Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 108


__ADS_3

...***...


“Mas, sudah sampai disini saja, tolong turunkan aku sekarang,” ucap Yuna ketika mereka berdua sudah berada didalam kamar mandi.


“Tak apa, aku akan membantumu sekalian masuk kedalam bathtub!” jawab Zeen sambil tersenyum manis.


“Tapi mas ....”


Belum selesai Yuna berucap, namun tiba-tiba dirinya sudah dilekatan lebih dulu didalam bathtub oleh Zeen. Yuna pun hanya bisa terdiam sambil meringkuk didalam bathtub itu guna untuk menutupi area intinya yang tak tertutup oleh kain. Dia pun baru menyadarinya jika ia tengah naked atau telanjang. Benar-benar malu dirasa oleh Yuna sekarang.


'Yaampun ... bisa-bisanya aku lupa, kalau aku gak pakai baju sekarang ... dasar kamu Yuna ... Yuna ....' Yuna bergumam dalam hati sambil meletakkan kedua tangannya dipipi, karena dirinya merasakan panas pada pipinya, bisa Yuna tebak jika pipinya saat ini mungkin sudah sangat merah karena menahan malu.


“Kenapa sayang? Kenapa pipinya ditutupi?” tanya Zeen yang menyadari tingkah aneh Yuna, saat dirinya tengah ingin mengisi bathtub itu dengan air hangat.


Yuna langsung menggeleng, “Engak kok mas ... aku cuma merasa gatal aja dipipiku. Mungkin karena ada nyamuk yang menggigit,” ucapnya berbohong. Tak ingin jujur pada Zeen jika ia tengah menahan malu.


Zeen tak menjawab ucapan itu, ia masih terus mengamati wajah Yuna dengan kerutkan didahi dan tangannya yang masih menekan tombol air hangat pada bagian bathtub itu. Namun kerutkan pada keningnya itu berangsur hilang ketika menyadari raut wajah Yuna yang kentara sekali tengah berbohong. Hal itu tentu membuat Zeen tertawa samar.


'Lucu banget sih ....' gumam Zeen dalam hati, tak lupa terkikik geli.


“Baiklah! Air hangatnya sudah siap ....” celetuk Zeen lalu mematikan tombol pengisi air hangat itu, dan langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam bathtub.


Hal itu tentu membuat Yuna mengerutkan keningnya, bingung dengan Zeen yang yang ikut masuk kedalam bathtub bersamanya.


“Mas mau ngapain?” tanya Yuna ketika melihat Zeen ingin melepaskan celana pendek yang melekat pada pinggul lelaki itu, karena kain berukuran kecil itu yang hanya tersisa pada bagian tubuh Zeen, bisa dikatakan Zeen saat itu tengah telanjang dada dan hanya memakai celana boker saja.


Zeen mengangkat satu alisnya, “Tentu saja ikut mandi, emang mau ngapain lagi? Ini kan kamar mandi. Bukan tempat bermain.” Zeen berucap sambil menahan tawanya ketika melihat wajah terkejut dari Yuna.


“Tapi mas! Kita kan bisa mandi sendiri-sendiri, lagian aku mandinya lama mas ... jadi mas mandi nanti saja setelah aku selesai.” Ucap Yuna dengan raut wajah yang begitu kalut.


“Nah! Maka dari itu kita mandi bareng sekalian, biar cepet dan habis itu kita sarapan pagi. Kamu gak laper apa setelah kita berolahraga malam kemarin? Aku aja laper banget loh!” jelas Zeen beralasan, karena dirinya saat ini benar-benar ingin bermesraan didalam kamar mandi bersama Yuna.


“Ta-tapi mas–”

__ADS_1


“Sudah ... kita mandi sekarang aja. Biar gak kelamaan.”


Yuna langsung memebelalakan matanya, karena pemandanga didepannya sungguh membuatnya langsung mangap-mangap. Bagaimana tak mangap jika lelaki yang ada dihadapannya itu, langsung melepaskan kain yang satu-satunya melekat dan menutupi benda tebal itu dengan santai dan tanpa beban sama sekali.


Refleks Yuna langsung memekik tertahan, lalu menutupi kedua matanya dengan tangannya. Ia benar-benar terkejut melihat benda sakral itu yang begitu gagah namun masih layu, dan tak seperti malam kemarin yang begitu tegak menantang. Dan mampu membuatnya terkapar tak berdaya sekaligus mengetahui arti dari kenikmatan dunia yang tiada tandingnya.


'Yaampun lelaki ini! Benar-benar tak tahu malu!' gumam Yuna dalam hati, mengerutui Zeen.


“Kenapa kamu lagi-lagi menutup matamu sayang?” tanya Zeen sambil terkekeh pelan, ia berpura-pura tak tahu akan tingkah malu-malu dari Yuna. Ia saat ini ingin menikmati ekspresi wajah wanitanya yang mampu membuat jiwanya kembali bergejolak.


“Mas kenapa harus dibuka sih celananya? Kan aku jadi malu ....” gerutu Yuna yang tak bisa lagi memendam kekesalanya dari lelaki yang ada didepannya itu.


“Loh? Kenapa malu? Kamu kan sudah melihatnya Yuna ... bahkan kamu sudah merasakannya tadi malam,” ucap Zeen dengan nada dibuat-buat menggoda. Sengaja agar Yuna bertambah malu.


“Mas Zeen!!” pekik Yuna berteriak, karena memang benar adanya jika Yuna langsung maki mendengar ucapan masum dari suaminya itu. “Cepat pakai lagi celananya mas!” teriak Yuna lagi. Namun masih menutup kedua matanya.


“Tapi kan sayang, aku kan juga mau mandi ....”


Zeen menghela nafas sejenak lalu memanyunkan bibirnya, “Iya-iya sesuai keinginanmu ....”


“Nah gitu dong, aku tunggu sampe mas pake celananya, baru nanti aku buka mataku.”


Zeen yang sempat ingin mengambil celananya dan ingin memakainya itu menghentikan pergerakannya, seketika. Otaknya tiba-tiba memunculkan sebuah ide yang mampu membuatnya tertawa menyerigai.


“Oke Yuna! Aku sudah memakainya!” dengan angkuhnya Zeen berdiri tegap dihadapan Yuna, sambil berkecak pinggang dengan percaya dirinya.


Yuna yang mendengar suara itu, perlahan membuka kedua matanya dan melihat kedepan dengan perasaan sedikit lega. Namun perasaan leganya itu sirna seketika, saat ia melihat pemandangan didepannya yang betul-betul hampir membuatnya jantungan.


Yuna melihat Zeen yang berdiri tegap didepannya dan langsung disuguhi kembali dengan benda berurat diantara kedua kaki tegap milik Zeen.


“Mas Zeen–”


Belum sempat Yuna melanjutkan teriakannya, tiba-tiba Zeen dengan kecepatannya langsung berpindah posisi, yang semula berada dihadapan Yuna. Kini pria itu langsung berada dibelakang Yuna dengan posisi dirinya yang memeluk wanitanya dari belakang.

__ADS_1


“Ssst ... jangan berdebat lagi ya. Kita mandi sekarang aja ... aku udah kedinginan nih kalau gak cepat-cepat mandi, ” alibi Zeen beralasan, padahal didalam kepalanya tengah menyusun rencana yang hanya pria itu yang tau.


Yuna yang mendengar itu langsung menghela nafasnya seketika, bahkan suara nafas itu begitu panjang menandakan, jika Yuna juga merasa lelah berdebat terus dengan pria keras kepala seperti Zeen.


“Baiklah, kita mandi sekarang. Tapi mas janji ya? Jangan buat aneh-aneh nanti,” ujar Yuna memperingati.


“Aneh-aneh kayak gimana? Orang dipikiran mas sekarang hanya pingin mandi dengan cepat, habis itu makan bersama kamu,” alibinya tak lupa tersenyum menyerigai.


Yuna yang mendengar itu merasa sedikit tenang, ia akhirnya pun mempercayai ucapan Zeen dan mulai mengambil sabun berniat untuk membersihkan dirinya.


“Eh! Tunggu! Biar aku saja yang ambil,” ucap Zeen ketika ia melihat Yuna yang ingin mengambil sabun berada disamping mereka.


“Mas! Biar aku saja yang melakukannya,” Yuna kembali dibuat terkejut, ketika merasakan jika Zeen tengah menyabuni punggungnya.


“Ssst ... biarkan suamimu ini yang membantumu untuk membersihkan tubuhmu. Kamu cukup bersantai saja, biar aku yang bekerja,” ucap Zeen santai yang masih melakukan aktifitasnya.


“Tapi mas ....” Yuna kembali membantah karena dirinya merasa geli jika diusap sabun oleh seseorang, dirinya baru pertama kali diperlakukan seperti itu dan sedikit kurang nyaman dirasa.


“Turuti apa perkataan suamimu Yuna ... jangan dibantah, nanti kamu berdosa loh.”


Yuna yang sempat ingin protes lagi tak jadi, dirinya pun hanya bisa menghela nafas kembali dan lebih memilih menuruti permintaan dari suaminya yang sungguh sangat susah dibilanggi.


Zeen mulai dengan aksi utamanya, yaitu dengan memijit pundak Yuna agar wanita itu merasa rileks dan tenang.


“Bagaimana enak kan?” tanya Zeen melirik wajah Yuna yang sudah memejamkan matanya itu.


Yuna langsung mengangguk, “Benar mas, rasanya enak. Mas ternyata pintar memijit ya ....” jawab Yuna yang memang menikmati pijitan itu.


Zeen diam-diam menyerigai mendengar ucapan itu, 'Bukan hanya enak dipijit saja Yuna ... tapi juga berolahraga panas bersamamu, rasa enak itu pasti tiada taranya.' Zeen bergumam dalam hati, sesekali tertawa kecil.


TBC.


Jangan lupa komen, like, vote dan poin seiklasnya saja. Biar Author tambah semangat💗

__ADS_1


__ADS_2