
"Halo, anak muda. Apakah dokter tua ini diizinkan untuk duduk disini?"
Yuna dan Fadli yang tadinya tengah bercanda gurau itu mengalihkan pandangannya pada sosok suara itu.
"Hah? Pa- ehem maksudnya dokter Albaret silahkan saja jika anda ingin duduk disini, tak akan ada yang melarang karena rumah sakit ini juga milik anda." ujar Yuna yang hampir saja menyebut kata 'papa' pada Albaret itu.
Albaret tersenyum mendengarnya, ia melihat Yuna sebentar kemudian ia mengeleng-gelengkan kepala.
"Maaf ya... Jika orangtua ini mengganggu kalian." ucap Albaret, kemudian ia menarik salah satu kursi itu dan mendudukinya.
"Hahaha, tak apa dokter Albaret. Saya merasa tersanjung jika anda mau saja duduk bersama kami." jawab Fadli dengan ramah.
Albaret mengalihkan pandangannya menatap dokter Fadli. "Tentu saja dong, walau bukan seorang pejabat tinggi pun, saya akan tetap duduk bersamanya. Asal kalian tau, walau saya pemilik rumah sakit ini. Saya tak akan pernah membeda-bedakan orang hanya karena status mereka." jelas Albaret tersenyum, berbanga pada diri sendiri.
Yuna tersenyum mendengar itu, 'Sayang... Putranya tak seperti orangtuanya.' batinnya.
Saat mereka tengah berbincang ringan itu, Zeen datang menghampiri mereka dan mendudukan diri disamping Albert, tepat didepan Yuna.
Zeen tak melirik sedikit pun kearah Yuna, ia hanya sibuk dengan hanpone yang ia pegang itu.
"Ayo... Lanjutkan sarapannya." ucap Albert.
Merekapun kembali melanjutkan acara makan mereka, tak ada suara lagi. Hanya ada suara sendok dan piring yang saling beradu.
"Oh, iya Yuna.."
"Hemm, ya dok?"
__ADS_1
"Terimakasih bekal yang kamu kasi tadi ya? Bekalnya enak, saya sangat menikmatinya." ucap Albert.
"Syukurlah jika dokter menyukainya." ucap Yuna tersenyum senang.
Fadli yang mendengar percakapan itu merasa bingung. Albaret yang melihat kebingungan dari Fadli itu tentu saja paham, namun ia tak mau menjelaskan. Ia hanya menanggapi dengan gelengan kepala.
"Oh iya, dokter Fadli. Bukankah itu bekalnya Yuna?" tanya Albaret, ketika ia melihat sebuah kotak berwarna biru tepat didepan dokter Fadli itu.
"Oh! Iya benar.. Bagaimana anda bisa tau?" tanya Fadli.
"Hahaha, saya hanya menebak saja. Dan ternyata itu benar, ngomong-ngomong kenapa anda yang makan? Pemiliknya kok malah makan dipiring lain?"
Fadli tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Iya dokter Albaret, saya yang mengambil kotak ini dari pemiliknya. Alasannya karena saya ketagihan dengan masakan Yuna, sungguh enak! Itu sebabnya nampan saya kutukar dengan sebuah kotak yang ada didepan saya ini. Ternyata lebih enak makan disebuah kotak kecil dan sederhana, dari pada makan disebuah nampan besar penuh dengan makanan mewah." jelas Fadli, dengan sesekali menyuapi makanan itu kedalam mulutnya.
Zeen yang tengah makan sambil melihat hpnya itu, hampir saja tersedak ketika mendengar ucapan dari dokter Fadli yang mana artinya merupakan leting dirumah sakit besar itu. Kedua pria itu memiliki propesi yang sama, tubuh yang tinggi dan tegap. Paras yang tampan membuat kaum wanita mengejar-ngejar kedua dokter tampan itu.
Ia bahkan mendengar dari mulut dokter Fadli sendiri, bahwa masakan Yuna sangat enak. Zeen pun jadi meneguk ludahnya sendiri, ia pernah merasakan masakan Yuna. Dan memang benar jika masakan Yuna sungguh sangat enak dan membuat nafsu makan menjadi meningkat. Hati kecil Zeen seperti merasa menyesal ketika belum sempat mencicipi bekal itu, bahkan melihat isinya pun belum.
Zeen mengeleng-geleng, ia menepis perasaan menyesal itu. Dan lebih memilih melanjutkan berkirim pesan pada Laura, kekasih pujaanya itu.
"Hahaha, kamu benar sekali jika bekal yang Yuna masak itu sangat lezat. Saya yang dikasi dikota besar pun masih merasa ketagihan." timpal Albaret.
"Benarkah dokter? Wah... Sungguh hebat sekali ya? Yuna ini." ucap Fadli memuji Yuna dengan menatap wanita yang ada disampingnya.
"Saya jadi merasa pengen punya istri seperti Yuna, dibawakan bekal setiap hari yang seenak ini pasti saya sangat merasa senang. Dan lebih doyan makan dirumah dari pada diluar rumah." ujar Fadli, sesekali menatap Yuna dengan senyum tulusnya.
"Dokter terlalu memuji saya, saya yang dipuji terus jadi besar kepala." timpal Yuna yang mengundang gelak tawa oleh Fadli.
__ADS_1
"Saya serius Yuna. Apa yang saya ucapan itu betul-betul, ingin memiliki seorang istri seperti kamu." kata Fadli kembali menatap Yuna.
Albaret menatap dua insan itu yang berada tepat didepannya. Kemudian ia menatap Zeen putranya yang hanya acuh itu.
Sebenarnya Zeen hanya pura-pura acuh, ia mendengar percakapan itu dan sampai mengabaikan pesan dari Laura kekasihnya itu. Zeen lalu menatap Yuna dengan tatapan sinis.
'Dasar, gadis desa kampungan ini. Suka sekali dia tebar-tebar pesona, aku tau jika banyak sekali wanita diluar sana suka sekali menggoda pria tampan yang mapan. Tapi aku tak menyangka, jika gadis desa yang kuangap polos sebelumnya ini, ternyata munafik juga. Sudah punya suami malah main tebar pesona pada pria lain.' batin Zeen, kemudian ia tersenyum semirk melihat wajah polos Yuna itu.
"Saya doakan jika dokter Fadli, mendapatkan jodoh sesuai keinginan dokter." ujar Yuna.
"Semoga..." jawab Fadli, kembali melanjutkan makannya.
"Saya juga mendoakan agar kelajagan dokter muda seperti anda cepat dipertemukan jodoh yang diinginkan." ucap Albaret.
"Wah... Terimakasih atas doanya dokter Albaret." jawab Fadli, yang dianguki kepala oleh pemilik rumah sakit itu.
Albaret kembali menengok kearah putranya, "Oh, iya Zeen! Tadi papa liat kamu dikasi bekal juga sama Yuna, kamu sudah makan bekalnya kan? Bagaimana rasanya menurut kamu?" tanya Albaret pada putranya.
Fadli yang mendengar itu kembali mengalihkan pandangannya kearah Zeen, ia menautkan kedua alisnya merasa bingung. 'Sepertinya Yuna, menjalin kedekatan dengan keluarga dokter Albaret ini.' batinya.
Zeen yang mendengar pertanyaan langsung kelagapan, 'Papa ini... Kok main nanya-nanya sih..' gerutu Zeen dalam hati.
"I-iya pah... Enak bekalnya, seperti yang apa papa bilang tadi." jawab Zeen berbohong, tak lupa seulas lsenyum dibibirnya. Namun hanya senyum palsu yang ia nampakan.
"Hoho, begitu... Ternyata kamu juga menikmatinya." ucap Albaret, tertawa senang.
Sedangkan Yuna, ia menatap Zeen dengan perasaan miris. Ia tau, jika bekal yang ia bawa tak dimakan oleh Zeen. Ia memilih diam, dan mengabaikan masalah itu.
__ADS_1
TBC.