
Zeen berjalan agak pelan ketika tengah menuju semak-semak bunga yang agak lebat itu. Tersenyum bak kesenangan seperti anak kecil yang diberi mainan baru, ia berjalan dengan santainya sambil bersiul-siul.
Matanya terus tertuju pada semak itu, sama sekali tak mengalihkan pandangannya kearah lain. “Ngapain disi–”
Mulut Zeen terkatup, ia menjeda ucapannya ketika melihat Yuna sedang menunduk ditempatnya, Zeen mengerutkan alisnya seketika saat dirinya melihat seekor anak kucing berada ditangan gadis desa itu.
Berada agak dekat dari jangkauan Yuna, ia memperhatikan gera-gerik gadis itu dalam diam.
Yuna yang tengah fokus pada anak kucing sampai tak menyadari keberadaan Zeen, yang bahkan ada dibelakangnya.
“Pus-pus... Pasti kamu kesakitan ya? Sampai tak bisa berjalan seperti ini.” ucap Yuna sambil mengelus kucing itu dengan perasaan sayang.
“Hemm, kalau begitu kakak obati kamu ya? Kamu diem disini dulu... Kakak ambil obat sebentar, habis itu kesini lagi. Oke?” Yuna terus berbicara pada kucing kecil itu, sedangkan Zeen masih pada tempatnya, mengamati Yuna sambil melipat kedua tangannya didada.
“Miau...”
“Iya, iya... Kakak pasti balik lagi kok, kamu tenang disini ya? Sebentar aja..!”
Yuna langsung berlari meninggalkan tempat itu, bahkan meninggalkan Zeen yang melongo ditempatnya.
“Wah... Aku disini hampir satu menit, tapi dia bahkan tak menyadari keberadaanku? Benar-benar gadis yang sulit dimengerti.” gumam Zeen mengeleng kepala sambil membuka mulutnya, kecil. “Berasa kayak jadi makhluk goib.” desisnya, memasamkan wajahnya seketika.
Zeen melirik kucing kecil berwarna putih sedikit bercorak hitam diperutnya itu yang ada dibawahnya, bahkan kucing kecil itu melihat kearahnya juga dengan tatapan imutnya.
“Apa? Kenapa kau melihatmu begitu?” tanya Zeen pada kucing itu dengan suara ketus.
“Miauu....”
Anak kucing itu mendekati Zeen dan mengeluskan tubuhnya pada kaki pria itu.
Zeen melongo, ia pun segera menjauhkan dirinya pada kucing itu dan menjarakan dirinya sedikit jauh pada kucing itu. “Apa yang kau mau? Aku bukan majikanmu! Majikanmu masih pergi. Jadi mintalah makan pada dia jangan padaku!” ucapnya dengan acuh tak acuhnya.
“Miauu...”
Zeen tak menghiraukan lagi kucing itu, ia mulai melangkahkan kakinya berniat untuk kembali kedalam. Namun baru saja beberapa ia melangkah, tiba-tiba ia berhenti lalu menepuk keningnya sambil mengerutu.
“Sialan!” umpatnya. Kemudian tanpa diduga, langkah kakinya kembali menuju kucing itu dan kucing itupun kembali menghampiri Zeen ketika melihat pria itu datang.
“Miau...”
Ia melihat sejenak kucing itu dalam diam, tubuhnya yang tadinya berdiri tegap kini ia jongkokkan masih menatap kucing itu.
__ADS_1
“Kamu jangan kegeeran ya! Aku kembali kesini lagi karena mengasihanimu, ingat! Hanya mengasihi!” ucapnya dengan mengebu-gebu.
Kucing itu tak mengerti dengan ucapan yang keluar dari mulut Zeen, kucing itu malah kembali mengeluskan tubuhnya pada kaki Zeen dan sambil berguling-guling, bak kucing manja yang sedang mengajak majikannya untuk bermain bersamanya.
Melihat tingkah manis kucing itu, akhirnya Zeen terbuai juga. Ia pun mengelus bulu kucing itu menuruti nalurinya, yang merasa gemas dengan tingkah anak kucing itu. Ia juga tanpa sengaja melihat sebuah luka panjang pada kaki kucing itu, tak heran jika kaki kucing itu tertatih-tatih ketika sedang berjalan.
Mengingat ekspresi Yuna ketika tengah resah saat melihat luka kucing itu, membuat bibir Zeen tiba-tiba terasa berkedut, tanpa ia sadari bibir itu mengulum senyum dan tak bisa ditahan lagi.
Ia masih bermain dengan kucing itu, dengan wajah senyumnya sambil melamun tak jelas.
Yuna yang baru saja keluar dari rumah kembali berlari tergesa-gesa kearah taman, tak lupa ditangannya yang sudah ada kotak obat. Yang bartujuan untuk mengobati luka kucing yang ia temukan.
“Puss... Maaf ya pus, kakak lam– dokter Zeen?” Yuna terkejut ketika melihat Zeen ditempat, dimana ia menemukan kucing liar itu.
“Dokter Zeen kenapa ada disini?” tanyanya.
Bukanya menjawab, Zeen malah bergumam tak jelas. “Dokter Zeen lagi, tadi mas... Sekarang dokter? Nih gadis desa plin-plan amat.” gumamnya mengerutu.
“Hah? Dokter Zeen bilang apa? Saya tak mendengar! Suara dokter terlalu kecil.” ucap Yuna dengan tampang polos, dan hal itu berhasil membuat Zeen membeo sambil berdecak kesal.
Zeen berdiri dari duduknya. “Kebetulan tadi aku sedang jalan-jalan disini, eh! Aku malah nemu kucing ini disini.” ucapnya berbohong, padahal alasan yang sebenarnya adalah ia tengah mencari keberadaan Yuna.
Yuna mengerjab-gerjabkan matanya, memperoses ucapan Zeen. 'Dari sekian banyaknya tempat? Tapi kebetulan disini?' gumam Yuna berfikir.
Yuna tersadar dari lamunnya lalu melirik kotak kecil yang ada ditangannya. “Oh? Ini kotak obat dokter, saya berniat untuk mengobati luka kucing kecil ini. Saya kasihan melihat cara berjalannya yang tertatih-tatih.” jelas Yuna.
“Oh... Kalau begitu, sini kotak itu.”
“Hah? Tapi saya masih belum mengobati kucing ini dokter...” Yuna tampak kalut.
“Ck! Maksudnya, sini kota itu, biar aku yang mengobatinya. Aku ini seorang dokter, jadi aku lebih tau cara mengobati pasien dengan benar.” ucapnya dengan percaya diri.
Yuna terdiam, kemudian melirik kota ditangannya sejenak. “Maaf dokter, tapi saya juga tau cara mengobati luka, saya masih mampu mengobatinya karena lukanya hanya luka kecil. Jadi biarkan saja saya yang mengobati sendiri. Jangan meremehkan saya dokter, saya ini juga seorang perawat dirumah sakit.” ucapnya dengan tegas, dan setelah itu tanpa mendengar jawaban dari Zeen. Ia langsung berjongkok dan mulai membuka kotak obat itu.
“Ayo kucing manis... Jangan takut ya... Kakak akan membersihkan luka kamu,” ucap Yuna dengan raut wajah keceriaan, hanya dengan hal kecil ia memancarkan wajah kebahagian.
Zeen berdecih, mamutar bola matanya malas. “Cih! Kakak katanya?” gumamnya, ia kembali melirikan matanya kebawa dan menatap Yuna yang sedang serius mengobati kucing itu.
“Kucing man–”
Yuna terkejut ketika melihat Zeen duduk lesehan didepannya. “Dokter kenapa duduk disitu? Disitu kotor dokter... Lebih baik anda melanjutkan jalan-jalan anda lagi! Bukankah anda tadi berniat untuk berjalan-jalan?”
__ADS_1
“Sudahlah, tak usah memikirkan hal kecil. Lebih baik kau fokus kembali pada pengobatan itu, aku disini hanya memantaumu. Aku ingin melihat, apa kau punya kemampuan untuk mengobati pasien walau itu hanya kucing?” alibinya beralasan.
Yuna seketika mengerutkan keningnya, ia memandang pria itu dengan pandangan kesal. 'Orang ini suka sekali meremehkan....' batin Yuna menatap Zeen dengan tatapan jengkel.
“Apa?”
Yuna langsung mengalihkan pandangannya kembali, “Tidak ada,” jawabnya dengan acuh.
“Aku tau, kau sedang menyumpahiku didalam hatimu kan?” selidik Zeen namun tak dihiraukan oleh Yuna, Yuna malah mengabaikannya dengan wajah yang terlihat malas dan jengkel.
“Hei! Kau mengabaikanku?” Zeen mulai kesal kembali.
Yuna mengangkat kedua bahunya acuh.
“Dasar gadis desa ini.” Zeen mendengus kesal, kemudian memilih diam dan memperhatikan Yuna yang tengah berkutit.
Selama lima menit berlalu, mereka berdua masih ada disana bahkan hari sudah menjelang malam, sepertinya dua insan itu belum menyadari.
Selama lima menit itu pula Yuna sejak tadi tak bisa fokus sama sekali, bahkan ia terus mengulang saat dirinya tengah menutupi luka kucing itu dengan tali perban.
Matanya terus ia lirikan pada sosok pria yang ada didepannya, jantungnya terus saja berdegup kencang ketika mendapati Zeen yang terus menatapnya dengan tatapan dalam, seolah tatapan itu tak bisa teralihan. Yuna tau, jika Zeen sejak tadi melihat kearahnya, bukan melihat pada pengobatanya pada kucing itu. Bagaimana ia tak gugup? Jika ditatap sedalam itu oleh dokter tampan yang mana artinya adalah suaminya sendiri.
Yuna sudah tak tahan lagi, ia berdecak dan memghentikan pergerakannya. “Kenapa anda terus menatap saya...?” akhirnya ia mengeluarkan pertanyaan itu yang sejak tadi terus menghantui pikirannya.
“Apanya?” ia malah bertanya balik.
“Anda bilangnya ingin mengamati cara pengobatan saya, tapi kenapa anda malah melihati wajah saya terus....” gerutu Yuna.
“Aku tak melihati wajahmu tuh,” jawab Zeen santai.
“Tadi–”
“Aku sejak tadi mengamati cara pengobatanmu, dan sesuai dugaanku, bahwa, pengobatanmu itu semua caranya jelek! Tak memuaskan, kau mengulang terus sampai hari sudah mulai magrib.” jelas Zeen dengan wajah angkunya. “Ulangi semua! Lakukan lagi dengan benar! Aku akan terus memantau sampai selesai.”
Yuna, dirinya sudah tak tau lagi harus berkata apa, ia menghela nafas sabar. 'Bagaimana mau cepat selesai jika dirinya terus melihatku seperti itu....!' batin Yuna berteriak dalam hati.
Suara-suara dari mereka berdua itu tanpa sadar membuat penjaga kediaman Albaret, merinding. Pasalnya penjaga itu tak tau jika mereka berdua ada dibalik semak-semak itu.
“Merinding ey... Mana mau magrib lagi.” ucap penjaga itu, langsung berlari keluar dari taman dengan kecepatan, supernya.
TBC.
__ADS_1
Part terpanjang buat pembaca setia🤎
Jangan lupa komen and tap vote😉