
...***...
“Sebelum kau ingin menyelakai istri dan kedua anakku! Maka aku yang terlebih dahulu memusnahkanmu!” teriak Zeen yang mana kala membuat orang yang melihat sampai bergidik ngeri. Bagaimana tidak? Jika saat ini Zeen memperlihatkan aura yang tak pernah diperlihatkan oleh orang lain sebelumnya.
Bahkan Albaret sang Papa yang melihat putranya merasa banga.
“Dialah didikanku!” ucap Albaret dengan bagai sampai menepuk-nepuk dadanya.
Firo, Bram, dan Yudas yang melihat itu hanya bisa mengelengkan kepala.
“Apakah pamanmu memang seperti itu sifatnya?” tanya Yudas pada Firo.
Firo mengedikan kedua bahunya acuh, “Ya begitulah.”
Laura terus merintih kesakitan saat tangannya terus saja mengeluarkan darah segar, tentu darahnya akan terus keluar jika peluru yang ada didalam telapak tangannya tak segera dikeluarkan. Bahkan rasa sakitnya tak seberapa dengan tususkan pisau yang ia bawa untuk menyelakai Yuna. Akhirnya rencana liciknya itu digagalkan oleh Zeen yang tepat waktu datang kesana.
“Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku Zeen?!” teriak Laura dengan derai air mata menatap tajam Zeen. “Kau melakukan ini hanya untuk menyelamatkan wanita sialan ini!” teriaknya lagi sambil menunjuk kearah Yuna.
“Jaga bicaramu! Kaulah yang wanita sialan! Dasar wanita licik!” teriak Zeen yang sangat emosi, bahkan ia saat ini terus menekan amarahnya yang kapan saja akan terlampiaskan. “Cih! Aku bahkan sangat jijik melihat wajahmu! Bagaimana bisa selama dua tahun aku menjalin hubungan dengan wanita jahat sepertimu? Sungguh ironis aku terlalu bodoh sehingga termakan rayuan dan ucapan manis darimu!”
Laura yang tadinya menangis itu, langsung merubah raut wajahnya dan terkekeh sinis menatap Zeen. “Baru sadar? Jika kau memang sangat bodoh!”
Emosi Zeen yang sudah sangat memuncak itu segera kembali menodongkan senjata apinya kearah Laura. “Matilah kau! Kau tak cocok hidup didunia ini!” teriaknya.
Namun aksinya itu digagalkan oleh Albaret, yang langsung berlari tergopoh-gopoh menghampiri sang putra, juga diikuti Firo Bram dan Yudas yang ada dibelakangnya.
“Tenagkan dirimu nak ... jangan mengambil tindakan sendiri, ingat! Jangan jadi *******. Papa takut bayimu yang belum lahir akan mengikuti sifat ayahnya.” Jelas Albaret sambil mengambil senjata itu dari tangan Zeen.
“Cih! Disaat begini Papa baru memangilku nak?” gumam Zeen mengerutu kesal.
Albaret hanya tertawa, lalu kemudian ia menepuk bahu putranya. “Sudahlah! Cepat bebaskan istrimu itu! Kasihan, pasti menantuku itu belum makan. Jadi cepatlah bebaskan Yuna biar Papa yang akan urus sisanya.”
Zeen yang mendengar itu langsung tersadar, ia pun mengalihkan pandangannya pada sang istri yang saat ini tengah terikat sambil menatap sendu kearahnya.
“Baiklah Pah! Kuserahkan semua pada Papa.” Ujar Zeen langsung lari kearah istrinya.
“Ya Zeen! Biar Papa yang akan membereskan ular racun ini!” timpal Albaret dengan berteriak.
Yuna menatap haru pada pria yang bersetatus sebagai suaminya itu. Dirinya merasa bahagia bahwa doa-doanya terkabulkan, naluri seorang ibu hamil memang tepat sasaran jika suaminya tak akan terjadi apa-apa. Dan sekarang pria itu sedang berjalan kearahnya.
__ADS_1
Zeen yang sudah sampai didekat Yuna itu langsung melepaskan ikata pada tangan dan kaki istrinya. Ia merasa iba sekali dengan kedua tangan dan kaki Yuna yang sangat memerah akibat tali tambang yang super besar itu.
“Maafkan aku sayang .... aku terlambat menemukanmu.” Ucap Zeen yang langsung membawa tubuh Yuna kedalam pelukannya. Ia mengeratkan tangannya pada punggung Yuna, Zeen benar-benar rindu dengan tubuh berisi istrinya.
Yuna tersenyum didalam pelukan itu, ia pun membalas pelukan itu tak kalah eratnya. “Tak apa Mas ... yang penting kamu datang menyelamatkanku dan melihatmu baik-baik saja sudah cukup bagiku.” Ucap Yuna dengan tulus.
“Yuna ....” Zeen semakin mengeratkan pelukannya, alhasil membuat perut Yuna agar tertekan.
“Sudah mas, jangan terlalu erat peluknya. Kamu gak mau kan? Kalau anak kita nanti jadi gepeng?” ujar Yuna dengan nada bercanda.
Namun hal itu malah ditanggapi serius oleh sang suami. “Oh ya ampun anak-anaknya daddy!! Maafkan daddymu yang bodohmu ini, kalian jangan jadi gepeng ya? Daddy gak mau kalo kalian nanti tertipu angin kalo sangking tipisnya?” pekik Zeen mendramatis.
Yuna yang mendengar itu hanya bisa memutar bola matanya malas.
Zeen kembali menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu, kemudian ia mengelus pipi Yuna yang agak lembam karena sebuah tamparan dari Lena.
“Pasti ini sakit ya?” tanya Zeen dengan nada sedih namun sedetik kemudian ia mengeram kesal. “Benar-benar wanita iblis! Berani-beraninya menyakiti istriku! Rasanya ingin sekali kulenyapkan para wanita itu!”
“Sudah mas jangan ngomong jelek seperti itu!” Yuna mengelus-elus lengan suaminya untuk sekedar menenangkan.
Namun tiba-tiba ekor mata Yuna mendapati lengan Zeen yang sempat terkena cakaran harimau itu. “Ini pasti karena harimau itu?”
“Laura sempat bilang tadi mas, tapi aku percaya kamu akan baik-baik saja. Tapi tetap tak akan mudah menghindari serangan dari harimau itu, ini pasti sakit.” Yuna menyentuh pelan luka cakaran yang sudah mengering itu. Ada rasa sakit saat melihat suaminya terluka.
“Kita sepertinya harus cepat pergi dari sini mas, biar luka kamu datang disembuhkan dengan cepat,” usul Yuna.
“Iya ... kita akan cepat pergi dari sini, mas juga khawatir sama kamu dan baby-baby kita yang pasti kelaparan. Nanti pas sampe rumah kita makan yang enak-enak biar mas yang masak!” ucap Zeen dengan mengebu.
“Benarkah? Mas bisa masak?”
“Iya dong tentu saja!” pekik Zeen penuh percaya diri.
“Ehem! Lanjutkan nanti mesra-mesraanya, sekarang kita pulang! Agar Yuna cepat istirahat!” sela Yudas pada kedua pasutri itu. Jika tak segera dihentikan pasti obrolan mereka akan terus panjang.
“Kak Yudas? Kakak juga ada disini?” tanya Yuna yang baru melihat sosok Yudas.
Yudas tersenyum sambil mengelus lembut rambut Yuna. “Iya Yuna ... kakak disini ingin menyelamatkanmu juga, Papa juga ikut kesini hanya pengen lihat kamu selamat.”
“Paman?” Yuna merasa tak percaya sekaligus merasa terharu. Dimana para keluarganya menghawatirkannya seperti itu.
__ADS_1
“Ya, orang rumah juga sedang menghawatirkanmu Yuna. Jadi, kita pulang sekarang agar orang rumah menunggu lama.”
Yuna mengangguk semangat. “Ya kak, ayok kita pulang sekarang!”
Zeen yang tadi diam itu segera merangkul istrinya, dan membawanya untuk pergi dari sana.
Namun langkah mereka berhenti saat mendengar suara teriakan dari Laura.
“Lepaskan aku! Jangan bawa aku brengsek!” teriaknya yang berusaha memberontak dari tangkapan dua orang polisi yang pada saat itu sudah berada ditempat lokasi. Tentu saja itu merupakan bagian rencana dari Zeen.
Bahkan Lena pun sekarang sudah dibawa polisi, wanita itu sempat melarikan diri dari penjara dan kini menjadi buronan para polisi.
Laura yang tengah memberontak itu tak sengaja melihat kekasih gelapnya, berada tak jauh darinya.
Laura segera berlari mendekati pria itu, namun pergerakannya terbatas akibat kedua polisi masih memegangi tangannya.
“Antoni! Sayang, tolong ... tolong lepaskan aku dari bajingan-bajingan ini.” Pinta Laura dengan wajah bahagia menatap sang kekasih. Ia merasa percaya diri jika Antoni akan bisa membebaskanya karena sebelumnya ia bisa bebas dari jeratan polisi berkat kekasih gelapnya itu.
Antoni yang berada dihadapan Laura itu hanya diam, sambil mengamati Laura lamat-lamat.
“Tidak untuk sekarang dan untuk selamanya Laura!” ucap Antoni dengan ekspresi dinginnya.
Bahkan Laura sampai kaget mendengarnya.
“Bantuanku untuk hari ini saja! Aku sudah membantumu untuk menculik istri dari teman baikku!” jelasnya lagi dengan tegas.
“A-apa maksudmu? Te-teman? Siapa yang teman?” tanya Laura terbata merasa bingung.
“Tentu saja Zeen Albaret itu adalah teman baikku! Dan aku tak menyangka jika selama ini kau menjalin hubungan dengan temanku sendiri! Jika aku tau, mungkin aku sudah menendangmu sejak dulu. Menyesal aku termakan oleh rayuan mautmu itu! Dan harus kehilangan dua anakku dan istriku yang berharga!”
Antoni sampai mengelengkan kepala saat menyadari kebodohanya itu. Ia membuang istrinya yang selama ini menemaninya selama bertahun-tahun. Dan menerima masa lalunya yang kelam dulu.
Kalian pasti masih ingat dengan ucapan Zeen yang lalu? Ya, dialah Antoni teman lama Zeen yang merupakan mantan gangster dan mafia. Kini mantan penjahat itu sudah berubah menjadi sosok ayah yang penuh dengan kasih sayang, beda dengan dulu yang penuh kekejaman dan darah.
Tapi siapa sangka? Jika sosok ayah penyayang itu juga telah termakan oleh rayuan maut dari sang wanita ular? Bahkan sampai rela kehilangan istri dan anaknya?
Dulu Zeen juga pernah merasakan itu, tapi ia segera menyadarinya dan memilih istrinya walau waktu itu sedikit terlambat.
'Aku sangat bersyukur tak bersama wanita licik itu untuk selama-lamanya,' gumam Zeen dalam hati. Sambil menatap istrinya dengan tatapan bahagia.
__ADS_1
TBC.