
Malam hari, kini jam sudah menunjuk angka 21:00, yang pada jam itu juga. Jam kerja antara Yuna dan Zeen kini telah usai, dan sekarang tengah diperjalanan untuk pulang.
Kebetulan, Yuna saat ini pulang bersama dengan Zeen, atau satu mobil dengan pria itu hanya berdua saja. Bagaimana dengan Laura? Tentu saja wanita itu sudah lebih dulu meninggalkan rumah sakit saat mereka berdua masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Sebenarnya Yuna diajak pulang bersama oleh Fadli, namun entah ada angin apa. Tiba-tiba Zeen juga mengajaknya pulang bersama, dengan tampang yang serius membuat Yuna mau tak mau menerima ajakan itu, dan terpaksa menolak ajakan dari Fadli.
Namun yang terjadi saat ini adalah kecanggungan, hening tak ada percakapan diantara mereka, dan tak ada yang memulai lebih dulu diantara mereka.
Zeen sengaja mengajak Yuna untuk pulang bersama, alasannya karena ia tak ingin Yuna pulang bersama dengan Fadli. Terdengar aneh bukan? Ya, seperti itulah yang tengah berada dipikirkan Zeen, terus berkecamuk tak ingin hilang. Terus terbayang dengan raut wajah Fadli yang dengan santainya mengucapkan 'Apakah kami terlihat seperti itu?' begitu katanya ketika Laura kekasihnya dengan gamblangnya mempertanyakan hubungan antara Fadli dan juga Yuna.
Gengaman tangan Zeen yang berada disetir mobil itu seketika menguat, raut wajahnya berubah kalut ketika terus terbayang hal itu.
Yuna sampai mengerutkan keningnya, kala melihat mobil Zeen yang melewati kompleks daerah rumah mereka.
"Dokter Zeen!"
Suara itu membuat Zeen langsung menginjak rem mobilnya. Membuat keduanya hampir saja terjungkal kedepan jika tak adanya sabuk pengaman yang mengikat tubuh mereka.
Zeen yang tengah syok itu terdiam sejenak, kemudian setelah itu ia mengalihkan pandangannya menatap kearah Yuna.
"Ada apa denganmu?! Kenapa kau menggagetkanku hah?" ucap Zeen dengan nada yang ditekan.
"Saya hanya ingin memberi tahu, jika kompleks rumah kita terlewat." jawab Yuna dengan raut tenang.
"Hah?" Zeen seketika ngeblang, dan merasa bingung. Kemudian ia menatap jalan sekitar, yang memang benar jika jalanan itu bukanlah jalan menuju rumahnya.
Zeen meneguk ludahnya dengan kasar, dirinya baru merasa malu dengan dirinya yang linglung dan menyalahkan Yuna atas kesalahannya.
__ADS_1
Zeen berusaha menetralkan raut wajahnya dengan berdehem, "Ehem, kenapa tak bilang dari tadi... Jika kau memberitahuku maka kita tak akan terlewat seperti ini." ucap Zeen, kemudian ia menghidupkan mobilnya dan setelah itu memutar kembali mobilnya menuju alamat rumah yang sebenarnya.
Yuna menghembuskan nafasnya,"Bukankah aku tadi sudah bilang ya?" gumam Yuna merasa bingung dengan tingkah Zeen yang menyalahkannya.
Barulah mobil Zeen memasuki kawasan rumahnya, karena memang mereka hanya terlewat beberapa meter saja sehingga cepat sampai kekediamannya.
Setelah mobil Zeen berhenti, Yuna pun segera keluar dari mobil itu tanpa menunggu Zeen dan berjalan lebih dulu memasuki rumah besar itu.
"Bukannya ditunggu malah ditinggal." gerutu Zeen.
"Assalamualaikum!"
Yuna mengucapkan salam ketika memasuki rumah.
"Waalaikumsalam! Eh? Mantu mama baru pulang, kamu gak bareng Zeen Yun?"
"Kebetulan tadi Yuna bareng sama mas Zeen mah," jawab Yuna yang bertepatan saat itu, Zeen juga memasuki rumahnya.
"Ada apa mah?" tanya Zeen sambil mengangkat satu alisnya.
"Engak... Mama cuma nanya doang sama Yuna, apa kamu tadi pulangnya bareng atau engak. Kan biasanya kamu suka pulang duluan..." jelas Vina sambil menatap putranya dengan senyum mengejek, "Yaudah... Kalau begitu kalian masuk kekamar dulu gih, bersih-bersih habis itu sarapan." ucapnya lagi, setelah itu berlalu meninggalkan sepasang insan yang masih berdiri ditempatnya.
Setelah kepergian Vina, Yuna mulai melanjutkan langkahnya menuju kamar meninggalkan Zeen yang masih terbengog ditempatnya.
Zeen mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, dirinya benar-benar merasa jika pada hari ini, merasakan jika ia seperti berbuat hal-hal aneh. Dan pikirannya terus tertuju pada Yuna.
"Ada apa denganku? Apa otakku tengah bermasalah?" gumamnya bertanya pada diri sendiri, "Hahhh... Sudahlah, kenapa aku terus berpikir yang aneh-aneh! Dimana otak cerdasmu Zeen? Kau itu kayak orang tol*l aja dari tadi, hahh..." gerutunya yang terus mendesa kasar.
__ADS_1
Setelah berdebat pada batinnya, dirinya pun juga melanjutkan langkahnya menuju kamar. Saat ia melewati ruang tengah, dirinya tak sengaja melihat sosok Firo yang entah kebetulan apa, Firo juga tengah melihat kearahnya.
Pun, sekarang mereka saling beradu pandang yang salah satu dari mereka belum berniat untuk memutuskan pandangan lebih dahulu. Seperti ada tatapan permusuhan diantara mereka, tak ada yang ingin mengalah dan tak ada yang mau kalah saat mereka tengah beradu mata yang dipelototkan dengan tajamnya.
'Sialan bocil itu!' batin Zeen kesal.
'Sialan situa itu!' batin Firo tak kalah kesalnya.
"Hei! Hei, hei... Kenapa kalian ini? Kenapa mata kalian kayak ada aliran listriknya? Mau jadi supreme ya kalian? Haduh... Haduh... Dasar anak muda..." Albaret yang kebetulan ingin bergabung dengan Rima ibunya dan juga istrinya yang berada diruang tengah itu tak sengaja melihat adu batin, antara Zeen dan juga Firo. Dirinya pun dibuat mengeleng-geleng ketika melihat tingkah kekanak dari dua pria dewasa itu.
Albaret yang juga tengah membawa cangkir kopi ditangannya itu langsung menyesapnya dengan nikmat. "Hahhh... Segarnya... Yasudah, kalian lanjutkan saja. Mau adu jotos pun, papa izinkan dengan lapang dada." katanya dengan santai, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan kedua pria dewasa itu.
Zeen yang juga tak ingin berlama-lama disana itu pun, ikut melanjutkan langkahnya menuju kamar karena dirinya sangat lelah dan terasa begitu gerah, ingin sekali berendam dibak mandi.
"Tidur sana bocah! Suruh nenek buat bacakan cerita kancil untukmu, biar kau tidur nyenyak." Zeen berucap sambil menatap Firo dengan tatapan meremeh.
Firo mengepalkan kedua tangannya, "Jangan menyebutku bocah! Aku bukan anak kecil!" teriaknya dengan kesal.
Zeen sudah menaiki tangga dan tersenyum semirk, "Ya, ya, ya... Terserah kau saja." ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Dasar sialan!" teriak Firo lagi namun diabaikan oleh Zeen.
Zeen yang sudah sampai tepat dipintu kamarnya, mulai membukanya. Namun baru saja ia melangkah, matanya langsung terbelalak kala melihat Yuna yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk putih sebatas setengah pahanya, yang membalut tubuhnya itu.
"Aaaaaaa...!!" Yuna berteriak ketika matanya melihat Zeen yang berada ditengah-tengah pintu.
Yuna segera berlari kearah kasur dan mengambil selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya, dirinya benar-benar merasa malu saat ini.
__ADS_1
TBC.
Jangan lupa tinggalkan komen, like anda vote. Ya gaes😽