Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 13


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu, dan acara pernikahan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari akan dilaksanakan pada hari ini juga.


Jam menuju pukul sepuluh, lewat empat puluh lima menit. Seorang gadis yang akan menyandang sebagai istri dari lelaki pilihan neneknya itu, tengah merenung didepan meja rias. Yang memperlihatkan dirinya yang sudah ayu... Dengan riasan yang melekat pada wajah bening miliknya itu. Entah kenapa wajah cantik itu terlihat murung beberapa menit setelah para perias pengganti pergi meninggalkannya sendiri diruangan itu, tepatnya dikamarnya.


Ceklek...


Suara pintu terbuka, dan memperlihatkan sosok wanita berkepala empat itu menghampiri Yuna, dengan diiringi senyum yang terus melekat diwajahnya itu.


"Yuna..." panggil Winda, istri dari Bram.


Yuna mengalihkan pandangannya menghadap kearah tantenya itu. "Ya tante.." jawab Yuna.


Winda lagi-lagi tersenyum melihat Yuna. "Yaampun... Putri bunda cantik banget hari ini." ucapnya, lalu mengelus pipi Yuna.


Yuna membalas senyuman itu, "Makasih bunda..."


"Bunda kesini cuman mau liat putri bunda, sebelum nanti gak bisa lihat kamu. Kalo udah dibawa sama calon suami kamu itu." ujar Winda menggoda Yuna, yang hanya dibalas kekehan kecil oleh pengganti cantik itu.


Tiba-tiba terdengar suara ramai, didepan rumah itu.


"Hemm... Sepertinya pengantin lelakinya sudah datang." ujar Winda, ia lalu melihat Yuna kembali. "Kamu tunggu disini ya sayang... Bunda kebawa dulu, setelah ijab kobul selesai nanti susul kamu kesini." jelas Winda yang dianguki kepala oleh Yuna.


Winda keluar dari kamar itu, dan menyisakan Yuna yang sendiri dikamar. Yuna berjalan kearah jendela dan melihat betapa banyaknya orang yang tengah berdatangan dikediaman pamannya itu.


Yuna menghembuskan nafasnya untuk kesekian kalinya, ia lalu berjalan menuju kasurnya berada dan mendudukan diri disana.


"Ini kah Takdir ku?" gumam Yuna.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau! Saudara atau ananda Zeen Albaret bin, Albaret Yudiswa. Dengan anak saya bernama Yuna Saily! Dengan maskawin berupa seperangkat alat solat beserta uang senilai lima miliar, dibayar tunai!"

__ADS_1


Suara ijab kobul ternyata sudah dimulai, Yuna merinding mendengar suara lantang itu yang tak lain adalah suara dari pamannya sendiri. Ia begitu terharu terhadap pamannya, yang dengan maunya menerima dirinya sebagai putrinya dan menjadi wali ketika ia menikah, sungguh! Betapa terharunya Yuna, sampai airnya menetes begitu saja.


"Terimakasih paman..." gumam Yuna sambil menyeka air matanya.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya, Yuna Saily binti Bram Famus. Dengan maskawin tersebut! Dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi? Sah atau tidak?" ucap penghulu itu bertanya kepada semua saksi yang ada disana.


"Saahhhh" jawab mereka serempak, dan diakhiri doa, kata syukur atas pernikahan itu.


Yuna begitu gugup kala mendengar ucapan lantang yang keluar dari bibir sang mempelai lelaki, yang kini telah sah menjadi suaminya. Yuna tak menyangka jika Zeen Albaret lelaki cinta pertamanya, yang kini menjadi suaminya. Begitu hebatnya takdir, ketika Yuna berusaha untuk melupakan cintanya itu. Namun takdir malah mencoba mendekatkan ia pada lelaki itu. Yuna tak pernah berharap jika dirinya bisa menikah dengan seorang Zeen Albaret lelaki tampan yang pernah menolak cintanya itu.


Yuna mengengam erat gaun putih yang kini melekat pada tubuhnya, ia mencoba membuang rasa kegugupannya agar tak menimbulkan masalah ketika ia dibawa dihadapan para tamu yang hadir dipernikahannya itu.


Ceklek...


"Cucu nenek... Cantik sekali..." ucap Santi saat sudah sampai dihadapan Yuna, ia menatap wajah cantik Yuna itu dengan senyuman haru. Bahkan air matanya pun ikut terjatuh.


"Nenek tak menyangka jika cucu nenek sudah menjadi milik orang sekarang... Nenek sangat terharu." ujar Santi sambil menyeka air matanya.


"Nenek..." Yuna menatap neneknya dengan raut sendu.


"Yuk kita kebawa sekarang... Semua orang sudah menunggu kamu disana." ajak Santi menghentikan acara harunya.


"Iya sayang... Yuk kita langsung kesana." timpal Winda, membantu Yuna berdiri dari duduknya.


Yuna menghela nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Kamu gugup ya sayang?" tanya Winda yang hanya dijawab senyuman oleh Yuna.

__ADS_1


"Tak perlu gugup... Tante ada disini nemenin kamu sampai keluar sana nanti. Jadi gak perlu gugup ya sayang..." ujar Winda menenangkan Yuna.


"Iya nduk... Ada nenek juga disini, nenek akan selalu mengengam erat tangan cucu nenek ini." ucap Santi.


Yuna sungguh merasa senang hari ini, ditemani dua orang kesayangannya. Sungguh! Kebahagian tiada tara bagi Yuna. "Iya tante... Nek... Terimakasih sudah mau menemani Yuna." ucap Yuna, saat mereka sudah melangkah menyusuri tangga untuk menuju ketempat utama dimana sang mempelai pria berada.


Saat Yuna melewati semua para tamu disana, semua orang yang melihatnya berdecak kagum dengan pengantin wanita yang sangat cantik dan menawan itu. Yuna yang hanya dibesarkan dari desa itu, kini memperlihatkan aura yang begitu anggun yang semua orang pasti menganga melihatnya. Tak lain hal dengan Zeen, ia terus menatap wajah Yuna, yang sampai Yuna duduk disampingnya pun ia tak melepaskan pandangannya itu.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Zeen, dan membuyarkan lamunnya itu.


"Sudah.... Jangan dipelototin teruss, nanti aja liatnya... Sekarang kan Yuna sudah jadi istri sah kamu." ucap Albaret yang ternyata papanya itu yang menepuk bahunya.


Zeen hanya bisa menghela nafas pasrah ketika mendengar perkataan papanya itu.


"Ehem, sekarang kedua mempelai silahkan bertukar cincin. Dan diakhiri mencium telapak tangan sang suami, dan juga mencium kening sang istri." ujar penghulu itu.


Lantas mereka berdua melakukannya, saling bertukar cincin dijari manis mereka. Setelah itu proses selanjutnya, Yuna yang dengan beraninya mencium telapak tangan Zeen, yang membuat Zeen merasakan desiran halus didalam hatinya.


Zeen masih terdiam, padahal Yuna sudah melepaskan tangannya. Lagi-lagi Zeen mendapatkan tepukan bahu.


"Jangan bengong terus Zeen... Malu-maluin aja." ucap Albaret.


Zeen tersadar. "Eh, iya.."


"Cepat cium kening istri kamu, jangan membuat kami menunggu."


Zeen yang linglung melakukan apa yang diperintahkan oleh papanya, ia mencium kening Yuna dengan singkat. Dan hal itu, lagi-lagi membuat jantung Yuna berdegup, kembali dilanda kegugupan.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2