Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 182


__ADS_3

...***...


Laura yang masih asyik bersilat lidah dengan Antoni itu melirikkan ekor matanya kearah Yuna. Ia kemudian tersenyum semirk kala melihat Yuna yang memalingkan wajahnya.


Ia pun menghentikan ciumannya saat merasakan nafasnya sudah terengah.


Sejenak Laura membelai bibir tebal milik Antona, kemudian ia beralih kembali menatap Yuna.


“Kenapa Yuna? Apa kau merasa risih melihat kami tengah bercumbu?” tanya Laura kepada Yuna, namun Yuna enggan menjawabnya.


Laura kembali tersenyum miring. “Asal kamu tau Yuna ... aku juga pernah melakukan ini pada suamimu itu, bahkan sebelum kau ada aku pun pernah merasakan tubuhnya ....” ucapnya yang sangat jelas ingin memanasi Yuna.


Yuna yang diam itu hanya memilih menggelengkan kepala. Dirinya merasa tak terpancing sama sekali dengan ucapan itu, karena memang dari dulu ia sudah tau tentang hubungan Zeen dan Laura. Dulu ia merasakan sakit hati, namun sekarang tidak karena ia tahu jika Zeen sudah sangat mencintainya. Karena baginnya masa lalu tetaplah masa lalu dan masa lalu itu telah berganti dengan masa depan.


Dan saat ini, Zeen sudah menjadi miliknya. Yuna mengklaim itu, dan ia berjanji pada dirinya sendiri ia tak akan lagi melepaskan cinta pertamanya sekaligus suaminya itu. Ya! Tidak akan lagi untuk kedua kali agar dirinya tak merasa sakit hati gara-gara dirinya yang terlalu bersabar membiarkan suaminya yang bermain api dengan wanita iblis yang ada didepannya itu. Ia merasa seperti gadis bodoh waktu itu. Padahal jelas-jelas ia berhak marah pada Zeen waktu itu. Tapi tidak untuk sekarang dirinya tak mau lagi mengulang kebodohan untuk yang kesekian kalinya.


'Aku tau sekarang ... jika yang selama ini menerorku adalah wanita itu,' batin Yuna dalam hati.


“Sayang ....” panggil Antoni pada Laura.


“Ya sayang?” jawab Laura sambil tersenyum manis.


“Kenapa kamu malah membicarakan mantanmu itu? Padahal aku ada disini selalu untukmu? Bisakah kau berhenti membicarakan masalalu hem?” ujar Antona sambil sesekali mengelus perut rata milik Laura.


Diam-diam didalam hati Laura merasa risih dengan perlakuan Antoni. 'Aku masih bertahan denganmu karena aku masih menginginkan uangmu Antoni! Dasar bodoh!' batin Laura.


Tangan Laura terulur kembali membelai wajah kekasih gelapnya itu. “Maafkan aku sayang ... aku khilaf, sebentar lagi dendamku ini akan berakhir setelah melihat kedua orang yang sangat aku benci menderita. Jadi, setelah ini aku akan memfokuskan diriku padamu sayang ....” Ujarnya dengan suara yang disengaja dilembutkan.


Antoni mengangkat sebelah alisnya. “Benarkah?” tanyanya.

__ADS_1


“Iya sayang, aku janji.”


“Baiklah kalau begitu, lanjutkan rencana licikmu itu,” ujar Antoni yang kemudian menurunkan Laura dari pangkuannya. Hal itu membuat Laura keheranan.


“Ada apa sayang kenapa kau menurunkanku?”


Antoni mengulum senyum, “Kan sebentar lagi mantanmu itu datang, jadi segera bersiap-siaplah aku akan menyambut tamu spesial kita didepan.”


Laura yang paham itu tersenyum semirk. “Ouh sayang kamu sangat perhatian sekali.” Laura kembali membelai pipi Antoni dengan sensual. “Baiklah sambutlah dia, walau aku tau jika dia pasti tak akan datang mengingat aku sudah memberikan dia hewan ganasku yang liar! Aku tau Zeen pasti sudah tercabik-cabik diruangan gelap itu.” Ujar Laura sambil melirikan ekor matanya kearah Yuna yang dapat ia lihat jika wanita hamil itu langsung terperangah karena syok.


Begitupun dengan Antoni yang langsung mengelengkan kepala melihat kelicikan kekasih gelapnya. “Kau sungguh licik sekali sayang, sepertinya kau cocok sekali dijuluki the Quen mafia.”


“Hahaha, terimakasih pujiannya.”


“Yasudah kalau begitu aku akan kedepan sekarang, bey bey sayang.” Antoni langsung meninggalkan tempat itu.


Laura tersenyum, “Bey bey sayangku ....” balasnya sambil menatap punggung Antoni yang sudah menjauh.


Laura kembali mengalihkan pandangannya pada Yuna, ia pun segera mendekati wanita hamil itu dengan angkuhnya saat ia berjalan.


“Bagaimana gadis kampung? Pasti kau merasa kaget kan mendengar suami tercintamu itu yang saat ini sedang dijadikan santapan harimau?” tanyanya dengan percaya diri.


Yuna yang tadinya menunduk itu segera mendongakan kepalanya.


Degg!!


Tiba-tiba jantung Laura berdetak, saat melihat wajah itu yang menunjukan tak takut sama sekali, beda dengan ekspetasinya yang mengira jika Yuna akan menunjukan wajah ketakutan sekaligus kesedihan. Ini beda sekali dimana Yuna memberikan senyum semirk kepadanya. Ia seperti melihat sosok lain pada wanita hamil itu.


“Jangan kau kira aku akan takut setelah mendengar itu! Jangan kau kira aku akan takut saat kau menculikku! Asal kau tau! Aku sudah merasakan hal seperti ini sebelumnya bahkan lebih menakutkan karena aku pernah akan dibunuh oleh orang-orang yang lebih mengerikan! Jadi, tak ada rasa takut lagi pada diriku ini!” tekan Yuna dengan tak kalah angkuhnya.

__ADS_1


Hal itu tentu membuat Laura tercengang mendengarnya, bahkan ia sampai kehilangan kata-kata.


“Asal kau tau Laura! Aku ini lebih mengenal siapa suamiku itu! Jadi, jangan percaya diri dulu dengan ucapanmu itu! Karena insting seorang istri yang sedang hamil ini pasti tak akan salah, jika suamiku itu pasti tak akan kenapa-napa. Dan mungkin suamiku itu sedang menuju kemari karena ingin menyelamatkan istri dan dua calon anaknya!” tegas Yuna dengan yakinnya.


“A-apa? Apa kau bilang? Percaya diri sekali ya kau?” Laura menunjukan kekehan sinisnya. “Jangan percaya diri dulu Yuna! Aku tau pasti suamimu itu sudah menuju kealam baka! Dan sebentar lagi kau akan menyusulnya.” Tekan Laura yang kembali percaya diri.


Yuna hanya diam sambil menatap Laura dengan tatapan tajamnya.


Hal itu membuat Laura geram melihatnya. “Tundukan kepalamu itu!” teriak Laura, “Atau kau akan kehilangan dua anakmu itu!” lalu ia dengan perlahan mendekati Yuna sambil merogoh pisau tajam yang ada ditasnya.


Yuna yang melihat pisau yang ada ditangan Laura mulai menunjukan rasa kekalutanya. “Jangan berani-berani kau Laura! Kau akan merasa menyesal saat kau ingin mencoba membunuh dua orang yang tak berdosa!” teriak Yuna dengan suara yang sangat mengema.


Laura kembali terkekeh sinis, “Aku tak akan menyesal! Aku akan merasa bahagia jika kau mati bersama kedua anakmu itu!”


Yuna mulai memejamkan matanya, saat melihat pisau ditangan Laura mulai mengarah padanya. Didalam hatinya Yuna terus memanjatkan doa-doa agar mendapatkan perlindungan, ia pun berdoa untuk mendatangkan seseorang siapa pun itu agar menyelamatkan dirinya dari maut itu.


“Rasakan ini!” teriak Laura.


“BERHENTI DISANA!”


Suara teriakan itu membuat Laura mengalihkan pandangannya dan menggantung tangannya diudara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sosok Zeen yang sudah berdiri dibelakangnya sambil menatapnya dengan tatapan penuh amarah.


Dor!!


“Akhhh!”


Satu tembakan tepat mengenai pergelangan tangan Laura, yang membuat wanita itu langsung melepaskan pisaunya. Dan kini tangan kanannya itu penuh dengan darah.


TBC.

__ADS_1


°°°


Haduh-haduh... Tegang-tegang gess🥴


__ADS_2