
...***...
“Gak boleh! Pokoknya kamu jangan ganggu Papa, sana! Masuk kekamar sendiri jangan masuk kekamar Papa. Enak aja main masuk-masuk.”
“Yaampun Papa? Masa Zeen gak boleh masuk? Sebentar aja sih Pah, Zeen pengen ketemu Mama. Atau panggil aja Mama kesini.”
“No, no, no. Jangan ganggu Papa pokoknya.”
Saat Albaret ingin menutup pintunya, Zeen pun dengan sigap langsung menghentikan itu dengan memegang pintu itu, dan hal itu membuat keduanya seperti memperebutkan sebuah pintu.
“Ada apa sih kalian berdua?”
Nampak Vina berjalan kearah mereka dengan menggunakan jubah mandi dan dengan wajah yang basah akibat baru saja membersihkan diri.
Kedua lelaki itu berhenti saat mendengar suara wanita tersayang mereka.
Albaret langsung menangkup kedua pipi istrinya, “Sayang? Kenapa kamu sudah mandi duluan? Kan kita masih ada ronde selanjutnya sayang?” tampak wajah Albaret memelas ketika melihat istrinya yang sudah bersih dan wangi.
Vina memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan frontal itu. “Aku gerah Pah, jadi aku mandi duluan saat kamu lagi debat sama Zeen.” Terang Vina sambil melipat kedua tangannya didada.
Albaret yang mendengar itu mendengus kesal, lantas pandangannya ia alihkan kembali kearah Zeen.
“Ini semua gara-gara kamu Zeen!” kesal Albaret sambil menatap tajam putranya.
Zeen nampak membeo, “Apa salahku Pah? Kenapa Papa menyalah-nyalahkan aku?”
“Iya ini salah kamu. Gara-gara kamu Papa gak jadi mantep-mantep lagi sama Mama kamu.” Gerutunya yang membuat Zeen langsung menghela nafas jengah.
“Udah Pah! Ngomongnya jangan yang fulgar, fulgar terus dong. Malu tau sama anak sendiri.” Ucap Vina sambil mencubit pinggang suaminya karena merasa gemas dengan tingkah mesum suaminya itu.
“Nah dengerin tuh Pah,” tinpal Zeen sambil tertawa kesenangan.
“Kamu juga Zeen!” Vina kini menegur Zeen sambil berkecak pinggang dan menatap tajam putranya.
Zeen langsung kicep dan menghentikan tawanya.
“Kamu ini, sudsh besar kok tingkahnya kaya anak kecil! Mau Mama kasi pempres lagi kamu ha? Mau jadi bayi lagi?”
Zeen hanya menundukkan kepala tak berani menjawab ucapan itu.
“Sudah mau punya bayi kok tingkahnya kayak anak kecil.” Ujar Vina mengelengkan kepala.
__ADS_1
Sedangkan Albaret yang mendengar itu bergantian menjadi tertawa cekikikan. Hal itu kembali membuat Zeen mendengus kesal.
“Mama ... sudahi pembicaraan itu. Zeen kesini mau tanya sama Mama, diama istriku? Kenapa dia tak ada dikamar?” tanya Zeen mengalihkan pembicaraan.
“Loh? Yuna gak bilang sama kamu lewat pesan?” Vina balik bertanya.
Zeen mengelenh menjawab pertanyaan itu. “Tadi hp Zeen mati Mah, lupa ku isi baterainya tadi.”
Vina mendengus mendengar itu. “Pantesan, tadi Yuna udah telfon kamu tapi kamu gak angkat. Jadi Mama suruh Yuna ikut kerumah tante Eva deh,”
“Lah? Kok jadi tante Eva Mah? Kan aku nanya dimana istri Mah.”
Vina yang mendapati putranya yang tak peka itu dibuat mengeleng. “Bener-bener anak Mami ini, kadar kepekaanmu jadi menurun ya? Tadi Mama bilang kalau Mama nyuruh Yuna buat ikut tante Eva kerumahnya. Jadi sekarang istri kamu itu sedang dirumah tante Eva dan om Sigit.” Jelas Vina panjang lebar yang mampu membuat Zeen mengangga.
“Ngapain Yuna kesana Mah?”
Sejenak Vina melirik suaminya, Albaret yang mendapati tatapan itu hanya diam saja tak paham juga.
Akhirnya pun Vina menghela nafas panjang, lalu mulai menjelaskan tentang pertanyaan Zeen.
“Yuna sudah menerima tante Eva sebagai orangtuanya Zeen!”
“Yuna sudsh menerima orangtuanya Mah?”
“Apa maksudnya itu Vina?”
Kedua pria itu kembali berbicara bersamaan yang mana kala membuat Vina kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu.
“Ah! Kalian ini jangan membuatku pusing lagi apa? Benar-benar anak dan bapak sama aja sifatnya.” Gerutu Vina mengelengkan kepala.
“Jawab pertanyaan ku dulu Mah,” pinta Zeen sedikit merengek.
“Kan tadi Mama sudah bilang jika Yuna sudsh menerima om Sigit dan tante Eva sebagai keluarganya.”
Seketika jawaban itu membuat Zeen berdebar dan ia langsung berlari menampaki tangga, dan tujuannya saat ini tentu untuk menyusul istri tercintanya yang tak kunjung pulang padahal sudah larut malam.
“Dasar anak itu.” Gumam Vina mengeleng kepala melihat tingkah anak semata wayangnya.
“Sayang, kamu berhutang pertanyaan dariku.”
Vina kembali mengalihkan pandangannya pada sang suami, lantas tanpa basa-basi Vina langsung merangkulkan tangannya tepat dileher kokoh sang suami.
__ADS_1
“Nanti Mama jelasin kok, sekarang kita istirahat dulu ya? Pasti kamu sudah capek pulang dari rumah sakit? Apalagi kamu belum makan sehabis pulang tadi?”
Albaret yang mendengar itu tersenyum penuh arti. “Kalau begitu aku akan memakanmu. Maka aku akan kenyang sampe besok.” Goda Albaret sambil mengerlingkan matanya pada istrinya.
“Ah! Papa ini, padahal kan tadi udah dua ronde, masa mau nambah lagi? Kan nanti Mama yang kecapean dong.” Gerutu Vina sambil mengerucutkan bibirnya.
Albaret terkekeh sejak, lantas kemudian ia mengecup singkat kening istrinya.
“Hanya dua ronde saja tak cukup sayang.” Albaret mulai mengendong istrinya menuju kasur. Kemudian mulai membaringkannya dikasur itu agar bisa mencumbui tubuh istrinya secara leluasa.
Vina yang mendapati itu mengekiat kegelian. “Tapi Pah ....”
“Tenang aja sayang. Papa janji akan pelan-pelan kok.”
°°°°
Disatu sisi, kiki Zeen telah sampai tepat didepan pintu rumah tante Eva dan juga om Sigit. Ia segera mengetuk pintu itu yang mana ada asisten rumah itu yang membukakan.
“Mana istriku Yuna?” tanya Zeen tanpa berbasa-basi.
“Non Yuna ada diruang tengah bersama nyonya dan tuan, tuan muda.” Jawab asisten rumah tangga itu.
Lantas Zeen yang mendengar jawaban itu kembali melangkahkan kakinya menuju Yuna berada, namun sejenak ia memberhentikan langkahnya kala melihat para pengawal Yuna yang ia pekerjakan sudsh berdiri jauh dari ruang tenang tempat Yuna berada.
“Kalian? Kenapa kalian tak melapor aku saat istri ku kesini? Kan aku sudah bilangin pada kalian untuk selalu menghubungiku tentang istriku. Tapi kenapa kalian tak melakukannya?” Selidik Zeen memicingkan matanya.
Kelima pengawal Yuna itu saling membungkuk.
“Maafkan kami tuan! Kami sempat lupa tadi.” Ucap mereka.
Zeen hanya bisa mendengus sebal, entah berapa kali ia dibuat mendengus sambi dibuat kesal yang terpasti itu sudah beberapa kali.
“Yasudah, kalian boleh pergi dari sini dan mulai kerja kembali besok pagi-pagi. Tapi ingat! Kalian harus mengingat ucapanku barusan.” Tekan Zeen bersuara tegas kepada para pekerjaannya.
“Baik tuan!”
“Yasudah, kalian boleh pergi.” Usir Zeen begitu saja. Namun tentu dituruti oleh pekerjaannya itu dan kini tinggallah Zeen yang masih berada ditempatnya.
“Oke, aku akan menyusul istriku. Dimana dia sekarang ya?” gumam Zeen dengan jantung yang bergemuruh ingin segera mendekap tubuh mungil Yuna.
TBC.
__ADS_1