
Yuna masih setia memejamkan matanya, ia takut, jika ia membuka matanya maka ia akan bertemu pandang dengan Zeen. Sosok yang pernah singgah didalam hatinya, kemungkinan kecil perasan itu masih ada, tapi tak sebesar dulu ketika ia mendaba Zeen sosok pria bersinar dimatanya. Tapi entahlah, hanya hati Yuna yang tau bagaimana perasaan itu sekarang.
Hembusan nafas masih menerpa wajah Yuna, ia merasa gugup jika terus dipandanggi seperti itu. Rasa-rasanya keringatnya saat ini sudah menetes, dan ia takut jika dirinya akan ketahuan kalau sebenarnya ia sedang pura-pura tidur.
'Kenapa dia tak pergi-pergi?!' batin Yuna berteriak dalam hati.
'Kenapa pula dia pulang? Bukankah dia harusnya tidur ditempat kekasihnya?' batinnya lagi, terus bertanya-tanya didalam hatinya.
"Hemm.."
Gumaman suara dapat ditangkap oleh telinga Yuna.
Kemudian, tanpa ia duga, sebuah tangan menyentuh pipinya hampir saja ia terperanjat kaget jika refleksnya tak ia tahan.
'Apa yang dia lakukan?' Yuna merasakan kehangatan dari tangan besar itu, yang tengah mengelus pipinya.
"Yuna Saily...."
Suara lembut serta suara serak yang mendominasi itu seketika membuat Yuna merinding mendengarnya. Ia tak tau apa yang akan dilakukan oleh pria yang ada dihadapannya itu, dari suaranya saja sudah tampak berbeda, apa jangan-jangan pria itu tengah kerasukan setan? Batin Yuna bertanya.
"Yuna Sa-"
Brukk....
Suara itu terhenti dan diganti oleh suara keras yang saling bertubrukan diatas lantai, Yuna yang mendengar itu refleks langsung bangun dari baringnya. Kedua bolanya melotot ketika melihat Zeen yang sudah terbaring dilantai dingin itu.
"Dokter Zeen?!" pekik Yuna berteriak, namun tak akan ada yang bisa mendengar karena kamar itu kedap suara.
"Astaga! Kenapa dokter tidur dilantai?" Yuna segera beranjak dari sofa dan menghampiri Zeen yang terkapar tak berdaya itu.
Ia pun segera membopong tubuh Zeen untuk berdiri dari baringnya, dan menyeret Zeen yang sangat berat itu menuju kasur. Setelah dirasa sudah tepat dengan posisi tidur Zeen, Yuna pun langsung membuka sepatu Zeen lalu kancing kemeja sedikit ia buka untuk melongarkanya, agar pernapasan itu tak sesak dirasa.
Yuna mengernyitkan alisnya ketika ia mencium aroma alkohol yang ada pada diri Zeen. "Apakah dia habis minum?" tanyanya.
Kembali, ia kembali dibuat mengernyit ketika melihat kening Zeen yang penuh dengan keringat, bahkan kera kemejanya sampai basah akibat keringat itu. Yuna yang melihat itu tentu saja dibuat bingung sekaligus khawatir.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, kenapa dokter Zeen banyak mengeluarkan keringat?" tak mau menerka-nerka lagi dengan pertanyaan yang ada dikepalanya, ia pun langsung menyentuh kening Zeen dan membuat kedua matanya kembali melebar. "Astaga! Keningnya panas sekali!" pekiknya tertahan, merasa kekhawatirannya langsung menerjang pada dirinya dan membuatnya langsung bingung harus berbuat apa.
"Hahh, tenang Yuna... Sebaiknya aku harus mengambil air hangat dulu untuk mengompres dokter Zeen." Yuna langsung beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika tangannya dicekal oleh tangan besar milik Zeen.
"Kamu disini saja, aku tak ingin sendirian." gumam Zeen masih memejamkan matanya.
Yuna mencoba melepaskan cekalan itu dari tangannya, "Sebentar ya dokter.... Saya akan kembali lagi, setelah saya mengambil alat kompres untuk anda." tak ingin berlama-lama lagi, Yuna kembali melangkahkan kakinya dan segera keluar dari kamar itu, membawa langkahnya menuju dapur.
🍂🍂
"Loh? Nona sedang apa?"
Suara itu membuat Yuna terperanjat kaget, ia langsung mengelus dadanya yang terasa berdebar kencang. Kemudian Yuna membalikkan tubuhnya.
"Eh? Bi Mina, kirain siapa... Bikin kaget Yuna aja,"
"Oh! Maaf non, jika bibi bikin kaget non Yuna." ucap bi Mina dengan raut menyesal.
"Tidak apa-apa bi... Yuna tak apa-apa kok. Tapi ngomong-ngomong, bibi kok belum tidur jam segini?"
Yuna mengangguk menanggapinya.
"Non sendiri, kenapa malem-malem malah kedapur?"
"Oh, ini Yuna lagi ambil air hangat buat mas Zeen bi... Buat mengompres." jelas Yuna.
Tampak ia melihat jika wanita paru baya itu terkejut oleh ucapannya barusan itu. "Tuan Zeen sakit non?!" teriak Minah terkejut.
"Ssst... Bi... Jangan keras-keras nanti orang rumah pada bangun."
Minah menutup mulutnya seketika, "Eh? Maaf non."
"Iya bi... Tiba-tiba mas Zeen sakit, mungkin karena mas Zeen kecapean kali ya? Jadi badannya pasti langsung drop." jelas Yuna.
"Yaampun.... Kasihan sekali tuan Zeen, apa gak sebaiknya bibi berita tahu nyonya besar non Yuna?" tanya Minah tampak sangat khawatir.
__ADS_1
Yuna langsung mengeleng seketika. "Jangan bi... Besok aja bilangnya, kasian kalo bangunin mama bi... Mungkin beliau sudah terlelap." tolak Yuna dengan suara halus.
"Tapi kan non..."
Tampak Yuna mengulas senyum menatap wanita berkisaran lima puluh tahun itu, kemudian ia mendepuk bahu itu dengan lembut. "Bi... Gak papa, biar Yuna yang ngerawat mas Zeen. Bibi gak perlu khawatir ya?"
"Hemm, yasudah kalau memang begitu non, saya ikuti apa baiknya saja."
"Makasih ya bi, atas perhatiannya. Soal sakitnya mas Zeen besok saja kita beri tahu mama." jelas Yuna.
Minah mengangguk pamah, "Baik non." ucapnya sambil tersenyum pada nona mudanya itu.
"Kalau begitu Yuna balik lagi kekamar ya bi..." pamitnya.
"Eh? Iya non, silahkan."
Yuna pun langsung melanjutkan langkahnya keluar dari dapur itu, tak lupa dengan nampan berisi baskom air hangat sudah berada dikedua tangannya.
Mina masih belum beranjak dari dapur, ia terus mengamati punggung Yuna yang sudah menghilang dari pandangannya. "Baik banget nona muda, tuan Zeen pasti sangat beruntung memiliki istri cantik dan baik hati sepertinya. Semoga pernikahan tuan muda dan nona muda awet sampai menjelang masa tua, amin... Yaallah." Minah tampak memanjatkan doa bagi kedua sepasang suami istri itu, ia mendoakan pernikahan mereka agar langen sampai hari tua menanti.
TBC.
Bonus Foto
Yuna Saily
Zeen Albaret
Fadli Prastya
__ADS_1