Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 150


__ADS_3

...***...


Zeen memegangi punggungnya yang terasa sakit, untung dia jatuhnya tak telungkap. Jika itu terjadi maka tamatlah riwayatnya karena ia saat ini tengah membawa buang mangga didepan perutnya.


Kini Zeen dibawa kedalam rumah dan saat ini tengah duduk disalah satu sofa yang ada pada ruang tengah.


“Mas ... masih ada yang sakit gak? Kalau masih kita pergi ketukang urut aja biar yang sakit diurut.” Usul Yuna yang saat ini berada disamping Zeen.


Zeen mengeleng, lalu tersenyum menatap Yuna. “Engak kok sayang, mas udah baik-baik aja kok. Tidur sebentar pasti udah enakan.”


“Bener?” tanya Yuna merasa tak yakin.


Zeen mengangguk, “Iya sayang ... mending kita pulang aja ya? Udah malem takutnya nanti Mama sama Papa nyariin kita.”


Yuna mengangguk menyetujui ajakan pulang Zeen.


Zeen lalu mengalihkan pandangannya pada dua pasutri pemilik rumah itu yang ada didepanya. “Om, tante, kami pamit pulang sekarang ya? Dan terimakasih mangganya saya ngambil banyak tadi.”


“Ngak nginap disini aja Zeen? Kebetulan disini masih ada kasur yang kosong, masih bersih juga kok jadi kamu dan Yuna bisa menempatinya.” Usul Eva.


Zeen tersenyum ramah, “Engak tante. Lain kali jika saya datang kesini kami akan menginap. Sekarang kami mau pulang dulu soalnya tadi belum sempat minta izin Mama sama Papa, takutnya mereka nanti nyariin kita.” Jelas Zeen menolak dengan lembut tawaran.


Eva menanggapi senyuman itu. “Yasudah kalau begitu. Sesuai ucapan kamu ya? Pokoknya kalo kalian jalan-jalan lagi kesini ... harus menginap disini. Kalian ini juga sudah tante anggap anak sendiri jadi gak perlu malu dan sungkan. Bukan begitu pah?”


Sigit mengangguk menanggapi ucapan istrinya. “Ya ... betul apa kata kamu Mah, kalian berdua tak perlu merasa sengkan dan tak enakan sama kami. Anggap aja kami ini adalah keluarga kedua kalian, jadi kalau kalian butuh bantuan gak perlu sungkan-sungkan lagi.” timpalnya.


Zeen dan Yuna saling berpandangan, keduanya tersenyum lalu mengangguk bersama.


“Ya om, tante, terimakasih sudah menganggap kami sebagai anak sendiri. Kami berdua sangat terharu mendengarnya. Yasudah kalau begitu kami pamit dulu. Selamat malam om! Tante.” Pamit Zeen.


“Selamat malam juga buat kalian berdua ....” kedua sepasang suami istri itu menjawab berbarengan dan mengantar Yuna dan Zeen hingga keluar dari pekarangan rumah mereka.


Eva menatap bahagia kedua suami istri muda itu. Entah kenapa ia merasa hangat ketika melihat Yuna dan Zeen akur dan senantiasa selalu menunjukan keromantisan mereka didepan umum.

__ADS_1


“Mereka berdua cocok banget ya Pah? Yang satu usil, yang satunya lagi tukang ngambekan.” Ucap Eva terkekeh pelan.


Sigit melirik istrinya yang sedang tertawa, kemudian pria paru baya itu merangkul pundak istrinya dengan sangat mesra.


“Iya Mah, cocok banget! Sampai-sampai tak akan pernah ada yang bisa memisahkan mereka.” Jawab Sigit lalu membawa istrinya masuk kedalam rumah.


°


°


°


°


Disatu sisi, Zeen dan Yuna kini tengah berjalan santai dijalanan. Mereka sengaja melambatkan jalan mereka guna untuk menikmati suasana malam yang begitu romantis saat bintang-bintang yang terlihat begitu banyak diatas langit sana.


Zeen mengandung mesra tangan istrinya, sekaligus membawa beban-beban yang ada didalam kaosnya.


“Aku petik mangganya banyak banget loh sayang? Gimana hebatkan aku? Sampai-sampai bajuku ini tak muat saat membawa mangga-mangga ini.” Celetuk Zeen dengan raut bangganya.


“Wah ... bener mas, banyak banget. Tapi sayangnya mungkin aku tak memakan semuanya mas.”


Seketika Zeen menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Yuna dengan tatapan bingung.


“Kenapa gak dimakan semua?” tanyanya.


“Ya gak mungkin aku makan semuanya dong mas? Yakali sebanyak itu mau aku makan? Mending kita bagikan saja sama para pekerja dirumah. Habis itu mas Zeen juga harus bantu Yuna habiskan mangga itu, siapa suruh ngambilnya banyak banget?” Yuna tiba-tiba saja mengerut kesal dan meninggalkan Zeen begitu saja. Sehingga membuat Zeen membatu ditempatnya.


Zeen menatap sendu mangga-mangga yang ada didalam bajunya. “Padahal aku udah berjuang banget buat dapetin mangga-mangga ini? Haruskah dibagikan kepada orang lain?” gumam Zeen mendramatis. “Mungkin ini yang dimaksud oleh om Sigit, jika kita harus banyak-banyak bersabar menghadapi wanita hamil. Apalagi Yuna tengah hamil kembar? Kemungkinan hormon wanita itu meningkat pesat.” Gumam Zeen menghela nafas pasrah bahkan ia tak tahu jika Yuna saat ini sudah memasuki pekarangan rumah dan meninggalkannya dijalanan seorang diri.


“Loh? Aku ditinggal? Sayang ...!!!” teriak Zeen yang langsung tersadar dan langsung berlari menyusul Yuna.


°

__ADS_1


°


°


Yuna yang hampir mencapai gagang pintu utama, menghentikan langkahnya tiba-tiba saat melihat sebuah kerjangan kecil yang berada pas didepan pintu.


“Apa itu? Apa itu keranjang buah? Mungkin bibi lupa bawa ya?” gumam Yuna bertanya-tanya, lalu mengambil keranjang itu dan tak sengaja ia melihat sebuah kertas kecil yang digulung terselip diantara lubang-lubang keranjang itu.


Yuna membuka perlahan gulungan kertas itu, karena dirinya beranggapan jika kertas itu hanya berisi total harga saja dari keranjang itu.


Bukalah keranjang ini. Ada sesuatu kejutan untukmu didalamnya.


Begitulah isi dari tulisan itu yang membuatnya penasaran sekaligus bertanya-tanya. “Apa ya isinya?” gumam Yuna lalu perlahan membuka keranjang itu untuk melihat apa yang ada didalamnya.


Saat melihat isi keranjang itu, tiba-tiba Yuna langsung melempar ya, dan refleks berjongkok ditempatnya sambil menutup kedua telinganya.


“Sayang? Kenapa kamu sayang? Kenapa duduk disini? Ada yang sakit?” Zeen yang baru saja sampai tepat didepan rumah itu merasa bingung melihat tingkah aneh Yuna. Dirinya pun semakin bingung kala melihat tubuh wanita bergetar sambil mengeluarkan keringat didahinya.


“Sayang? Kenapa? Ada apa yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang ya? Aku takut kamu kenapa-napa.” Zeen mulai merasa kalut melihat Yuna yang hanya diam saja.


“Sayang ... ada apa denganmu? Coba bilang padaku, apa yang sakit?” Zeen menarik kedua tangan Yuna yang ada ditelinganya, lantas saat mereka berdua saling bertemu pandang Yuna langsung memeluk tubuh Zeen dengan tubuh yang masih bergetar.


“Mas ... aku tadi terkejut, k-keranjang itu, keranjang i-tu ....” Yuna terbata-bata tak sanggup untuk mengucapakanya.


“Keranjang apa sayang?” Zeen kemudian mengikuti arah tunjuk Yuna, ia pun melihat ada semua keranjang kecil yang tergeletak tak jauh darinya.


“Keranjang itu isinya menakutkan mas ....” ucap Yuna lalu menelusupkan kepalanya tepat didepan dada bidang milik suaminya.


“Sssst sudah tenang ya? Aku ada disini, jadi kamu gak perlu khawatir lagi ....” Zeen yang penasaran apa yang ada pada keranjang itu mulai mengambilnya dan melihat apa isi dari keranjang itu yang membuat istrinya ketakutan seperti itu.


Saat sudah melihatnya, Zeen pun dibuat melotot. Pasalnya didalam keranjang itu terdapat tikus mati yang sudah tersayang lehernya, serta jarum-jarum kecil yang ditusuk-tusukan dibagian perut tikus itu.


“Shit!” desis Zeen mengeram kesal. Lantas melemparkan keranjang itu kesembarang arah beserta isi-isinya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2