
...***...
Setelah sesi perdebatan antara Yuna dan Zeen, kini dua insan itu baru keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Yuna bahkan dibuat pusing ketika menghadapi sifat suaminya yang terbilang sangat baru ia rasakan. Bagaimana tidak? Jika pria yang berstatus sebagai suaminya itu tiba-tiba menjelma menjadi anak kecil yang begitu manja, bahkan terus menempel padanya kemana pun ia berada.
“Selamat pagi Mah, Pah, nek!” sapa Yuna kepada ketiga orang yang sudah berada dimeja makan.
Ketiganya pun menjawab sapaan Yuna dengan serentak.
Yuna pun kemudian duduk dikursi meja makan itu, lalu disusul oleh Zeen yang langsung duduk merapat disamping Yuna. Dan saat ini pria itu kembali mendusel tepat dibahu Yuna meletakan kepalanya dan memeluk wanitanya dengan erat.
Ketiga orang tua itu saling berpadang saat melihat tingkah aneh Zeen yang baru pertama kali mereka lihat.
“Yaampun mas ... jangan seperti ini. Nanti kamu gak jadi makan kalo terus begini,” ucap Yuna kemudian dengan gerakan perlahan ia menyingkirkan kepala Zeen dari bahunya, sesungguhnya Yuna sangat malu kepada kedua mertuanya dan neneknya. Namun mau bagaimana mana lagi? Jika prianya itu sudah seperti demikian? Alhasil Yuna hanya bisa menahan malu dan menahan segala kekesalnya.
Zeen tak mau mengalah pria itu kembali mendekat kepada istrinya lalu kembali mendusel bahu istrinya.
“Mas ....” desis Yuna menahan kegeraman.
“Yun ... kenapa dengan Zeen? Kok dia manja begitu?” tanya Vina yang sudah sangat penasaran.
Yuna menatap mertuanya dengan pandangan malu-malu. “Yuna juga gak tahu Mah ... tiba-tiba mas Zeen jadi manja seperti ini entah karena apa?” memang benar jika Yuna merasa bingung dan tak mengerti dengan perubahan sifat Zeen.
Vina kemudian memandang mertuanya yang hanya menanggapi dengan mengedikan kedua bahunya saja. Kemudian Vina mengalihkan pandangannya pada suaminya yang hanya hanya memberikan seluas senyum penuh arti.
Albaret meletakan sendok garbunya diatas piringnya, lalu pandangannya ia alihkan kepada sang putra. “Yuna, apa Zeen tadi pagi mengalami muntah-muntah? Tapi tak mengeluarkan isinya?” tanya Albaret pada menantunya.
“Iya Pah, tadi mas Zeen sempat muntah-muntah tapi gak keluar isinya dan katanya perutnya terasa diaduk dan eneg, gitu katanya Pah ....” jelas Yuna secara rinci.
Albaret tersenyum mendengarnya, “Hemm, ternyata sesuai dugaan. Sepertinya suamimu mual-mual begitu karena bawaan bayi.”
Semua orang nampak terperangah dan mengalihkan pandangan mereka pada pria paru baya itu.
__ADS_1
“Maksudnya gimana Pah?” tanya Vina merasa bingung.
“Ituloh Mah ... biasanya kalo sifat suami berubah itu yang bisa dikatakan bawaan bayinya, bisa dikatakan juga jika suaminya itu menggantikan gejala kehamilan istrinya. Seperti muntah dan perubahan pada sifatnya? Sifat pemalas? Sifat manja?”
“Tapi jika masih belum merasa yakin sebaiknya Zeen diperiksa dulu oleh dokter kandungan nanti, biar tahu lebih rinci tentang kondisi Zeen saat ini.” Lanjutnya menjelaskan.
“Oooo ....” Vina mengangguk-angukkan kepala merasa paham. “Seperi kehamilan simpatik ya?”
“Nah, tepat sekali,” timpal Albaret membenarkan.
“Wah ... Zeen .... selamat sayang kamu yang akan menggantikan istrimu yang sedang hamil.” Ujar Vina menggoda putranya.
Zeen memberengut kesal, “Apasih Mah, jangan ngaco deh bicaranya. Masa aku dikatain hamil padahalkan aku lakik.”
“Ya memang kamu lakik. Siapa yang bilang kamu wedok? (perempuan).” Timpal Rima mengelengkan kepala.
“Sayang ....”
Bukanya menjawab ujaran neneknya Zeen malah kembali mendusel istrinya dengan manja.
“Hahaha, gak papa kok sayang. Kami memaklumi sifat Zeen sekarang, jadi kamu gak perlu malu ... anggap saja kita tak ada didepanmu.” Jelas Vina sambil terkikik geli. Geli karena melihat Zeen putranya yang terkenal angkuh nan datar itu berubah menjadi pria manja sekaligus posesif tingkat akut. Ia benar-benar tak pernah membayangkan jika putranya itu bisa menjadi seperti sekarang.
“Nah, dengar itu sayang. Mereka aja gak keberatan jika kita bermesraan, malah kita harus membiasakan diri jika yang ada pada meja makan ini hanya terisi kita saja.” Ucap Zeen dengan suara manja dan sangat santai.
“Tapi kok Mama jadi kesel ya? Kalo kamu yang ngomong? Berasa tak tahu malu dan tak tahu diri sekali?” timpal Vina menatap putranya dengan tatapan sinis.
“Tapi kan Mama sendiri yang bilang tadi?” tampak Zeen tak mau kalah.
Dan terjadilah adu mulut antara dua insan, ibu dan anak. Bahkan Yuna sampai tak mendengar perdebatan itu akibat terlalu fokus pada pikirannya.
“Kehamilan simpatik? Mungkinkah mas Zeen sekarang mengalaminya?” gumam Yuna bertanya-tanya.
__ADS_1
°
°
°
“Sayang ... kamu ikut mas kerja aja ya? Mas rasanya malas banget jika gak ada kamu didekat mas,” pinta Zeen kembali merengek pada Yuna.
“Yaampun Zeen? Kamu gak kasihan sama istri kamu? Yuna itu lagi hamil jadi menantu Mama akan tetap dirumah dan gak boleh ikut kamu kerja. Kamu tau kan jika orang hamil itu tak boleh kelelahan?” Vina menjawab perkataan Zeen dengan segala ocehannya.
“Kan Yuna ikut Zeen cuma berada didekatku saya. Kalau soal kerjaan biar aku yang hadel semuanya ....”
“Pokoknya gak boleh! Kamu cepat berangkat sana! Orang Papa kamu aja udah berangkat duluan, kamu yang muda malah kalah yang lebih tua. Cepat sana, kerja cari uang yang banyak biar bisa beli peralatan baby-baby kalian nanti.” Jelas Vina sambil mendorong paksa tubuh putranya agar segera keluar dari rumah itu.
“Tapi Ma? Mama! Zeen gak bisa kalo–”
“Jangan membuat alasan terus Zeen! Kamu merengek sampe nangis darah pun Mama tak akan pernah izinkan!” sela Vina dengan suara tegas.
Saat Vina hendak menutup pintu utama, tiba-tiba Zeen langsung menjepitkan diri dipintu itu dan langsung membuat Vina berdecak kesal.
“Zeen! Minggir jangan didepan pintu!” teriak Vina mengema disepenjuru ruangan.
“Zeen gak akan bawa Yuna kok Mah, Zeen cuman mau pamit pada istriku dulu. Aku masih belum cipika-cipiki bersama istriku.”
Terlihat Vina menghela nafas panjang. “Yaudah cepetan!” Vina pun akhirnya memperbolehkan Zeen masuk, dan tentu membuat pria itu langsung masuk kembali kedalam rumah kemudian Zeen berjalan mendekat kearah istrinya dengan raut sendu.
Zeen mengecup seluruh wajah istrinya, kemudian memeluk istrinya dengan perasaan tak rela.
“Jaga baik-baik kondisi kamu dan dedek bayi kita. Tunggu mas pulang kerumah.” Ucap Zeen mendramatis dan masih menampakkan raut sendunya.
Kemudian setelah itu Zeen kembali mengecup bibir Pink milik istrinya untuk terakhir kalinya, sebelum ia langsung berlari keluar dari rumah karena takut jika ia terus berlama-lama maka ia pasti tak akan mau berjauhan dari istrinya.
__ADS_1
“Dasar bocah tengil itu!” gumam Vina mengeleng.
TBC.