
...°°~°°...
Zeen saat ini benar-benar dibuat panik setengah mati, bagaimana tak dibuat panik? Jika ia diberi kabar oleh salah satu juniornya bahwa istrinya telah sampai dirumah sakit dan sudah masuk diruang persalinan. Dan seperti bom yang meledak begitu saja didalam diri Zeen, tentu Zeen saat itu langsung dibuat terdiam membeku seperti terkena hantaman balok es. Untung saja saat itu juniornya berhasil menyadarkannya. Jika tidak maka ia akan terus berada diruangan dengan mulut tergangga.
Dan saat ini Zeen sudah berada diruang persalinan, tepatnya ia dengan setia menemani istrinya yang sedang dilanda kesakitan. Sebab! Sekarang Yuna sedang mengejan, berusaha untuk mengeluarkan sang baby yang sudah sangat ingin melihat dunia dimana para keluarga sedang menunggunya.
“Ayo ibu Yuna... teruskan mengejannya! Sedikit lagi sang bayi akan segera keluar!” ujar dokter Rena yang saat itu bertugas membantu kelahiran, juga ada Mita yang ikut membantu.
“Iya kak Yuna! Ayo! Ayo terus berusaha dengan keras....” timpal Mita dengan semangatnya.
Yuna terus menerus menghirup nafasnya juga membuangnya secara dalam-dalam , sampai membuat wanita itu lemas tak berdaya. “Aku sudah tak kuat lagi mas....” cicit Yuna dengan suara lemah.
Hal itu membuat Zeen kalang kabut saat melihat istrinya memejamkan matanya dan tak melanjutkan mengejannya.
“Jangan pejamkan matamu dulu sayang! Ayo! Berusaha lah lagi, ini demi baby kita yang ingin melihat wajah para kaluarganya. Apakah kamu tak kasihan melihat baby kita yang masih setengah jalan?”
Mendengar itu, membuat mata Yuna langsung terbuka lebar. Sepertinya energinya telah terisi penuh, karena terlihat jika Yuna kembali melanjutkan mengejannya dengan suara yang dikeraskan. Hal itu membuat sang baby yang tadinya masih setengah jalan langsung keluar diiringi suara tangis dan juga pekikan kesakitan dari Zeen karena rambutnya dijambak dengan keras oleh sang istri.
“Huaaa sakit banget... huaaa!!” pekik Zeen menangis.
Tentu para dokter yang melihat tingkah Zeen itu langsung mengelengkan kepala sambil tak mematuti tingkah kekanakan dari seorang Zeen Albaret, yang terkenal dengan sifatnya acuh plus datar. Namun sekarang sifat itu hilang saat Zeen menangis tak tahu malu.
Untung saja Yuna tak melihat, karena saat bersamaan dengan sang baby yang lahir. Wanita itu pingsan dan memejamkan matanya dengan rasa nyaman.
Dengan membawa baby yang masih belum dibersihkan, Mita berjalan menghampiri Zeen untuk menghentikan tingkah memalukan dari seorang yang pernah ia taksiri itu.
“Ehem! Dokter Zeen! Mohon maaf menganggu aktifitas anda! Tapi mohon tunda dulu tangisnya, karena bayi anda sepertinya membutuhkan perhatian anda!” ucap Mita yang langsung membuat Zeen terdiam membungkam mulutnya.
Zeen sejenak melihat sekelilingnya, ia melihat jika para dokter tengah menertawakannya. Hal itu membuatnya tersadar dan langsung merasa malu tak tertahankan.
'Oh yaampun imageku....' batin Zeen meronta-ronta.
Zeen menghembuskan nafasnya sejenak, dan berusaha untuk menetralkan rasa malunya. Kemudian ia beralih menatap bayi mungil yang ada digendogan Mita.
“Biar saya yang membersihkannya....” ucap Zeen mengambil alih bayinya.
“Tapi? Apakah anda bisa....”
Zeen menatap tajam Mita, “Jangan meremehkan saya! Gini-gini saya juga pernah dulu membersihkan dua bayiku sekaligus.” Terang Zeen yang membuat Mita langsung mengangguk-anggukan kepalanya tak ingin menghentikan keinginan Zeen itu.
Zeen pun dengan gagahnya berjalan keluar karena ia akan menuju kesalah satu ruangan khusus bayi, tak lupa dirinya juga sudah berpamitan kepada sang istri dengan mengecup kening walau istrinya masih tertidur pulas.
Para keluarga yang tadinya menunggu dengan rasa gundah, langsung memancarkan wajah bahagianya ketika melihat sosok Zeen yang membawa bayi yang masih merah digendogannya. Hal itu membuat para keluarga langsung mengerubunginya.
“Wah cantiknya... apakah itu cucunya mama Zeen?” tanya Vina saat melihat bayi itu.
“Iya dong mah, siapa lagi?”
Mendengar itu membuat para keluarga kembali bersorak bahagia, bahkan para keluarga mengajak para pengunjung rumah sakit berjoget bersama. Mungkin karena sangking bahagianya.
“Woooo... cucuku bertambah satu... aku akan memberikan hadiah kepada semua orang yang ada dirumah sakit ini!” teriak Albaret tak kalah antusiasnya.
Orang-orang yang mendengar itu tentu merasa senang bukan main sehingga membuat orang-orang yang ada disana langsung mengucapkan selamat kepada pemilik rumah sakit terbesar itu, atas lahirnya sang cucu.
__ADS_1
Zeen yang menyaksikannya hanya bisa mengelengkan kepala, karena sebelumnya saat baby twin lahir papanya itu juga bertingkah serupa. Hal itu membuat Zeen menyadari jika tingkah absurdnya berasal dari sang papa.
Saat Zeen sudah sampai diruang khusus bayi, Zeen tanpa berlama-lama langsung membersihkan bayi perempuannya. Hal tersebut membuat mama dan mama mertuanya merasa terharu melihatnya.
“Putraku ternyata sudah besar... dia sekarang sudah jago membersihkan bayi... tak terasa jika dulu akulah yang membersihkan tubuhnya yang kotor....” gumam Vina sambil menyeka air matanya.
Eva yang berada disana, langsung memeluk besannya, tentu Vina pun membalas pelukan itu.
“Oh ya Zeen... apakah keadaan Yuna baik-baik saja?” tanya Eva yang sejak tadi pikirannya tertuju pada putrinya itu.
Zeen menoleh, menatap sang mertua dengan senyuman. “Yuna baik-baik saja mah....”
°
°
°
Saat ini Yuna sudah dipindahkan diruang rawat khusus, atau bisa disebut ruangan VIP. Yang artinya ruangan tersebut sangat luas seluas kamar yang ditempati oleh Yuna bersama sang suami.
Tentu ruangan tersebut sangat pas untuk berkumpulnya para keluarga, apalagi para keluarga sudah berkumpul semua disana. Dimana para nenek, kakek atau aunty dan paman tengah berebutan sang baby yang telah mampu membuat semua orang menempel padanya.
Mungkin karena wajah yang mungil dan lucu mirip dengan wajah sang mommy, membuat para keluarga betah berlama-lama menempel pada bayi itu. Untung saja bayi tersebut tenang saat dijadikan bahan rebutan, karena sang baby tadi sudah diberi asi oleh sang mommy. Itu sebabnya bayi perempuan itu anteng saat digendong secara bergilir.
“Aduduh... lucu banget keponakan aunty... sepertinya dia mirip sama aku deh....” ucap Diana yang saat itu giliran ia yang mengendong.
Namun tiba-tiba saja Yudas datang menghampiri Diana, dan tanpa sepengetahuan gadis itu, Yudas merebut sang baby namun secara halus nan hati-hati.
“Mana yang mirip? Wajahnya mirip sekali dengan Yuna... dia kan mommynya...” timpal Yudas terus mengamati bayi yang ada digendogannya.
Yudas yang melihat wajah masam itu dibuat tertawa, “Bercanda ih... jangan ngambek gitu dong!” ujarnya sambil menyentil kening Diana dengan perasaan gemas.
Interaksi itu tentu membuat para keluarga yang melihat dibuat tertawa. Lain hal dengan Firo yang duduk sendiri disofa pojokan, wajah tampan itu tampak kusam bahkan sampai kusamnya membuat Zeen yang tak sengaja melihat itu dibuat bingung.
“Paman Yudas!!” teriak dua bocil yang dengan wajah kembar berlari menghampiri Yudas.
Yudas menundukkan kepalanya untuk melihat dua bocil itu, “Ada apa keponakannya paman yang ganteng-ganteng?”
“Kemarikan adik kami! Kami juga ingin mengedongnya!” pinta dua bocil tersebut.
Yudas tak langsung menjawab, ia malah menatap para keluarga untuk meminta pendapat, namun saat ia melihat para keluarga yang menganggukan kepala. Yudas pun tersenyum dan langsung menjongkokkan dirinya kemudian memberikan bayi perempuan itu kepada dua bocah kembar itu.
Twin yang baru merasakan mengendong sang adik merasa gembira, tentu mereka mengendong sang adik dengan bersama karena mereka takut jika mereka mengendong sendiri adiknya akan terjatuh.
Para keluarga yang melihat kedua twin itu merasa gemas, apalagi saat mengendong adiknya, terlihat sekali dengan wajah keduanya yang memancarkan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.
Hal itu membuat Diana antusias langsung mengabadikan momen itu, karena mungkin momen tersebut akan langka jika ketiganya beranjak dewasa.
Twin yang sudah merasa pegal ditangan mereka, langsung membawa adiknya menuju daddy dan mommynya berada. Zeen yang peka langsung mengambil alih bayinya dan membawa bayi itu dikasur, tentu membaringkan bayi itu disamping mommynya.
“Daddy! Kami juga ingin naik keatas!” pekik keduanya.
Zeen tersenyum melihatnya, ia lantas langsung mengendong kedua jagoannya dan menurunkan keduanya tepat disamping adik mereka.
__ADS_1
Zeen yang melihat orang tersayangnya yang berkumpul secara lengkap dikasur itu merasa bahagia, hatinya pun ikut menghangat.
“Oh ya Zeen! Kamu belum memberi nama anakmu, apakah sudah ada nama yang kamu persiapkan, Zeen?” tanya Vina sang mama.
Mendengar itu, Zeen pun kembali tersenyum. Ia lantas melirik istrinya yang saat itu juga tengah menatapnya dengan senyuman.
“Kami berdua sudah menyiapkan namanya sejak lama mah!” jawab Zeen.
“Wah benarkah? Beritahu kami Zeen, kami sudah sangat penasaran.”
Zeen menatap istrinya kembali, Yuna pun menanggapi tatapan itu dengan menganggukan kepala.
“Namanya adalah....”
“Gimy Saily Albaret!”
Ucap keduanya secara berbarengan. Hal itu membuat para keluarga yang mendengar langsung bersorak lagi, bersorak bahagia atas lahirnya malaikat kecil ditengah-tengah keluarga mereka.
“Terimakasih sayang... terimakasih sudah mengajarkanku arti bahagia, yang sesungguhnya....” ucap Zeen sambil mengecup kening sang istri dengan mesra. Tentu perbuatannya itu tak terlihat oleh para keluarga, karena mereka sedang sibuk sendiri dengan kebahagiaan mereka.
Yuna tersenyum, wanita itu memeluk sang suami dengan eratnya. “Aku juga berterimakasih kepadamu yang sudah menjadikanku wanita yang paling bahagia didunia ini sayang....”
Zeen yang mendengarnya langsung tersenyum cerah, kemudian ia membalas pelukan sang istri dengan eratnya.
Sejenak Yuna memejamkan matanya kala ia teringat jasa Santi, almarhum neneknya.
'Nenek... terimakasih sudah menjodohkan kami berdua dulu walau dengan paksaan. Sekarang kami sudah hidup bahagia nek... terimakasih....'
-
-
...°°~°°...
...[Perjuangan Cinta Si Gadis Desa]...
...✨SELESAI✨...
Bonus Fisual💓
Baby Gimy
Baby Twin
Momy Yuna
Daddy Zeen
__ADS_1