
"Assalamualaikum!" salamnya, ketika ia sudah berada didepan pintu utama.
Tak menunggu beberapa lama gagang pintu itu tampak berputar dan memperlihatkan bi Minah yang membuka pintu itu. "Waalaikumsalam...."
"Eh? Non Yuna sudah pulang, mari non." ujar bi Mina mempersilahkan Yuna masuk kedalam rumah.
Yuna mengangguk, "Makasih ya bi... Sudah dibukain pintunya," ucap Yuna yang sudah berjalan masuk dikediaman mertuanya itu.
"Sama-sama non.... Kan itu memang sudah jadi tugas bibi non," jawab bi Minah sambil terkekeh pelan.
"Hemm, yasudah kalau begitu bi... Bibi istirahat aja sekarang."
"Sebelum bibi tinggal, non ada yang dibutuhkan, atau mau bibi siapkan makan malam non?" tanyanya.
Yuna mengeleng, "Tidak bi, Yuna tadi udah makan sama mas Zeen. Jadi bibi bisa istirahat sekarang," jawabannya.
"Oh... Kalau memang begitu, yasudah saya tinggal dulu ya non."
"Iya bi..." sejenak Yuna melihat punggung bi Mina yang sudah masuk kedalam kamarnya, tepatnya kamar yang disiapkan khusus untuk pembantu rumah tangga.
Saat Yuna berjalan melewati ruang tengah atau ruang keluarga, dirinya tak sengaja melihat Lena tante dari Zeen tengah membaca sebuah majalah ditangannya. Kebetulan suara sandal Yuna membuat Lena yang tengah fokus jadi mengalihkan pandangannya.
"Hoh? Menantu keponakan baru pulang ternyata." ucap Lena dengan tersenyum kecil, namun senyuman itu adalah senyuman meremeh yang bahkan Yuna tak menyadari arti senyuman itu.
"Iya tante, tante belum tidur?" tanya Yuna dengan sopan.
"Kau lihat aku disini lagi melek kan? Gak merem kan? Ya belum tidur lah, udah tau pake nanya." sifat asli Lena kali ini ia perlihatkan, beda dengan dirinya yang tadi pagi, menyapa Yuna untuk pertama kalinya, dengan tutur lembut dan sopan.
__ADS_1
Sejenak Yuna tertegun, ia kaget dengan nada ketus yang terlontar dari mulut wanita berpakain gelamor itu. Dirinya bertanya-tanya, apakah dia salah dengar? Tadi pagi, waktu bertemu dengan wanita seumuran dengan mertuanya itu, nada ucapannya tak seperti itu. Namun kenapa sekarang berubah?
Yuna masih diam, belum menjawab ucapan itu.
"Mana suami kamu?" tanya Lena masih dengan intonasi ketus.
"Mas Zeen lagi ada urusan, tante." jawab Yuna seadanya, ia tak menyebut nama Laura kekasih Zeen, karena hal itu tak penting menurutnya.
Lena terkekeh sinis mendengarnya, "Urusan penting, atau urusan percintaannya?"
Yuna menyatukan kedua alisnya. "Maksud tante?" Yuna tampak bingung.
"Dasar orang desa sok-sok polos," gumamnya tertawa merehem.
Lena tiba-tiba berdiri dari duduknya, lalu ia berjalan angun mendekat kearah Yuna dengan majalah yang masih ada ditangannya.
"Aku tau jika keponakanku itu terpaksa menikahimu gadis desa! Zeen yang tampan paripurna itu tak mungkin menyukai gadis kuno sepertimu. Aku tau, jika Zeen pasti belum menyetuhmu sama sekali, karena keponakanku itu tak akan bernafsuh sama gadis desa modal tampang polos sepertimu. Selera keponakanku yang pasti wanita berbadan seksi, seperti Laura kekasihnya." jelas Lena dengan nada angkuh dan sombong, terus mencaci penampilan yang ada pada diri Yuna.
"Tentu sajalah tak bernafsuh! Orang kau saja dekil kayak gini," ucapnya terkekeh.
Majalah yang tadinya ada ditangannya, tiba-tiba ia lemparkan begitu saja, tepat dikepala Yuna.
"Sepertinya kau membutuhkan majalah itu, cermat baik-baik isi majalahnya. Disitu banyak baju-baju yang bermerek, mungkin ada yang cocok denganmu!" sejenak Lena melirik Yuna dengan lirikan sinis, setelah puas ia langsung beranjak pergi dari sana meninggalkan Yuna yang hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, melihat majalah yang berada tepat dibawah pijakannya.
Ia tak tau saja, jika sejak tadi kejadian itu terus diamati oleh sepasang mata dari lantai atas.
"Tontonan yang menyenangkan," gumam Firo namun tak ada ekspresi sama sekali pada wajahnya, hanya ekspresi datar yang terpampang diwajah tampannya itu. "Kasihan sekali kau gadis desa..." gumamnya lagi, tak lupa menyesap kopi hitam yang ada ditangannya dengan perasaan nikmat.
__ADS_1
🍂🍂
Yuna saat ini tengah melipat mukenahnya, ia baru selesai shalat isya walau jam sudah menuju 22:00. Ia memang merasa kelelahan, namun rasa lelahnya itu tak menjadikan ia harus meninggalkan ibadah yang harus ia jalani sebagaimana merupakan umat muslim didunia yang ia tinggali.
Setelah selesai melipat mukenahnya, ia pun berjalan kearah sofa panjang tempat dimana ia selalu tidur disana. Dan kali ini pun ia akan tidur disana, berbeda dengan malam kemarin saat ia untuk pertama kalinya tidur seranjang dengan Zeen yang mana artinya merupakan suami sahnya sendiri. Dan sekarang suaminya itu sampai sekarang belum juga pulang, ia menduga jika suaminya itu tengah menginap dirumah kekasihnya. Dan hal itu lagi-lagi tak ingin ia ambil pusing lagi.
Lebih baik ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sungguh sangat lelah saat ini.
Setelah dirasa nyaman pada posisi baringnya, Yuna pun mengambil selimut yang ada dibawah kakinya dan menggunakan selimut itu sebagai penutup tubuhnya agar senantiasa merasakan kehangatan.
"Selamat malam nek..." ia mengecup foto kecil yang ada ditangannya, difoto itu ada dirinya dan juga neneknya yang tengah mengendong dirinya ketika ia masih berusia delapan tahun. Ia sampai menyayangi foto itu, hingga ia selalu membawanya kemanapun ia berada.
Setelah puas memandanggi foto itu, Yuna pun segera memejamkan matanya.
Namun, baru beberapa detik ia terpejam. Suara pintu yang terbuka hampir saja membuat ia terkejut, namun tak sampai membuat matanya terbuka.
'Apa dokter Zeen sudah pulang?' gumamnya, ketika mendengar suara langkah sepatu tengah masuk kekamarnya. Namun ia dibuat bingung seketika, ketika langkah kaki itu semakin mendekat kearahnya.
Yuna tak ingin membuka matanya karena tak ingin dulu bertemu pandang dengan Zeen, yang hanya akan membuat mereka merasa canggungg. Akhirnya pun ia memilih untuk pura-pura tidur saja.
Tepat saat langkah kaki itu berhenti, Yuna dapat merasakan jika orang itu tengah memandangginya dan dapat diperdiksikan jika wajahnya dengan wajah orang itu sangat dekat sekarang. Hal itu dapat dirasakan oleh Yuna, ketika hembusan nafas itu menerpa wajahnya.
'Kenapa dia diam saja disitu?' gumamnya lagi, merasa tak bisa bernafas saat ini.
TBC.
Jangan lupa, keluarkan unek-unek kalian dikomentar ya😆
__ADS_1