
...***...
Pagi ini Yuna nampak termenung dibalkon, balkon sekarang merupakan tempat favoritnya karena tempatnya yang menenangkan dengan hebusan angin pagi yang menyejukan. Apa lagi saat ia bisa melihat para tetangga dari bawah sana, begitu asyik dilihat Yuna sampai ia mengira jika beraktifitas bersama keluarga tercinta sangatlah begitu seru.
Yuna mengalihkan kembali pandangannya kesebelah kanan, dimana ia bisa begitu jelas melihat sebuah rumah besar dengan cat abu-abu yang mendominasi. Bangunan yang minimalis namun terkesan sangat mewah nan elegan, itulah tempat tinggal Sigit dan juga Eva. Selama ini ia selalu berkunjung dirumah itu ketika dirinya bosan dirumah saja. Ia bahkan merasa santai tak merasa canggung ketika ia terus mengelilingi rumah besar itu.
Namun entah sekarang, apa ia bisa bersikap santai ketika berkunjung dirumah itu? Entahlah, setelah ia mengetahui kebenaran yang tak pernah ia duga-duga membuat dirinya seperti enggan datang kerumah itu lagi. Dirinya masih merenungkan diri masih membutuhkan waktu untuk mencerna pikirannya. Entah akan berapa lama ketika ia tengah merenungkan diri yang terpasti hanya waktu yang akan menjawab.
Ketika ia yang tengah menyendiri dengan pikiran yang melayang-layang. Sebuah elusan yang membuatnya sedikit tersadar namun tak berniat untuk mengalihkan pandangannya.
Elusan itu begitu hangat diperut sedikit buncitnya itu. Ia sangat nyaman ketika diperlakukan seperti itu, entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar didalam hatinya, ada rasa berdebar pula yang ia rasakan pada jantungnya. Mungkinkah ia sudah begitu tergila-gila pada suaminya itu? Ya ... dirinya sudah dibuat tergila-gila pada sosok Zeen sejak ia berada didesa tempatnya tinggalnya dulu. Mengingat itu ia jadi teringat pada almarhum neneknya.
Yuna tersenyum ketika mengingat kebersaamnya dengan sang nenek, ia sangat mencintai sosok neneknya yang begitu hangat yang begitu perhatian padanya seperti menganggap cucu kandungnya sendiri. Sangking sayangnya sama nenek ia bahkan tak pernah mengungkit perihal siapa orangtuanya? Dimana orangtuanya? Dimana asal usulnya? Ia benar-benar melupakan kenyataan itu dan menganggap jika ia adalah seorang yatim piatu atau menganggap jika kedua orangtuanya sudah meninggal. Ia juga pernah berfikir jika ia masi punya orangtua, pastilah orangtuanya itu sudah mencarinya. Itu sebabnya ia tak pernah mengungkit-ungkit tentang orangtuanya kepada sang nenek.
“Kenapa senyum-senyum, hem?”tanya Zeen dengan suara lembut, sambil mengecup pipi kiri Yuna.
Yuna mengeleng namun masih tersenyum. “Engak ... mas kenapa belum berangkat?” Yuna membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Zeen.
Zeen pun dengan senang hati memeluk pinggang Yuna dengan begitu erat nan penuh kemesraan. Tentu saja mesra karena kedua sejoli itu tengah saling berhadapan dengan saling bertahap penuh kasih dan cinta yang membara.
“Masih jam setengah tujuh sayang. Lagian mas juga berangkatnya jam delapan.” Ujar Zeen sambil menempelkan keningnya pada kening Yuna.
Yuna nampak menyatukan aslinya. “Benar begitu? Bukankah pekerjaan mas dirumah sakit suda menumpuk? Seharusnya mas sudah berangkat sedari subuh biar bisa menyelesaikan pekerjaan mas yang sudah banyak itu.”
Zeen terkekeh pelan. “Tenang sayang ... soal pekerjaan nanti aku minta bantuan ke Papa, jadi kamu gak perlu memikirkan hal itu. Yang harus kamu pikirkan sekarang adalah tentang kondisi baby twin kita dan juga suami tampanmu ini.” Sarkasnya dengan mengerlingkan matanya.
Nampaknya hal itu sudah menjadi hobi Zeen ketika ia tengah menggoda sang istri.
Yuna langsung mencubit pinggang Zeen yang mana kala membuat pria itu mengaduh dan memundurkan dirinya kebelakang.
“Aw, Aw, sayang? Sakit tauk. Nyubit mulu deh hobinya.” Gerutu Zeen sambil memajukan sedikit bibirnya.
“Kamu malah hobinya ngegodain suka ngegodain mulu.” Gerutu Yuna pula tak kalah memajukan bibirnya.
__ADS_1
Sejuruh kemudian keduanya saling tertawa ketika menyadari tingkah kekanakan dari mereka.
“Kalo soal godain kamu mah, itu udah kebutuhan sehari-hari mas mu ini.” Jelas Zeen kemudian mengerlingkan matanya kembali. Dan tak ingin mendapat cubitan dari sang istri Zeen segera memundurkan dirinya dengan cepat yang akhirnya ia agak berjauhan dari sang istri.
Zeen memeletkan lidahnya. “Wleee ... gak kena cubitan lagi,” kata Zeen dengan raut wajah yang penuh kemenangan.
Yuna sampai mengeleng melihat itu. “Dasar bayi besar,” gumam Yuna tak habis pikir, lalu ia melengok begitu saja meninggalkan Zeen yang siap siaga menerima timpukan dari Yuna.
“Loh? Kok aku ditinggal? Sayang ... tungguin mas mu ...!!” teriaknya berlari menyusul Yuna.
°°°
“Minum susunya sayang,”
“Makan sayurnya sayang. Biar dede bayinya sehat.”
“Jangan lupa makan daging ayamnya ya, biar dede bayi tambah gemuk.”
“Makan yang banyak ya ... biar kamu tambah seger.”
Rima yang mendengar itu hanya diam sambil mengeleng. Sedangkan Firo yang mendengar itu memperagakan orang yang ingin sekali muntah saat itu juga.
Bahkan kedua orangtuanya yang melihat itu hanya saling pandang, dengan raut wajah malas dan jengah.
“Sudah mas, aku sudah kenyang.” Ucap Yuna sambil mengelus perutnya yang sudah kekenyangan.
“Tapi ini belum habis sayang, kamu gak boleh mubasir. Ingat! Nanti nasinya nangis kalo kamu gak habisin.” Jelas Zeen dengan penuh perhatiannya ia menyuapi Yuna. Namun Yuna terus menolak sendok itu tapi Zeen tetap memaksanya.
“Anakmu itu Pah, bisa-bisanya beromantisme didepan orangtua. Kan Mama jadi pengen muda lagi,” gerutu Vina memasamkan wajahnya.
Albaret nampak menghembuskan nafasnya lelah, “Itu juga anakmu Mah, hasil buah cinta kita yang sangat kita manja ketika dia masih merah (masih bayi).” Jelas Albaret mengelengkan kepala.
“Tapi kenapa sifatnya lebai begitu? Pasti itu nurun sama sifat Papa.” Tuduhnya.
__ADS_1
“Hais, untung istri sendiri.” Gerutu Albaret bersuara lirih.
“Ayo sayang, dikit lagi udah habis ini.” Masih dengan memaksa Yuna untuk menghabiskan sarapannya.
“Gak mau mas ....” Yuna menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Firo yang melihat itu sangat begitu jengah, apalagi ia yang baru sampai dirumah itu karena urusan pekerjaan yang sangat padat dan benar-benar membuatnya lelah, apalagi dirinya yang pagi-pagi langsung disuguhkan dengan adegan yang membuat matanya panas karena menurut baginya hal itu sangat mengelikan.
“Ah, sudahlah. Lebih baik aku tidur saja dari pada melihat hal yang memuakan! Dan tak senono!”
Setelah mengatakan itu, Firo benar-benar beranjak dari meja makan dengan diselingi sumpah serapah yang ditunjukkan kedapa Zeen sang sepupu menyebalkan.
Semua orang yang melihat itu nampak keheranan sendiri.
“Kenapa tuh bocah? Kesambet apa?” ucap Zeen bingung dan lebih memilih acuh. Ia pun kembali beralih pada sang istri.
“Pah sepertinya putramu memiliki penyakit mematikan.” Ucap Vina berbisik kepada suaminya.
Albaret nampak menautkan alisnya, bingung.
“Kamu haru segera memeriksanya Pah,” bisiknya lagi.
“Penyakit mematikan?” tanya Albaret yang juga ikut berbisik.
“Yah ....” Vina mengangguk.
“Tapi Mah, aku kan cuman dokter anak mana bisa memeriksa penyakit mematikan itu?” Albaret nampak serius.
“Ya karena kamu dokter anak, itu sebabnya kamu harus periksa putra kamu yang berwujud bocah! Kamu harus periksa kadar kebucinannya yang sudah mendarah daging, jika tidak maka anakmu akan terus menderita penyakit mematikan itu.” Bisik Vina mengebu-gebu.
Albaret yang mendengar itu seketika menghela nafas panjang. 'Sepertinya sifat absurd anakku menurun dari sumbernya.' Batin Albaret sungguh dibuat frustrasi.
Rima yang melihat putranya merasa iba, 'Putraku yang malang,' begitulah yang dikatakan oleh wanita tua itu didalam hatinya.
__ADS_1
TBC.
Ngakak gak tuh🤣