
...***...
“Baiklah kalau itu maunya jeng, saya akan kembali dan semoga Yuna mau menemui jeng Eva,”
Eva mengangguk sambil tersenyum. “Iya jeng, terimakasih jeng sudah mau direpotkan.”
“Iya, santai aja jeng.”
Setelah itu Vina berlalu meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju kamar Yuna.
Eva menatap punggung Vina dengan tatapan sendu. “Semoga Yuna mau bertemu denganku, Mama benar-benar merindukanmu nak ....” gumamnya penuh harap.
°
°
°
Saat sudah sampai pada tujuan, Vina pun segera mengetuk pintu itu.
“Sayang ... Yuna ...? Kau ada didalam nak?” panggilnya, namun masih belum ada sahutan. Vina pun kembali mengetuk pintu itu dengan tiga ketukan, berselang beberapa detik pintu itu akhirnya dibuka oleh Yuna yang berada didalam.
“Maaf Mah, tadi Yuna habis dari kamar mandi jadi suara Mama gak kedengeran.” Ucap Yuna sambil tersenyum.
Vina membalas senyuman itu, “Tidak apa-apa nak, boleh Mama masuk?”
“Oh? Tentu boleh dong Mah.” Jawab Yuna lalu membawa mertuanya duduk diatas kasur.
Vina terdiam sejenak sambil mengamati isi kamar itu, dan pandangannya jatuh kesebuah foto yang bingkainya besar terpasang didinding tepat diatas ranjang itu. Tentu Vina tersenyum ketika melihat foto itu, foto itu merupakan foto pernikahan Yuna dan Zeen. Foto itu nampak datar saja dipandang namun siapa sangka dibalik foto itu pasangan pengantin itu telah hidup bahagia sekarang.
“Apa kau bahagia bersama putraku nak?” tanya Vina pada Yuna.
Yuna sejenak mengerutkan alisnya bingung, karena mertuanya itu tak biasanya bertanya seperti itu.
“Iya Mah, Yuna bahagia bersama mas Zeen.” Jawab Yuna dengan yakin.
Vina yang mendengar itu pun tersenyum puas, lantas dirinya langsung mengelus pipi menantunya dengan sayang. “Mama bahagia mendengarnya.” Ucapnya lalu terdiam sejenak.
__ADS_1
“Mama kenapa? Apa ada yang mau disampaikan pada Yuna?” tanyanya.
Vina kembali tersenyum, “Mama kamu ada dibawah sekarang sayang, dia ingin menemui mu.”
Mendengar ucapan itu Yuna menjadi terdiam tak tahu harus menjawab apa. Dirinya masih belum memikirkan apa-apa tentang Sigit dan Eva yang merupakan kedua orangtuanya setelah ia tahu kebenarannya kemarin.
“Bagaimana sayang? Kamu mau kan menemui Mama kamu? Hem?” Vina bertanya kembali karena ia melihat Yuna yang hanya diam saja tak menjawab.
“Aku bingung Mah ....” ucap Yuna yang akhirnya mengeluarkan suaranya.
Vina kembali mengelus kedua pipi Yuna. “Bingung kenapa hem? Coba cerita sama Mama, siapa tau Mama bisa bantuin kamu.”
Yuna begitu terharu mendengar penuturan itu. Sepertinya dirinya benar-benar beruntung mendapatkan mertua seperti Vina yang sangat baik kepadanya.
Sejenak Yuna menghembuskan nafasnya. Lalu dirinya mulai menceritakan kegundahanya yang ada didalam hatinya kepada Vina.
“Sebenarnya aku bingung harus menanggapi kenyataan ini seperti apa Mah ... disatu sisi aku sangat terkejut mendengar kenyataannya secara mendadak. Disatu sisi pula aku merasa bahagia dipertemukan oleh kedua orangtua ku yang selama ini aku rindukan, dan tak pernah menyangka jika kedua orangtua ku adalah orang yang sangat aku kenal. Yaitu om Sigit dan tante Eva yang selama ini juga baik terhadapku.”
Yuna menceritakan itu sambil menundukkan kepalanya, entah mengapa setelah menceritakan hal tersebut membuat hatinya tiba-tiba merasakan kelegaan dan ada sedikit beban yang terangkat.
Yuna memilin milin ujung bajunya, ia dilanda kebingungan serta kegugupan saat ini.
“Apakah kamu gugup sayang?” Vina bertanya dengan suara yang dilembutkan.
Yuna mengangguk menanggapi itu, hal itu membuat Vina merasa gemas. Ternyata yang membuat menantunya tak bisa menemui orangtuanya adalah karena ia merasa sedikit malu dan canggung. Tentu Vina dapat mengetahuinya dengan hanya melihat ekspresi wajah dari Yuna.
“Jangan gugup sayang, anggap saja kamu sedang berbicara dengan aku ibu mertuamu sendiri. Bukankah aku sudah kamu anggap ibumu? Hem?”
Yuna mengangguk menanggapi.
“Maka hilangkan rasa gugup itu dan ayo kita temu Mama kamu sekarang. Jika kami gugup ada Mama mu ini yang menemani mu.” Vina mengengam tangan Yuna dengan erat, guna untuk menyalurkan rasa nyaman pada menantunya itu.
“Bagaimana? Masih mau disini? Atau ikut Mama kebawah?” Vina memberikan pilihan pada Yuna.
Yuna terdiam cukup lama, sampai akhirnya ia menganggukkan kepala dan membuat Vina tersenyum senang.
“Baiklah, ayo kita temu Mama kamu sekarang. Pasti kamu sudah gak sabar kan?”
__ADS_1
Yuna yang ditanya seperti membuat wajahnya menjadi merona malu. “Ayo Mah, kita kesana.” Ajak Yuna malu-malu.
Vina sampai dibuat terkekeh geli melihatnya.
°°°
Eva yang masih setia duduk ditempatnya terus memanjatkan doa-doa agar ia bisa segera dipertemukan oleh putrinya. Hatinya sejak kemarin terus bergemuruh ingin mendekap tubuh sang anak terus-menerus saat tahu jika Yuna lah anak kandungnya. Ia sebenarnya sempat mengira jika Yuna sangat mirip dengannya saat mereka bertemu untuk pertama kalinya saat acara pernikahan antara Zeen dan Yuna waktu itu.
Namun duga-duganya yang terus ia tekan itu akhirnya terjadi juga, jika Yuna memang benar-benar anak kandungnya. Terbukti saat Zeen memperlihatkan sebuah tes DNA nya antara putrinya dan juga dirinya. Dan jawaban atas tes itu mengatakan jika Yuna adalah darah daginya bersama dengan suaminya.
“Mas, aku akan membawa Yuna kembali kerumah kita dengan senyuman. Pasti kamu akan senang jika aku membawa putri kita kembali dan saat itu kita akan berkumpul bersama, kemudian aku harus mempertemukan putri kedua kita dengan kakaknya pasti dia sangat bahagia.” Gumamnya penuh harap.
“Maaf menunggu lama ya jeng?”
Eva langsung mendongakan kepalanya saat mendengar suara itu, ia pun langsung berdiri dari duduknya saat melihat sosok Yuna yang berada dibelakang Vina.
“Putriku ....” Eva yang ingin mendekat ia tahan, ia tak ingin membuat Yuna kaget dan menghindarinya kembali.
Yuna yang melihat sosok Eva yang ingin mendekatinya namun tak jadi itu langsung menangis. Dirinya pun tanpa basa-basi lagi langsung berlari dan memeluk tubuh wanita yang merupakan ibu kandungnya itu dengan sangat erat.
Tentu hal itu membuat Eva kaget sampai tak bisa mengeluarkan suaranya.
“Mama ....”
“Maafin Yuna Mama ....”
Itulah yang diucapkan oleh Yuna yang membuat Eva langsung tersadar dari keterdiamannya dan beralih membalas pelukan Yuna tak kalah eratnya.
“Tidak sayang... Mama yang seharusnya minta maaf padamu, Mama gagal menjadi orangtua yang baik untukmu.”
“Tidak, itu tidak benar, itu tidak benar Mama. Mama adalah orangtua ku dan mama adalah orangtua yang terbaik. Jangan bicara seperti itu lagi.”
Hal itu tak luput dari pandangan Vina, yang mana artinya membuat ia senang karena akhirnya menantu kesayangannya dapat berkumpul kembali bersama keluarga aslinya.
“Aku sangat bahagia melihatnya....” gumam Vina.
TBC.
__ADS_1