Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 124


__ADS_3

...***...


“Kamu benar-benar ya mas ...?” Vina tak dapat mengungkapkan isi hatinya karena sangking emosinya, “Malam ini kamu tidur diluar!” tekan Vina langsung bangkit dari duduknya dan berjalan tergesah menuju kamarnya.


Hal itu membuat Albaret melongo, dan juga langsung bangkit dari duduknya.


Saat itu juga ia langsung menatap putranya dengan tatapan tajam, “Awas kamu Zeen! Setelah urusan Papa selesai maka kamu akan berhadapan dengan Papa. Ingat itu!” ancamnya dengan raut wajah menahan amarah dan langsung beranjak dari tempat itu untuk menyusul istri tercintanya yang sedang merajuk.


Rima yang melihat tingkah anak dan bapak itu hanya bisa mengeleng. Ia benar-benar tak menyangka jika cucu kesayangan begitu menuruni sifat Papanya yang sangat usil ketika masa mudanya dan tentu saat ini lah sifat itu berdampak pada anaknya sendiri.


“Zeen cucuku, jangan seperti itu pada orangtua mu, kasihan mereka bertengkar hanya karena hal sepele yang disebabkan olehmu. Aku bahkan sangat kasihan sekali pada mereka yang hanya memiliki satu anak. Dan anaknya malah bandel sepertimu.” Ucap Rima menatap wajah cucunya dengan pandangan iba nan miris.


“Astaga nenek ...!!” Zeen langsung menghentikan tawanya dan memandang neneknya dengan pandangan tak percaya, “Itu kan bukan salahku nek! Mereka sendiri yang gak mau bikin anak lagi, dan apa itu? Nenek memasang wajah seperti itu seolah aku adalah anak yang menyedihkan?” lanjutnya mengerutu kesal.


“Kamu menyalahkan orangtua mu cucuku? Dan kamu menuduhku jika aku menganggap cucu kesayanganku menyedihkan? Sungguh kamu tega sekali menyakiti hati orangtua ini cucuku!” tampak Rima memasang wajah sedihnya dan juga berpura-pura memijit keningnya.


“Nenek ....” tampak Zeen menghela nafas panjang dan semakin lesulah wajahnya.


Sedangkan Yuna yang mengamati tingkah suaminya itu hanya bisa mengeleng, dan sesekali tertawa kecil.


“Sudahlah jangan bahas itu lagi. Kau hanya membuat nenek tua ini pusing saja.” Gerutu Rima dan langsung memasang wajahnya kembali menjadi angkuh.

__ADS_1


“Cucu menantu!” panggil Rima pada Yuna yang kebetulan saat ini duduk berhadapan.


“Ya nek?” jawab Yuna dan mengalihkan pandangannya pada Rima.


“Aku ingin bertanya kepadamu cucu menantu, apa perutmu saat ini sudah berisi?” tanyanya dengan wajah berharap-harap.


“Ya berisi dong nek. Kalau perut Yuna gak berisi, maka Yuna saat ini pasti sudah pingsan.”


Bukan Yuna yang menjawab, melainkan Zeen yang menjawab pertanyaan itu.


Rima menautkan kedua alisnya dan menatap cucunya dengan pandangan bingung, “Emang kamu tahu apa yang aku maksud tentang perut berisi?” selidik Rima pada cucunya.


Zeen mengangguk santai, “Ya Zeen jelas tau dong nek ... perut berisi itu sama halnya dengan perut yang diisi segudang makanan. Emang apalagi kalau bukan itu?” Zeen melipat kedua tangannya dan menatap neneknya dengan tatapan heran.


“Ck! Ck! Ck ... ternyata cucuku ini begitu bodoh. Sama dengan Papanya,” seloroh Rima mengeleng.


“Apa maksud nenek?” Zeen merasa terkejut dikata bodoh oleh neneknya itu, padahal ia yakin tak melakukan sesuatu yang bodoh.


“Kau begitu bodoh karena tak peka dengan maksud ucapanku. Yang kumasud dengan perut berisi ya tentang kehamilan Yuna, dasar kau cucu kolot! Untung kau kusayang jika tidak, maka sudah ku keluarkan kau dari daftar keluarga besar Albaret!” kecam Rima tak habis pikir.


Zeen melongo, bahkan mulutnya saat ini mengaga dengan lebarnya. Ia begitu syok dan kesal dikatai oleh neneknya dengan sebutan kolot. Begitu jatuhnya harga diri seorang Zeen Albaret kepada istri pujaanya itu.

__ADS_1


“Nenek! Nenek itu yang salah–”


“Sudah! Jangan menyalahkan nenek, kamu diam saja disitu. Nenek saat ini ingin berbicara dengan cucu menantu. Dan kamu jangan menyela lagi!” tegas Rima memperingati Zeen.


Zeen mempoutkan bibirnya dengan wajah kesal, 'Bisa-bisanya wanita tua ini menjatuhkan harga diriku didepan istriku sendiri. Kalau bukan nenekku! Maka sudah kutendang keluar dari rumah ini!' gerutu Zeen hanya mampu didalam hati.


“Bagaimana Cucu mantu, apakah sudah ada kabar baik?” tanya Rima pada Yuna dan kembali memperlihatkan ekspresi harapnya.


Yuna yang melihat binaran yang terpancar pada mata wanita tua itu merasa tak enak. Dirinya bahkan meyakini jika ia saat ini masih belum berisi karena tak ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya. Dan ia juga sempat mengecek dirinya dengan menggunakan benda kecil yang bernama tespack. Dan benda kecil itu menunjukan satu garis yang menandakan jika ia belum diberi kesempatan untuk memiliki momongan.


“Maaf nek, sepertinya tuhan belum memberiku kesempatan untuk memiliki anak,” jawab Yuna dengan perasaan tak enak hati.


Binaran mata yang tadinya terpancar pada mata wanita tua itu menghilang sedikit demi sedikit, namun wanita tua itu masih menunjukan senyuman hangat pada Yuna.


“Tak apa cucu menantu ... aku hanya bertanya saja dan tak ada niatan untuk mendesakmu. Mungkin benar apa katamu, jika tuhan masih belum memberikan keyakinan pada kalian dan mungkin setelah beberapa lama nanti keajaiban itu akan datang.” Terang Rima sambil sesekali menyesap tehnya.


Yuna tak menjawab ucapan itu, ia hanya tersenyum namun senyuman itu memaknai jika ia saat ini tengah merasa bersalah. Bersalah karena tak memberikan kabar bahagia pada keluarga barunya saat ini.


“Mungkin juga alasan kau tak cepat hamil karena suamimu yang kurang tangguh dan hebat dalam membuat cicitku,” canda Rima dengan diselingi tawa kecilnya.


“Nenek ....” Zeen mendengus kesal karena lagi-lagi dirinya yang disalahkan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2