
°°°°°
Masih berada dimobil, atsmofer didalam mobil itu seakan membuat Yuna semakin tidak nyaman. Apalagi melihat Zeen dan wanita asing didepannya tengah bermesraan, bahkan menit-menit yang lalu telinganya seperti mendengar kata sayang! dari bibir wanita itu, pendengarannya itu tak mungkin salah. Yuna bisa menebak jika wanita asing itu merupakan kekasih Zeen yang mana artinya sudah menjadi suami sahnya. Bahkan mobil yang ditumpanginya itu belum berjalan sedari tadi, membuat dirinya semakin tak nyaman. Ingin rasanya ia turun dari mobil itu, jika saja ia mengetahui jalan untuk kerumah sakit.
Wanita itu mengecup singkat pipi Zeen, kemudian ia bergelayut manjanya dilengan kekar itu. Bahkan Zeen yang diperlakukan seperti itu tak merasa risih sedikitpun dan malah membiarkannya walau Yuna, istri sahnya sendiri melihat itu semua.
"Kamu udah nunggu lama ya?" ucap wanita itu.
Zeen mengelus rambut wanita yang ada disampingnya itu dengan perasaan sayang. Sedangkan Yuna yang melihat itu memalingkan pandangannya, ia lebih memilih melihat keadaan diluar jalan dari pada melihat pemandangan yang membuat hatinya sedikit nyeri. Ia mencoba menahan rasa itu agar tidak terlalu dibuat sakit nantinya.
Walau ia sebagai istri punya hak untuk mencegah kemesraan itu, namun dirinya sadar diri. Jika keberadaan dirinya tak dianggap oleh Zeen suaminya, bahkan ia pun tak diinginkan sedari awal.
"Hemm... Enggak kok, baru aja sampai." jawab Zeen dengan suara lembut. Ia menyempatkan melihat sepian kaca dimobilnya itu, senyum miring terulas dibibirnya itu ketika melihat wajah Yuna seperti merasa engan dan begitu tak nyaman.
'Dimulai dari sekarang... Kita lihat, seberapa tahanya kau Yuna. Gadis desa yang sok kuat!' gumamnya, mulai membuat sebuah rencana dipikiranya saat ini.
Zeen semakin gencar memperlihatkan kemesraannya didepan Yuna, ia tak segan-segan menarik pinggang wanita itu untuk berada dekat padanya.
Zeen mengelus pipi itu dengan perasaan sayang, "Kamu beneran mau ikut kerumah sakit hemm?" tanyanya dengan suara lembut.
Wanita itu tersenyum lalu menganguk, "Iya dong... Aku mau nemenin sayangku ini kerumah sakit." jawabannya.
Lagi-lagi Zeen menunjukan kemesraannya didepan Yuna dengan mengecup singkat hidung mancung milik wanita itu. Matanya melirik kearah kursi belakang dimana ada Yuna disana, namun yang ia lihat hanyalah Yuna yang bersikap acuh dan santai seperti tak terjadi apa-apa disana.
Hati Zeen sedikit tersentil kala melihat keacuhan dari Yuna itu.
"Yaudah terserah apa kata kamu aja, yang penting kamu seneng hari ini." ucap Zeen.
"Ehem.."
Tiba-tiba Yuna berdehem.
"Bisakah kita berangkat sekarang dokter Zeen? Sepertinya kita sudah terlalu lama disini." ucap Yuna memberanikan diri.
Wanita yang ada dipelukan Zeen itu sedikit tersentak, kemudian wanita itu menoleh kearah Yuna.
__ADS_1
"Aduh... Aku gak tau kalo ada cewek disini. Kenapa kamu gak bilang sih sayang? Kan aku jadi malu." ucap wanita itu pada Zeen.
"Engak usah malu kali, anggap aja dunia milik kita berdua." ujar Zeen dengan gamblangnya.
Wanita itu terkekeh mendengar ucapan Zeen, kemudian ia beralih lagi menatap Yuna.
"Halo, maaf ya jika aku membuatmu tak nyaman tadi. Aku bener-bener gak tau kalo ada kamu disini!" ucap wanita itu kepada Yuna.
Yuna menangapinya dengan anggukan kepala saja.
"Oh, ya.. Kenalin!"
Wanita itu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
Sejenak Yuna terdiam melihat itu, namun ia tetap menyambut uluran tangan itu.
"Aku Laura, pacarnya Zeen!"
Tubuh Yuna sedikit tersentak, seperti aliran listrik mengenai tubuhnya. Ia sudah paham jika wanita itu merupakan kekasih Zeen, namun hatinya tak bisa diajak kompromi kala mendengar langsung dari bibir wanita itu, yang menyebutkan dirinya sebagai kekasihnya Zeen.
"Yuna.."
Hanya sebutan nama saja yang terucap dari bibir Yuna, ia seakan tak mau memberitahu jika ia istri sah dari seorang Zeen.
Wanita itu menganguk, lalu melepaskan tangannya. Ia kemudian berbalik menghadap kedepan dengan senyuman serigai, tangannya dielap dengan tisyu basah seakan ia baru saja memegang kotoran. Padahal hanya sebuah uluran tangan dari Yuna.
'Ternyata istrinya toh? Hemm... Semakin menarik!' gumamnya, yang ternyata lebih dulu mengetahui jika Yuna adalah istri dari Zeen. Ia seolah-olah, pura-pura tak tahu siapa Yuna sebenarnya, ia lebih memilih diam dan memilih menjalani aksinya untuk memanas-manasi istri Zeen itu.
"Yaudah, kita kerumah sakit sekarang ya." ucap Zeen, setelah itu ia menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
🍂🍂
Mobil Zeen sampai pada tujuan, yaitu dirumah sakit terbesar milik papanya.
Zeen lebih dulu keluar dari mobilnya, dan berjalan cepat kearah pintu sebelah mobilnya. Ia dengan mesra membuka pintu itu untuk kekasihnya, Laura.
__ADS_1
"Makasih..." ucap Laura, lalu tersenyum kembali menatap Zeen.
Zeen menganguk tak lupa membalas senyuman itu.
Kemudian barulah Yuna keluar dari mobil itu, ia yang melihat keromantisan itu sebisa mungkin untuk mengabaikannya, dan bersikap santai seperti sebelumnya.
"Yuk kita masuk!" ucap Zeen lalu mengandeng tangan Laura untuk masuk kedalam rumah sakit itu.
Yuna mengikuti mereka dari belakang.
Tepat masuk kedalam rumah sakit itu, semua tatapan orang yang ada disana terus tertuju pada sepasang kekasih itu.
"Itu dokter Zeen ya?"
Bisik seorang suster yang berada tak jauh dari mereka.
"Eh, iya! Kayaknya sama pacarnya tuh!"
"Dilihat-lihat mereka cocok ya?"
"Bener banget, siceweknya cantik dan bohay, sicowoknya keren dan ganteng! Paket komplit deh."
"Tapi kayaknya, dokter Zeen kemarin lusa udah nikah deh? Kok masih pacaran?"
"Loh, iya aneh... Gimana siitrinya itu? Diselingkuhin dong?"
Berjulit! Itulah kata yang saat ini dilakukan oleh kedua suster itu, mereka terus membicarakan putra dari pemilik rumah sakit itu.
"Bodo amat deh, bukan urusan kita."
Begitulah bisik-bisik yang didengar oleh Yuna sekilas ketika ia melewati dua suster itu, ternyata suster-suster itu tau jika Zeen sudah memiliki pacar. Sepertinya bukan hanya satu dua saja yang tau, melainkan jika orang-orang dirumah sakit itu tau tentang hubungan Zeen dan laura itu.
Yuna terus berjalan mengikuti langkah Zeen dibelakang, walau ia sudah tertinggal jauh namun Yuna tetap santai mengikuti langkah itu. Karena tujuannya saat ini untuk memulai bekerja dirumah sakit itu, bukan untuk mengurus ucapan-ucapan dari orang-orang sekitar.
TBC.
__ADS_1