggapi seperti apa. Ia yang masih syok itu hanya bisa diam saja.
“Putri kita sudah besar mas ....” kata Eva sambil menatap suaminya dengan tatapan haru dan bahagia.
Sigit hanya terdiam, lalu ia kembali melirik Zeen yang kala itu Zeen memberikan angukan kepala, memberikan keyakinan kepada pria paru baya itu bahwa Yuna lah putri mereka yang hilang.
Sigit yang sama dengan perasaan yang dirasakan oleh istrinya, segera bangkit dari duduknya dan ikut memeluk Yuna dari belakang sambil meneteskan air matanya.
“Putri Papa sudah besar ya ... maafin Papa sayang yang tak bisa menjagamu dan tak bisa segera menemukanmu dikala itu.” ucapnya.
Zeen segera bangkit dari duduknya, ia ingin memberi ruang kepada mereka untuk saling melepas rindu walau Zeen tau jika Yuna saat ini tengah kebingungan dan pasti banyak pertanyaan dikepala istrinya itu.
Zeen sedikit memundurkan dirinya, namun bersamaan dengan itu ia merasa ditarik tiba-tiba dari belakang dan yang menariknya itu tentu adalah Mamanya. Zeen kembali menoleh kebelakang dimana diruang keluarga itu hanya tersisa Yuna dan kedua sepasang suami istri itu yang tengah memeluk Yuna. Sedangkan neneknya sudah tidak ada disana, entah kemana wanita itu berada.
__ADS_1
Vina terus membawa Zeen menjauh dari ruangan itu, sampai tepat didalam dapur Vina baru menghentikan langkahnya dan langsung menghadapkan dirinya pada putranya. Jangan lupakan saat ini wanita berumur empat puluh tahun itu tengah menatap tajam Zeen yang mana kala membuat Zeen hanya bisa memalingkan wajahnya.
Zeen tau jika Mamanya itu akan segera mencerca sebuah pertanyaan yang akan membuat telinganya berdengung seketika.
“Jelaskan sekarang juga!” pekik Vina berkecak pinggang ala emak-emak yang sedang mengomeli anaknya.
Zeen mendesah seketika, ia tau akan jadi seperti ini. Mamanya yang super kepo ini pasti akan terus bertanya padanya jika pertanyaan itu tak segera ia jawab.
Akhirnya Zeen yang tak ingin ribet, lebih memilih menjelaskan semua yang apa yang terjadi diruang tengah tadi. Zeen menjelaskannya dengan begitu jelas sehingga membuat Vina sama-sama syok seperti yang dirasakan oleh Yuna tadi
“Jadi ...? Yuna benar-benar?”
Zeen mengangguk, “Ya Mah, Zeen sudah meyelidikinya dan hasilnya benar-benar ... jika Yuna adalah anak kandung dari om Sigit dan tante Eva!” jelas Zeen.
“Bagaimana kau bisa yakin itu Zeen?” tanya Vina.
Zeen menghela nafas sejenak. “Buktinya sangat banyak Mah, dari foto waktu kecil Yuna, wajah dan sifat yang sama seperti tante Eva dan ... yang paling terpenting adalah ... golongan darah Yuna sama dengan golongan dari om Sigit!”
Vina sampai menutup mulutnya, ia lagi-lagi dibuat terkejut. Bagaimana ia tak terkejut jika yang selama ini ia tahu Yuna hanyalah anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh kedua orangtua nya. Ia bahkan sampai menganggap jika kedua orangtua Yuna sudah meninggal.
Zeen membenarkan kata-kata Mamanya. Dia juga seperti suami yang bodoh yang tak sedari dulu melakukan pencarian perihal kedua orangtua Yuna.
Menyadari kebodohannya itu saja, membuat ia mengusar rambutnya dengan sangat kasar. Ia seperti yang gagal membahagiakan istrinya.
“Maafkan aku sayang ....” gumam Zeen frustrasi.
“Yasudah Zeen, lebih baik kita segera menyusul mereka. Tak enak jika kita disini terlalu lama dan meninggalkan mereka disana, apalagi pasti Yuna saat ini sedang bingung dan butuh penjelasan dari kamu.” Jelas Vina yang langsung dianguki kepala oleh Zeen.
“Baiklah Mah, kita segera kesana.” Timpalnya.
°
__ADS_1
°
°
Kini Vina dan Zeen kembali berjalan menuju ruang tengah, dengan Vina yang tak lupa membawa sebuah minuman ditangannya yang dilekana dinampan karena ia sempat lupa menawarkan minuman kepada tetangga terdekat sekaligus besannya akibat terlalu syok mendengar kebenaran yang baru terungkap sekarang.
Namun saat mereka berdua sampai pada tujuan, Vina dan Zeen dibuat bingung karena suasana diruang tengah itu sangat senyap tak ada lagi tangis kerinduan seperti beberapa menit yang lalu itu.
Vina dan Zeen sampai dibuat melirik satu sama lain, tak tahu dengan situasi yang mereka lihat saat ini.
“Ehem! Semuanya ... ini aku membuatkan kalian sirup dingin, cocok untuk hari ini yang sangat panas cuacanya.” Ucap Vina berusaha mencairkan suasana itu, walau ia sendiri agak kikuk dirasa.
“Yaampun bu Vina, tak perlu repot-repot begitu ....” ujar Eva merasa tak enak hati.
“Eyyy, gak repot kok. Bikinnya kan mudah ....” jawab Vina tersenyum lebar, sambil meletakan satu persatu gelas sirup itu diatas meja.
“Ayo diminum,”
Sigit dan Eva saling memandang, kemudian tersenyum dan mengambil sirup itu dengan perasaan cangung.
Vina yang melihat Yuna diam itu, berinsiatif mendekati menantunya dan duduk disampingnya. “Sayang ... kamu juga minum gih, Mama juga sudah buatin kami susu khusus untuk menantu Mama.” Vina memperhatikan Yuna begitu perhatian sampai membuat Eva iri sekaligus senang ketika melihat putrinya diperlakukan bagai ratu dirumah besar itu.
Hati ibu mana yang tak senang jika melihat putrinya tumbuh sehat dan bahagia, bersama orang-orang yang mengasihinya.
Sedangkan Yuna yang sedari diam itu, tiba-tiba berdiri dari duduknya yang mana membuat semua atensi menatap kearahnya dengan tatapan binggung.
“Maaf Mah, sepertinya Yuna kurang enak badan. Yuna pamit kekamar dulu.” Ucap Yuna, kemudian berlalu begitu saja tanpa menolehkan kepalanya sama sekali.
“Sayang?!” teriak Zeen yang juga ikut berdiri dari duduknya. “Sepertinya aku harus menyusul Yuna Mah, takutnya kenapa-napa.” Ujar Zeen yang sedari tadi melihat wajah pucat dari istrinya. Ia takut jika itu berdampak dengan kandungan sang istri.
“Iya Zeen! Cepat susul istri kamu!” pekik Vina menyuruh putra dengan raut yang juga khawatir.
__ADS_1
Zeen menganggukan kepala, lalu berlari menyusul Yuna.
TBC.