Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 53


__ADS_3

Setelah Zeen dan Yuna menyelesaikan makan malamnya, kini mereka berdua berniat untuk kembali kekamar, karena hari yang sudah sangat malam dan membuat keduanya tentunya dilanda kekantukan.


"Eh! Kalian berdua, sudah mau tidur?"


Terdengar suara mamanya, Vina. Membuat mereka berdua membalikkan tubuhnya menghadap kearah sumber suara itu.


Ternyata Vina tak sendiri, Vina sekarang sedang bersama Rima sang mertua. Terlihat tangan Vina yang tengah mengandeng tangan Rima.


"Iya mah... Sudah malam juga, membuat kami mengantuk." jawab Zeen seadanya.


Vina memanut-manut saja, sedangkan Rima memberikan tatapan menyelidiki pada dua insan itu.


"Tidur apa tidur...? Hemm?" ucap Rima, dengan intonasi meledek.


Zeen terbeo dan merasa bingung dengan ucapan neneknya itu. "Ya tidur lah nek, emang mau ngapain kalo gak tidur? Nenek ada-ada aja pertanyaannya." ujar Zeen mengelengkan kepalanya.


"Hem, kirain kalian mau bikin buyut buat nenek." celetuk Rima, membuat Zeen dan Yuna dibuat melotot.


"Yaampun nek.... Ngomongnya disaring dulu dong, kan malu dengarnya." Zeen merasa kesal sekaligus malu.


"Kenapa harus malu? Emang itukan, tujuan kalian menikah? Kalo gak saling membutuhkan, ya bikin anak." lagi-lagi ucapan itu membuat sepasang insan tercengoh, sedangkan Vina yang mendengar hanya bisa terkikik geli.


"Atau jangan-jangan kalian belum melakukannya ya?" selidik Rima.


Zeen dibuat mengusap wajahnya dengan kasar, "Nenekku sayang... Mending nenek tidur aja gih, udah malem. Gak baik buat orangtua begadang terlalu malem." Zeen mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ck, sok-sok'an mengalihkan pembicaraan." Rima menatap cucunya dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Zeen kembali menghela nafasnya frustrasi.


"Hahaha, udah-udah mah. Jangan digodain terus pengantin barunya, entar mereka pasti ngasi kita cucu kok, yang mestinya bukan sekarang." Vina kembali tertawa.


Yuna menggigit bibirnya ketika mendengar ucapan itu. 'Entahlah, apakah itu memang akan terjadi, atau tidak.' batinya.


Rima mengibas-ngibaskan tangannya, "Ya, ya, ya... Semoga aja kita diberikan cicit. Sekarang antar aku kekamarku."


"Iya mah." jawab Vina, "Kalian bisa kembali kekamar kalian," ucapnya lagi pada dua insan itu.


Namun saat sudah melangkahkan kakinya, Vina kembali menghentikan langkahnya.


"Oh iya! Yun mama sampe lupa, mama minta tolong ya sanyang, tolong bawain air putih buat nenek."


Yuna mengangguk, "Iya mah."


"Baik nek, nanti Yuna bawakan tehnya." jawab Yuna.


"Yasudah kita kekamar dulu ya..."


Setelah ibu mertuanya dan juga nenek Rima berlalu, Yuna pun juga ikut bergegas menuju dapur lagi meninggalkan Zeen yang masih ada disana.


"Tega banget aku ditinggalin, huh!" gerutunya, langsung melangkah dan menghentak-hentakan kakinya masuk kedalam kamar.


πŸ‚πŸ‚


Saat Yuna tengah sibuk dengan teh yang ia buat, dirinya dibuat terkejut ketika melihat Firo yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

__ADS_1


Yuna pun mengelus jantungnya yang terasa berdegup akibat keterkejutannya itu. "Hahh... Suka banget bikin kaget, orang satu nih." gumam Yuna mengelengkan kepalanya.


Yuna terus mengaduk teh yang ia buat, dirinya menyadari jika Firo hanya diam sambil menatapnya dan tak mengalihkan wajahnya sama sekali, hal itu tentu membuat Yuna merasa tak nyaman. Yuna sudah selesai dengan adukan itu, kemudian ia mencuci sendok itu dan menaruhnya kembali ketempat semula.


Yuna membalikkan tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya, tak lupa dengan nampan berisi teh berada ditangannya.


Baru saja ia melangkah, tiba-tiba saja Firo langsung menghadang jalannya tepat dihadapannya itu.


Yuna menghembuskan nafasnya sejenak, "Apakah ada yang ingin anda katakan?" tanya Yuna tak ingin berbasa-basi.


Namun bukannya menjawab, Firo malah menatap mata Yuna semakin dalam.


Yuna mengerutkan alisnya bingung. "Jika memang tak ada, maka jangan halangi jalan saya." ucapnya lalu kembali membelokan langkahnya karena Firo masih belum mau beranjak dari tempatnya.


Tiba-tiba lengan Yuna dicekal oleh Firo, Yuna membalikkan tubuhnya. "Ada apa dengan anda sih?" ucap Yuna yang dibuat kesal, pasalnya langkahnya terus terhenti oleh ulah dari lelaki yang ada dihadapannya itu.


"Aku ingin bertanya padamu! Apa kau menikah dengan kakak sepupuku hanya karena menginginkan uang?" tanyanya dengan intonasi menyelidiki.


Yuna kembali menghela nafasnya, "Apa anda hanya ingin menanyakan hal itu? Sungguh tak penting." Yuna menarik tangannya secara paksa dari tangan Firo, dan mulai melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan Firo yang terdiam seribu bahasa.


"Apa katanya? Tak penting?" beo Firo merasa syok. Pasalnya, baru pertama kali ia diacuhkan oleh seorang wanita. Dan sebenarnya ia merupakan lelaki muda sukses yang selalu dikelilingi banyak wanita cantik, tentu wanita manapun pasti tak akan menolak pesonanya.


"****! Baru kali ini aku merasa terhina." gerutunya, kemudian ia melangkahkan kakinya menyusul Yuna yang sudah lebih dulu beranjak dari dapur itu.


TBC.


Double up ya gaesπŸ˜— jangan lupa dukunganya... Biar othor semangat up, upπŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2