
...—☘️Selamat Membaca☘️—...
...***...
Mendengar suara kebisingan dari luar, Yuna yang baru saja terlelap dari lelahnya akibat terus berfikir itu, terbangun. Ia mengucek kedua matanya karena merasakan kejangalan dari bulu matanya itu. Mungkin karena efek menangis.
“Sebaiknya aku cuci mata dulu,” gumam Yuna, lalu bergegas bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi yang memang sudah tersedia didalam kamarnya.
Selesai dari kamar mandi, ia pun keluar dari kamarnya dan tak sengaja melihat jam dinding yang sudah menunjukan angka jam delapan malam. Yuna mengeleng kepala seketika.
“Apakah tidurku terlalu nyenyak? Sampai-sampai sudah malam begini?” gumamnya sendiri.
Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, dan membawa langkahnya itu menuju ruang tengah dimana sudah ada paman dan tantenya, serta pria tinggi nan tampan seperti pamanya juga ada disana. Ia sudah menganggap pria itu sebagai kakaknya.
“Paman, tante,”
“Loh Yun? Udah bangun kamu sayang?” tanya Winda dengan senyum mengembang berjalan menuju kearah Yuna.
Yuna mengangguk, “Iya tante ... Yuna jadi tak enak harus merepotkan kalian disini. Yuna sampai datang kesini secara dadakan, gak bilang-bilang sama paman dan tante dulu.” Tuturnya merasa tak enak.
“Udah sayang ... kamu gak ngerepotin sama sekali kok, malah tante seneng kalo kami datang kerumah, bunda juga udah kangen berat sama kamu.” Jelas Winda sambil mengelus rambut Yuna.
“Iya Yuna ... mau kamu tinggal lama disinipun gak masalah, kita mah malah seneng-seneng aja. Ya gak Pah?”
Bram mengangguk, “Iya, bener apa kata kamu Yudas. Papa paling setuju kalau Yuna tinggal disini.” Timpalnya.
“Terimakasih semuanya,” cicit Yuna merasa terharu. Ia tak menyangka didunia ini. Ia yang tak punya orangtua dan sanak sodara merasa bahagia ketika dipertemukan oleh mereka. Semua itu berkat neneknya yang memberikannya kasih sayang dan cinta, hingga sampai keluarga pamanya pun menerimanya dan menyayaginya. Betapa beruntungnya ia.
“Sama-sama sayang ... lebih baik kita makan malam yuk! Pasti laper karena belum makan sejak tadi,” ajak Winda.
“Okeh ... Yudas juga sudah laper banget, kita otw makan sekarang.” Timpal Yudas dengan semangatnya.
Winda mendengus, “Yang diajak siapa, yang jawab siapa. Dasar kamu Yudas soal makan aja kamu gercep.”
Yudas melengos, “Biarinlah Mah ... Yudas suka makan agar Yudas cepat tinggi!” ucapnya ngawur, langsung meninggalkan mereka menuju ruang makan.
“Udah tinggi! Mau ditingiin gimana lagi kamu? Kayak tiang? Kalo kamu tingginya seperti itu Mama gak akan akui kamu sebagai anak Mama. Ih ... Mama mah amit-amit aja, serem kalo dibayangin.” Jelas Winda bergidik.
Sedangkan Yuna dibuat tertawa, inilah yang ia suka dari keluarga pamanya, selalu penuh keceriaan dan dibumbui lelucon.
“Ya ... gak usah dibayangin lah Mah, bereskan?” santainya, yang sudah duduk anteng diruang makan.
“Sudah-sudah. Kalian kok malah pada ribut, kapan makan malamnya kalo begitu terus?” Bram mengeleng kepala.
🍂🍂
Selesai makan malam, mereka pun kembali kerang tengah dan tengah menonton televisi bersama.
“Oh ya Yun! Tadi Zeen datang kesini.”
__ADS_1
Yudas yang tadinya tengah asik pada ponselnya itu menengok kearah Bram, “Papa kok malah bilang sih!” kesal Yudas.
Bram menjulurkan lidahnya pada putranya, “Biarin dong, terserah Papa.” Ucapnya tertawa pelan.
“Mas Zeen datang kesini, paman?” tanya Yuna memastikan.
“Iya Yun! Dia kesini cari kamu, tapi si Yudas malah halangi.” Jawab Bram seadanya.
Lagi-lagi Yudas dibuat melotot. “Ah, Papa gak seru banget nih, pake bilang-bilang Yuna.”
“Ya suka-suka Papa dong,” ucap Bram mengabaikan kekesalan putranya.
Yudas mendesah pelan, menatap Papanya dengan perasaan kesal campur malas. Kemudian ia mengarahkan pandangannya pada Yuna.
“Dia memang kesini Yun! Tapi dia sudah pulang, aku usir tadi,” jelasnya dengan raut tak bersalah.
“Dasar anak titisan mendusa.” Gumam Bram namun masih didengar oleh istrinya.
Winda mencubit paha suaminya dengan perasaan gemas, “Begitu-begitu, dia tetap anak kamu Pah... kamu kok ngomongnya yang jelek-jelek sama anaknya.” Gerutu Winda kesal pada suaminya.
Bram mengusap pahanya yang terasa panas, “Ya siapa bilang dia bukan anak aku Mah? Dia itu hasil cinta kita berdua, mana mungkin Papa lupa sama anak sendiri, hemm?” ia merangkul mesra pundak istrinya. Sambil mencolek-colek dagu istrinya yang membuat Winda tersipu malu.
“Dasar orangtua sok abg.” Gerutu Yudas, jengah.
“Syirik aja kamu,” sungut Bram namun diabaikan oleh anaknya.
“Sudahlah Yun ... Kamu tak perlu mikirin pria itu lagi, pria bajingan kayak dia itu gak pantas untuk ditangisi. Bisa-bisanya sudah menikah malah berpacaran sama wanita lain.” Yudas berujar kesal.
“Oh! Yasudah sayang, kamu kekamar saja duluan.” Timpal Winda.
Yuna mengangguk, “Kalau begitu, Yuna pamit dulu.” Ujarnya langsung berlalu pergi meninggalkan mereka.
Ketiga insan itu terus melihat punggung Yuna yang sudah masuk kedalam kamar.
“Nah loh Yudas! Salah kamu itu, Yuna jadi gak nyaman gara-gara ucapanmu.” Tegur Bram pada putranya.
“Makanya sayang ... hati-hati kalau mau bicara,” sambung Mamanya.
Yudas menundukkan kepala sambil mengusap rambutnya dengan kasar, “Papa sama Mama nih ... kok ngeselin banget ya?”
🍂🍂
“Apa bener mas Zeen datang kesini?” gumamnya bertanya pada diri sendiri.
“Jika memang benar, pasti mas Zeen ingin menyalahkanku dang mengata-ngataiku atas pingsannya nenek Rima.”
Saat ini Yuna sedang berada dibalkon kamarnya, ia tengah menghirup udara segar sambil menjernihkan isi pikirannya.
“Yuna ....”
__ADS_1
Samar-samar Yuna mendengar suara yang begitu familiar ditelingganya.
“Yuna ....”
Lagi, suara itu kembali memanggil namanya. “Siapa yang memangilku?” gumamnya, lalu mencari sumber suara itu dari kanan kekiri. Namun tak ada juga sosok yang memanggilnya.
“Apa tante yang memanggil?”
“Yuna!!”
Suara itu tampak jelas, dan insting Yuna suara itu mengarah kebawah.
Pandangan Yuna kembali mencari suara itu, dan tebakannya benar jika suara itu berasal dari sosok yang sedang berdiri dibawah sana. Wajah sosok itu tak terlihat karena lampu disana begitu redup.
“Yuna, apa kau mendengar?!” teriak sosok itu lagi.
“Siapa ya?” tanya Yuna yang juga ikut berteriak.
“Zeen! Aku Zeen! Suamimu!”
“Hah? Suami?” gumam Yuna bingung.
“Iya Yuna ... aku suamimu, aku datang kesini untuk menemuimu dan membawamu pulang.” Teriak Zeen lagi.
“Yuna ... aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita.”
Yuna tak menjawab, ia hanya diam sambil mengamati.
“Yuna ... apakah kamu mau memberiku kesempatan itu?” tanya Zeen.
Yuna terdiam sambil menggigit bibirnya, ia bingung harus menjawab apa. Disatu sisi ia merasa gelisah dan takut, disisi lain ia merasa kasihan melihat Zeen dibawah sana. Apalagi langit yang mendung menandakan air hujan akan turun.
“Sebaiknya anda pulang saja! Hari sudah gelap, hujan akan turun sebentar lagi.” Teriak Yuna.
“Tidak! Aku tidak akan kembali sebelum kamu ikut bersamaku!”
“Pria ini keras kepala sekali,” gumam Yuna menggigit kukunya.
Semilir angin tiba-tiba menghembus wajahnya, dan sejurus kemudian hujan deras akhirnya turun juga.
“Astaga!” Yuna terkejut bukan main, dan kembali melihat Zeen yang masih saja belum beranjak dari tempatnya.
“Pulanglah mas–”
Brukk!!
Tubuh Zeen ambruk begitu saja, membuat Yuna kembali terkejut.
“Astagfirullah Alazim!” pekik Yuna, langsung berlari keluar dari kamarnya.
__ADS_1
TBC.