Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 119


__ADS_3


...***...


Namun bukannya merasa takut, Yuna justru mengerutkan keningnya binggung, seolah didalam pikirannya tengah bertanya-tanya dengan apa yang diucapkan oleh Zeen itu.


“Hukuman apa mas? Emang harus ada hukuman gitu?” tanya Yuna lagi, ketika tak mendapat respon dari lelaki dihadapannya itu.


Zeen yang tadinya tengah tersenyum penuh arti itu, tiba-tiba melengkungkan bibirnya kebawah. Ekspetasi untuk melihat wajah ketakutan Yuna itu luntur begitu saja ketika mendengar pertanyaan polos dari wanitanya itu. Zeen sempat lupa, jika wanita yang berada dibawah kungkungannya itu memiliki otak polos. Lelet dan tak cepat tanggap ketika membahas tentang masalah ranjang.


'Oh yaampun, kenapa aku sampai melupakan itu?' gumam Zeen dalam hati, sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Mas? Huku–” bibir Yuna terbungkam ketika ia merasakan bibirnya yang dikecup tiba-tiba oleh Zeen. Ia yang terkejut itu tentu hanya membelalakan matanya, namun hal itu hanya berlangsung sebentar saja ketika ia merasakan bibirnya yang kembali digigit oleh Zeen. Dan malah melu**t bibirnya ketika ia sedikit membukanya.


“Umm, ma–”


Yuna mencoba melepaskan ciuman itu dengan cara memukul-muluk dada bidang suaminya, ia sampai heran melihat suaminya yang selalu tiba-tiba mencium dirinya dan berakilah ia kehabisan oksigen.


Saat Zeen melepas ciuman diantara mereka, barulah Yuna bisa bernafas dengan lega. Ia pun langsung menghirup pasokan udara dengan sangat rakus, menandakan jika wanita itu benar-benar kehabisan oksigen.


“Mas! Kau mau membunuhku ya?!” pekik Yuna menatap Zeen dengan tatapan tajam.


Zeen yang melihat wanitanya tengah kesal itu, memilih mengacuhkannya dan malah beralih memegang kedua pipi Yuna.

__ADS_1


“Kan mas sudah bilang ... kamu akan mas hukum gara-gara kamu ninggalin mas pas kamu masuk ke kamar mandi,” jelas Zeen lalu mengelus kedua pipi itu dengan lembut.


“Jadi maksud mas? Hukuman itu sebuah ciuman?” tanya Yuna mengerutkan alisnya.


Zeen kembali terkekeh melihat istrinya yang lagi-lagi terlihat sangat lemot, ia pun mendekatkan diri pada Yuna dan mengarahkan bibirnya tepat didaun telinga Yuna.


“Bukan hanya ciuman ... tapi aku akan membuatmu kembali merasakan lelah malam ini, sehingga kamu tak akan mampu lagi untuk sekedar bangun dari kasur ini!” bisik Zeen dengan sangat lirih dan sesekali ia mengecup telinga wanitanya, yang mampu membuat Yuna merinding seketika.


“A-apa maksud mas?” tanya Yuna dengan perasaan gugup sekaligus perasaan ketakutan.


“Kamu masih belum mengerti? Apa pura-pura tak mengerti?” tanya Zeen menyerigai ketika ia melihat raut wajah ketakutan dari Yuna yang sungguh benar-benar ia tunggu sejak tadi. Dan akhirnya pun keinginannya itu kesampaian.


“Ak-aku benar-benar tak tahu mas,” ucap Yuna berbohong.


"Ma-mas! Aku mohon, jangan melakukannya lagi. Apa kamu tak kasihan denganku? Aku sudah kelelahkan dan rasanya sangat mengantuk,” ucap Yuna beralasan. Sambil sesekali membuat dirinya menguap agar Zeen cepat melepaskan dirinya.


“Aku tak menerima sebuah alasan, jika kamu terus menolak. Aku pun tak akan memdengarkannya,” jelas Zeen kembali menyerigai dan mulai menerjang Yuna dengan mengecup dan menyesap leher jenjang itu dengan gelora panas yang kembali muncul pada dirinya.


“Mas Zeen! Hentikan ini!” teriak Yuna kembali memberontak dengan cara memukul keras dada bidang Zeen.


Namun nampaknya Zeen tak mendengar teriakan itu, ia malah semakin gencar mempermainkan Yuna. Terlihat pria itu tengah terburu-buru melepas pakaian yang baru saja dikenakan oleh Yuna. Bagaimana tak disebut sebentar? Jika Yuna saja baru mandi setelah beberapa jam mereka melakukan hubungan suami istri. Dan sekarang? Begitu sudah bersih, haruskah Yuna kembali mengarungi sebuah kenikmatan bersama suaminya setelah ia mandi? Bukankah itu sama saja berunjuk dengan ke sia-siaan.


“Aku tak akan menghentikannya, sebelum aku puas menghukum mu, baby ...!” perkataan Zeen sangat lembut dan lirih, membuat Yuna yang mendengar itu langsung goyah. Jantungnya lagi-lagi dibuat berdisko untuk kesekian kalinya. Namun ia segera menepis pikiran kotor yang sempat melayang-layang diotaknya. Ia masih dengan pendiriannya yaitu menyingkirkan Zeen dari atasnya agar dirinya tak jadi korban dari ulah pria itu.

__ADS_1


“Mas! Hentikan!” teriak Yuna, yang kembali mengema ketika ruangan itu memantulakan suara teriakannya.


“Jangan berteriak sayang? Kau cukup mende**h saja dibawahku. Karena itu cukup bagiku.” Ucap Zeen tersenyum semirk, lalu kembali menerjang Yuna dengan menghi**p kedua gudukan yang sudah menjadi favoritnya ketika dirinya pertama kali melihat dua aset Yuna yang menggoda itu.


“Mas Zeen!!” teriak Yuna dengan diselingi suara de****n, yang membuat Zeen langsung bersemangat ketika mendengar suara yang membuatnya candu saat mereka berdua tengah bermain manja diatas kasur itu.


“Ya sayang ... teruslah seperti itu,” kata Zeen, namun masih sibuk dengan kegiatannya.


“Mas!!” teriak Yuna refleks menjambak rambut Zeen.


“Apa lagi sayang?” gerutu Zeen ketika merasakan sakit dikepalanya.


“Hp mas berbunyi!” jawab Yuna namun masih memejamkan matanya.


“Apa?!” tanya Zeen yang ikut berteriak.


“Hp kamu berbunyi sedari tadi mas ...!!” ucap Yuna sedikit menahan kekesalanya. Akibat Zeen yang mengabaikan ucapannya dan malah fokus pada dua aset berhaganya yang sedari tadi terus dikulum oleh Zeen. Tentu saja hal itu mempu membuat Yuna panas dingin berusaha menahan perasaan aneh didalam dirinya.


TBC.


Gak habis fikir dengan jalan pikiran Zeen🤭


Oh ya~ jangan lupa dukung Author setelah selesai membaca ya~ sematkan like, komen and vote♡ atau kirim poin sesuka kalian~

__ADS_1


Oke~ terimakasih telah mendukung Author sampai dipart ini~


__ADS_2