
...***...
“Apa istriku akan cepat sadar?” tanya Zeen dengan suara lirih.
Fadli yang mendengar itu tak langsung menjawab, ia pun berjalan mendekati Zeen dan menepuk pundaknya.
“Tetap percaya bahwa Yuna akan baik-baik saja dan akan kembali semangat seperti semula, Yuna pasti akan senang jika melihat bayi-bayinya yang sudah lahir. Itu sebabnya Yuna pasti akan cepat sadar, kita semua hanya menunggu waktunya saja.” Jelas Fadli dengan bijak.
Zeen yang mendengar itu hanya diam saja dan hanya terus memandangi wajah pucat istrinya.
Fadli lantas menghela nafasnya dan menatap Yuna sejenak. Ia pun kemudian beranjak dari ruangan itu karena tugasnya sudah selesai.
Bersamaan dengan itu, saat ia keluar dari ruangan para keluarga Yuna langsung masuk kedalam ruangan itu.
Fadli menengok sejenak kebelakang, dirinya lantas mengulas senyumnya saat melihat betapa pedulinya semua keluarga itu terhadap Yuna.
“Betapa beruntungnya kamu Yuna ... kamu beruntung memiliki keluarga yang sangat menghawatirkanmu, dan kamu juga beruntung memiliki suami yang sangat menyayangimu! Setelah ini, aku makin yakin untuk melepas cintaku padamu ... karena melihat orang yang aku cintai bahagia saja sudah membuatku cukup!”
“Bukankah cinta tak harus memiliki?” lanjutnya lagi, lalu kemudian ia benar-benar beranjak dari tempat itu dan berlalu menuju area untuk sekedar menghirup udara segar.
Dan dirinya benar-benar tak menyadari, jika sejak tadi pergerakannya terus diamati oleh Mita yang pada saat itu berada tak jauh dari Fadli.
Mita sempat bingung karena Fadli tak membalas sapaanya, dan melewatinya begitu saja. Ia pun yang penasaran itu, memilih untuk mengikuti Fadli karena dirinya merasa penasaran saat melihat raut wajah kesedihan dari pria itu.
Sesampainya diarea parkiran, Fadli mendudukan dirinya disebuah bagku yang memang sudah ada disana.
Mita yang saat itu ingin menghampiri Fadli, sejenak dibuat terkejut saat melihat pria itu yang mengeluarkan sebuah rokok disakunya, dan setelah itu membakar ujung rokok itu sehingga mengeluarkan asap kecil diujungnya.
Asap itu kemudian keluar dari mulut Fadli saat pria itu menghisapnya dengan pelan.
“Astaga? Bukankah dia seorang dokter? Lantas mengapa dia merokok padahal tau jika benda itu bisa membawa penyakit?” Mita nampak menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ini tak bisa dibiarkan, takutnya jika ada salah satu pasiennya. Maka tamatlah citra dokternya itu.” Gumamnya lagi. Kemudian tanpa ba-bi-bu ia langsung melangkahkan kakinya dan menuju Fadli yang tengah termenung dan sampai tak menyadari jika Mita akan menghampirinya
“Dokter Fadli!” panggil Mita yang langsung membuat Fadli terkejut akibat dirinya tengah melamun. Alhasil pria itu terbatuk-batuk saat tersedat asap rokoknya.
“Nah kan? Baru juga dibicarain langsung dapat imbasnya, ini ni yang buat berpenyakitan!”
Mita mengomel-ngomel, sambil merebut batang rokok itu tanpa meminta izin pada Fadli. Mita pun dengan geramnya langsung menginjak-injak batang rokok itu sampai gepeng tak terbentuk dan terkoyak habis.
Sungguh sangat bar-bar sekali saat Mita menginjak-injak rokok itu.
__ADS_1
Fadli yang masih terbatuk-batuk itu langsung mengadahkan pandangannya keatas untuk melihat wajah Mita.
“Uhuk! Dokter Mita? Kenapa anda disini? Dan kenapa anda merebut batang rokok saya begitu saja?” tanya Fadli yang masih disela batuk-batuknya.
Mita berkecak pinggang menatap Fadli, “Seharusnya saya yang bertanya dokter! Mengapa anda disini? Dan mengapa anda merokok ditempat yang tidak diperbolehkan? Apakah anda tak sadar jika tempat ini masih diarea rumah sakit? Jika ada pasien lewat bagaimana ...? Nanti pasiennya langsung kejang-kejang saat menghirup asap yang tak bermutu itu! Apa anda mau bertanggung jawab?” gerutu Mita mengebu-gebu tanpa ada jeda sama sekali.
“Uhuk! Uhuk! S-saya disini karena, uhuk! Uhuk!”
Batuk Fadli semakin kencang saja, yang membuat Mita yang melihat itu menghela nafasnya dan menatap kasihan pada pria itu.
“Ini akibatnya anda merokok dirumah sakit, anda jadi kena karmanya kan?”
“Saya akan ambilkan air putih untuk anda, tolong anda tunggu disini!” lanjutnya.
Tanpa mendengar jawaban dari Fadli, Mita pung langsung beranjak dari tempatnya dan berlari masuk kedalam rumah sakit.
“T-tunggu dokter Mita ....”
Fadli langsung mendesah panjang saat melihat punggung Mita yang sudah tak terlihat.
Ia yang sudah meredakan batuknya itu melihat kebawah, dan menatap nanar batang rokoknya yang sudah tak terbentuk.
°
°
°
Mita kembali berlari dengan kencang menerobos para sekelompok orang-orang yang sedang menjenguk keluarganya. Ia pun membawa langkahnya kembali menghampiri Fadli yang sedang diarea parkiran. Tak lupa ditangannya sudah ada sebotol air putih untuk diberikan kepada pria itu.
“Dokter Fadli ....”
Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, saat melihat Fadli yang tak duduk sendiri disana. Ia dapat melihat, jika pria yang disukai itu tengah duduk bersama seorang wanita yang diyakini adalah seorang dokter. Bisa dilihat dengan kemeja putih yang dipakai oleh wanita itu.
“Terimakasih dokter Clara ... anda tak perlu repot-repot memberikan saya puding seperti ini,”
“Oh? Tak apa dokter Fadli, tadi saat dirumah saya sempat membuat puding, dan tak tau jika hasilnya banyak. Itu sebabnya saya memberikan puding itu kepada dokter dan daripada terbuang sia-sia kan?”
Mita yang mendengar samar-samar pembicaraan itu, langsung mengernyitkan alisnya. “Oh ... ternyata si sainganku yang duduk disana?” gumam Mita mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
Sedetik kemudian ia langsung mengedikan tubuhnya, “Ih amit-amit! Yakali ibu-ibu kondangan itu jadi sainganku? Yang ada pasti aku yang lebih dulu mendapatkan hati dokter Fadli!” gumam Mita memsungkan tubuhnya karena merasa sangat percaya diri.
Bukan tanpa alasan Mita menyebut Clara dengan sebutan ibu-ibu kondangan, karena wanita itu memakai make up tebal apalagi dengan warna lipstik yang sedikit cetar.
Mita langsung mengenyam erat botol minumnya, “Ini tak bisa dibiarkan! Aku tak ingin melihat mereka berduaan begitu saja!”
Dengan langkah percaya dirinya, Mita langsung menghampiri mereka dan langsung menampakkan dirinya tepat didepan dua insan itu.
“Maaf dokter Fadli, saya sedikit lambat tadi. Nih minumnya,” ucap Mita dengan senyum manisnya memberikan botol air itu pada Fadli.
Fadli menerima botol itu dengan sedikit kikuk, “Terimakasih dokter Mita. Tapi tak seharusnya anda susah-susah mengambil air minum untuk saya, karena saya hanya terbatuk sebentar tadi!” jelas Fadli yang juga menampakkan senyum ramahnya.
Dengan gaya yang dibuat malu-malu, Mita menyelipkan anak rambutnya disela telinganya. “Tak apa dokter, ini hanya bentuk perhatian saya pada anda!” ucap Mita tanpa ragu-ragu, lantas kemudian ia melirkan matanya pada sosok Clara yang juga tengah menatapnya dengan tatapan jengkel.
“Oh? Ternyata disini ada dokter Clara? Oh maaf ... saya tadi tak melihat anda tadi. ... maafkan saya yang tak sopan ini dokter Clara!” ucap Mita dengan mimik wajah yang dibuat seolah terkejut.
Sedangkan Clara yang menyadari kepura-puraan itu berusaha untuk menekan emosinya. Ia pun menunjukan senyum palsunya. “Oh tak apa-apa dokter Mita, saya tak masalah ....”
'Tap apa-apa apanya? Rasanya kalau demi menjaga imageku dihadapan dokter Fadli, mungkin aku sudah mencabik-cabik wajah jeleknya itu!' gumam Clara dan diam-diam menatap tajam Mita.
Mita tersenyum penuh kemenangan. 'Aku tau apa isi kepalamu itu ferguso!'
Ekor mata Mita tak sengaja melihat sebuah puding yang berada ditangan Fadli. “Oh? Apa itu dokter? Bukankah itu puding?” tanpa bertanya Mita langsung mengambil bungkusan puding itu dan membukanya tanpa permisi.
“Wah? Rasa coklat? Ini mah kesukaan saya, saya makan ya dokter!” tanpa mendengar jawaban dari sang empun, Mita langsung menyendok puding itu dan memakannya dengan sangat lahap. Hal itu membuat kedua orang yang melihatnya mengaga ditempatnya.
“D-dokter Mita ... puding itu pemberian dari dokter Clara ....” ucap Fadli merasa tak enak hati dengan orang duduk disampingnya.
Mita langsung menghentikan lahapannya. Ia lantas menatap wajah Clara dengan tatapan polosnya seolah tak tahu apa-apa.
“Oh astaga?!” Mita menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Saya benar-benar tak tau jika ini puding dari dokter Clara, mohon maaf lagi ya dokter ... saya benar-benar tak tau,” kemudian memasang mimik wajahnya seolah sangat menyesal.
Lagi-lagi Clara mencoba menahan kekesalnya dengan berpura-pura baik-baik saja. “Oh tak apa dokter Mita, mungkin karena puding buatan saya yang terlihat enak jadi tanpa sadar dokter Mita jadi tergiru ....” jelasnya.
'Awas aja kamu bocah tengik! Lihat saja pembalasanku nanti,' gumam Clara didalam hati.
Tanpa mereka berdua ketahui, jika sejak tadi Fadli tengah menahan tawanya akibat ulah Mita yang menurutnya sangat konyol dimatanya. Bahkan ia sampai melupakan kesedihannya tadi.
TBC.
__ADS_1