
Pagi menyinari hari, bahkan langit yang agak kecerahan itu dapat menyilaukan disetiap cela-cela jendela.
Sedangkan Yuna yang tadinya tengah terlelap itu, mulai mengerjab-ngerjabkan matanya kala pantulan sinar matahari mengenai mata indahnya itu.
"Ngghh..." Yuna melenguh, dan berusaha membuka matanya selebar mungkin walau kantuk masih menyerang dirinya. Ia ingin mengerakan tubuhnya, namun entah mengapa rasanya tak bisa digerakkan dan berat sekali dirasa.
Yuna mencoba melihat kearah perutnya yang berasa tertindih sesuatu, matanya masih terasa rabun dan tak jelas ketika melihat bayangan yang berada tepat diatas perutnya itu.
"Apa ini?" gumam Yuna, dan mencoba menyentuhnya. Saat sudah tersentuh, seketika bulu kuduk Yuna langsung merinding. Ia tau betul jika yang ia pegang itu adalah sebuah tangan besar nan berurat.
"Kenapa ada tangan?" tanyanya pada diri sendiri, lalu mengalihkan pandangannya menatap kesamping dimana ada sebuah wajah yang berada dekat dilehernya.
Seketika nafas Yuna tercekat, ketika melihat wajah Zeen yang begitu dekat dengannya. Bahkan hembusan nafas itu dapat dirasa olehnya karena nafas itu terus menghembus diarea lehernya yang membuat dirinya langsung merinding dan geli.
Yuna tak ingin berlama-lama diposisi ini, ia pun mengoyang-goyangkan bahunya agar kepala Zeen tak terlalu menempel padanya. Namun perkiraannya salah, Zeen malah mengeratkan pelukannya pada Yuna, sehingga Yuna tak bisa bergerak lagi.
Sebuah helaan nafas keluar dari mulut kecil milik Yuna, Yuna berfikir sebentar untuk memikirkan sebuah cara agar bisa membangunkan Zeen. Barulah satu ide muncul dikepalanya, dan menurutnya ide itu mungkin akan manjur.
Yuna mulai meraba perut Zeen, kemudian setelah itu ia mencubit kecil perut itu. Yang membuat Zeen langsung mengadu kesakitan namun masih memeluk Yuna.
Yuna dapat merasakan jika Zeen mulai terbangun dari tidurnya, ini sebuah kesempatan bagi Yuna untuk lebih membangunkan Zeen yang masih memejamkan matanya itu.
"Apakah anda masih ingin terus memeluk saya? Sampai kapan saya akan berada diposisi ini?" tanya Yuna, yang seketika membuat kedua bola mata Zeen langsung membola.
Zeen kemudian menatap Yuna yang ada dipelukannya itu, wajahnya masih terbeo, terkejut padahal dirinya sendiri yang berbuat. Tapi dirinya sendiri yang bingung.
"Kenapa kau ada dipelukanku?" tanya Zeen.
Yuna tampak menghela nafas panjang, dan itu membuat dada bidang milik Zeen terasa tergilitik.
"Apakah anda memang lupa? Atau pura-pura lupa? Anda sendiri yang memeluk saya kemarin. Apakah anda memang tak ingat itu?" tanya Yuna dengan wajah dibuat datar.
Seketika, otak Zeen yang sebelumnya ngeleg itu kembali mengingat kejadian malam kemarin, saat dirinya yang menyuruh Yuna untuk tidur bersamanya. Dan ia juga mengingat jika dirinya lah yang insiatif lebih dulu memeluk Yuna, agar mereka terlihat seperti, sepasang suami istri yang sempurna dimata orang yang tengah mematai-matainya.
Zeen kembali melirik Yuna yang ada dipelukannya, ada rasa malu didalam dirinya.
"Apa anda masih ingin, tetap seperti ini?"
Ucapan Yuna itu, seketika membuat Zeen langsung melepaskan pelukannya. Lalu ia merubah posisinya menjadi duduk, kemudian ia mencoba menerapkan wajahnya yang terlihat gugup itu.
Yuna pun segera bangkit dari tidurnya dan menjejakan kakinya turun dari kasur. "Saya akan mandi dulu, setelah saya selesai anda juga cepat bersiap. Karena mungkin nenek sudah menunggu kita dibawah." ucap Yuna, yang tak berani menatap Zeen, kemudian ia lebih memilih untuk masuk kekamar mandi.
__ADS_1
Zeen menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu, kemudian ia langsung menghela nafas panjang. Dan seketika mengingat kembali kejadi malam itu, membuat dirinya langsung mengila sendiri dikasur berbalut seprai putih itu.
"Ada apa dengan otakku? Kenapa aku terus mengingatnya... Argghh..." teriak Zeen tertahan agar Yuna tak mendengarnya.
Zeen menguling-gulingkan dirinya dikasur, karena sangking malunya mengingat dirinya yang dengan lancangnya memeluk Yuna. Yang bahkan dirinya selalu berkata sinis pada gadis desa itu.
"Ada apa denganmu Zeen? Kenapa kau bertindak bodoh..." Zeen menghela nafas kasar, kemudian kembali menguling-gulingkan dirinya yang membuat kasur itu menjadi berantakan.
Bahkan suara getaran hp pun tak ia dengar, mungkin yang melihat tingkah Zeen saat ini pasti akan langsung menglengkan kepalanya.
Disatu sisi, Laura yang tengah menelfon Zeen sejak tadi, hingga panggillan kesepuluh pun tak diangkat oleh Zeen. Laura sampai membanting hpnya disofa sangking kesalnya. Ia bahkan mengirim pesan sejak tadi malam, namun Zeen bahkan tak membacanya dan hal itu benar-benar membuat Laura tambah kesal, dirinya bahkan tak pernah diabaikan oleh para pria yang ia kencani. Namun sekarang? Zeen yang sudah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun itu, baru sekarang dia mengabaikannya. Dirinya benar-benar merasa terhina.
"Sialan! Kenapa Zeen tak mengangkat telfonku? Biasanya dia akan cepat membalasnya, bahkan tak pernah terlewat semenit pun! Tapi sekarang?" Laura bergumam, sambil menghela nafas panjang. Kemudian ia mengusap kasar rambutnya.
"Okelah, aku akan datang kerumah sakit. Aku akan menanyakan alsanya itu." gumam Laura tersenyum sinis, kemudian ia mengambil tas kecilnya dan melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya itu.
🍂🍂
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, dan memperlihatkan Yuna yang baru saja keluar dari kamar mandi itu dengan pakaian yang sudah melekat pada tubuhnya, tak lupa handuk kecil yang ia bawa untuk mengeringkan rambutnya yang basah itu.
Zeen yang melihat Yuna itu terdiam seketika, dirinya baru melihat Yuna yang mengeringkan ramput panjang itu, yang basah karena habis mandi. Zeen sedikit terpesona melihat wajah bersih nan natural yang berasal dari gadis desa itu.
Yuna yang tak ingin lama-lama dikamar itu, segera melangkahkan kakinya dan keluar dari kamar itu.
Zeen yang melihat kepergian Yuna yang terkesan terburu-buru itu, segera menepuk kepalanya namun tak keras. "Dasar Zeen bodoh, hahhh...." Zeen kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kekamar mandi.
Yuna berjalan mendekat pada mertuanya yang sudah berada tepat didapur. Dirinya melihat mama mertuanya itu tengah sibuk mengurus bawang merah.
"Pagi mah..." sapa Yuna, yang membuat Vina menengok kearahnya.
Vina tersenyum melihat menantunya. "Pagi sayang..." jawab Vina.
Yuna yang juga kebetulan melihat bi Minah itu tersenyum, "Pagi bi Minah..." sapa Yuna lagi.
Mina menengok kearah Yuna. "Eh, pagi non cantik..." jawab Mina dengan membalas senyuman Yuna.
Yuna terkekeh sebentar, lalu ia menatap mertuanya kembali. "Mama mau masak sup?" tanya Yuna.
"Iya nih sayang, kayaknya enak kalo pagi-pagi makan sup kaldu..."
__ADS_1
Yuna mengangguk-anguk mengerti. "Yasudah, Yuna bantu ya mah..." Yuna mulai melipat baju lengannya, dan segera mengambil sayuran yang sudah dicuci bersih itu.
"Boleh-boleh, mama mah... Bersedia banget dibantuin kamu... Apalagi masakan kamu bikin semua orang ketagihan.." ujar Vina tertawa.
Yuna pun tertawa, "Mama bisa aja.."
"Loh? Memang kenyataannya loh Yun.."
Yuna hanya tersenyum menangapinya.
"Iya, betul apa kata mertua kamu. Masakan kamu, bikin wanita tua ini ingin segera makan lagi. Jadi, jangan membuat kami menunggu terlalu lama disini."
Sebuah suara membuat keduanya membalikkan tubuhnya, menghadap kearah meja makan. Dan benar saja, disana sudah ada Rima dan cucunya Firo, yang tengah menyilangkan kedua tangannya dengan raut wajah acuh. Mereka berdua sudah setia duduk disana, karena ingin mencicipi masakan Yuna kembali.
Vina dan Yuna saling berpandangan.
"Lihat? Bener kan apa kata mama, mereka berdua aja ketagihan..." ucap Vina terkikik geli. Yuna pun ikut tertawa mendengarnya.
TBC.
Bonus Visual, sebagai pemanis💋
Beberapa foto ini, menurut Author cocok. Tapi jika menurut kalian tak cocok tak papa, kalian semua bebas berhalu😽 dan jangan lupa komen setelah membaca🐥 agar othor semangat terus ngetiknya....
Btw, visual ini author ambil dari film faforit othor ye😆
°°Yuna Saily°°
°°Zeen Albaret°°
°°Fadli Prastya°°
°°Firo Wiliam°°
__ADS_1
°°Laura Claudia°°