Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 88


__ADS_3

...***...


“Kita mau kemana mas?” tanya Yuna, ketika tiba-tiba ia dibawa Zeen keluar dari taman dan menuju halaman belakang. Dimana disana, lumayan tak akan ada orang yang lewat ditempat itu.


Sedangkan Zeen masih diam, ia terus menggenggam tangan Yuna dengan pandangan yang terus tertuju kedepan.


“Mas? Kita mau kemana– hah!”


Yuna tersentak, kala merasakan tubuhnya yang tiba-tiba ditarik secara halus dan secepat kilat, hingga ia sampai tak menyadari jika dirinya telah bersandar ditembok. Bahkan Zeen telah berhasil menghimpitnya sehingga ia tak dapat bergerak dengan laluasa.


“Sekarang kau tak akan bisa melarikan diri, Yuna Saily ....” ucap Zeen lirih, sambil tersenyum miring.


Aroma mint yang menguar dalam indra penciumannya, membuat Yuna refleks menghentikan nafasnya.


Sebuah elusan yang ada pada pipinya membuat Yuna kembali terkejut.


Zeen yang melihat eskpresi itu tak bisa lagi menahan senyum, “Bernafaslah Yuna ... jangan kau pingsan dihadapanku, hanya gara-gara melihat pesona ku ini.” Ucapnya dengan senyum menggoda.


Mata Yuna membola, ia pun menyingkirkan tangan Zeen yang tengah mengelus pipinya. “Dasar narsis ....”


“Apa?” Zeen terkejut, “Narsis? Sungguh tega sekali kamu pada suamimu sendiri.” Ucap Zeen, sok-sok mendramatis.


Yuna menghela nafas panjang, “Emang begitu kan? Sifat mas? Kadang narsi, kadang pesimis, kadang juga gengsi.”

__ADS_1


Ungkapan itu seketika membuat Zeen tergelak, “Apa aku separah itu?” tanya Zeen tak percaya.


Yuna menyilangkan kedua tangannya didada, “Ya ... bahkan orang lain pun pasti menyadarinya,”


Zeen memberengut, ia menatap Yuna dengan pandangan menyipit, “Sudahlah kita tak perlu bahas itu lagi. Yang aku mau sekarang kita harus membahas tentang pertanyaanku tempo lalu.”


“Aku akan mengulanggi pertanyaanku,” Zeen berdehem sebentar, kemudian menatap Yuna kembali. Dengan posisi yang masih sama seperti tadi. “Yuna ... apa kamu mau memberiku satu kesempatan lagi? Dan memulai dari awal. Hidup bersamaku dengan menjalin ikatan suci yang telah kita lakukan sebulan yang lalu ...?” ucapnya dengan menatap kedua bola mata Yuna dengan begitu dalam.


Yuna terdiam, namun juga membalas tatapan itu yang tak kalah begitu dalam.


“Mas ... aku akan menjawabnya, jika kita mengatur posisi yang nyaman,” pinta Yuna.


“Ingin posisi yang seperti apa?” selidik Zeen.


Zeen melirik kebawah, dan menganggukan kepalanya sejenak.


Yuna yang terbebas dari himpitan itu merasa lega seketika, ia pun mulai berjongkok dan mendudukan dirinya diatas rerumputan itu sambil bersandar pada tembok dibelakangnya. Zeen pun mengikuti posisi duduknya, namun matanya tak lepas dari wajah Yuna.


Yuna tak menyangka, jika halaman belakang rumah itu sangat luas dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya, sungguh membuatnya langsung rileks dan tak gugup seperti sebelumnya.


“Sebelum menjawab pertanyaan mas, aku ingin bertanya, apa alasan mas mencoba memperbaiki hubungan kita? Bukankah mas tengah menjalin hubungan kasih dengan wanita bernama Laura?” tanyanya.


“Apa alasan mas hanya ingin menyakitiku lagi? Itu sebabnya mas nekat kesini dan hujan-hujan hanya demi alasan itu?” sarkasnya lagi.

__ADS_1


Zeen menghela nafas sejenak. Mendengar pertanyaan itu, Zeen menjadi berfikir, ternyata bukan hanya batin Yuna yang ia sakiti. Ternyata hati lembut yang ada pada gadis itu juga ia sakiti. Semakin menyesal lah dirinya yang dengan bajingannya menyakiti seseorang yang sangat lembut ini.


“Maaf Yuna ....” kata itu yang keluar dari bibir Zeen.


Yuna menengok kesampin, menatap pria yang tengah menundukan kepalanya.


“Maaf kan aku, pada saat kamu yang dengan beraninya mengungkapkan perasaanmu didepan umum yang dengan teganya aku tak menghargai perasaanmu itu, dan malah dengan santainya aku membentakmu didepan rekan-rekanku! Bukan hanya itu, aku bahkan membencimu tanpa alasan. Aku benar-benar ... pria yang pantas disebut bajingan! Tidak! Panggilan itu saja tak cukup bagiku.”


Zeen semakin merapatkan kepalanya, dikedua kakinya yang tertekuk itu.


Ya, pada saat Yuna, untuk pertama kalinya mengungkapkan perasaannya. Dan pada saat itu pula ia masih berada didesa tempat ia dibesarkan. Ia masih mengingat betul kejadian itu. Ketika ia ditolak dengan mentah-mentahan oleh Zeen.


Ia juga sedih dan sakit hati secara bersamaan, tapi ia juga merasa bersalah sudah mempermalukan cinta pertamanya itu didepan umum. Bahkan ia marah pada dirinya yang tak bisa membenci Zeen pada kala itu.


“Tak apa mas, itu hanya masa lalu, dan aku tak pernah membenci mas pada kala itu. Jadi ... tegapkan wajahmu. Aku tak ingin Zeen Albaret yang angkuh ... dan beewibawa lemah hanya karena demi wanita yang bukan cintamu!” jelas Yuna. Namun mampu membuat Zeen terhenyak.


Zeen merangkakan kakinya, ia memposisikan dirinya didepan Yuna. Yang kala itu mereka masih duduk dibawah, yang hanya beralasan rerumputan saja.


“Yuna ... kenapa kamu baik seperti ini? Kenapa masih ada orang sepertimu didunia ini ...? Aku bahkan tak pantas menjadi sumaimu dan memiliki perasaan seperti ini Yuna ....” lirih Zeen merasa sangat bersalah.


“Perasaan?” tanya Yuna bingung, namun sejurus kemudian ia dibuat terkejut ketika melihat pria yang ada didepannya itu menangis. Bukan hanya menangis biasa saja, tapi memang benar-benar menangis yang sebenarnya. Terlihat dengan air mata itu yang terus terjatuh tanpa hentinya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2