
...***...
Sesampainya didepan rumah, tepatnya dikediaman Albaret. Satu per satu para keluarga keluar dari mobil, begitupun dengan Zeen yang langsung keluar dari mobil dan menuju dimana istri dan anaknya berada.
Se saat ia menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan sang Papa, begitupun dengan Albaret yang juga ikut menghentikan langkahnya menatap sang putra dengan tatapan angkuh dan juga tubuh bagian depan yang dibusungkan seolah tengah menantang sang putra.
“Papa nyebelin!” pekik Zeen yang langsung meninggalkan tempatnya dan berlari kearah mobil dimana istrinya berada.
“Hahahaha!! Dasar mami,” kata Albaret sambil menertawakan tingkah putranya.
Saat Zeen masuk kedalam mobil, ia begitu senang saat melihat istrinya disana. Dimana Yuna yang masih tertidur pulas dengan dua baby yang ikut terlelap disamping sang ibu.
Zeen mendekat, lantas kemudian ia mengecupi satu per satu orang-orang yang sangat ia cintai dan sayangi.
“Tak bersama kalian selama beberapa jam saja sudah membuat daddy frustasi, apalagi kalau tak melihat kalian selama sebulan? Atau setahun? Uhhh ... daddy mungkin langsung sekarat karena sangking rindunya.” Tutur Zeen melebih-lebihkan ucapannya.
“Gak usah lebai deh mas!”
Zeen tentu terkejut saat mendengar suara istrinya itu.
Rupa-rupanya Yuna sudah terbangun saat merasakan ada yang mengusik tidurnya, dan benar saja ketika ia membuka matanya yang ternyata suaminya itu sudah berada didekatnya tepatnya dihadapannya.
“Kamu udah bangun dari tadi sayang?” tanya Zeen saat sudah meredakan rasa terkejutnya.
Yuna tak langsung menjawab, ia secara perlahan mulai bangkit dari baringnya dan sangat hati-hati takut jika dua babynya terbangun.
“Aku bangun saat kamu menciumku tadi mas! Kukira apa tadi yang basah, ternyata kamu toh,” ucap Yuna sambil memperbaiki penampilannya yang agak aut-autan.
“Emang menurutmu apa tadi yang basah-basah?” tanya Zeen dengan nada menggoda.
Yuna menatap mata Zeen, “Kukira tadi ada kebanjiran, eh ternyata mas Zeen yang bikin pipi aku kebanjiran.” Jawab Yuna ngasal sambil mengelap pipinya yang tadi bekas kiss dari Zeen. Kemudian Yuna mencium telapak telanganya sambil mengernyitkan dahinya.
“Sekarang air banjirnya bau iler!” pekiknya yang langsung dihadiahi pelototan oleh sang suami.
“Astaga sayang, kamu ....”
Saat Zeen ingin memberi pejaran pada Yuna, tiba-tiba suara teriakan dari mamanya membuat ia mengurungkan niatnya.
“Kalian kenapa lama sekali disana? Cepat turun semua orang sedang menhnggu!”
Zeen menghela nafas sejenak, lalu memepetkan keningnya tepat dikening milik Yuna. “Hari ini kamu lolos sayang, tapi dilain kali. Mau kamu merengek pun tak akan kulepaskan!” bisik Zeen sambil menatap Yuna dengan senyuman serigai.
__ADS_1
Yuna sampai melongo mendengar itu.
“Ayo sayang kita turun sekarang, aku akan bawa si kakak dan kamu bawa si adik!” ajak Zeen lalu mengendong sisulung dan membawanya keluar dari mobil. Diikuti Yuna yang juga ikut keluar didalam mobil itu.
“Hati-hati sayang, kamu butuh bantuan? Ada yang sakit gak?” tanya Zeen dengan penuh perhatian.
Yuna menggeleng, “Ngak ada kok mas, aku sudah baik-baik saja.”
“Bener ya? Nanti kalo ada apa-apa langsung bilang sama mas,” tutur Zeen.
“Iya ....” jawab Yuna sambil tersenyum.
Kemudian keduanya berjalan masuk kedalam rumah, tanpa tahu menahu jika didalam semua orang telah menantikan mereka.
Dan telat saat keduanya setengah masuk kedalam, sebuah kejutan mengangetkan mereka. Karena sorakan dari mereka yang tentu saja akan membuat siapa saja akan mengalami kekagetan.
Diana menghampiri Yuna dengan membawa sebuket bunga yang besar, “Selamat kembali kak! Dan selamat atas lahirnya dua baby twin yang tampan.” Ucap Diana sambil menampakkan senyum cerahnya.
“Wah ... ini buat kakak?”
Diana mengangguk menangapi.
“Sama-sama kak, oh ya? Aku boleh gendong dede bayi gak? Soalnya mereka lucu banget aku gak tahan pengen gendong!” rengeknya sambil menatap anak kakaknya dengan binaan mata.
“Tentu saja, nih, yaoi hati-hati ya ....” Yuna memberikan baby Gio kepada Diana sang aunti muda.
Didalam hati Diana, ia memekik tak tahan karena melihat wajah tampan sang baby yang sangat mengemaskan. Apalagi saat bayi itu tengah memejamkan matanya dengan bulu mata lentik yang menempel pada kelopak matanya yang indah itu.
Sejenak Diana melirik lelaki yang selama ini terus mengisi hatinya, tentu saja siapa lagi kalau bukan Firo.
“Aku ingin memiliki anak seperti ini, bersama pria itu!” gumam Diana yang langsung cekikikan.
Sementara Yuna begitu kagum saat melihat ruangan yang sudah disulap menjadi sangat indah.
“Wah? Kenapa semua ruangan nampak berbeda? Apakah akan ada acar?” ucap Yuna bertanya-tanya.
Kemudian ketiga wanita paru baya menghampiri Yuna.
“Iya sayang, tebakanmu memang benar sayang, jika dirumah ini akan ada ara!” jelas Vina kepada menantunya.
“Memang acara apa mah? Apa ada yang ulang tahun?” tanya Yuna mulai penasaran.
__ADS_1
“Bukan sayang ... selain menyambut kedatanganmu dirumah. Kami juga akan mengadakan acara syukuran dirumah besar ini. Yang tentu tujuannya atas kepulihan dirimu dan kelahiran dua cucu-cucu kami!” jelas Eva menimpali.
“Begutulah?”
“Ya! Apakah kamu kurang senang sayang?” kini Winda yang giliran bertanya.
Yuna menggeleng langsung, “Tidak mah, aku malah senang sekali. Karena acara syukuran itu mengandung hal yang baik ....”
“Kamu betul sayang ... selain itu, ini merupakan ide dari nenekmu loh ....”
“Nenek Rima?” tanya Yuna yang entah mengapa merindukan sosok wanita tua itu. Selama ia dirawat dirumah sakit ia tak pernah melihat sosok Rima disana.
“Ya, tentu saja nenekmu Rima!” jawab Vina.
“Lantas? Kemana nenek Rima? Aku tak melihatnya sejak tadi?”
Kebetulan pada saat itu, sosok yang dicari Yuna berjalan dengan pelan menghampiri Yuna berada.
Tentu tak ingin berlama-lama, Yuna pun mendekati sang nenek, kemudian langsung memeluk tubuh wanita itu yang mana membuat Rima terkejut lantaran baru pertama kali Yuna melakukan itu kepadanya.
“Yuna merindukan nenek ....” entah menagapa, Yuna jadi teringat sosok Santi almarhum neneknya saat memeluk tubuh Rima.
“Oh ya? Aku tak menyagka jika kau bisa merindukanku!”
Yuna nampak cemberut ketika mendengar itu. Ia lantas mengurai pelukannya dan menatap wanita tua itu yang ada didepanya.
“Saya serius nek, kenapa nenek tak mengenjuku dirumah sakit? Bukankah nenek susah lama pengen gendong cucu?” tanya Yuna.
Rima mengelus surai rambut Yuna dengan kelembutan. “Nenek tak bisa datang karena badan nenek lemas ... nenek hanya bisa berbaring dikasur saja itu sebabnya nenek tak datang kesana! San baru sekarang badan nenek bisa digerakkan, mungkin karena cucu-cucu nenek sudah kembali ya?”
Yuna yang mendengar itu langsung memeluk tubuh Rima kembali, kali ini Yuna memancarkan kesedihan diwajahnya.
“Jika nenek masih sakit, nenek bisa istirahat lagi. Yuna tak ingin melihat nenek sakit! Yuna pingin nenek terlihat sehat agar kuat mengendong dua cucu nenek!” kemudian mengurai pelukan itu sambil menatap wajah yang sudah sangat keriput itu.
“Nenek susah baik-baik saja nak, jadi kamu tak perlu khawatir! Aku ini masih sehat, lihat ini ya? Aku akan menunjukan kekuatanku saat mengendong cucu-cucuku!”
Kemudian nampak Rima begitu ceria saat menghampiri cucunya, Yuna saat itu melihat pacaran kebahagian yang ada pada wajah wanita tua itu. Begitu senang saat mengendong dua cucunya.
'Aku ingin nenek tetap sehat, saat dua putraku semakin beranjak dewasa ....'
TBC.
__ADS_1