Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 30


__ADS_3

Sesuai apa yang diucapkan oleh Zeen. Kini Yuna yang baru bekerja dirumah sakit besar itu, dibuat kelelahan.


Bagaimana tidak lelah jika Zeen tak pernah mengizinkan ia, sejenak untuk sekedar beristirahat saja. Sepertinya ucapan Zeen itu tak pernah main-main ketika ia mengatakan pada Yuna. Jika pekerjaan dirumah sakit besar itu akan lebih berat dan melelahkan, terbukti! Ketika Yuna yang mengikuti Zeen dari belakang itu dibuat tak karuan. Zeen selalu menyuruhnya untuk mencatat segala macam perkembangan pasien yang didatanginya, kemudian setelah itu barganti keruangan pasien lain. Dan seterusnya berganti dan berganti keruangan lain, sampai dua puluh ruangan banyaknya yang mereka kunjungi satu hati ful itu.


Bahkan Yuna yang ingin sekedar medudukan bokongnya sejenak itu dibuat frustrasi, saat Zeen tiba-tiba saja memanggilnya dan membuat ia tak jadi medudukan diri. Pinggang Yuna serasa mati rasa, sangking pegalnya itu. Ia sungguh ingin sekali duduk sebentar saja.


Ketika mereka memasuki ruangan yang kedua puluh satu, Yuna melihat salah satu bangku yang agak jauh dari brangkar pasien. Yuna melirik sebentar kearah Zeen, matanya memicing sebal melihat Zeen yang dengan santainya medudukan diri disalah satu kursi dekat brangkar pasien. Ia sungguh kesal pada Zeen yang bisa beristirahat sejenak ketika memeriksa pasiennya itu, sedangkan dirinya yang ingin meminta izin untuk minum air putih saja tak diizinkan.


Yuna menghela nafas kasar, kemudian ia berjalan belan tak sampai membunyikan suara mendekati salah satu kursi disana. Matanya pun berbinar-binar ketika kursi itu berada sangat dekat padanya.


Oke, kali ini akan langsung duduk dikursi itu, dan langsung memanjakan bokongnya itu.


"Hahhh....." Yuna sungguh bernafas lega saat ini, betapa merindunya ia pada sebuah kursi saja.


Ya, dirinya berhasil medudukan bokongnya dikursi itu, tak seperti sebelum-sebelumnya yang gagal karena Zeen yang terus meneriaki namanya.


"Aduh... Rasanya seperti, udah lama ngak duduk dikursi sederhana ini. Entah mengapa aku rindu banget." gumam Yuna pada dirinya sendiri.


"Oke Yuna, tolong kamu catat semua perkembangan ini, jangan sampai ada yang terlewat kamu mengerti?" ucap Zeen. Zeen masih fokus pada pasiennya itu, sampai ia menghentikan aktivitasnya ketika menyadari jika ucapannya tak disahuti oleh Yuna, asistennya itu.


Zeen mengerutkan alisnya,"Yuna?" panggilnya sekali lagi, namun tak ada respon. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya menatap kebelakang, ia memlototkan matanya ketika mendapati Yuna yang dengan leha-leha tengah duduk santai, tak jauh darinya itu.


Yuna yang tak sadar, ketika Zeen tengah menatapnya itu. Malah memejamkan matanya karena kantuk tiba-tiba menyerang dirinya itu. Wajar saja jika Yuna merasa ngantuk, karena hari sudah menjelang malam dan jam sudah menuju pukul delapan malam yang artinya mereka belum beristirahat sampai saat itu.


"Sepertinya asisten dokter kelelahan, terlihat sekali dengan wajah lesunya itu." ucap seorang pasien yang tengah ditangani oleh Zeen itu.


Zeen menatap pasien itu dengan senyum ramahnya, "Hahaha, maafkan asisten saya. Jika dia menggangu ketenangan anda karena sikap tak sopannya itu." ujar Zeen.


"Tidak apa-apa dok! Asisten dokter tak menggangu sama." jawab pasien itu.

__ADS_1


Zeen menganguk menanggapinya.


"Yasudah, saya sudah mengecek keseluruhan. Keadaan anda sudah lebih membaik, sepertinya anda besok bisa diperbolehkan untuk pulang. Untuk sementara anda harus meminum obat dengan rutin, saya akan memberikan catatan resep obat pada anda nantinya. Tolong setelah pulang dari rumah sakit nanti, jangan dibuat kelehan dulu agar kesehatan anda kembali fit." jelas Zeen pada pasiennya itu.


"Baik dok, saya mengerti."


"Baiklah, kalau begitu untuk hari ini sampai disini saja. Beristirahat dengan tenang bu! Saya akan kembali lagi besok pagi untuk mengecek keadaan anda lagi."


"Baik dok, terimakasih." jawab pasien itu.


Zeen menganguk, "Itu sudah tugas saya sebagai seorang dokter." ucapnya lalu melangkahkan kalinya menuju kearah Yuna yang tengah memejamkan matanya itu.


Zeen mendengus kesal melihat Yuna yang dengan damainya tertidur dikursi itu.


"Hei! Bangun. Kau mau terus tidur disini. Bangun.." Zeen membangunkan Yuna dengan mencolek-colek tangan Yuna menggunakan pulpen yang ia pegang itu.


Yuna melenguh, ia mengerjapkan matanya karena merasa terusik saat ia baru saja terlelap itu.


"Dasar! Baru saja mulai kerja, udah main tidur-tidur aja. Kamu disini niat kerja gak sih? Jika gak niat, dan males-malesan kayak gini... Mending kamu pulang aja sana." ucap Zeen ketus, tanpa menunggu jawaban dari Yuna itupun ia langsung melangkahkan kakinya dan keluar dari ruangan itu.


Yuna hanya bisa menghela nafasnya pasrah, ia bahkan sudah bekerja keras hati ini. Sepertinya kerja kerasnya tak dianggap oleh Zeen sama sekali.


Ia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menyusul Zeen yang sudah lebih dulu meninggalkannya.


Baru saja ia melangkah untuk menghampiri Zeen yang tengah berbincang pada seorang dokter perempuan, tiba-tiba saja langkahnya terhenti kala mendengar suara yang seperti memanggil dirinya.


"Loh kamu?"


Yuna mengalihkan pandanganya, dan melihat sosok pria bertubuh tinggi menghampiri dirinya itu.

__ADS_1


"Kamu masih disini?" tanya pria itu.


"Kita yang beberapa jam yang lalu bertabrakan, kan?" lanjutnya.


Yuna yang masih ingat itu menganguk pelan. "Iya saya yang tadi bertabrakan dengan anda. Saya disini karena saya bekerja dirumah sakit ini." jawab Yuna.


"Oh! Iya... lupa. Tadi kamu sempet bilang hehe... Maaf ya saya suka lupa." ucap pria itu, yang merupakan salah seorang dokter dirumah sakit itu.


"Hem, gak papa." jawab Yuna.


"Oh! Iya, kamu disini bekerja sebagai apa?" tanyanya.


"Saya sebagai asisten dokter Zeen! Dokter." jawab Yuna.


Dokter itu menganguk mengerti.


"Hemm dokter Zeen ya." gumamnya.


"Mari berkenalan!" ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Yuna pun menerima uluran itu.


"Fadli Prastya!"


Yuna tersenyum mendengarnya.


"Pake nama lengkap ternyata." ucapnya terkekeh.


"Saya, Yuna Saily." ujar Yuna.

__ADS_1


"Yuna Saily? Hemm... Nama yang indah." ucap dokter itu dengan memperlihatkan senyum menawannya.


TBC.


__ADS_2