
...***...
Zeen saat ini begitu kesal, sampai-sampai mengeluarkan aura hitam yang keluar dari tubuhnya. Bahkan aura itu sampai menyemburkan hawa dingin dimobil mewah itu.
Bahkan Yudas yang sedang menyetir itu terus saja melirikan matanya kearah sepion, guna untuk melihat keadaan sang adik ipar yang menurutnya sangat aneh dipandang.
Ia pun mengkode-kode dengan cara bersiul-siul kearah Firo yang saat itu sedang sibuk mengecek deretan chat dari para wanita-wanitanya.
Firo melirik kearah Yudas saat mendengar siulan itu.
“Apa?” tanyanya.
“Kakak kau itu kenapa tuh?” jawab Yudas bertanya.
Sejenak Firo mengalihkan pandangannya kearah Zeen, ia melihat jika kakak sepupunya itu tengah memasamkan wajahnya.
Kemudian setelah puas memandangi wajah kakak sepupunya, ia berbalik kembali dan mengedikan kedua bahunya acuh. “Entah, mungkin sedang puber.” Jawab Firo ngasal.
Hal itu membuat Yudas yang mendengarnya hanya bisa mendengus kesal dan melanjutkan fokusnya kembali ke kemudinya.
Pasti kalian bingung kenapa Zeen saat ini begitu kesal? Jawabannya karena pria yang sudah memiliki dua orang anak itu tengah dikerjai oleh sang Papa. Sebab, saat ini ia tak satu mobil dengan sang istri. Dirinya saat ini didalam mobil yang berbeda yang ditumpangi oleh Yuna dan dua putranya. Dimana didalam mobil tersebut hanya terisi tiga orang pria saja. Tantunya Firo dan Yudas.
Zeen semakin memasamkan wajahnya, “Tega banget papa malah ngaruh aku disini dengan pria yang masih bujangan.” Gumam Zeen mengerutu. Namun gumam itu tentu dapat didengar oleh dua orang pria yang duduk dikursi depan.
“Iya-iya yang sudah punya istri! Sombong banget, baru ditinggal istrinya beberapa menit yang lalu aja udah langsung mewek!” timpal melirik sepupunya dengan sinis.
Zeen menatap Firo tak kalah sinisnya. “Iri lo? Bilang bos!!” jawab Zeen dengan angkunya.
Firo pun langsung mendelik, menatap wajah sang sepupu dengan pandangan meremeh. “Gue iri? Gak kelessss ... yang ada aku menikmati hidupku karena aku tak perlu susah-susah memikirkan satu wanita!” balas Firo yang tak kalah angkuhnya.
“Cih! Buaya kayak kau itu kalau belum dapat karmanya pasti belum nyahok!” Zeen menggeleng sejenak, lalu ia kembali melanjutkan perkataannya. “Kuberitahu ya! Lebih baik kau segera insaf sekarang! Putuskan semua pacarmu entah ada berapa itu. Yang pasti minta maaflah kepada mereka karena kau sudah mempermainkan perasaan wanita yang tak bersalah!” tutur Zeen dengan bijaknya.
“Jangan menasehatiku kak! Ini memang jalanku mencari kesenangan!” balas Firo acuh tak acuh-acuhnya.
__ADS_1
Zeen yang mendengar itu, seketika menghela nafas lelah. “Sebagai orang yang lebih tua darimu aku sudah memperingatimu ya? Dan jika kau menyesal nantinya jangan pernah datang kepadaku! Karena saat kau menyesal nanti, aku lah orang pertama yang akan menertawakanmu!” jelas Zeen dengan sangat tegas.
Namun lagi-lagi Firo mengabaikan dan meremehkan ucapan kakak sepupunya, “Ya! Ya, ya ... terserah apa kata kakak saja. Yang pastinya aku tak akan menyesal dan aku pasti akan merasa bahagia dengan kehidupan ini!”
Zeen berdecih dalam hati, 'Bahagia kok mempermainkan wanita!' batin Zeen tak habis pikir.
“Kudoakan semoga anakmu kelak tak mirip denganmu!” timpal Zeen.
“Ah! Bicara soal anak, aku baru ingat mengucapkan selamat pada kakak atas lahirnya dua bayi kakak itu!” monolog Firo.
“Sama-sama!” jawab Zeen ngasal.
Firo mendengus, “Seharusnya aku yang bilang begitu! Kakak ini aneh, aku takut jika nanti dua anak kakak menuruni sifat aneh kakak!” sindirnya.
“Kau yang lebih aneh anak muda!” balas Zeen dengan nada sinisnya, ia kesal pada sepupu menyebalkanya itu. Bisa-bisanya menganggap dirinya aneh.
“Kak! Nanti jika duo G sudah besar, aku akan mengajarkan mereka apa itu pria sejati! Biar tak jadi pria monoton seperti bapaknya!” celetuk Firo semakin menjadi-jadi.
Zeen yang mendengar itu, lantas melototkan matanya. “Sebelum kau melakukan itu! Maka aku akan membunuhmu terlebih dahulu!” terang Zeen mengebu-gebu.
Sedangkan Yudas yang sedari tadi diam mengamati, hanya dan hanya bisa dan lagi-lagi menghela nafasnya dengan panjang nan frustasi. Frustasi karena dirinya yang super normal itu tak ingin menjadi pria aneh seperti dua pria yang menumpang dimobilnya.
'Setelah ini aku mau langsung pergi ke Australia untuk mendinginkan kepalaku!' gumam Yudas didalam hatinya dengan penuh ketekatan.
°°°
Sedangkan disatu sisi, dimobil yang berbeda. Tepatnya mobil yang berada dibelakang mobil yang ditumpangi Zeen itu, tengah merayakan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan tentang tidak adanya Zeen diantara mereka.
Menggapa seperti itu? Karena mereka semua mengagap Zeen adalah sebuah beban. Beban yang selalu menempel Yuna kemana-mana.
“Hahahaha! Aku tak sabar melihat wajah kusut putraku itu!” ucap Albaret sambil tertawa kencang.
Vina yang berada tepat disamping suaminya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Maafkan orangtua ini ya semuanya, memang otak suamiku ini agak kadang-kadang,” ucap Vida dengan gamblangnya.
Eva dan Winda yang mendengar itu terkikik geli.
Sedangkan Albaret yang mendengar hinaan dari istrinya itu merengut kesal. “Mama ini, kalo sama papa selalu saja papa dijadikan bahan pembicaraan aneh dan mempermalukan papa.” Gerutu Albaret yang mana membuat Vina mengaga mendengarnya.
'Padahal dirinya sendiri yang mempermakukan dirinya.' batin Vina sambil memutar bola matanya malas.
“Lagian papa ini ada-ada aja kelakuannya, masa sama anak sendiri tega banget misahin anak dan istrinya! Pasti anak lakik mu itu sedang merana karena dijauhkan dengan istri tercintanya! Dan papa pelakunya!” cerocos Vina tanpa henti.
Albaret nampak menyandarkan kepalanya disandaran kursi itu, dengan kedua tangan yang ditompang kebelakang kepalanya.
“Biarin mah! Biarin sekali-kali papa kerjain dia, papa tuh kasihan sama menantu kita, papa seperti melihat wajah kecapean Yuna setiap Zeen menempel padanya. Itu sebabnya papa melakukan itu agar menantu kita itu bisa terbebas sari keposesifan putra kita!” jelas Albaret yang membuat semua orang terkecuali Yuna mendengarkan perkataannya dalam diam.
“Mama lihat sendiri kan? Sekarang Yuna sudah tidur pulas walau kita berisik disini. Sepertinya menantu kita benar-benar capek dan kayaknya Yuna nyaman-nyaman saja dipisahkan dari Zeen sejenak!”
Semua orang menengok kebelakang, dimana Yuna dan baby twinnya sudah berbaring dan tidur pulas dengan nyamannya dikursi paling belakang itu.
Untuk memberi tahu, jika mobil yang ditumpangi mereka adalah mobil yang sangat mewah, yang tempat duduknya terdiri tujuh baris dengan kursi yang sedikit luas. Yang mempermudah orang yang tidur dikursi mobil itu akan merasakan kenyamanan yang leluasa. Tentu saja seperti itu karena mobil orang kaya pasti akan jauh lebih berbeda dengan mobil orang biasa-biasa saja.
“Kamu benar pah! Kamu benar jika kita harus sesekali menjauhkan Yuna dari Zeen, mama dapat melihat Yuna yang begitu nyaman tidur sambil memeluk dua babynya.” Ucap Vina tersenyum cerah menatap sang menantu.
Begitupun Eva sang ibu kandung, juga ikut tersenyum melihat wajah cantik putrinya yang begitu damai ketika sedang tidur.
“Tapi aku kasihan dengan Zeen! Pasti putra kita itu sedang menangis karena tak bisa menempeli istrinya!” ujar Albaret yang kembali tertawa dengan kencang.
Vina langsung menabok mulut suaminya dengan gemas, karena suara tawa itu dapat membangunkan dua bayi yang saat ini tengah tertidur pulas.
“Kondisikan kalo ketawa pah, kamu gak ingat kalo ada bayi disini? Nanti kalo bangun gimana? Ha? Mau nenangin kalo bayi lagi nangis?” cerca Vina sambil menatap tajam suaminya.
Albaret tak bisa menjawab ucapan istrinya, ia lebih memilih diam dari pada berakhir dengan dirinya yang tak boleh masuk kedalam kamar.
'Gak mau main-main lagi sama ibu negara, sadis kalo lagi marah!' gumam Albaret dalam hatinya.
__ADS_1
TBC.