
...***...
“Kenapa? Yang ku katakan itu memang kenyataannya kan?” tanya Rima santai. Yang pada saat ini sangat kesenangan ketika melihat wajah kekesalan dari cucunya, ia sungguh-sungguh sangat bahagia ketika berhasil mengusili cucunya karena sebelumnya lah dirinya yang dibuat kesal dan pusing oleh cucunya itu. Dan saat ini akhirnya ia bisa membalaskan dendam itu sungguh lega dirasa hatinya saat ini.
'Fufufufu ... beginikah? Rasanya mengusili orang? Ternyata benar-benar sangat menyenangkan, ternyata inilah yang dirasakan putraku dan cucuku. Itu sebabnya mereka bisa kecanduan ....' batin Rima tertawa bahagia.
Sedangkan disatu sisi Zeen saat ini tengah menahan rasa malu bercampur marah, bahkan wajahnya saat ini terlihat sangat merah dan kadang kala berubah menjadi putih pucat.
“Oke nek!” Zeen langsung berdiri dari duduknya dengan menatap tajam neneknya itu.
“Kamu kenapa tiba-tiba berdiri?” tanya Rima mengangkat sebelah alisnya.
“Aku akan buktikan! Seberapa gagahnya diriku ini. Dan aku akan membuktikan perkataan nenek itu salah! Karena aku yakin! Aku bisa memberikan cucu pada nenek sebanyak mungkin!” ucap Zeen dengan suara tegasnya.
Bahkan Yuna yang mendengar itu sampai dibuat menganga, “Mas Zeen!” tegur Yuna merasa kesal. Bagaimana tak kesal jika suaminya itu dengan rasa tak tahu malunya berkata fulgar didepan neneknya sendiri. Dan satu hal lagi, pria itu bilang jika dirinya akan membuktikan jika ia bisa melahirkan banyak anak? Sadarkah Zeen jika ucapan itu benar-benar konyol? Belum hamil saja pria itu berkata akan memiliki anak banyak. Sungguh kesal batin Yuna saat ini namun ia mencoba untuk menahanya.
Zeen mengalihkan pandangannya pada Yuna, lalu kemudian pria itu tiba-tiba menggenggam tangan istrinya.
“Ingat itu baik-baik nek! Nenek akan menyesal telah menghina cucu kesayangan nenek sendiri.” Ucap Zeen memperingati.
Bukanya merasa tersinggung, Rima malah tersenyum geli, inilah yang disukai oleh Rima. Cucunya itu begitu percaya diri dan tak mau kalah dengan orang lain sekalipun dengan orangtuanya sendiri.
“Oh ya? Kau akan menepati ucapanmu itu kan? Jangan pernah menelan ludahmu sendiri,” tantangan Rima dengan dagu yang diangat.
Zeen mencengram tangan kirinya dengan kuat untuk menahan rasa kesalnya pada wanita tua itu.
“Oke nek! Lihat saja dimasa depan nanti, nenek pasti akan langsung kualahan mengurus cicit-cicit nenek nanti.” Jawab Zeen dengan senyum miring yang tampak samar pada bibir tipis itu.
“Nenek akan menunggu itu.” Jawab Rima sambil melepaskan tawanya dengan keras.
Zeen yang merasa neneknya sedang meremehkannya itu, kembali menahan rasa kesal yang masih bergejolak didalam dirinya.
__ADS_1
Zeen pun langsung beranjak dari tempat itu tanpa pamit pada Rima. Tak lupa ia saat ini juga membawa Yuna dalam gengaman tangannya.
“Hei! Mau kemana kau?! Tidak sopan sekali pergi tanpa pamit!” teriak Rima menengok kebelakang dimana Zeen sudah berada diatas tangga.
“Mas Zeen!” Yuna menarik lengan baju Zeen dengan sedikit keras.
Zeen menghentikan langkahnya dan menatap Yuna sekilas, kemudian pandangannya itu ia alihkan pada neneknya.
“Nenek masih bertanya? Tentu saja mau kemana lagi kalau bukan kekamar? Nenek mau kan jika cicit nenek nanti cepat jadi?” timpal Zeen yang sedikit bersuara keras.
Rima yang semula kesal, kiki langsung menunjukan wajah cerianya. “Nah ... mantep! Lanjutkan kegiatan kalian anak muda.” Jawab Rima sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Zeen.
Zeen yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan.
Kemudian tak mau berbasa-basi lagi, Zeen langsung melanjutkan langkahnya kembali dan memasuki kamarnya yang sudah lama ia tinggal, selama dirinya berada di Bali.
Rima mengeleng melihat tingkah cucunya, “Aku takut sekali jika Yuna digempur habis-habisan oleh cucuku. Aku tahu jika cucuku itu adalah pria perkasa dan aku hanya ngasal bicara agar mereka berdua kembali menyetak adonan cicitku itu!” gumam Rima terkekeh geli dan kembali menyeruput tehnya dengan perasaan kinmat dan bahagia.
🍂🍂
Yuna langsung menyetak gengaman tangan Zeen saat mereka berdua sudah berada didalam kamar.
“Kenapa sayang?”
“Mas ini masih saja bertanya? Apakah mas tak tahu dengan semua kesalahan mas?” tegas Yuna dengan memelototi suaminya.
“Maksudmu kesalahan yang tadi?” tanya Zeen dengan mengangkat sebelah alisnya.
“Iya mas!! Mas itu apa tak punya malu? Kenapa mas berkata tak sopan dan tak senonoh didepan orang yang lebih tua dari mas?” pekik Yuna meluapkan kekesalannya.
“Yaampun sayang ... hal itu sudah biasa bagiku dan nenek sat kita berdepat. Jadi kamu tenang aja–”
__ADS_1
“Mas Zeen!” kali ini Yuna berteriak dan kembali melototi Zeen dengan sangat tajam. Dan jangan lupakan kedua tangannya saat sudah menempel pada pinggang rampingnya, alias sedang berkecak pinggang dengan menatap Zeen dengan tatapan garang.
Zeen yang melihat itu hanya bisa meneguk ludahnya dengan kasar. Sungguh, dirinya bahkan baru tau jika Yuna sifat garang nan mengintimndasi dengan ekspresi yang menyeramkan dimata Zeen.
“Sa-sayang ....”
“Malam ini mas tidur diluar!” tekan Yuna dengan tegas.
“What?!” teriak Zeen melongo.
'Ini tak bisa dibiarkan! Aku tak ingin bernasip sial seperti papa. Bisa-bisa aku mati kejang jika tak bersentuhan sama sekali dengan istri canduku ini.' Batin Zeen meronta.
“Kenapa masih ada disini mas? Keluarlah, aku ingin sendiri sekarang!”
Zeen tak menjawab, pria itu lebih memilih diam sambil mengamati Yuna dengan pandangan seolah tengah merencanakan sesuatu.
“Mas Zeen! Sebaiknya kamu keluar dari sini, sebelum aku–” Yuna menghentikan ucapannya bingung mau mengatakan apa.
“Sebelum apa? Hem?” ucap Zeen dengan nada lembut nan sensual, mulai menjalankan aksinya dengan mendekati wanitanya itu.
“Ma-mas? Kamu mau apa?” Yuna menjadi gugup saat Zeen mendekati dirinya dengan mata yang begitu tajam sampai menusuk keuluh hatinya.
“Tentu saja ... mau kamu dong sayang ....” Zeen tersenyum semirk ketika mendapati istrinya yang sangat ketakutan. Sehingga Yuna tak menyadari jika langkah mereka langsung menuju kearah kasur yang mana artinya jika Yuna saat ini langsung terpojok ketika langkahnya langsung terhenti, tepat saat kakinya terpepet pada bagian kasur itu.
“Ma-mas Zeen, saat ini aku sedang marah sama mas ya? Jadi mas tolong– akkh!!”
Yuna berteriak saat tubuhnya limbung ketika Zeen mendorongnya dari depan, sehingga membuat kedua insan itu langsung terjatuh tepat ditengah-tengah kasur empuk itu.
Yuna melotot, dirinya terkejut melihat wajah Zeen yang sangat begitu dekat dengannya. Bahkan hebusan nafas lelaki itu menerpa wajahnya, membuat dirinya hampir saja terbuai ketika menghirup wangi maskulin dari lelaki itu.
“Menyingkirlah dariku mas!” pekik Yuna mencoba membuat Zeen beranjak dari depannya dengan mendorong-dorong dada bidang milik pria itu.
__ADS_1
Namun sayangnya hal itu sia-sia saja, Zeen sama sekali tak bergerak dari tempatnya dan malah memepetkan dirinya pada Yuna. Sehingga membuat wanita itu merasa sesak seketika.
TBC.