Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 44


__ADS_3

Saat Yuna tengah sibuk dengan cuci piringnya, tiba-tiba Firo datang menghampirinya, hingga membuat Yuna hampir memecahkan piring yang ia pegang akibat terkejut karena kedatangan Firo yang tiba-tiba itu.


Firo datang dengan tatapan datarnya, dengan gelas kaca yang ia letakkan disamping Yuna dengan sedikit kencang.


"Nih! Cuci sekalian." ucap Firo bernada sinis.


Yuna pun menghela nafas sejenak, entah kenapa ia merasa. Jika Firo suka sekali mengganggunya ketika ia tengah sibuk.


"Iya, letakkan saja disana." ucap Yuna seadanya.


Masih belum beranjak dari dapur, Firo terus menatap Yuna sambil menyadarkan dirinya tak lupa dengan kedua tangannya yang terlibat didada.


Yuna yang tahu dirinya yang tengah ditata itu merasa risih. Dalam hatinya mengerutu, kenapa tuan muda arogant itu tak juga bergi dari sana?


"Hemm, menurutku wajahmu itu biasa-biasa saja, tak ada yang menarik. Ku akui jika masakanmu lumayan enak."


Setelah mengatakan itu, Firo benar-benar beranjak bergi dari sana.


Yuna melempar kain yang ia gunakan muncuci piring itu, ia menghela nafas sejenak. Sambil melihat punggung Firo yang sudah berlalu meninggalkan dapur.


"Dia itu menghina? Atau memuji sih?" dengus Yuna, yang baru kali ini dibuat sangat kesal oleh seorang lelaki selain Zeen.


Bi Mina yang melihat Yuna mengerutu itu, tertawa cekikikan. "Biasalah non... Tuan muda Firo mah, emang gitu sifatnya. Kayaknya udah bawaan dari kecil, suka ngeselin orangnya. Jadi non Yuna kudu sabar-sabar aja, pas berhadapan dengan tuan muda Firo." ujar Minah.


"Hahhh... Iya bi, emang bener kata bibi. Tuan muda Firo itu, menguji kesabaran." ucap Yuna sambil menghela nafas panjang.


Menyadari ucapan mereka, mereka berdua pun tertawa. Bisa-bisanya mereka membicarakan orang lain dari belakang.


🍂🍂


Saat Firo berjalan menuju kamarnya, ia tak sengaja melihat Zeen yang masih bersantai didepan televisi. Firo kemudian membelokan langkahnya menuju kakak sepupunya itu.

__ADS_1


"Helo, kakak sepupu. Kenapa belum tidur? Nungguin istrinya ya?" ucap Firo, bernada meledek.


Zeen tampak acuh, tak ingin mengalihkan wajahnya. "Bukan urusanmu." ketusnya.


Firo terkekeh. "Wah... Sepertinya memang benar, jika kakak sedang menunggu kakak ipar. Hemm, sepertinya selera kak Zeen sudah berubah ya? Dulu kukira, kak Zeen pernah berpacaran dengan seorang model? Apa memang salah dugaanku?" Firo mulai kembali memanas-manasi Zeen dengan ucapannya itu.


Zeen yang masih terdiam itu, mulai mengambil bantal yang ada disampingnya. Kemudian ia lemparkan pada Firo.


"Aduh... Gak kena ya..."


"Cepat kau kembali kekamarmu! Sebelum aku melemparkan vas bunga didepan wajahmu itu!" geram Zeen, menekan ucapannya.


Firo sama sekali tak pernah takut dengan ancaman Zeen, ia bahkan gencar memanas-manasi Zeen yang raut wajah yang dibuat semenyebalkan mungkin.


"Aduhhh, atut deh.... Jangan ngamuk ya? Kakak mirip banteng loh... Kalo marah kayak gitu."


Firo kemudian langsung melangkahkan kalinya, dengan tertawa mengejek.


"Dasar bocah ingusan!"


Mata Zeen terus mengamati pergerakan Yuna, sampai Yuna memasuki kamarnya itu ia belum mengalihkan pandangannya.


Tiba-tiba suara getar hp berbunyi, Zeen kemudian melihat pesan yang terkirim dari WhatsApp nya.


Pesan itu ternyata dari kekasihnya, yaitu Laura. Laura mengirimkan pesan berupa ajakan nongkrong dibar clup.


Entah kenapa, hari ini Zeen malas sekali untuk beranjak keluar dari rumah. Entah apa alasannya, Zeen juga tak tahu. Zeen kemudian membalas pesan Laura, dengan alasan dirinya tengah sibuk dengan berkas dokternya. Kemudian setelah mengirim pesan itu ia beranjak dari duduknya, dan mulai menampaki tangga menuju kamarnya.


Hp Zeen kembali berdering, kali ini sebuah telfon yang lagi-lagi Laura pelakunya. Zeen berdecak malas, ia tak mau menganggakat telfon itu dan membiarkannya saja.


"Sory Laura... Untuk kali ini, aku mengabaikanmu. Entah kenapa aku malas sekali hari ini." gumanya.

__ADS_1


Zeen kemudian memutar gagang pintu itu dan membukanya, saat ingin masuk dirinya melihat Yuna yang telah siap untuk tidur disofa.


Zeen perlahan menutup pintu kamarnya, namun sebuah siluet bayangkan menghentikan dirinya.


Seulas senyum semirk, terbit dibibirnya. "Sampai akhir pun, bocah itu terus berulah." gumanya, lalu kembali menutup pintu itu dengan rapat.


Zeen berjalan mendekat kearah ranjangnya, namun bukanya berbaring ia malah berjalan menghampiri Yuna. Kemudian ia menarik selimut yang dipegang oleh Yuna.


Yuna tersentak,"Kenapa?" tanya Yuna bingung.


Zeen memasang wajah datarnya. "Malam ini, jangan tidur disini." ucapnya ketus.


Yuna mengerutkan alisnya. "Hah? Terus aku harus tidur dimana?"


"Tidur diranjang, bersamaku."


Tiga kalimat itu, langsung membuat Yuna melototkan matanya. "Hah? Kenapa harus tidur bersama?" beonya lagi.


Zeen berdecak kesal. "Ck, turut saja apa kataku! Atau kau, mau kita tidur bersama disofa ini?" ucapnya menekan.


"Tua-tapi apa alasannya?"


"Kau masih saja bertanya, kau tak tau? Jika nenek kesini membawa mata-mata?"


Yuna mencoba mencerna ucapan Zeen.


"Lihat kepintu!"


Mendengar itu, Yuna langsung menatap kearah pintu. Dan ia melihat sebuah bayangan yang nampak disana, tapi tak begitu jelas karena pintu itu dibuka dengan kecil.


"Siapa itu?" gumam Yuna mengerutkan alisnya.

__ADS_1


TBC.


Jika komen tembus sampai 15, like tembus sampai 45, maka othor akan up lagi dengan jumblah tiga bab kayak sekarang 🐸 Yuk tembuskan😽


__ADS_2