Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 94


__ADS_3

...***...


Setelah kata hukuman yang tak masuk akal, yang diucapkan oleh Rima itu ternyata semua itu bukanlah sekedar omong kosong belaka. Nyatanya, hukuman itu benar-benar harus dijalani oleh kedua insan Zeen dan Yuna.


Terbukti, jika saat ini mereka sudah rapi dengan baju bagus yang dikenakan oleh mereka. Karena Vina  yang dengan sengaja membangunkan sepasang suami istri itu sejak pagi tadi. Dan menyuruh mereka untuk segera mandi dan bersiap-siap.


Tentu saja Zeen dan Yuna dikala itu merasa bingung dan linglung, alasannya karena mereka berdua baru bangun dari tidur dan tak sempat mengumpulkan kesadaran mereka.


“Bener-bener mau ke aki nih? Sekarang?” tanya Zeen tak percaya, apalagi melihat dua koper yang telah siap dihadapannya.


“Yaiyalah, kan kemari nenek udah bilang ....” sahut Rima, yang saat ini tengah santai duduk disofa.


Ngomong-ngomong soal Rima, wanita tua itu telah diperbolehkan pulang kerumah setelah tiga hari menginap dirumah sakit. Awalnya sih tak diperbolehkan pulang oleh dokter yang menanganinya, tapi wanita itu malah bersikukuh-kukuh ingin cepat dipulangkan. Alasannya karena dia sudah tak betah tinggal dirumah sakit dengan terus menghirup udar yang berbau obat-obatan.


Dan pada akhirnya pun, setelah terjadinya bujur-membujuk akhirnya Rima diperbolehkan untuk pulang. Setelah ia merengek pada putranya sendiri yaitu Albaret, pemilik dari rumah sakit itu. Putranya itu memperbolehkan ia pulang dengan memberikan syarat jika Rima akan tetap dirawat dirumah. Dengan dokter pribadi yang sudah disewa. Tentu saja Rima menyetujuinya.


Karena selain tak betah tinggal dirumah sakit, wanita tua itu juga berkeinginan mengantar cucu-cucunya berangkat bulan madu ke bali.


“Wah ... nenek bener-bener niat banget nyiapin ini ya?” kata Zeen tak percaya.


“Sebenarnya bukan aku yang menyiapkannya, tapi Papa dan Mama mu lah yang menyiapkan nya. Aku hanya menyarankan saja, jika aku ingin memiliki cucu dari kalian dan langsung memesan tiket bulan madu untuk kalian.” Jelas Rima, sambil menyeruput teh yang dibuat oleh Yuna.


Zeen melongo mendengarnya, tak lupa mengalihkan pandangannya pada kedua orangtuanya yang hanya memberikan senyuman menyebalkan untuknya.


“Kalian benar-benar ....”


“Sudah-sudah, kalian cepat berangkat sana, nanti telat gak bisa naik pesawat.” Timpal Albaret.


“Iya ... cepat-cepat, kalian cepat berangkat sana,” lanjut Vina lalu mendorong mereka berdua keluar rumah, dan langsung memasukkan mereka berdua kedalam mobil yang sudah disiapkan untuk mengantar mereka kebandara.


“Cepat jalan pak!” pinta Vina, pada sopir yang ada didepan kemudi.


“Baik nyonya!” jawab supir itu.


Saat mobil itu dijalankan, Vina semakin mengembangkan senyumnya. “Hati-hati disana ya ... pulang-pulang harus bawa dede bayi ....” teriaknya saat melihat mobil itu telah menjauh.

__ADS_1


“Benar-benar ke bali nih?” gumam Zeen, yang masih belum pulih dari rasa tak percayanya. Sedangkan Yuna yang duduk disampingnya itu hanya diam tak bersuara sejak ia bangun dari tidurnya.


🍂🍂


Sesampainya didalam pesawat, Zeen yang asyik berceloteh sendiri itu langsung menghentikan ucapannya. Ia pun menyadari jika hanya dirinya yang terus berbicara dan tak ada sahutan ataupun jawaban dari seseorang yang duduk tepat disampingnya.


Zeen menoleh kesampin, dimana Yuna duduk tepat disamping jendela pesawat sedangkan dirinya sebaliknya.


“Yuna ....” panggilnya bersuara agak kencang, namun tak da jawaban dari gadis itu. “Yuna ....” kali ini Zeen memanggil Yuna sambil menggoyangkan lengan gadis itu.


“Eh?” Yuna tersentak, ia lalu menengok kearah Zeen, “Ya mas? Ada apa?”


“Engak ada apa-apa ....” Jawab Zeen menggeleng, “Aku cuma penasaran, kenapa kamu sejak tadi diam? Apa ada masalah? Atau ... apa ada yang kamu butuhin? Atau kamu ada yang sakit?” tanya Zeen secara beruntun, lalu dengan gesit tangan besarnya ia letakkan dikeningn Yuna untuk mengecek suhu tubuh itu.


Yuna menurunkan tangan Zeen dari keningnya, lalu ia genggam tangan itu, “Engak mas ... aku cuma gak nyangka aja. Bisa langsung jalan-jalan ke Bali. Padahal dulu aku pernah bermimpi liburan ke Bali bersama nenek.” Ujar Yuna yang tengah beralasan.


“Oh ya?” tanya Zeen menganggkat satu alisnya.


Yuna mengangguk cepat, “Iya mas, dan mimpi itu terwujud berkat nenek Rima yang membuat kita berlibur secara dadakan.” Jawab Yuna sambil tertawa.


'Aku makin sayang padamu nek ....' gumam Zeen dalam hati dengan penuh kebahagiaan.


“Haha, kamu benar mas,” timpat Yuna terkekeh.


Tangan Zeen yang semula digenggam oleh Yuna, kini perlahan ia lepaskan dan membawa tangan itu, untuk menarik pinggang Yuna dan langsung memeluknya dengan posesif.


“Syukurlah, jika tak terjadi apa-apa padamu ... aku sempat takut, jika kamu sakit. Tapi jika kamu benar-benar sakit maka aku akan segera merawatmu. Untung aku seorang dokter ... jadi aku akan sedikit berguna ketika kamu jatuh sakit nanti.” Zeen berucap sambil mengelus rambut Yuna dengan penuh perasaan.


“Hem, jadi mas berharap aku sakit?” goda Yuna.


“Ya engak dong, jika kamu sakit. Maka aku pun akan ikut sakit, jadi ... aku akan berdoa jika kamu akan selalu diberikan kesehatan agar bisa bersamaku selalu tanpa merasa khawatir yang menyelimuti diri kita.” Tuturnya dan makin mengeratkan pelukan itu.


Yuna tersenyum dalam pelukan itu, “Amin ... kabulkanlah Ya Allah ....”gumam Yuna mengaminkan.


'Maafkan aku mas ... jika rasa tidak percaya diriku ini yang masih sedikit melekat, membuat diriku harus menjauhimu sedikit, aku akan mengatur hati kecilku dulu. Maka setelah itu aku akan menerimamu dengan hati yang lapang.' Gumam Yuna dalam hati.

__ADS_1


🍂🍂


“Ah ... akhirnya kita sampai juga ....” Zeen menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perasaan lega.


“Wah ... inikah yang namanya Bali? Cantik sekali ....” gumam Yuna berdecak kagum.


“Ya ... cantik sekali,” jawab Zeen, namun pandangannya hanya tertuju pada wajah Yuna. Yang saat ini sangat mengemaskan bagi dirinya.


Yuna menoleh kesampin dengan bibir yang tersenyum, namun saat menyadari Zeen yang mengatakan cantik dengan menatap dirinya, hal itu membuat ia menyembunyikan rasa malunya.


“Apa kita akan bermain disana nanti?” tanya Yuna mengalihkan pembicaraan, dengan menunjuk sebuah kolam berenang yang tak kau dari jangkauan mereka.


Zeen mengikuti arah tunjuk Yuna, dan tersenyum ketika mengetahui itu. “Ya, kita akan kesana setelah kita berbersih dan beristirahat dulu dipenginapan yang sudah dipesan. Oleh nenek!” jawab Zeen.


Yuna refleks mengangguk menyetujui, “Ya! Kalau begitu kita jalan sekarang aja mas.”


“Oke! Yuk kita otw ....”


Mereka pun berjalan berdampingan tak lupa genggaman tangan yang terus menyatu.


“Lumayan juga penginapannya,” ujar Zeen saat sudah masuk kedalam ruangan yang akan mereka tinggal selama hari kedepan.


“Ini bukan sekedar lumayan mas, ini mah bagus banget.” Yuna berucap dengan sungguh-sungguh.


“Hemm, iya, iya ... kalau begitu kamu mau langsung istirahat atau langsung mandi?” tanya Zeen pada Yuna.


Yuna berfikir sejenak.


“Apa kita mandi bersama? Biar cepet?” usul Zeen dengan nada menggoda.


Yuna pun dengan cepat menggeleng.


“Tidak! Tidak, biar aku yang duluan mandi mas,” tanpa basa-basi lagi. Yuna langsung ngancir masuk kedalam kamar mandi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2